Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Dua bulan telah berlalu sejak pesta ulang tahun Adeline. Rumah besar keluarga Wijaya kembali sunyi seperti biasanya, tetapi keheningan itu kini terasa berbeda. Elena sering mendapati dirinya mengamati putrinya dari kejauhan, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik mata jernih gadis kecil itu.
Adeline tumbuh seperti anak-anak lainnya. Dia suka bermain dengan boneka beruangnya, suka berlari di halaman belakang, dan suka meminta Adrian membacakan dongeng sebelum tidur. Namun ada saat-saat tertentu di mana Adeline tiba-tiba berhenti dan menatap kosong ke arah seseorang, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain.
Suatu sore, Elena sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca buku. Di luar, hujan turun dengan deras. Adeline duduk di lantai dekat jendela, menggambar dengan krayon warna-warni. Tiba-tiba gadis kecil itu mengangkat kepalanya dan menatap Elena dengan ekspresi khawatir.
"Ibu sedih," kata Adeline dengan suara pelan.
Elena terkejut. Dia memang sedang sedih, tetapi dia berusaha menyembunyikannya. Pagi itu dia menerima kabar bahwa sahabat lamanya sedang sakit parah di rumah sakit. Elena belum menceritakan hal itu kepada siapapun, termasuk Adrian. Dia tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang sibuk dengan pekerjaan.
"Kenapa Ibu sedih?" tanya Adeline lagi. Gadis kecil itu meninggalkan gambarnya dan berjalan mendekati ibunya. Dengan tangan mungilnya, dia mengusap pipi Elena. "Jangan sedih, Bu. Adeline di sini."
Elena merasakan air matanya menggenang. Dia menggenggam tangan putrinya dan menarik gadis kecil itu ke pangkuannya. "Kamu benar, Sayang. Ibu memang sedih. Tapi Ibu baik-baik saja, kok."
"Tidak," Adeline menggeleng. "Suara hati Ibu keras sekali. Ibu takut kehilangan seseorang. Ibu ingin memeluk seseorang tetapi tidak bisa."
Elena terdiam. Tidak mungkin Adeline tahu tentang sahabatnya. Gadis kecil itu bahkan tidak pernah bertemu dengan wanita tersebut. Lalu bagaimana dia bisa mengetahui semua ini? Elena memeluk putrinya erat-erat dan mencium rambutnya yang wangi. "Adeline, kamu tahu sesuatu, ya? Kamu bisa mendengar perasaan orang lain?"
Adeline mengangguk perlahan. "Kadang aku dengar suara dari dalam kepala orang. Seperti bisikan. Kadang nyaring, kadang pelan. Suara Ibu selalu paling nyaring, Bu. Adeline selalu dengar kalau Ibu sedih. Adeline tidak suka mendengar Ibu sedih."
Untuk pertama kalinya, Elena benar-benar percaya bahwa kemampuan putrinya bukanlah imajinasi. Ada sesuatu yang nyata dan kuat dalam diri Adeline. Elena mengusap rambut putrinya dan berkata dengan suara lembut, "Ibu akan selalu baik-baik saja, Sayang. Ibu punya kamu dan Ayah. Tapi Ibu minta maaf karena membuatmu khawatir."
Adeline tersenyum. Senyum itu begitu manis dan polos sehingga Elena merasa dadanya hangat. "Adeline sayang Ibu," kata gadis kecil itu. "Adeline tidak mau Ibu sedih. Nanti Adeline gambar bunga untuk Ibu, biar Ibu senang."
Malam itu, ketika Adrian pulang dari kantor, Elena menceritakan semua yang terjadi. Dia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah serius. Adrian yang baru saja melepas dasinya, berhenti bergerak dan menatap istrinya.
"Jadi kamu benar-benar yakin dia bisa merasakan emosi orang?" tanya Adrian. Suaranya tidak terdengar ragu lagi, tetapi lebih seperti seseorang yang mulai menerima kenyataan yang sulit dipercaya.
"Aku yakin, Adrian. Hari ini dia tahu kalau aku sedih tanpa aku mengatakannya. Dan dia tahu persis alasannya. Dia bahkan menyebutkan tentang sahabatku yang sakit. Padahal aku tidak pernah membicarakan itu di depannya."
Adrian duduk di samping Elena. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya penuh dengan kekhawatiran yang tulus. "Aku sudah menghubungi seorang psikolog anak, namanya Clara Anindita. Dia spesialis menangani anak-anak dengan kepekaan tinggi. Aku akan mengajaknya bertemu dengan Adeline minggu depan."
"Apa kamu yakin itu langkah yang tepat?" tanya Elena ragu. "Aku tidak ingin Adeline merasa seperti ada yang salah dengan dirinya."
"Aku tidak akan membiarkan siapapun membuatnya merasa aneh," jawab Adrian tegas. "Tapi kita perlu bantuan profesional untuk membantunya mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Kemampuannya bisa menjadi beban jika dia tidak tahu cara mengelolanya."
Keesokan harinya, Elena membawa Adeline ke taman dekat rumah mereka. Cuaca cerah dan angin berhembus sejuk. Adeline berlarian di antara bunga-bunga, tertawa riang. Elena duduk di bangku taman sambil mengawasi putrinya dengan senyum lembut. Namun senyum itu segera memudar ketika dia melihat Adeline berhenti berlari dan menatap ke arah seorang wanita tua yang duduk di bangku lain.
Wanita tua itu tersenyum pada Adeline dan melambaikan tangan. Adeline membalas senyum itu, tetapi Elena bisa melihat ekspresi putrinya berubah. Gadis kecil itu berjalan mendekati wanita tua tersebut dan berdiri di depannya dengan tatapan penuh perhatian.
"Nenek sedih," kata Adeline pelan. "Nenek kehilangan seseorang yang sangat disayang."
Wanita tua itu terkejut. Senyumnya menghilang dan digantikan oleh ekspresi terharu. Matanya berkaca-kaca dan tangannya gemetar saat meraih tangan Adeline. "Kamu anak yang luar biasa, Nak. Bagaimana kamu tahu?"
"Aku dengar, Nek. Suara Nenek berbisik di kepalaku," jawab Adeline. "Tapi jangan sedih, ya. Nenek tidak sendirian."
Elena cepat-cepat menghampiri dan meminta maaf kepada wanita tua itu. Namun wanita itu justru menggeleng dan berkata bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan. "Anak Anda istimewa," katanya pada Elena. "Dia memiliki hati yang sangat peka. Jaga dia baik-baik."
Sepanjang perjalanan pulang, Elena tidak bisa berhenti memikirkan kejadian itu. Adeline duduk di kursi mobil dengan tenang, menggambar di buku sketsanya seolah tidak terjadi apa-apa. Elena menatap bayangan putrinya di kaca spion dan bertanya-tanya, seberapa besar beban yang harus ditanggung gadis kecil itu setiap hari? Mendengar kesedihan orang lain, merasakan rasa sakit yang disembunyikan, semua itu pasti melelahkan bagi seorang anak seusianya.
Malam harinya, setelah Adeline tidur, Elena duduk di kamar putrinya dan mengamati wajah damai gadis kecil itu. Adeline memeluk boneka beruangnya sambil sesekali tersenyum dalam tidurnya, mungkin sedang bermimpi indah. Elena menyentuh pipi putrinya dengan lembut.
"Ibu berjanji akan selalu melindungimu," bisik Elena. "Apa pun yang terjadi, Ibu akan percaya padamu."
Di luar jendela, bulan bersinar terang. Rumah besar Wijaya tampak tenang di bawah cahaya malam. Namun Elena tahu bahwa ketenangan itu hanya permukaan. Di dalam rumah yang sama, ada orang-orang yang menyembunyikan kebencian dan iri hati. Dan dia tahu, putri kecilnya yang manis itu mendengar semuanya.
Besok, Adrian akan membawa Clara Anindita untuk bertemu Adeline. Elena berharap psikolog anak itu bisa membantu putrinya memahami kemampuannya. Tetapi di dalam hatinya, Elena menyadari satu hal: tidak ada buku psikologi atau teori apapun yang bisa sepenuhnya menjelaskan anugerah sekaligus beban yang dimiliki putrinya.
Adeline adalah anak yang bisa merasakan kesedihan. Dan dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan itu, mungkin dia adalah satu-satunya orang yang benar-benar jujur.