Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sementara itu, di lantai teratas gedung Suryo Group, pintu ruangan CEO mendadak terbuka kasar.
Dio melangkah masuk dengan wajah sepucat kertas, tubuhnya gemetar menahan ketakutan saat menyerahkan laporan kegagalan misi subuh tadi.
"A-apa kamu bilang?!"
Suara Rimba membentur dinding kaca ruangan. Matanya membelalak mendengarkan penuturan Dio—bagaimana empat preman sewaan berbadan kekar yang dibayar mahal justru luluh lantak, dihajar habis-habisan oleh seorang wanita penjual ikan, hingga dokumen kontrak berharga milik perusahaan berakhir robek menjadi serpihan tak berguna.
Amarah Rimba meledak seketika. Ia menghempaskan vas bunga kristal di atas mejanya hingga hancur berkeping-keping memantul di lantai.
Rahangnya menegang hebat, urat-urat di lehernya bertonjolan memerah.
Bagi seorang CEO yang menguasai jaringan bisnis raksasa, fakta bahwa bawahannya dikalahkan oleh penjual ikan pasar adalah penghinaan paling menyakitkan sepanjang hidupnya.
"Dasar tidak berguna! Empat pria berotot kalah sama satu perempuan?!" bentak Rimba dengan napas berburu murka.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja.
Jika otot dan taktik intimidasi tidak mempan melunakkan benteng gadis itu, maka Rimba akan meluncurkan senjata terhebat yang selama ini tak pernah gagal menundukkan siapa pun. Uang.
Rimba menatap Dio dengan tatapan tajam membunuh, memberikan perintah mutlak tanpa tawar-menawar.
"Kirimkan uangnya sebanyak mungkin agar wanita itu mau!!" seru Rimba tegas, nadanya dingin dan penuh dominasi.
"Bawa satu koper penuh uang tunai besok pagi ke lapaknya! Beli seluruh ikannya, beli harga dirinya! Aku tidak mau tahu, buat perempuan itu berlutut dan menerima penawaran kita!"
"Ralat!" potong Rimba cepat sebelum Dio sempat melangkah. Matanya menyala penuh amarah yang tak sabar.
"Jangan tunggu besok pagi! Kirim uang itu sekarang juga dan lempar tepat di wajahnya!"
Dio menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Baik, Pak Rimba!"
Ia langsung berbalik dan bergegas pergi membawa koper penuh uang tunai menuju pasar.
Sementara itu suasana lapak Dayang sudah kembali rapi berkat bantuan Jamal dan anak-anak parkir lainnya.
Jamal yang melihat kedatangan Dayang langsung menghampiri sembari menyerahkan seikat uang kertas bertekstur lusuh.
"Mbak, ini uang hasil penjualan selama Mbak ke rumah sakit tadi. Stok ikan asap sudah laku sebagian. Aku lanjut parkir dulu ya," ucap Jamal jujur.
Dayang menganggukkan kepalanya, lalu mencabut dua lembar uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan mengulurkannya pada Jamal.
"Ini buat kamu beli mie ayam sama es cincau."
Mata Jamal seketika berbinar terang. "Wah, alhamdulillah! Terima kasih banyak, Mbak Dayang!" serunya girang sebelum kembali berlari ke area parkiran depan.
Dayang menarik napas dalam-dalam, menghembuskan sisa-sisa emosi yang sempat membakar dadanya.
Ia kembali berdiri di balik meja seng, mengenakan celemek hitamnya, lalu mulai merapikan sisa-sisa cumi, udang, dan ikan tengiri yang belum terjual.
Pasar Matahari mulai riuh kembali oleh pedagang dan pembeli yang hilir mudik.
Ibu-ibu langganan yang tadinya bersembunyi saat kerusuhan terjadi kini perlahan mendatangi lapaknya.
"Dayang, kamu nggak apa-apa, kan? Tadi ibu deg-degan banget ngeliat kamu dikeroyok preman-preman itu," bisik Bu Sum, pelanggan setia yang biasa membeli udang segar.
Dayang tersenyum tipis sembari membungkus satu kilogram udang vaname ke dalam kantong plastik hitam.
"Nggak apa-apa, Bu Sum. Cuma sampah lewat. Yang penting Pak Mat sudah ditangani dokter. Ini udangnya, khusus buat Bu Sum saya kasih bonus sedikit."
"Duh, terima kasih ya, Nduk. Kamu itu memang sudah cantik, jago silat, baik hati pula," puji Bu Sum gembira seraya menyerahkan lembaran uang pas.
Dayang melayani para pembeli dengan cekatan seperti biasa.
Jemarinya yang terampil begitu lincah menimbang ikan, membersihkan sisik, dan memotong bagian insang tanpa canggung.
Keberaniannya menumbangkan empat preman tadi subuh justru makin membuat para pedagang dan pelanggan kagum pada sosok gadis tulang punggung keluarga tersebut.
Namun, di tengah keriuhan transaksi yang kembali hangat itu, langkah kaki bersepatu kulit mahal terdengar menghentak keras di atas lantai semen pasar yang becek.
Dio tiba di lorong tersebut bersama dua pengawal berbadan tegap yang mengapitnya.
Di tangan Dio, terselenggara sebuah koper hitam tebal bermaterial premium yang tampak sangat kontras dengan kumalnya lingkungan pasar.
Langkah Dio berhenti tepat di depan lapak Dayang.
Suasana di sekitar lapak seketika kembali menghening. Ibu-ibu yang sedang menawar ikan mendadak undur diri karena merasakan aura ketegangan yang kembali menyergap.
Dayang menaikkan pandangannya pelan dari meja seng.
Matanya beradu tatap dengan Dio. Tanpa rasa gentar sedikit pun, Dayang menyandarkan pisau pemotong ikannya ke talenan kayu.
"Mau apa lagi?" tanya Dayang dingin.
Dio meletakkan koper hitam itu di atas meja seng Dayang dengan hentakan keras.
Dengan senyum sinis yang tertahan, ia menarik ritsleting koper dan membukanya lebar-lebar.
Di dalamnya, tumpukan uang kertas lima puluh dan seratus ribuan berwarna merah serta biru tersusun rapi, tebal, dan berkilau di bawah temaram lampu pasar.
Jumlahnya puluhan juta rupiah, jauh melampaui omzet penjualan ikan Dayang selama berminggu-minggu.
"Pak Rimba tidak suka penolakan, Nona Dayang," ujar Dio penuh dominasi, suaranya lantang agar terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
"Ambil uang ini sekarang juga. Beli semua pasokan yang ada, jadilah distributor tetap Suryo Group, dan lupakan kejadian tadi subuh. Ini nilai yang jauh lebih dari cukup untuk membayar harga diri dan pasokan ikanmu."
Dua pengawal berbadan tegap di belakang Dio melipat tangan di dada, memberi tekanan visual yang mengancam.
Pedagang lain menahan napas; tak ada orang di pasar becek itu yang pernah melihat uang tunai sebanyak itu dibeberkan begitu saja.
Namun, Dayang sama sekali tidak tergiur. Tatapannya justru makin mengkristal, dingin dan sarat penghinaan.
Tanpa sepatah kata pun, Dayang meraih gayung plastik berisi air es bekas bilasan amis ikan di samping talenannya.
BYURRR!!
Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Dayang menyiramkan air amis berbau menyengat itu tepat ke dalam koper terbuka milik Dio.
Lembaran-lembaran uang tebal itu seketika basah kuyup, tercemar air amis berlendir dan serpihan sisik ikan.
"Kurang ajar!" pekik Dio kaget, melangkah mundur panik sembari mengusap cipratan air amis yang mengenai kemeja mewahnya.
Dayang maju satu langkah, mencondongkan tubuhnya di atas meja seng dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Bilang ke Rimbun, Rimba, Rimbi, atau siapa lah nama bosmu yang sok kuasa itu!" gertak Dayang dengan suara rendah yang mengintimidasi.
"Uang haram dari orang yang sudah mencelakai Pak Mat nggak akan pernah bisa beli prinsipku! Mau dia bawa uang satu truk ke sini, jawaban dari Dayang cuma satu: NGGAK AKAN PERNAH!"
Dayang menyambar koper basah berbau amis itu, lalu melemparkannya keluar dari lapak hingga mendarat keras di atas genangan lumpur pasar.
"Bawa sampah ini keluar dari pasarku sebelum pisauku yang ngantar kalian pulang!" ancam Dayang seraya menancapkan pisau pemotong ikannya hingga tertancap dalam di talenan kayu.
Dio dan kedua pengawalnya berdiri terpaku dengan muka pucat dan baju tercemar bau amis.
Menyadari keutuhan fisik mereka terancam di tempat itu, Dio menyambar kopernya yang berlumur lumpur dan bergegas angkat kaki dalam kehancuran total.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂