"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Luka dan Janji Baru
Matahari telah terbenam sepenuhnya, menyisakan semburat ungu kemerahan yang perlahan berubah menjadi gelap pekat di atas gudang tua itu. Di dalam ruangan yang kini penuh dengan orang-orang kepercayaan Mo Han, suasana tegang perlahan mereda, digantikan oleh kesibukan menangkap dan memborgol setiap anggota keluarga Jiang beserta anak buahnya. Tuan Jiang dan Jiang Chen berdiri terpaku di sudut ruangan, wajah mereka pucat dan penuh keputusasaan, menyadari bahwa segala rencana licik mereka telah hancur seketika.
Namun Mo Han tak memedulikan mereka sedikit pun. Seluruh perhatiannya tertuju pada sosok di pelukannya. Ia memeluk Su Yi begitu erat, seakan takut jika ia melepaskannya walau sesaat saja, gadis itu akan hilang kembali dari sisinya. Tangan kirinya menekan bahu kanan Su Yi yang terluka, mencoba menahan aliran darah yang terus membasahi gaun putihnya. Wajahnya sendiri pun pucat pasi, bukan karena lukanya yang berdarah di bahu kiri, melainkan karena rasa sakit yang mengiris hatinya melihat luka di tubuh wanita yang dicintainya.
"Yi... lihatlah aku..." Mo Han berbisik parau, menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya yang sedikit gemetar. Matanya menatap lekat-lekat mata basah Su Yi, penuh kasih sayang, rasa bersalah, dan ketakutan yang belum sepenuhnya hilang. "Maafkan aku... maafkan aku karena membiarkanmu terluka. Maafkan aku karena tidak menjagamu dengan cukup baik. Seharusnya aku tidak pernah membiarkan hal ini terjadi padamu."
Su Yi menggeleng perlahan, menyentuh pipi pria itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Jari-jarinya menyentuh butiran keringat dingin dan bintik darah di pelipis Mo Han, lalu menatapnya dengan senyum lembut yang penuh ketulusan.
"Jangan menyalahkan dirimu, Mo Han..." Su Yi berucap pelan, suaranya masih terdengar serak namun tenang. "Kau datang... kau datang menyelamatkanku. Itu sudah cukup. Selama kau ada di sisiku... rasa sakit apa pun tak akan berarti. Dan luka ini... akan sembuh. Tapi janji yang kita ucapkan... itu tidak akan pernah hilang, bukan?"
Mo Han menatapnya dalam-dalam, lalu perlahan mendekatkan dahinya hingga bersentuhan dengan dahi Su Yi. Ia memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam menyerap aroma tubuh gadis itu — aroma yang menenangkan hatinya, aroma yang menjadi rumah baginya.
"Ya... janji itu tidak akan pernah hilang. Tidak peduli apa pun yang terjadi." Mo Han berbisik lemah, lalu perlahan membuka mata dan menatap pengawal kepercayaannya yang berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah penuh kekhawatiran. "Siapkan mobil. Kita pulang. Segera."
Perjalanan pulang terasa sunyi namun penuh kehangatan. Di dalam mobil yang melaju perlahan menuju kediaman di atas bukit itu, Su Yi bersandar lemah di bahu Mo Han, sementara tangan pria itu terus menggenggam tangan gadisnya erat seakan tak ingin melepaskannya. Sesekali Mo Han menatap ke arahnya, menatap wajah pucatnya yang diterangi cahaya remang-remang lampu jalan, dan setiap kali ia melihat luka di bahu Su Yi, rasa bersalah kembali menyergap hatinya.
"Setelah sembuh... kita akan pergi dari kota ini sebentar." Mo Han tiba-tiba berucap pelan, memecah keheningan. "Kita akan pergi ke tempat yang jauh dari semua bahaya. Tempat di mana tidak ada siapa pun yang bisa mengganggu kita. Kau mau?"
Su Yi mendongak menatapnya, lalu tersenyum lembut sambil meremas lembut punggung tangan pria itu. "Ke mana pun kau pergi... aku ikut. Asalkan bersamamu... aku tidak takut ke mana pun. Tapi kau tidak perlu lari dari siapa pun, Mo Han. Kita tidak salah. Mengapa kita harus pergi? Biarkan mereka yang pergi. Biarkan kejahatan yang lenyap, bukan kita."
Mo Han terdiam sejenak mendengar ucapan itu. Ia menatap mata gadis itu yang bersinar teguh meski dalam keadaan lemah, dan perlahan senyum tipis terukir di bibirnya. Tangan bebasnya terulur mengusap rambut panjang Su Yi dengan penuh kasih sayang.
"Kau benar. Kita tidak perlu lari. Karena selama kita berdiri bersama... tidak ada yang perlu ditakuti. Aku berjanji... mulai hari ini, aku akan membersihkan segala bahaya yang mengancam kita. Tak ada siapa pun yang berani mengganggu kedamaian kita. Tak ada siapa pun."
Sesampainya di kediaman, Mo Han langsung membawa Su Yi ke kamar tidur utama — kamarnya sendiri. Ia tak membiarkan siapa pun merawat luka gadis itu selain dirinya sendiri. Dengan lembut dan hati-hati, ia membersihkan luka di bahu Su Yi, mengobatinya dengan penuh ketelitian seakan takut menyakiti walau sedikit saja. Setiap kali tangan Mo Han menyentuh kulitnya, Su Yi merasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya — bukan karena sentuhan itu, melainkan karena perhatian dan kasih sayang yang terpancar dari setiap gerakannya.
Dan saat tiba giliran Mo Han mengobati lukanya sendiri, Su Yi menahan tangannya dengan lembut. "Biarkan aku yang melakukannya."
Su Yi mengambil alih perban dan obat, lalu dengan tangan yang lebih lembut namun tetap hati-hati, membersihkan dan membalut luka di bahu kiri Mo Han. Saat jari-jarinya menyentuh kulit di sekitar luka itu, ia melihat urat-urat tegang di leher pria itu dan menyadari betapa sakitnya luka itu sebenarnya. Namun Mo Han tak pernah mengerang sedikit pun. Selama ini ia hanya fokus pada luka di tubuh Su Yi, seakan melupakan rasa sakit yang ia rasakan sendiri.
"Kau tidak merasakan sakit?" Su Yi bertanya pelan, matanya berkaca-kaca menatap luka yang baru saja ia balut rapi.
Mo Han menatapnya lembut, lalu tersenyum tipis sambil mengangkat tangan menyentuh pipinya. "Sakit di tubuhku tak ada apa-apanya dibandingkan rasa takut saat melihatmu terluka. Selama kau baik-baik saja... rasa sakit apa pun akan hilang dengan sendirinya."
Su Yi menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah namun matanya basah kembali. Ia menyandarkan kepalanya perlahan di bahu yang terluka itu — di sisi yang tidak sakit — lalu berbisik pelan dengan penuh kesungguhan.
"Kau adalah keberanianku, Mo Han. Dan kau adalah kekuatanku. Jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian menanggung segala beban. Mulai hari ini... bagilah dengan aku. Bebanmu adalah bebanku. Dan bahagiamu adalah bahagiaku juga. Kita hadapi semuanya bersama-sama. Seperti yang selalu kita janjikan."
Mo Han mengangguk perlahan, melingkarkan lengannya yang sehat ke pundak Su Yi dan memeluknya erat. Ia mencium puncak kepala gadis itu dengan penuh rasa syukur yang mendalam.
"Baiklah. Kita hadapi bersama. Selamanya."
Malam itu, mereka tidur berdampingan di atas tempat tidur yang empuk dan hangat. Mo Han tak melepaskan genggamannya pada tangan Su Yi sepanjang malam, seakan itu adalah jangkar yang menahan seluruh dunianya agar tak hanyut. Di luar jendela, angin malam berhembus kencang menggoyangkan pepohonan, namun di dalam ruangan itu terasa begitu hangat dan damai.
Sebelum terlelap, Mo Han menatap wajah Su Yi yang sudah terpejam dengan tenang. Ia mengusap rambutnya pelan, lalu berbicara dalam hati dengan suara yang tulus dan penuh janji abadi.
Tidurlah dengan tenang, cintaku. Mulai malam ini, aku akan menjagamu setiap detik. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada aku... yang akan selalu melindungimu, mencintaimu, dan menemanimu hingga napas terakhir kita berdua. Tidurlah... dan bermimpilah tentang kebun bunga matahari kita. Karena di sana... di tempat itu... kita akan membangun masa depan yang penuh kebahagiaan, selamanya.
Dan di dalam tidurnya yang tenang, Su Yi tersenyum tipis — seakan hatinya mendengar sumpah setia yang terucap dalam keheningan itu, dan membalasnya dengan keyakinan yang sama — bahwa cinta mereka tak akan pernah pudar, tak akan pernah hancur, dan tak akan pernah berakhir, selamanya.
salam interaksi thor😉