Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Gerimis tipis turun perlahan membasahi dedaunan teh di lereng perbukitan Bandung, membawa hawa dingin yang mengigit kulit. Namun, di dalam rumah panggung bernuansa kayu itu, kehangatan seolah tak pernah pudar. Asap mengepul perlahan dari secangkir teh melati panas yang terhidang di atas meja rotan kecil di sudut ruang tengah.
Kinanti duduk bersila di atas karpet berbulu tebal, tangannya sibuk mencatat sesuatu di buku tulis bersampul cokelat. Wajah cantiknya tampak serius namun menggemaskan, sesekali ia menggigit ujung pena seraya bergumam pelan memikirkan resep.
Pintu depan berderit terbuka, disusul langkah kaki yang mantap. Arka melangkah masuk dengan jaket tebal yang sedikit basah oleh titik-titik hujan. Ia baru saja selesai memastikan atap dapur dan gudang penyimpanan kayu aman dari kebocoran cuaca pegunungan.
Melihat suaminya pulang, Kinanti langsung meletakkan buku catatannya. Ia beranjak menghampiri Arka, meraih handuk bersih dari gantungan, dan mengusap rambut tegap suaminya dengan penuh kelembutan.
"Mas Arka, hujan-hujanan ih. Nanti masuk angin lho," omel Kinanti dengan nada manja, berjinjit sedikit untuk mengeringkan rambut Arka.
Arka menunduk, membiarkan istrinya merawat dirinya dengan senyum hangat yang tak pernah lepas dari bibirnya. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Kinanti, menarik tubuh mungil itu merapat ke dada bidangnya.
"Cuma gerimis kecil, Sayang. Lagian kalau masuk angin, kan ada istri Mas yang pintar ngerawat," goda Arka dengan suara baritonnya yang lembut dan dalam.
Pipi Kinanti seketika merona. Ia memukul pelan dada Arka dengan handuk tersebut. "Gombal terus! Udah sana ganti baju dulu, terus minum teh panasnya. Aku lagi ngitung modal buat acara akhir pekan ini."
Arka menurut, mengecup kilat pipi Kinanti sebelum bergegas mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan kaus rajut tipis yang mencetak jelas postur tubuh tegapnya. Ia duduk di samping Kinanti, menumpukan dagunya di bahu sang istri untuk mengintip isi buku catatan tersebut.
"Acara apa akhir pekan ini, Ibu Bos?" bisik Arka santai tepat di telinga Kinanti.
Kinanti menoleh dengan mata berbinar-binar penuh semangat. "Pak Kades tadi pagi mampir waktu Mas lagi ke kebun. Katanya akhir pekan ini bakal ada Festival Panen Raya di lapangan utama desa! Semua warga boleh buka stan makanan. Aku pengen banget buka warung cilok kuah rempah kita di sana. Pasti rame banget, Mas!"
Melihat antusiasme yang meluap dari mata bening istrinya, hati Arka terasa begitu penuh. Dulu, dunianya hanya berisi peta strategi berdarah dan perebutan wilayah kekuasaan yang kejam. Kini, kebahagiaan mutlaknya hanyalah melihat istrinya bersemangat merencanakan stan kecil di sebuah festival desa yang sederhana.
"Ide yang luar biasa," sahut Arka tulus, mengusap puncak kepala Kinanti. "Mas yang akan urus semua persiapannya. Dari bikin tenda bambu, angkut panci besar, sampai jaga stan, biar Mas yang kerjakan. Kamu cukup duduk manis meracik bumbu."
"Eh, nggak boleh gitu dong! Kita harus kerja bareng," protes Kinanti sambil tertawa riang, menyandarkan kepalanya di dada Arka. "Mas Arka bagian angkut-angkut, aku bagian masak. Pasangan paling solid sedesa!"
Arka tertawa rendah, memeluk erat tubuh hangat Kinanti seraya mendengarkan ritme rintik hujan di atas atap genteng.
Hujan gerimis semakin deras membasahi pekarangan luar. Suara gemericik air yang menghantam tanah berpadu merdu dengan denting aroma kayu basah dari arah hutan pinus. Di dalam rumah panggung, kehangatan kian terasa kental saat Arka merebahkan punggungnya di atas karpet tebal, menyandarkan kepalanya di pangkuan Kinanti.
Kinanti tersenyum manis, jemari lentiknya membelai lembut rambut hitam Arka yang tebal. "Mas, beneran nggak apa-apa kalau kita jualan banyak nanti pas panen raya? Mas nggak cape?"
Arka mendongak, menatap mata bening istrinya dari bawah. Pendar cinta memancar tanpa batas dari tatapan pria tegap itu. "Mana ada istilah cape kalau ngerjainnya bareng kamu, Sayang. Apalagi melihat kamu senyum gembira kayak gini, rasa capek Mas hilang semua."
Kinanti merona, menyembunyikan wajah bahagianya seraya memukul pelan bahu Arka. "Ih, Mas Arka makin hari makin pinter bikin jantung aku maraton!"
Bugh! Brak!
Tiba-tiba, suara kepakan kayu dan benturan agak keras terdengar dari arah teras belakang, memecah keheningan romantis di dalam ruangan. Insting tempur Arka yang sudah terlatih bertahun-tahun seketika bergolak. Mata Arka yang semula teduh dan penuh kelembutan berubah menajam dalam sekejap mata.
Dalam hitungan milidetik, Arka sudah bangkit berdiri, menempatkan tubuh tegapnya secara refleks di depan Kinanti untuk melindunginya.
"Mas... ada apa?" tanya Kinanti cemas, memegang erat ujung kaus Arka.
"Tunggu di sini, Kin. Jangan keluar," bisik Arka amat rendah namun tegas.
Arka melangkah tanpa suara menuju pintu belakang. Tangan kanannya secara intuitif mencengkeram gagang pisau lipat kecil yang terselip di balik saku celananya. Mata pemangsanya memindai kegelapan teras belakang yang terguyur hujan deras.
Kring!
Sesosok tubuh dengan mantel hujan tebal tampak berdiri terhuyung di bawah guyuran air. Pria itu menyandarkan bahunya di tiang kayu teras, memegang perutnya yang memar dan berdarah.
"S-siapa di sana?!" tegur Arka dingin, siap melayangkan serangan mematikan jika pria itu menunjukkan tanda bahaya.
Pria bermantel itu perlahan mendongak, membuka penutup kepalanya yang basah kuyup. Wajahnya dipenuhi goresan luka dan lebam tebal, namun senyum miringnya yang khas tidak pernah hilang.
"B-Bos Arka... aduh, jahitannya lepas semua nih..." ringis pria itu dengan suara serak menahan sakit.
Arka membelalakkan mata tipis. Pria itu bukan musuh dari kelompok mafia baru.
"Lingga?!" seru Arka heran, menurunkan kewaspadaannya.
Lingga, si mantan petinggi The White Dragon berambut mullet yang baru saja berpamitan tadi pagi untuk kembali ke Jakarta, kini berdiri terdesak dan terluka parah di teras belakang rumahnya.
"Gua... gua baru jalan sepuluh kilo dari perbatasan desa, Bos..." bisik Lingga tersengal-sengal, memuntahkan sedikit sisa darah dari mulutnya. "Ada kelompok pemburu bayaran baru... mereka bukan nyerang gua, Bos. Mereka... mereka lagi menuju ke sini... incar Mbak Kinanti..."
Brak!
Lingga ambruk tak sadarkan diri di atas lantai kayu teras.
Arka mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lengannya menonjol tajam. Matanya membeku, memancarkan kilatan aura membunuh yang jauh lebih mengerikan dari malam-malam sebelumnya.
Rupanya, matinya Club Strawberry baru saja membuka pintu bagi para pemburu hadiah dari konsorsium internasional yang menginginkan kepala sang Legenda dan keselamatan istrinya.