Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akankah Menjadi Cinta Abadi
Keesokan harinya, Dimas dan Rina berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke taman kota yang selalu menjadi tempat favorit mereka. Udara pagi itu terasa segar dan sejuk, membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan ringan semalam, serta wangi bunga-bunga liar yang tumbuh berderet di pinggir jalan.
Langit di atas mereka berwarna biru cerah, bersih tanpa satu pun awan yang menutupi cahaya matahari yang mulai naik perlahan, menyebarkan sinar keemasan yang hangat namun tidak menyengat, menyentuh dedaunan di sekitar mereka hingga berkilau bagaikan permata.
Rina berjalan di samping Dimas dengan langkah yang ringan, seakan setiap langkah yang diambilnya terasa lebih mudah dan lebih bermakna dari sebelumnya. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang lembut dan jatuh anggun hingga di bawah lutut, kainnya bergerak pelan mengikuti setiap gerak langkahnya, sementara rambut panjangnya yang terurai di bahu ikut terhembus angin pagi yang lembut.
Di sampingnya, Dimas tampak gagah dengan jaket denim biru tua yang dipadukan dengan kemeja putih di dalamnya, langkahnya tegap dan mantap, namun tatapannya yang sesekali beralih ke arah Rina selalu terlihat lembut dan penuh kasih sayang. Tangan mereka saling menggenggam erat, jari-jemari saling bertautan seakan tak ingin memberi ruang sedikit pun di antara keduanya, seakan genggaman itu adalah jaminan bahwa mereka benar-benar bersama, bukan sekadar mimpi yang akan lenyap saat matahari semakin tinggi.
Mereka berjalan dalam keheningan yang damai, bukan keheningan yang kosong atau canggung, melainkan keheningan yang penuh di mana kehadiran satu sama lain sudah cukup untuk mengisi setiap detik waktu yang berlalu. Pohon-pohon maple yang tumbuh berderet di sepanjang jalan setapak itu mulai mengubah warna daunnya menjadi kuning keemasan dan jingga, menandakan pergantian musim yang selalu membawa suasana hangat dan tenang.
Daun-daun itu jatuh perlahan, berputar pelan di udara sebelum akhirnya mendarat di tanah yang tertutup karpet dedaunan kering, menciptakan bunyi berderit halus setiap kali langkah kaki mereka menginjaknya bunyi yang terasa seperti irama lembut yang mengiringi perjalanan mereka pagi itu.
Dimas berjalan beberapa langkah dalam diam, seakan sedang menyusun kata-kata di dalam benaknya, sebelum akhirnya ia membuka suara, suaranya terdengar tenang namun ada nada yang sedikit ragu di dalamnya, seakan ia ingin menceritakan sesuatu namun takut jika hal itu akan membuat Rina merasa tidak nyaman.
"Ri..." panggilnya pelan, menoleh sedikit ke arah wanita di sampingnya itu.
Rina mendongak, menatapnya dengan mata yang berbinar lembut, penuh kelembutan dan perhatian.
"Ya, Dimas? Ada apa?"
Dimas menghela napas pelan, lalu melanjutkan langkahnya sambil tetap menggenggam tangan Rina.
"Sebenarnya... kemarin siang aku pergi ke restoranmu"
Rina berhenti berjalan sejenak, menatapnya dengan sedikit kebingungan, namun senyum tipis masih tersungging di bibirnya.
"Ke restoran? Kemarin? lalu?"
"Iya" jawab Dimas mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan seakan sedang mengingat kembali kejadian kemarin.
"Aku berniat menemui kamu di sana. Aku pikir kau mungkin sedang ada di ruangan kerjamu, jadi aku langsung saja ke restoran itu tanpa memberi tahu lebih dulu. Tapi begitu aku masuk, Rania yang menyambutku. Dia sibuk melayani pengunjung, bergerak ke sana kemari dengan sigap, dan sepertinya dia sama sekali tidak melihatmu masuk atau mungkin dia terlalu sibuk hingga tak sempat memperhatikan siapa yang datang"
Rina tersenyum mendengar itu, lalu kembali melangkah beriringan dengan Dimas, mendengarkan dengan saksama setiap kata yang diucapkan kekasihnya itu.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanyanya lembut, mendorong Dimas untuk melanjutkan ceritanya.
Dimas mengangguk pelan, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang sedikit datar namun tetap tulus.
"Begitu dia melihatku, dia langsung menghampiri dengan sangat antusias. Dia menyambutku dengan senyum yang sangat hangat, seakan aku datang khusus untuk menemuinya. Dia menawarkan tempat duduk, bertanya apa yang ingin kucari, dan bersikap seakan aku adalah tamu istimewa yang paling ia tunggu-tunggu. Saat itu aku belum sempat berkata apa-apa, jadi aku hanya berkata bahwa aku ingin menemui pemilik restoran itu"
Rina mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya tak lepas dari wajah Dimas, mencoba membayangkan bagaimana kejadian kemarin berlangsung di restoran itu.
"Lalu apa jawabannya?" tanyanya pelan, meski ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan selanjutnya.
Dimas menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Dia langsung berkata bahwa kau tidak ada. Bahwa pemilik restoran itu yang dia sebut Ibu Rosita Wijaya jarang sekali datang ke tempat itu, bahkan sejak dia bekerja di sana, dia hampir tidak pernah melihatmu sekalipun. Dan kemarin, katanya, kau sama sekali tidak ada. Dia berkata dengan sangat yakin, Ri seakan dia benar-benar tahu bahwa kau tidak pernah datang ke restoran itu, padahal kamu ada disana"
Mendengar penuturan Dimas itu, Rina tidak langsung marah atau kecewa. Sebaliknya, ia justru tertawa tertawa lembut namun tulus, suara tawanya terdengar jernih dan renyah di udara pagi yang tenang itu, seakan hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan, melainkan sesuatu yang justru patut disyukuri karena menunjukkan betapa dalamnya ketidaktahuan Rania akan kenyataan yang sebenarnya.
"Lalu..." ucap Rina di sela tawanya, matanya menyipit lembut menatap Dimas, "lalu kamu percaya?"
Dimas terdiam sejenak, menatap wajah Rina yang tampak begitu tenang dan santai, lalu ia menggeleng pelan, senyum tipis mulai muncul di bibirnya melihat reaksi kekasihnya itu.
"Tidak" jawabnya jujur dan tegas.
"Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin aku percaya padanya, padahal aku tahu siapa pemilik restoran itu dan betapa seringnya kau ke sana? Aku hanya... pergi begitu saja, Ri. Bukan karena aku percaya pada kata-katanya, tapi karena aku tidak ingin Rania bertanya lebih lanjut. Aku takut jika aku tetap di sana, dia akan mulai bertanya hal-hal lain yang belum saatnya dia ketahui, hal-hal yang mungkin akan membuatnya semakin bingung atau bahkan menyakiti hatinya lebih jauh"
Rina berhenti berjalan, lalu menatap Dimas dengan tatapan yang penuh pengertian dan kasih sayang. Ia melepaskan genggaman tangannya sebentar, lalu mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh pipi pria itu dengan lembut, jari-jarinya mengusap perlahan kulit wajah yang kasar namun hangat itu. Matanya menatap dalam ke manik mata Dimas, seakan ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar mengerti alasan di balik semua hal yang terjadi.
"Kau melakukan hal yang benar, Dimas" ucap Rina lembut namun tegas, suaranya terdengar begitu meyakinkan.
"Kau tidak salah karena pergi, dan kau tidak salah karena tidak memperdebatkan hal itu di depan Rania. Kau tahu sendiri bagaimana sifatnya dia keras kepala, dan begitu dia memegang sesuatu sebagai kebenaran, sangat sulit untuk mengubah pikirannya. Jika kau tetap di sana dan mencoba menjelaskan, mungkin justru akan semakin rumit. Dia mungkin akan berpikir bahwa kau sedang membela seseorang lain, atau bahkan dia akan menuduhku bersembunyi dan tidak ingin menemuinya. Dan itu bukan hal yang aku inginkan, Dimas. Aku tidak ingin hubungan kita atau bahkan hubungan kakak-adik kita menjadi kacau karena kesalahpahaman yang sebenarnya sangat sederhana ini"
Dimas menutup matanya sejenak, menikmati sentuhan lembut tangan Rina di pipinya, lalu ia mengangguk pelan, merasakan beban yang tadinya sempat membebani hatinya perlahan terangkat.
"Terima kasih, sayang aku hanya... aku hanya takut jika dia mulai berpikir yang bukan-bukan. Dia sudah terlihat begitu berharap saat melihatku datang, dan saat aku bilang aku menemuimu, aku bisa melihat kekecewaan di matanya. Dan sekarang... aku takut dia mulai menyimpulkan hal-hal yang tidak benar"
Rina tersenyum lembut, lalu menarik tangannya perlahan dan kembali menggenggam tangan Dimas erat-erat, seakan ingin menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama mereka saling percaya.
"Biarkan dia berpikir apa pun yang ingin dia pikirkan, Dimas. Waktunya akan tiba di mana dia akan tahu semuanya siapa aku sebenarnya, siapa pemilik restoran itu, dan apa hubungan kita. Dan saat itu tiba, aku berharap dia bisa mengerti dan menerima semuanya dengan lapang dada. Tapi untuk saat ini... biarkan semuanya berjalan seperti apa adanya. Kita tidak perlu terburu-buru mengungkapkan segalanya, terutama jika hal itu justru akan menyakiti hatinya lebih dulu dan memberi cela untuk laras menyakitinya.
Mereka kembali melanjutkan langkah, berjalan beriringan di bawah naungan pohon-pohon maple yang daunnya mulai berubah warna menjadi keemasan. Angin pagi berhembus pelan, menggerakkan dahan-dahan pohon dan membuat daun-daun kering berputar pelan di udara sebelum jatuh ke tanah, menciptakan pemandangan yang begitu indah dan menenangkan.
Cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan, menciptakan bintik-bintik cahaya yang bergerak pelan di permukaan tanah, seakan menari mengikuti irama langkah kaki mereka.
"Kau tahu, Ri..." ucap Dimas pelan, memecah keheningan yang damai di antara mereka, suaranya terdengar lembut namun penuh perasaan yang begitu dalam.
"Dulu aku sering merasa satu hari terasa sangat panjang. Aku berjalan tanpa tujuan, tanpa seseorang yang bisa kucari saat aku merasa lelah atau kesepian. Setiap langkah terasa berat, seakan aku berjalan di tempat yang tak berujung dan tak bertepi. Tapi hari ini... bersamamu, jalan ini terasa terlalu singkat. Aku ingin waktu berhenti sebentar, agar aku bisa lebih lama berjalan di sampingmu, merasakan genggaman tanganmu, dan menikmati momen ini sepenuhnya"
Rina menoleh ke arahnya, menatap wajah pria itu dengan penuh kasih sayang yang begitu tulus, matanya berbinar lembut memantulkan cahaya matahari pagi yang hangat.
"Begitu juga aku, Dimas. Dulu aku berpikir bahwa untuk menemukan masa depan yang bahagia, aku harus pergi jauh ke Amerika, ke tempat yang baru, di mana tidak ada siapa-siapa yang aku kenal. Aku berpikir bahwa kebahagiaan itu ada di tempat yang jauh, di tempat yang belum pernah kujangkau. Tapi sekarang... setelah semua yang kita lalui, setelah semua perasaan yang akhirnya terungkap di antara kita, aku sadar satu hal yang paling penting. Bahwa ke mana pun kau pergi, di mana pun kau berada, di situlah rumahku. Di mana pun kau berdiri, di manapun kau melangkah, di sanalah tempatku pulang. Karena rumah bukanlah tempat, Dimas.. rumah adalah orang yang ada di sampingmu. Dan kau adalah rumahku"
Dimas berhenti berjalan, lalu menarik tangan Rina hingga keduanya berdiri berhadapan tepat di bawah pohon maple yang daun-daunnya berwarna jingga keemasan yang paling indah. Ia menatap wanita di hadapannya itu dengan tatapan yang begitu dalam, begitu tulus, seakan ingin menghafal setiap lekukan wajah itu agar tak pernah hilang dari ingatannya. Perlahan, ia mengangkat tangan bebasnya dan menyentuh pipi Rina dengan lembut, jari-jarinya mengusap pelan kulit yang halus itu, seakan sedang memegang sesuatu yang paling berharga di dunia ini.
"Kau juga rumahku, Rina..tempat pulangku" ucapnya pelan namun tegas, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu tulus dan penuh keyakinan.
"Dan aku tak akan pernah membiarkanmu merasa jauh lagi. Ke mana pun kita pergi, apa pun yang terjadi di masa depan, kau akan selalu ada di sampingku, dan aku akan selalu ada di sampingmu. Tidak ada jarak, tidak ada rahasia, tidak ada yang bisa memisahkan kita. Karena sejak hari pertama kita bertemu, sejak saat pertama kita saling berbicara, hatiku sudah memilihmu. Dan hati itu tidak pernah salah"
Rina tersenyum bahagia, air mata bahagia hampir jatuh membasahi pipinya, namun ia menahannya karena ia tahu bahwa saat ini adalah saat yang penuh kebahagiaan, bukan tangisan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Dimas, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdetak tenang dan kuat, detak jantung yang kini menjadi jantungnya juga. Dimas memeluknya erat, membiarkan daun-daun maple yang jatuh di sekitar mereka menyentuh bahu mereka, seakan alam sendiri sedang merangkul cinta mereka.
"Terima kasih, Dimas" bisik Rina di pelukan itu, suaranya terdengar lembut namun penuh rasa syukur yang begitu besar.
"Terima kasih telah menungguku. Terima kasih telah memahamiku. Dan terima kasih karena kau tidak pernah menyerah padaku, bahkan saat aku sendiri menyerah pada diriku sendiri"
" Terimakasih juga karena telah menerimaku"jawab Dimas lembut sambil mengusap rambut panjang wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Mereka berdiri berpelukan di bawah pohon maple itu cukup lama, membiarkan waktu berjalan pelan, menikmati setiap detik kebersamaan mereka di pagi yang begitu indah itu. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga dan dedaunan yang segar, sementara daun-daun keemasan terus jatuh di sekitar mereka, menciptakan suasana yang begitu magis dan abadi.
Mereka belum tahu bahwa di belakang mereka, ada hati yang sedang terluka, ada perasaan yang sedang tumbuh menjadi benih kecemburuan dan keinginan yang salah. Mereka belum tahu bahwa Rania, adik kandung Rina sendiri, sedang merencanakan sesuatu yang kelak akan mengguncang kebahagiaan mereka. Namun untuk saat ini, mereka tidak peduli. Karena saat ini, mereka saling memiliki. Dan itu sudah cukup untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Perlahan mereka melepaskan pelukan itu, namun tangan mereka tetap saling menggenggam erat. Dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajah mereka, mereka kembali melanjutkan langkah, berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi daun-daun keemasan itu, menuju masa depan yang penuh harapan masa depan yang akan mereka bangun bersama, batu demi batu, kasih sayang demi kasih sayang, dan kepercayaan demi kepercayaan.
Bersambung...