Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARENA KAU ISTIMEWA
Sore itu, langit di atas kota mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, menandakan hari yang sibuk akan segera berakhir. Kristin berjalan menyusuri jalanan perumahan yang tenang, sesekali menatap layar ponselnya untuk memastikan alamat yang ia cari sudah dekat. Setelah beberapa kali bertanya kepada warga sekitar dan menyesuaikan rute, akhirnya ia tiba di sebuah rumah yang terletak di sudut jalan yang agak sepi. Rumah itu tidak terlalu besar, namun tampak kokoh dan tertata rapi, dengan halaman depan yang dipenuhi beberapa tanaman hias yang tertata rapi di pot-pot tanah liat.
Di teras rumah tersebut, terparkir sebuah sepeda motor berukuran besar dengan desain yang gagah dan maskulin. Kristin mengenali motor itu dengan sekilas pandang. Itu adalah motor yang sering ia lihat dikendarai oleh Kak Doni di kampus. Hatinya seketika berdebar-debar. Jika motornya ada di sini, berarti Kak Doni sedang berada di dalam rumah.
Kristin menarik napas panjang, berusaha menenangkan kegugupan yang tiba-tiba menyerang. Ia berjalan perlahan menuju pintu depan, lalu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kayu itu. Bunyi ketukannya terdengar nyaring di keheningan sore itu.
Tak lama berselang, pintu pun terbuka. Sosok Doni muncul di balik pintu, mengenakan kaos oblong berwarna gelap dan celana panjang santai. Namun mata Kristin seketika tertuju pada lengan kanan Doni yang dibalut perban putih, melingkar rapi dari pergelangan hingga ke siku. Kristin terkejut melihat pemandangan itu.
"Kak Doni...?" panggil Kristin pelan, matanya menatap lekat-lekat perban itu. "Apa yang terjadi pada lengan Kakak?"
Doni menatap Kristin sekilas, lalu menaikkan alisnya dengan tatapan yang datar namun penuh tanya. "Harusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan ke rumahku sore ini, Kristin?" tanya Doni balik, tidak langsung menjawab pertanyaan Kristin.
Kristin seketika gelagapan. Ia tidak menyangka akan langsung ditanya begitu. Pikirannya berputar cepat mencari alasan yang masuk akal. "A-aku... aku sedang berjalan sore di sekitar sini," jawab Kristin dengan nada yang terdengar kurang yakin. "Lalu aku melihat motor yang terparkir di teras ini, dan motor itu mirip dengan punya Kak Doni. Jadi aku mengetuk pintu untuk memastikan apakah itu benar-benar motor Kakak atau bukan."
Doni terdiam sejenak, menatap Kristin dengan tatapan yang seakan menembus kebohongan kecil itu. "Jalan sore seperti apa yang menempuh jarak dari rumahmu ke sini, yang mana rumah kita cukup berjauhan?" tanya Doni dengan nada yang tenang namun menusuk. "Alasan itu tidak masuk akal, Kristin."
Kristin terdiam, bibirnya terkatup rapat. Ia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Namun Doni hanya menghela napas pelan, lalu menyisihkan tubuhnya dari pintu sambil memberi isyarat agar Kristin masuk. "Sudahlah, tidak apa-apa. Masuklah," ucap Doni singkat.
Kristin pun melangkah masuk ke dalam rumah, melewati lorong kecil yang menuju ke ruang tamu. Begitu masuk ke ruang tamu, mata Kristin terbelalak takjub. Ruangan itu jauh lebih rapi dan bersih dari yang ia bayangkan. Tidak ada selembar kertas berantakan, tidak ada barang yang berserakan. Sofa empuk berwarna gelap tertata rapi menghadap ke arah televisi, dan lantai keramik berkilau bersih.
"Kak Doni..." gumam Kristin takjub, matanya menyapu seluruh ruangan. "Apakah Kakak yang membersihkan seluruh bagian rumah ini sendirian?"
Doni yang berjalan di depannya berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Kristin dengan senyum tipis yang sedikit menyindir. "Aku menyuruh pihak dosen agar bergantian datang ke sini untuk membersihkan rumahku," jawab Doni dengan nada serius namun bercampur candaan.
Kristin spontan menatap Doni dengan wajah tidak percaya. "Pihak dosen? Mana mungkin itu terjadi, Kak Doni. Dosen saja sibuk dengan tugas dan riset mereka, mana sempat membersihkan rumah mahasiswa."
Doni tertawa kecil mendengar reaksi Kristin, lalu berjalan menuju sofa dan duduk dengan santai. "Ya, memang tidak mungkin. Tiap pagi sampai sore, ada pembantu rumah tangga yang tinggal di dekat sini yang datang untuk membersihkan rumahku sekaligus menyucikan pakaianku," jelas Doni dengan nada yang lebih serius. "Dia yang mengatur semuanya, jadi aku tidak perlu repot."
Kristin mengangguk pelan, duduk di ujung sofa berhadapan dengan Doni. "Pantas saja rumah ini begitu bersih dan rapi," gumamnya pelan.
Doni menatap Kristin dengan tatapan yang penuh selidik, lalu bersandar santai di sofa sambil melipat kedua tangannya di dada. "Ngomong-ngomong, apakah kau datang ke sini atas suruhan ketua RT untuk menilai kebersihan rumah warga?" tanya Doni tiba-tiba dengan wajah serius.
Kristin sontak tersentak, wajahnya seketika memerah. "Ngawur aja, Kak Doni!" serunya dengan nada kesal yang dibuat-buat. "Aku datang ke sini untuk membalas perbuatan Kakak kemarin yang bertamu ke rumahku. Bukankah Kak Doni sudah pernah datang ke rumahku? Jadi ini kunjungan balasan, begitu."
Doni tersenyum tipis mendengar jawaban itu, seakan menikmati kegugupan Kristin. "Oh, begitu rupanya," ucap Doni pelan. "Kalau begitu, sebaiknya aku memesan makanan via aplikasi saja. Aku jarang berada di rumah, jadi stok makanan di sini kosong melompong."
Kristin mengangguk setuju, namun matanya kembali tertuju pada lengan Doni yang dibalut perban putih dari pergelangan hingga ke siku. Rasa penasaran itu kembali muncul ke permukaan. "Kak Doni..." panggil Kristin pelan, menunjuk lengan Doni dengan tatapan khawatir. "Lengan Kakak kenapa? Ini terlihat cukup serius."
Doni menatap lengan kanannya sejenak, lalu kembali menatap Kristin dengan wajah yang datar. "Hanya terkena sabetan pisau," jawab Doni singkat, seakan itu adalah hal yang biasa saja.
Kristin menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak kaget. "Sabetan pisau? Kak Doni... apa yang sebenarnya terjadi?"
Doni hanya mengangkat bahu pelan. "Tidak terlalu penting."
Kristin menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Kak Doni... sebelum aku bertanya sesuatu, aku mohon agar Kakak tidak marah dulu," ucap Kristin dengan nada hati-hati.
Doni tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. "Iya, silakan. Aku tidak akan marah."
Kristin menelan ludahnya, lalu memberanikan diri untuk bertanya. "Apakah Kak Doni sering pergi ke tempat tongkrongan yang penuh berandalan itu? Tempat yang... penampilannya cukup mencolok dan membuat orang lain segan untuk mendekat?"
Doni terdiam mendengar pertanyaan itu. Tatapannya yang tadi santai seketika berubah menjadi serius. Ia hanya menghela napas panjang, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Dengan gerakan perlahan, ia mengambil sebatang rokok dan menempelkannya di bibir, lalu meraih korek api dari saku lainnya.
Namun sebelum sempat Doni menyalakan rokoknya, Kristin tiba-tiba bergerak cepat. Ia menarik rokok itu dari bibir Doni dengan gerakan yang spontan, lalu memegangnya di udara sambil menatap Doni dengan tatapan tegas.
"Aku tidak menyukai asap rokok," ucap Kristin dengan nada yang mantap.
Doni tertawa kecil melihat tingkah Kristin, lalu meletakkan kembali korek api ke sakunya. "Heh... apakah kau sekarang sudah menjadi pacarku?" tanya Doni dengan nada bercanda namun penuh selidik. "Sehingga kau bisa melarangku melakukan apa yang aku lakukan?"
Wajah Kristin seketika memerah padam mendengar pertanyaan itu. Ia merasa kesal sekaligus malu. "Silakan lakukan sesukamu saja, Kak Doni!" balas Kristin dengan nada ketus, melemparkan rokok itu kembali ke meja di depan Doni. "Mau merokok, mau berantem, silakan saja. Aku tidak peduli."
Doni hanya tersenyum tipis mendengar respon Kristin, lalu membiarkan rokok itu tergeletak di meja tanpa berniat menyalakannya lagi. "Sudah, jangan marah begitu," ucap Doni pelan. "Kalau begitu, kau hendak makan apa? Aku akan memesannya sekarang."
Kristin menghela napas panjang, berusaha mendinginkan emosinya. "Aku mau makan pizza saja," jawabnya pelan. "Beserta minuman soda."
Doni mengangguk setuju, lalu segera membuka aplikasi pemesanan makanan di ponselnya. Dengan gerakan cepat, ia memesan dua potong pizza berukuran besar dan dua gelas minuman soda dingin. Setelah pesanan terkirim, Doni meletakkan ponselnya di meja.
Kristin menatap lengan Doni yang dibalut perban itu sekali lagi, lalu memberanikan diri untuk bertanya. "Kak Doni... apakah Kakak sering terlibat perkelahian?" tanya Kristin tiba-tiba, tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Doni terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Jangan alihkan pembicaraan," ucap Doni dengan nada tegas. "Kau harus jujur mengenai alasan sebenarnya kau datang ke sini sore ini. Bukan sekadar jalan sore atau kunjungan balasan, kan?"
Kristin terdiam. Ia tahu Doni tidak akan mudah dibohongi. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang ada di dalam dirinya. Hatinya berdebar kencang, seakan ingin melompat keluar dari dadanya.
"Aku..." Kristin memulai dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku datang ke sini karena aku ingin tahu... kenapa sikap Kak Doni terkadang berubah-ubah? Terkadang Kakak terlihat sangat dingin dan jauh, tapi di saat lain, Kakak terlihat begitu perhatian dan hangat. Aku bingung, Kak Doni. Siapa sosok Kak Doni yang sebenarnya?"
Doni menatap Kristin dalam diam, seakan sedang memproses pertanyaan itu. Setelah beberapa saat, ia baru membuka suaranya. "Bukankah aku sudah menjawab pertanyaan itu sebelumnya? Aku hanya melakukan tanggung jawabku sebagai senior."
Kristin langsung membantah perkataan itu dengan cepat. "Itu bukan alasan yang cukup, Kak Doni!" serunya dengan tegas. "Jika itu alasannya, kenapa aku merasa kalau perlakuan Kakak kepadaku berbeda dengan perlakuan Kakak pada yang lain? Kenapa Kak Doni mau tersenyum dan tertawa bersamaku, sedangkan bersama yang lain, Kakak tidak pernah melakukan itu?"
Doni terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia menatap Kristin dengan tatapan yang dalam, seakan ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di tenggorokan. "Maksudmu seperti apa?" tanya Doni pelan.
"Kenapa Kakak bersikap berbeda kepadaku?" ulang Kristin dengan suara yang lebih lembut namun penuh penekanan. "Kenapa aku merasa kalau Kak Doni... lebih terbuka kepadaku dibandingkan kepada orang lain?"
Doni hendak menjawab, namun tiba-tiba pintu depan diketuk. Suara kurir pengantar makanan terdengar dari luar. "Pesanan makanan!"
Doni terdiam sejenak, lalu bangkit dari sofa. "Tunggu sebentar," ucapnya pelan, lalu berjalan menuju pintu depan untuk menerima pesanan mereka.
Tak lama kemudian, Doni kembali membawa kotak pizza yang masih hangat dan dua gelas minuman soda dingin. Ia meletakkan semuanya di meja tengah, lalu membuka kotak itu. Aroma harum pizza segar langsung memenuhi ruangan, membuat perut Kristin yang tadi tegang perlahan mulai terasa lapar.
"Mari makan," ajak Doni pelan, mengambil sepotong pizza dan menyodorkannya kepada Kristin.
Kristin menerima pizza itu dengan senyum tipis. Sejenak, mereka berdua lupa dengan pembahasan yang tadi. Mereka mulai berbicara tentang hal-hal ringan, tentang keseruan saat berkemah di hutan beberapa waktu lalu, tentang tawa-tawa kecil yang tercipta saat mereka saling menggoda satu sama lain. Suasana ruangan yang tadi tegang perlahan berubah menjadi hangat dan menyenangkan. Mereka tertawa bersama, seakan tidak ada beban apa pun di antara mereka.
Namun setelah pizza itu hampir habis, Kristin kembali teringat pada pertanyaannya yang belum terjawab. Ia menatap Doni yang sedang meminum sodanya, lalu memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi.
"Kak Doni..." panggil Kristin pelan. "Pertanyaanku tadi... belum terjawab. Kenapa Kakak bersikap berbeda kepadaku dibandingkan kepada yang lain?"
Doni berhenti meminum sodanya. Ia meletakkan gelas itu di meja, lalu menatap Kristin dengan tatapan yang lembut namun penuh makna. "Aku pun tidak tahu alasannya kenapa aku bisa seperti itu," jawab Doni pelan, jujur tanpa kepura-puraan.
Kristin mendengar jawaban itu, seketika merasa kecewa. Hatinya terasa sedikit perih. Ternyata... tidak ada alasan khusus, batinnya bergumam. Aku hanya berharap ada alasan yang lebih dari sekadar tanggung jawab sebagai senior.
Namun sebelum Kristin sempat menunduk dan menyembunyikan kekecewaannya, Doni kembali membuka suaranya dengan nada yang lebih lembut dan dalam.
"Mungkin..." ucap Doni pelan, matanya menatap lekat-lekat manik mata Kristin. "Mungkin karena kau istimewa, Kristin."
Kristin tertegun mendengar kalimat itu. Matanya membelalak sedikit, napasnya tertahan di tenggorokan. Kata-kata itu begitu sederhana, namun dampaknya begitu besar bagi hatinya yang selama ini penuh keraguan.