Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Tidak Ada Meridian Dan Dantian
Su Yu menatap wanita itu dengan kebingungan yang belum sepenuhnya hilang. Ia kemudian menurunkan pandangannya ke tubuhnya sendiri, menyentuh lengan yang sebelumnya dipenuhi lebam. Tetapi, Kulitnya kini bersih tanpa bekas. Jari-jarinya bergerak ke wajah, menekan perlahan di tulang pipi dan rahang yang tadi terasa nyeri. Tidak ada rasa sakit yang tersisa. Bahkan luka-luka yang ditinggalkan Su Jao dan Su Han telah lenyap tanpa jejak.
"Tubuhmu pulih sepenuhnya karena kekuatan Kunpeng telah menyatu ke dalam dirimu," ucap Peri Cangle pelan, suaranya masih terdengar lemah tetapi tidak kehilangan ketegasan.
Su Yu mendongak dan menatapnya. "Ha? Jadi ini yang disebut kekuatan Kunpeng?"
Ia kemudian mengepalkan tangannya erat-erat, merasakan genggaman itu jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Namun sesaat kemudian bayangan rasa sakit yang mencabik-cabik kesadarannya tadi kembali menyeruak. Ia menoleh tajam ke arah wanita itu.
"Oh iya, saya hampir lupa. Rasa sakit tadi... Nona pasti melakukan hal buruk terhadap saya, bukan?"
"Kalau iya, kenapa?" desis Peri Cangle tanpa menunjukkan penyesalan. "Aku ingin mengambil esensi Kunpeng di dalam tubuhmu. Tapi aku gagal. Apa kau puas dengan pengakuan ini?"
Su Yu tertegun mendengar kejujuran yang begitu terbuka. Wanita yang telah berbagi seratus momen di dalam kolam bersamanya, meskipun tanpa kesadaran penuh, ternyata memiliki niat untuk mencelakainya. Perih itu muncul perlahan, menjalar seperti racun halus yang menyelinap di antara tulang rusuknya. Ia tersenyum pahit.
"Ternyata begitu... Mungkin Nona masih belum memaafkan saya tentang seratus momen di dalam kolam."
"Kau!"
Peri Cangle menunjuk Su Yu dengan tangan bergetar. Rona merah menyebar di kedua pipinya, sementara matanya membelalak dengan campuran kemarahan dan rasa malu yang sulit disembunyikan.
Su Yu menatap jari yang terulur itu dalam-dalam, lalu menghela napas pendek. "Maaf, saya hanya bercanda. Tetapi saya tidak sebodoh itu." Ia menunduk sesaat, kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih tenang. "Sedari awal saya sudah mencurigai Nona melakukan sesuatu yang kemungkinan berkaitan dengan Kunpeng. Benar saja, Nona mengakuinya sendiri."
Peri Cangle memalingkan wajahnya, menatap dinding goa yang dipenuhi kristal berkilau. "Kau bisa membenciku sesukamu."
Su Yu menggelengkan kepalanya pelan. "Saya tidak membenci Nona, tetapi kecewa."
Wanita itu tertegun mendengar pengakuan Su Yu, beberapa saat kemudian, ia menghela napas panjang, lalu menarik kembali jarinya dan meletakkannya di pangkuan.
"Sudahlah. Anggap saja kita impas. Kau menolongku, sementara kau melakukan hal buruk kepadaku di kolam. Dan terakhir, aku hampir membunuhmu. Ini impas."
Su Yu menatap wanita itu sejenak, matanya menyiratkan kelelahan yang dalam. Hingga akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, anggap saja seperti itu."
Keheningan menyelimuti mereka berdua. Udara di dalam goa terasa dingin, tetapi tidak lagi menusuk seperti sebelumnya. Kristal-kristal di dinding memantulkan cahaya redup yang membuat ruangan itu tampak seperti dunia terpisah dari segala kebisingan.
Peri Cangle akhirnya membuka suara tanpa menoleh. "Siapa namamu?"
"Su Yu," jawabnya singkat. "Kalau Nona?"
Peri Cangle menatapnya dari sudut mata.
"Aku Xu Cangle."
"Oh, Nona Cangle." Su Yu mengangguk kecil. "Nama yang sangat indah."
Peri Cangle memalingkan wajahnya sambil berdiri, berusaha menyembunyikan rona yang kembali muncul di pipinya. Su Yu ikut bangkit, menopang tubuhnya yang masih terasa sedikit goyah. Setelah keduanya berdiri tegak, Peri Cangle mengeluarkan sebuah pil dari cincin ruang miliknya dan langsung menelannya tanpa ragu.
Beberapa tarikan napas kemudian, ia menatap Su Yu dengan pandangan yang lebih tenang. "Su Yu, jika kau tidak keberatan, temani aku memulihkan diri di kolam. Setelah itu, aku akan membantumu berkultivasi. Bagaimana menurutmu?"
Mendengar tawaran itu, jantung Su Yu berdegup kencang seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti. Bukan karena tawaran itu tidak menarik, melainkan karena Cangle tampak begitu tulus saat memintanya. Dan yang terpenting, ini tentang kultivasi. Sesuatu yang menjadi sumber penyiksaan yang ia alami sejak berusia tujuh tahun hingga delapan belas tahun.
Bayangan penyiksaan mengalir deras di benaknya. Pukulan-pukulan yang mendarat tanpa ampun. Hinaan yang dilontarkan setiap hari. Adik kandungnya sendiri yang memandangnya seperti sampah. Tubuh Su Yu bergetar hebat menahan emosi yang bergejolak, sementara dadanya naik turun dengan cepat seperti orang yang nyaris kehabisan napas.
Peri Cangle yang melihat reaksi aneh itu segera merapat dan menyentuh dada Su Yu dengan telapak tangannya.
"Hei, Su Yu! Kau kenapa?"
Su Yu menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya. Ia mengulangi gerakan itu berkali-kali hingga debaran jantungnya mereda dan tubuhnya berhenti bergetar. Setelah merasa tenang, ia menatap Peri Cangle dengan mata yang masih sedikit basah.
"Saya tidak apa-apa, Nona Cangle. Mari saya temani."
Peri Cangle mengernyitkan dahinya, tetapi ia tidak punya waktu untuk bertanya lebih jauh. Ia kemudian melangkah menuju kolam, diikuti Su Yu dari belakang. Tidak berselang lama, mereka tiba di tepi kolam yang kini telah kembali jernih seperti semula.
Wanita itu merasakan energi di sekitar kolam jauh lebih kuat dan stabil ketika airnya dalam kondisi jernih. Sebelumnya ia terlalu lemah untuk merasakannya, tetapi kini meskipun belum pulih sepenuhnya, keadaannya tidak separah awal pertama mereka jatuh ke kolam.
"Hanya dalam dua batang dupa, aku akan selesai," ujarnya sambil menoleh kepada Su Yu.
Su Yu mengangguk lalu menjauh beberapa langkah, memberi ruang bagi wanita itu untuk berkonsentrasi.
Peri Cangle duduk bersila di tepi kolam, menutup mata, dan memulai proses pemulihannya. Energi dari air kolam segera merespons, mengalir ke dalam tubuhnya melalui setiap pori.
Su Yu duduk tidak jauh darinya, memeluk lututnya sendiri. Bayangan-bayangan kelam tentang siksaan yang ia alami sejak kecil berusaha ia tepis sekuat mungkin. Ia tidak ingin masa lalunya mengganggu momen ini. Tidak sekarang, ketika pintu yang selama ini terkunci rapat akhirnya menunjukkan celah kecil.
Waktu berlalu dalam diam. Dua batang dupa akhirnya terbakar habis.
Peri Cangle membuka matanya perlahan. Ia memeriksa kedua tangannya, lalu tubuhnya, dan mengangguk puas.
"Ini lebih baik dari sebelumnya. Cukup untuk kembali."
Su Yu yang sejak tadi memperhatikan segera berdiri dan mendekat. "Anda sudah selesai, Nona?"
Peri Cangle mengangguk lalu menunjuk lantai di depannya.
"Duduklah. Aku akan membantumu kali ini."
Su Yu segera duduk bersila di hadapan wanita itu, menunggu dengan sabar. Peri Cangle menatapnya sejenak, lalu berkata, "Sekarang izinkan aku melihat tubuhmu sekali lagi. Ini akan menentukan apa yang bisa kulakukan."
Su Yu mengangguk, lalu memejamkan matanya. Wanita itu segera mengirimkan kesadarannya ke dalam tubuh Su Yu. Namun begitu kesadaran itu masuk, esensi Kunpeng langsung melawannya dengan keras, mendorongnya keluar seperti benteng yang menolak penyusup. Perlawanan itu begitu kuat hingga dahi Peri Cangle basah oleh keringat.
Namun perlahan-lahan, perlawanan itu melemah, ketika Su Yu didalam batinnya memberikan izin untuk Cangle. Ini membuktikan bahwa esensi Kunpeng benar-benar memilih Su Yu, bukan sekadar bersemayam tanpa alasan.
Saat kesadarannya menyusuri lebih dalam, akhirnya wanita itu menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Ia menarik kesadarannya kembali dan membuka mata. "Ini luar biasa..."
Su Yu membuka matanya juga.
"Maksud Nona?"
Peri Cangle mengatur napasnya sejenak, lalu menjelaskan. "Selama ini kau tidak bisa berkultivasi karena tubuhmu tidak memiliki meridian. Dan yang lebih langka lagi... kau sama sekali tidak memiliki Dantian."
Su Yu tertegun sejenak, lalu menatap wanita itu dengan dahi berkerut. "Setahu saya setiap manusia memilikinya, bukan?"
"Seharusnya begitu." Peri Cangle menatapnya serius. "Tetapi kau tidak. Ini kasus yang sangat langka." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Dan yang paling gila, Esensi Kunpeng sedang membangun meridian dan Dantian secara perlahan untukmu. Dalam setahun, kau pasti bisa berkultivasi."
Mendengar itu, Su Yu matanya berbinar, namun bibirnya membentuk senyum pahit. Ia merasakan dua hal sekaligus: kegembiraan yang begitu besar, dan kekecewaan yang tidak kalah dalam. Setahun... Waktu yang terasa begitu lama untuk terus menerima siksaan.
Melihat raut wajah pemuda itu, Peri Cangle tersenyum miring. "Tenang saja. Aku akan bantu percepat prosesnya."
Su Yu menatap wanita itu beberapa saat, beberapa saat kemudian ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Nona Cangle, terima kasih banyak."
"Sudahlah. Sekarang mari kita mulai."
Su Yu mengangguk. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di depan lutut, menegakkan punggung, dan menutup matanya.
Tanpa membuang waktu, Peri Cangle membentuk segel tangan dengan gerakan yang rumit, lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah perut Su Yu.
Wush!
Energi merah keemasan keluar dari telapak tangannya, masuk menembus pakaian dan kulit, menuju titik tempat Dantian seharusnya berada.
Proses itu berjalan tanpa suara. Energi merah keemasan mengalir deras, membantu kekuatan kunpeng membangun fondasi yang sebelumnya tidak pernah ada di dalam tubuh pemuda itu.
Su Yu merasakan hangat yang aneh menjalar dari perutnya, menyebar ke seluruh tubuh seperti aliran sungai yang menemukan jalannya sendiri.
Hari itu, di dalam goa kristal yang tersembunyi di kedalaman Hutan Kelabu, takdir seorang pemuda yang dianggap tidak berguna oleh seluruh klannya mulai berubah.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔