Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Gadis nakal
Laluna menggesek gesekkan rambutnya dengan kain handuk, sambil menonton film kartun di layar tv. Ia menunggu suami kontraknya yang entah kenapa tidak kunjung pulang. Setelah rambutnya benar benar kering, Laluna segera bangkit untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
Deretan pesan dari suaminya memenuhi layar notifikasi ponselnya. Hingga tatapannya membulat saat ia membaca pesan terakhir yang baru saja di kirimkan suami kontraknya itu.
"Tidur saja dulu, saya akan pulang terlambat."
Laluna tidak menjawab pesan itu, melainkan ia kembali meletakkan ponselnya. Walau ia merasa sedikit kesal dengan Nathan. Padahal hari ini ia mau mengomeli pria itu karena memberikannya banyak sekali penjaga yang membuatnya merasa pusing.
" Pasti dia sengaja," gumamnya.
Laluna segera mengambil remote televisi lalu mengganti acara menjadi acara gosip. Ia ingin tahu apakah beritanya sudah hilang atau masih ada yang tetap membicarakannya. Ia terkejut, saat melihat foto Selena dan Kevin yang akan memerankan drama baru dari tuan Bagas.
"Mereka? Bukankah mereka sudah diboikot. Kenapa tuan Bagas malah menerimanya?" gumamnya.
Laluna memperhatikan layar televisi dengan tatapan bingung. Wajah Selena dan Kevin terpampang jelas di layar, disertai berita mengenai proyek drama terbaru yang akan diproduksi oleh Bagas.
"Setelah beberapa waktu menghilang dari dunia hiburan karena masalah mereka dnegan aktris Laluna, artis baru Selena dan aktor utama Kevin akhirnya kembali dengan proyek besar..." suara pembawa acara terdengar.
Laluna mengerutkan kening. Ia masih ingat bagaimana nama kedua orang itu menjadi bahan perbincangan setelah skandal dirinya dan dua orang itu tersebar. Untung saja, Nathan membantunya dan membuat dua artis itu balik dikecam.
"Padahal kemarin semua orang mengecam mereka dan tuan Rangga saja sudha memboikotnya," gumam Laluna pelan.
Tangannya mengambil bantal sofa lalu memeluknya sambil terus menatap layar. Ada rasa tidak nyaman yang muncul dalam hatinya. Bukan karena Selena atau Kevin, tetapi karena ia tahu siapa Bagas. Pria itu bukan orang sembarangan. Laluna juga tahu tuan Bagas tidak akan memberikan sesuatu secara cuma cuma. Ia hanya menghela nafasnya.
"Semoga dua orang itu tidak nekat," pikir Laluna.
Baru saja ia hendak mengganti saluran televisi, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Laluna melirik layar. Sebuah pesan masuk dari Nathan.
" Jangan tidur di sofa. Masuk ke kamar."
Alis Laluna langsung terangkat.
"Dia ini... baru bilang pulang terlambat, tapi masih sempat mengaturku," gerutunya.
Ia mengetik balasan dengan cepat.
"Saya bukan anak kecil, Tuan Nathan. Saya bisa mengurus diri sendiri."
Laluna melempar ponsel itu ke arah lain, ia segera menarik selimut yang ia bawa. Ia segera merebahkan dirinya sambil menonton film horor yang paling ia sukai. Ia tidak peduli dengan ucapan pria itu yang memintanya untuk ke kamar.
'Memangnya dia siapa berani mengatur?' pikirnya.
Nathan akhirnya pulang ke apartemen milik Laluna. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam ketika pria itu membuka pintu dengan pelan. Ia mengira apartemen itu sudah gelap dan Laluna sudah tidur. Namun, dugaannya salah.
Suara televisi masih terdengar dari ruang tengah. Nathan menghela nafas kecil.
"Dia benar-benar tidak mendengarkanku," gumamnya.
Langkahnya membawa pria itu menuju ruang tengah. Pemandangan yang ia lihat membuat dahinya langsung berkerut. Laluna tertidur di atas sofa dengan posisi yang tidak nyaman. Selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya, sementara televisi masih menampilkan film horor yang bahkan belum selesai. Nathan menatap layar televisi lalu kembali melihat wanita itu.
"Katanya bisa mengurus diri sendiri," ucapnya pelan.
Ia berjalan mendekat lalu mengambil remote untuk mematikan televisi. Cahaya ruangan yang sebelumnya terang perlahan menjadi redup. Laluna sedikit bergerak, tetapi ia masih memejamkan matanya.
Nathan jongkok di hadapan istri kontraknya itu, ia menaruh rambut Laluna yang menutupi wajahnya ke sela kupingnya. Wajahnya terlihat kelelahan, ia segera menggendong gadis itu menuju ke kamarnya.
Nathan berjalan perlahan sambil menggendong Laluna. Wanita itu sama sekali tidak terbangun, hanya sesekali mengerutkan kening karena merasa terganggu oleh perubahan posisi tidurnya.
Pria itu menatap wajah Laluna yang terlihat lebih tenang ketika sedang tertidur.
Berbeda dengan saat terjaga, Laluna selalu memiliki banyak hal untuk dikatakan. Ia keras kepala, suka membantah, dan tidak pernah mau kalah ketika berdebat dengannya.
"Selalu membuat orang lain khawatir," gumamnya.
Sesampainya di kamar, Nathan membaringkan Laluna dengan hati-hati di atas ranjang. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuh wanita itu, memastikan tidak ada bagian yang terbuka. Baru saja ia hendak pergi, tangan Laluna tiba-tiba bergerak dan tanpa sadar menarik ujung kerah kemeja Nathan.
Wajah mereka bertemu bahkan Nathan bisa mencium wangi buah buahan yang menguar dari tubuh gadis itu, ia segera meraih tangan Laluna dan mencoba untuk melepaskannya. Namun, gadis itu mencengkeram ujung kerah kemeja Nathan begitu kuatnya.
"Laluna, lepas," bisik Nathan.
Laluna tidak peduli, ia malah bergerak dan menarik kerah kemeja Nathan yang membuat bibir kedua orang itu bertemu. Nathan membeku. Untuk beberapa detik, ia hanya diam dengan mata yang masih menatap wajah Laluna. Wanita itu bahkan tidak sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Matanya tetap tertutup, napasnya teratur, seolah kejadian barusan hanyalah bagian dari tidurnya.
Nathan segera mengalihkan pandangannya. Ia perlahan melepaskan tangan Laluna dari kerah kemejanya dan menjauhkan dirinya.
"Laluna..." gumamnya pelan.
Ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya. Perasaan yang selama ini selalu ia coba abaikan. Ia mengenal Laluna sebagai wanita yang berisik, ceroboh, dan selalu berhasil membuat kesabarannya diuji. Namun melihat wanita itu tertidur dengan wajah polos seperti ini membuatnya sulit untuk tetap bersikap dingin.
Nathan menghela napas panjang, lalu berdiri.
"Dasar gadis nakal," ucapnya lirih.
Ia membenarkan kerah kemejanya yang sedikit berantakan sebelum kembali menatap Laluna. Tangannya sempat terangkat, seolah ingin merapikan rambut wanita itu lagi, tetapi ia mengurungkan niatnya. Namun baru saja ia hendak melangkah pergi, suara Laluna terdengar pelan.
"Nathan..."
Langkah pria itu berhenti. Ia menoleh, mengira wanita itu sudah bangun. Namun ternyata Laluna masih tertidur. Bibirnya bergerak pelan, seakan memanggil namanya dalam mimpi.
Nathan terdiam. Selama ini Laluna selalu memanggil namanya dengan nada kesal atau penuh protes. Tidak pernah sekalipun dengan suara selembut itu.
"Apa yang kamu mimpikan sampai memanggil namaku?" tanyanya pelan.
Tidak mendapatkan jawaban, Nathan akhirnya mematikan lampu kamar dan berjalan menuju pintu luar, untuk membersihkan dirinya.