Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Ruang tamu apartemen yang tadi terasa tegang kini jauh lebih santai.

Lampu berwarna hangat menerangi ruangan. Di atas meja terdapat beberapa kotak makanan yang tadi dibeli Evelyn sebelum pulang.

Evelyn duduk bersila di karpet sambil memegang sendok. Sedangkan Kael masih duduk di sofa dengan perban baru melingkari lengan kirinya.

Suasana hening beberapa saat. Hanya terdengar suara televisi yang menyala pelan sebagai latar belakang.

Evelyn melirik kotak makanan di depannya.

Kemudian melirik Kael. Lalu kembali melirik makanannya.

"Mau?"

Ia mendorong salah satu kotak makanan ke arah pria itu. Kael tampak sedikit terkejut.

Namun akhirnya menerima.

"Terima kasih."

"Santai. Sayang kalau nggak dimakan."

Kael membuka kotak makanan itu. Dan untuk beberapa menit mereka makan dalam diam. Anehnya... suasana itu tidak terasa canggung.

Padahal mereka sebenarnya tidak terlalu dekat. Kalau dipikir-pikir, hubungan mereka bahkan masih sebatas kenal wajah di kampus.

Namun entah kenapa duduk seperti ini terasa cukup nyaman. Setidaknya bagi Evelyn.

Sampai akhirnya rasa penasaran yang sudah mengganggunya sejak tadi menang. Ia menunjuk lengan Kael menggunakan garpu.

"Eh."

"Hm?"

"Luka lo..."

Kael mengangkat kepala.

"Kenapa?"

Evelyn menatapnya serius.

"Jangan-jangan gara-gara psikopat ya?"

Kael hampir tersedak minumnya. Untung ekspresinya masih bisa dikendalikan.

"Psikopat?"

"Iya." Evelyn langsung mengangguk mantap. "Yang akhir-akhir ini bikin orang mati misterius itu."

Kael menaikkan sebelah alis. Sedikit tertarik. "Kenapa berpikir begitu?"

"Karena mencurigakan aja."

Evelyn memasukkan ayam goreng ke mulutnya.

Lalu mulai mengomel seperti nenek-nenek yang menemukan bahan gosip baru.

"Coba pikir."

"Kasus mall."

"Kasus cewek meninggal di lift."

"Kasus pembunuhan di kampus."

"Sekarang lo pulang-pulang babak belur."

"Kalau gue jadi polisi, semuanya udah gue sambungin pakai benang merah."

Kael hanya diam. Mendengarkan.

Sementara Evelyn semakin semangat. "Gue yakin pelakunya orang aneh."

"Kurang kerjaan."

"Kurang kasih sayang."

"Kurang dipeluk waktu kecil."

Kael menunduk sebentar.

Entah kenapa rasanya agak personal.

Evelyn belum selesai. "Terus biasanya pelaku model begitu suka sok keren."

"Sok misterius."

"Sok jenius."

"Padahal kalau ketangkep paling nangis minta ampun."

Kael menatap gadis di depannya. Lama. Sangat lama.

Sedangkan Evelyn sama sekali tidak sadar kalau dirinya sedang menghina seseorang yang mungkin lebih dekat dengan kasus itu daripada siapa pun yang ia kenal.

"Aku mengerti." Jawab Kael akhirnya.

"Iya kan?!" Evelyn langsung menunjuknya. "Nah! Lo juga setuju!"

Kael hanya mengangguk pelan. Memilih diam adalah pilihan paling aman saat ini.

Kalau tidak, mungkin ia akan tertawa. Atau justru tersinggung. Bahkan Kael sendiri tidak yakin.

Evelyn menghela napas panjang. Lalu bersandar ke sofa. "Pokoknya kalau gue ketemu orang itu..."

"Gue ceramahin dua jam."

Kael menatapnya. "Dua jam?"

"Minimal." Evelyn.

"Kalau perlu pakai powerpoint." Padahal dengar nama Altair aja Evelyn langsung merinding, soal sok-soan mau nyeramahin.

Sudut bibir Kael bergerak tipis. Nyaris membentuk senyuman.

....

Obrolan kemudian berpindah ke topik lain. Tiba-tiba Evelyn baru mengingat sesuatu. "Tunggu."

"Hm?"

"Bukannya lo tinggal di apartemen ini juga?"

Kael mengangguk. "Iya."

Evelyn berkedip. "Loh serius?"

"Iya."

"Kok gue jarang lihat?"

Kael berpikir sebentar.

"kamu di lantai 27 kan?"

"Iya."

"Oh." Kael mengangguk santai. "Aku di lantai dua puluh delapan."

Evelyn terdiam. "Oke."

Kael kembali makan. Lima detik berlalu. Sepuluh detik.

Lalu... "Hah?"

Kael mengangkat kepala. "Kenapa?"

Evelyn menunjuk ke atas. "Lantai dua puluh delapan?"

"Iya."

"Berarti tepat di atas gue dong?"

"Iya."

"Oh." Evelyn mengangguk.

Kemudian kembali makan.

Dua detik kemudian - "ANJIR BERARTI LO TETANGGA GUE?!"

Kael sampai sedikit terkejut. Pria itu mengangguk pelan. "Kurang lebih."

Evelyn langsung menatap langit-langit apartemennya.

Wajahnya tampak serius. Sangat serius. Sampai Kael penasaran.

"Kenapa?"

Evelyn menunjuk plafon.

"Soalnya..."

"Beberapa malam lalu gue denger suara langkah kaki dari atas."

Klaim

Kael menunggu lanjutannya. "Gue kira hantu."

"..."

"..."

Untuk pertama kalinya malam itu Kael tertawa kecil.Tawa yang benar-benar tulus.Bukan senyum sopan. Bukan senyum formal. Melainkan tawa ringan yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih hidup.

Sedangkan Evelyn hanya melongo. Karena jujur saja... Pria ini ternyata terlihat jauh lebih normal saat tertawa dibanding saat memasang ekspresi datar terus-menerus.

Dan tanpa mereka sadari, malam yang awalnya dimulai dengan seorang pria terluka di parkiran, perlahan berubah menjadi percakapan santai dua tetangga yang baru menyadari bahwa mereka tinggal hanya terpisah satu lantai.

------

Malam semakin larut. Jam digital di ruang tamu menunjukkan pukul 22.37.

Setelah menghabiskan makanan bersama dan berbincang santai cukup lama, Kael akhirnya berdiri dari sofa.

Sepertinya kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding saat Evelyn menemukannya hampir tumbang di area parkiran tadi.

"Kayaknya aku balik dulu."

Suara Kael terdengar tenang seperti biasa.

Evelyn yang sedang membereskan kotak makanan langsung mengangguk. "Iya.

Istirahat sana."

Kael mengambil ponselnya dari meja.

"Lukanya juga jangan lupa dibersihin lagi." Evelyn refleks menunjuk lengan pria itu. "Nanti infeksi malah nangis."

Kael meliriknya. "Aku nggak pernah nangis." Jawabannya datar.

Evelyn mendengus. "Sombong amat."

Sedikit banyak, suasana di antara mereka jauh lebih santai dibanding saat pertama kali bertemu.

Mungkin karena malam ini mereka benar-benar mengobrol cukup lama. Atau mungkin karena Evelyn mulai sadar kalau Kael ternyata tidak seseram kesan pertamanya.

Pria itu memang pendiam.

Terkadang membuat orang bingung sendiri. Tapi setidaknya tidak terlihat seperti pembunuh berantai yang setiap malam berkeliaran mencari korban.

Setidaknya... begitu menurut Evelyn. "Yaudah sana."

Evelyn membuka pintu apartemennya. Kael melangkah keluar.

Sebelum pergi, pria itu sempat menoleh. "Terima kasih."

Evelyn berkedip. Lalu tersenyum kecil. "Santai. Kapan-kapan gantian traktir gue."

Sudut bibir Kael terangkat tipis. Senyuman kecil yang nyaris tidak terlihat. Kemudian ia berbalik dan mulai berjalan menyusuri koridor private floor yang panjang dan sunyi itu.

Evelyn memperhatikannya beberapa saat. Lalu menutup pintu.

Klik.

Suasana apartemen kembali hening. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar pelan.

juga." Evelyn menguap. "Capek

Hari ini benar-benar terasa panjang. Kuliah. Rapat perusahaan. Sampai menolong tetangga yang tiba-tiba tumbang di parkiran.

Hidupnya belakangan ini terasa semakin jauh dari kata normal. Ia melangkah kembali ke ruang tamu. Namun baru beberapa langkah-

matanya menangkap sesuatu di atas sofa. Evelyn

berhenti. Berkedip. Lalu mundur satu langkah.

"..."

Di atas sofa itu tergeletak sebuah hoodie hitam. Hoodie yang tadi dipakai Kael. Evelyn langsung menepuk dahinya.

"Ya ampun."

"Kael!"

Ia buru-buru mengambil hoodie itu lalu berlari menuju pintu.

Klik!

Pintu terbuka kembali.

"Kael!"

Koridor di luar tampak sepi.

Lampu-lampu hangat menyala tenang. Namun... tidak ada siapa-siapa.

Evelyn mengernyit. "Hah?"

Ia melangkah keluar sedikit.

Melihat ke arah lift. Kosong.

Melihat ke arah ujung koridor.

Juga kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kael sama sekali.

Padahal baru beberapa detik lalu pria itu berjalan pergi.

Bahkan kalau berjalan cepat pun, seharusnya masih terlihat.

Koridor private floor ini cukup panjang. Tidak mungkin orang bisa menghilang secepat itu.

Evelyn berdiri mematung sambil memegang hoodie hitam tersebut. "...perasaan baru lewat sini deh."

Matanya kembali mencari ke sekitar. Tetap tidak ada.

Lift juga tidak berbunyi.

Tidak ada suara pintu terbuka.

Tidak ada suara langkah kaki. Hening. Benar-benar hening.

Entah kenapa rasa

merinding perlahan menjalar di tengkuknya.

"Oke." Evelyn langsung menggeleng keras.

"Stop."

"Lo terlalu banyak baca novel thriller."

"Pasti dia udah masuk lift."

Ia mengangguk sendiri.

Meski lift yang ada di sana jelas masih menunjukkan posisi yang sama. Evelyn memilih tidak memikirkannya lebih jauh.

Semakin dipikirkan, semakin aneh rasanya. Akhirnya ia kembali masuk ke apartemen.

Klik.

Pintu dikunci. Dua kali.

Kemudian tiga kali. Untuk berjaga-jaga. Hoodie milik Kael ia lipat dengan rapi lalu diletakkan di sandaran sofa.

"Besok aja gue balikin."

gumamnya.

Setelah itu Evelyn menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Matanya menatap langit-langit. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang aneh. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang perlu dipikirkan.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!