`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18_Tontonan di Kantin
...BAB 18_Tontonan di Kantin...
Aura di sepanjang koridor utama Ozawa School mendadak berubah mencekam, mematikan seluruh keriuhan jam istirahat yang biasanya diisi oleh tawa dan candaan para murid. Puluhan pasang mata dari berbagai tingkatan kelas melot tak percaya, menyaksikan sebuah pemandangan absurd dan tidak masuk akal yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah sekolah elit tersebut.
Teo Ozawa—sang tiran kelas 12 yang paling ditakuti, putra tunggal pemilik yayasan yang biasa melangkah bagai raja di atas singgasana—kini berjalan kaku setengah langkah di belakang 'Alia'. Bahu kokoh yang biasanya dibalut keangkuhan itu terpasang canggung, menyandang tas sekolah kain berwarna pudar milik gadis itu.
Tidak ada gertakan kasar di wajahnya. Tidak ada senyum meremehkan yang biasanya menjadi ciri khas sang penguasa sekolah. Wajah Teo mengeras datar, namun sorot matanya memancarkan kegelapan emosional yang amat protektif sekaligus sarat akan penyesalan yang membakar dadanya hingga sesak.
Di depannya, Lea melangkah santai. Blazer biru tua berpangkat emas itu melekat sempurna di tubuhnya yang tegak. Setiap jengkal langkah kakinya memancarkan ketenangan seorang ratu yang sedang menuntun serigala pemangsa yang telah berhasil ia rantai lehernya.
Di balik wajah polos 'Alia' yang dipasangnya, sudut bibir Lea terangkat sangat tipis. Rasa geli dan sensasi kemenangan yang membakar menjalar pelan di dalam dadanya. `Lihatlah pria arogan ini`, batin Lea penuh cemooh seraya menikmati gesekan halus sepatu bludrunya di atas lantai marmer. `Hanya butuh sedikit umpan soal penyesalan dan cerita sedih yang kurancang rapi, tiran yang paling ditakuti di sekolah ini langsung bertekuk lutut menjadi anjing penjagaku.`
Saat mereka melangkah menembus pintu kaca kantin utama yang luas dan berpendingin udara, bisik-bisik kasak-kusuk langsung meledak bagai bom di setiap sudut meja.
`"Demi apa... itu Kak Teo?! Kok mau-maunya dia bawain tas si cewek beasiswa?"`
`"Anjir, bukannya waktu itu Alia dibully habis-habisan sampai dipermalukan satu sekolah?"`
`"Gue denger Kak Teo kalah taruhan tes olimpiade kemarin... tapi kok mukanya pasrah banget gitu? Kaya tunduk banget sama Alia!"`
Di meja VIP kantin yang terletak di area terdekat dengan konter minuman, `Reno` dan `Bagas` mendadak tersedak minuman soda mereka. Sebagai sahabat dekat yang menyaksikan langsung keterkejutan semua orang saat pengumuman nilai seleksi olimpiade kemarin, mereka tahu Teo terikat hukuman taruhan untuk menjadi pelayan Alia karena kalah nilai tes. Namun, melihat sorot mata Teo yang begitu penurut, mengapit tas Alia, dan menatap gadis itu seolah-olah seluruh dunianya bertumpu di sana... Reno dan Bagas merinding hebat. `Ini bukan sekadar menjalankan hukuman taruhan karena kalah ujian!` Ada sesuatu yang sangat gelap, patah, dan tidak wajar di dalam diri Teo saat ini.
Sementara itu, di meja tak jauh dari sana, `Sheila` meremas sedotan plastiknya hingga pecah. Matanya memerah menyalang, diselimuti amarah dan kecemburuan gila yang membakar dadanya sampai sesak. Tatapan hinaan dari murid-murid di sekitarnya terasa bagai sembilu yang menyayat harga dirinya.
Lea melirik sekilas ke arah Sheila, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Teo dengan tatapan menguji.
`"Teo! Kamu duduk di meja tengah sana,"` perintah Lea dingin. Suaranya jernih, tenang, dan tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Ia menunjuk meja kosong di pusat kantin yang menjadi pusat perhatian semua orang. `"Pesankan aku fettuccine carbonara dan air mineral dingin. Kejunya jangan terlalu banyak."`
Murid-murid di sekitar menahan napas serentak, menanti ledakan murka Teo yang tak pernah mau diperintah siapa pun di sekolah ini. Lea sengaja memberikan perintah detail itu di depan umum. Ia ingin menguji sejauh mana rantai rasa bersalah dan manipulasi psikologis yang ia tanam di kepala Teo sanggup mengikis gengsi pria itu.
Namun, respons Teo justru menghantam akal sehat seluruh orang di kantin.
`"Baik, Alia. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana,"` sahut Teo rendah. Suaranya tidak memancarkan amarah sedikit pun. Pria itu menurunkan tas sekolah Lea dari bahunya, meletakkannya sangat hati-hati di atas kursi kayu, lalu berbalik menuju konter makanan dengan langkah cepat.
Lea duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Matanya menatap punggung Teo yang menjauh, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. `Begitu mudah`, batin Lea seraya menahan tawa sinis yang hampir meluncur dari tenggorokannya. `Kalian semua yang dulu tertawa saat Alia dipermalukan di tempat ini, lihat siapa yang sekarang memegang kendali atas raja kalian.`
Tak butuh waktu lama, Teo kembali dengan nampan berisi makanan. Namun, sebelum nampan itu mendarat di meja, Sheila mendadak melangkah memotong jalan, menghentakkan kakinya dengan napas memburu di depan meja mereka.
`"Teo! Kamu gila, ya?!"` teriak Sheila melengking, memecah heningnya kantin dengan nada menuntut yang begitu pekat. `"Aku tahu kamu cuma kalah taruhan tes olimpiade itu! Tapi perlu ya sampai bawain tas dan mau-maunya disuruh-suruh sama wanita sampah beasiswa ini?!"`
Teo meletakkan nampan makanan di depan Lea perlahan, seolah memastikan piring tersebut tidak bergeser sedikit pun. Saat pria itu berbalik menatap Sheila, tidak ada lagi gertakan amarah biasa. Wajah Teo mendadak tenang, namun sorot matanya sepenuhnya mati dan dingin.
`"Aku sudah pernah memperingatkanmu, Sheila,"` ucap Teo datar, suaranya sangat rendah namun menggema di kantin yang hening.
Sheila yang merasa posisinya sebagai cewek paling berpengaruh di sekolah ini terancam justru tidak kapok sama sekali. Dengan wajah merah padam, ia tetap berani mengkonfrontasi Teo secara terang-terangan. `"Kenapa?! Aku cuma ngomong kenyataan! Kenapa kamu malah membela wanita murah yang dipelihara om-om kaya ini di depan semua orang?!"`
Lea mengamati drama di depannya tanpa mengedipkan mata. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menyaksikan betapa histerisnya Sheila dengan tatapan geli yang tertutup rapat oleh raut polosnya. `Ayo Sheila, berteriaklah lebih keras`, sorak Lea dalam hati. `Makin kamu berteriak, makin cepat Teo menghancurkanmu untukku.`
Teo tidak berteriak. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Sheila, Teo merogoh ponsel di dalam saku seragamnya, menekan satu nomor tombol cepat, lalu menyalakan mode `speaker phone`.
Panggilan tersambung dalam dua detik. Suara Kepala Divisi Keuangan Ozawa Group terdengar jernih menyapa dari ujung telepon: `"Selamat siang, Tuan Muda Teo."`
`"Batalkan seluruh kerja sama investasi Ozawa Group dengan perusahaan keluarga Sheila hari ini juga,"` perintah Teo dingin, tanpa keraguan sedikit pun. `"Tarik semua suntikan modal kita sebelum jam tiga sore."`
Di ujung telepon, sekretaris senior itu menjawab tanpa membantah: `"Baik, Tuan Muda. Perintah dieksekusi sekarang."`
`Tut.`
Teo memasukkan kembali ponselnya ke saku seragam. Seluruh kantin mendadak bernapas kaku. Ini bukan lagi sekadar gertakan atau ancaman di koridor—Teo baru saja menghancurkan fondasi bisnis keluarga Sheila hanya dalam kurun waktu lima belas detik.
Wajah Sheila yang tadinya memerah penuh amarah seketika berubah pucat pasi bagai mayat. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan oleh syok dan rasa takut luar biasa yang menghantam kesadarannya. Keberanian dan kesombongan Sheila runtuh total menjadi puing-puing di hadapan tindakan dingin Teo.
`"Sekarang,"` bisik Teo melangkah satu tapak mendekati Sheila, membuat gadis itu otomatis mundur ketakutan, `"keluar dari hadapanku sebelum aku mencabut sisa saham keluargamu yang lain."`
Tanpa sanggup mengeluarkan patah kata pun, dengan tubuh gemetar hebat dan air mata histeris yang mulai menetes, Sheila berbalik dan berlari keluar dari kantin, meninggalkan seluruh kehormatannya yang hancur berantakan.
Teo menarik napas dalam-dalam, menekan sisa emosinya. Di kepalanya, bayangan laporan rumah sakit tadi pagi terus berputar bagai kaset rusak: Alia yang terdesak, Nenek Lastri di kamar VVIP, dan beban penderitaan yang dipikul gadis ini sendirian. Rasa bersalah yang teramat sangat membakar dadanya hingga sesak. Ia bersumpah akan merebut dan melindungi Alia dari siapa pun—termasuk dari Sheila dan pria-pria kaya yang memelihara gadis ini.
`"Duduk, Teo,"` panggil Lea tenang, memutus keheningan mencekam yang melingkupi kantin. `"Makananku mulai dingin."`
Teo mengangguk pelan, lalu duduk di hadapan Lea bak serigala pemangsa yang telah berhasil dijinakkan sepenuhnya.
Lea mengambil garpunya, memutar gulungan fettuccine seraya menatap Teo yang kini menunduk kaku di hadapannya. `Satu bidak terhempas tanpa perlu aku mengotori tanganku sendiri`, batin Lea seraya mengunyah makanannya dengan amat anggun. Bidak tiran sekolah ini kini bukan hanya tunduk karena kalah taruhan, tapi sudah terikat rapat oleh rantai rasa bersalah dan obsesi protektif yang ia rancang sendiri.
Sore harinya, setelah bel pulang sekolah bergema dan Teo ia perintahkan untuk langsung pulang tanpa mengikutinya, Lea mengendarai mobil mewahnya melintasi pinggiran kota. Tujuannya bukan rumah kontrakan sederhana di Jakarta Selatan, melainkan sebuah Rumah Sakit Jiwa swasta bernuansa eksklusif dan sangat tertutup di kawasan Bogor.
Dengan pengawalan ketat dari tim keamanan pribadi yang disewa jaringan luar negerinya, Lea melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang tenang dan beraroma antiseptik hingga berhenti di depan sebuah suite perawatan khusus.
Di dalam kamar yang serba putih dan asri itu, seorang gadis dengan wajah yang seratus persen identik dengan Lea sedang duduk mematung di dekat jendela, menatap kosong ke arah taman. Gadis itu adalah `Alia Anggita` yang asli—kembarannya yang hancur, mengalami trauma psikologis berat, dan terus mencoba menyakiti diri sendiri akibat kekejaman perundungan Teo dan Sheila di Ozawa School.
Lea melangkah mendekat tanpa suara. Setiap kali melihat wajah pucat dan tatapan kosong kembarannya, dada Lea selalu berdenyut nyeri oleh amarah yang membakar. Ia berlutut di samping kursi roda kembarannya, lalu mengelus lembut rambut karamel Alia yang dulu sangat halus kini tampak kusam. Tatapan mata Lea dipenuhi kasih sayang yang mendalam, namun di dalamnya berkobar api dendam yang dingin dan mematikan.
`"Istirahatlah dengan tenang di sini, Alia..."` bisik Lea pelan di telinga kembarannya, suaranya sehalus sutra namun tajam bagai sembilu. `"Hari ini, cewek bernama Sheila itu sudah menangis histeris karena keluarganya dihancurkan oleh Teo sendiri. Dan Teo... pria yang menghancurkanmu itu, sekarang merayap di bawah kakiku menjadi pelayan yang patuh."`
Lea tersenyum tipis menatap wajah pucat kembarannya yang masih menatap kosong ke luar jendela. Ia mengusap pipi Alia dengan lembut sebelum berdiri tegak. Permainan ini baru saja dimulai, dan ia tidak akan pernah berhenti sampai seluruh keluarga Ozawa dan para pembully itu hancur bertekuk lutut di bawah kakinya.