Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADX: RENCANA BESAR DIMULAI
“Reana kok lama banget, sih...”
Alesya menggerutu pelan.
Sudah entah berapa menit gadis itu menunggu. Kursi yang didudukinya bahkan mulai terasa seperti hukuman. Ia mengetuk-ngetukkan ujung jarinya pada meja. Bosan sekali menunggu gadis itu kembali.
Alesya mengembuskan napas panjang.
“Jangan-jangan dia pingsan.”
Akhirnya ia bangkit.
Dengan langkah malas, Alesya berjalan menyusuri lorong. Namun baru saja sampai di depan pintu toilet, langkahnya mendadak terhenti.
Pemandangan di hadapannya membuat pikirannya seakan berhenti bekerja.
Darren berdiri tepat di depan Reana.
Sementara Reana duduk di atas wastafel dengan kedua tangannya merengkuh pinggang gadis itu. Jarak mereka begitu dekat—terlalu dekat untuk sekadar disebut percakapan biasa.
Dan baru saja bibir mereka terpisah.
Alesya berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat.
“Oh...”
Barulah semuanya masuk akal.
Ia menyandarkan tubuh pada kusen pintu sambil menyilangkan tangan di dada.
“Pantas lama.”
Reana belum sempat bereaksi ketika Alesya menambahkan dengan nada penuh arti,
“Ternyata lagi anu-anu.”
“EKHEMMM.”
Suara itu membuat Reana tersentak.
Matanya langsung membesar.
“A-Alesya?!”
Dalam satu gerakan panik, ia mendorong Darren menjauh, lalu buru-buru turun dari atas wastafel. Wajahnya memerah seketika, seolah seluruh darah di tubuhnya berbondong-bondong naik ke wajah.
“Aku... ini...”
Lidahnya mendadak kehilangan kemampuan untuk bekerja dengan baik.
“Ga... ga seperti yang kamu lihat!”
Alesya menahan tawa.
“Memangnya aku lihat apa?”
Reana terdiam. Pertanyaan itu justru membuat wajahnya semakin merah. Sementara di belakangnya, Darren hanya berdiri diam.
Tenang.
Dingin.
Seolah baru saja ketahuan mencuri sesuatu yang sama sekali tidak memalukan. Alesya meliriknya sekilas, kemudian kembali menatap Reana.
“Oh, tidak masalah,” katanya sambil tersenyum lebar.
“Jangan malu-malu.”
“Alesya!”
“Aku pergi, kok.”
Alesya berbalik.
Namun sebelum benar-benar menghilang dari pandangan mereka, ia berhenti sejenak.
Kepalanya menoleh sedikit.
“Lanjutkan saja.”
Reana membeku.
“Anggap aku tidak pernah ada.”
Lalu Alesya pergi.
Begitu bayangannya lenyap di balik dinding, toilet itu kembali sunyi.
Reana masih berdiri di tempatnya.
Wajahnya panas.
Dadanya berdebar.
Dan yang paling menyebalkan adalah pria di belakangnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda merasa bersalah.
Reana perlahan menoleh, Darren sedang merapikan lengan bajunya dengan tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa kamu bisa biasa aja?” tanya Reana, nyaris tidak percaya.
Darren mengangkat pandangan.
“Harus bagaimana?”
“Entahlah!”
Reana mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
“Setidaknya malu!”
“Untuk apa?”
Reana membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban. Ia memalingkan wajah sambil mengerucutkan bibir.
Dalam hati, ia benar-benar ingin meraih kepala Darren dan menenggelamkan wajah dinginnya ke dalam wastafel.
Kenapa orang ini tidak punya rasa malu sedikit pun?
“Aku mau nyusul Alesya.”
Reana berbalik hendak pergi. Namun baru satu langkah, Darren bergerak mendekat.
Reana berhenti.
Bayangan tubuh pria itu jatuh di hadapannya, Ketika ia mendongak, tatapan Darren sudah tertuju padanya.
Dingin seperti biasa.
Datar seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, kali ini ada sesuatu yang samar di matanya. Sesuatu yang membuat Reana tanpa sadar menahan napas.
“Mau lanjut di sini...” ujar Darren tenang.
Reana mengerjap.
“...atau di sel?”
Sunyi.
Sejenak Reana hanya menatapnya, mencoba memastikan apakah pria itu benar-benar baru saja mengatakan apa yang ia dengar.
Kemudian wajahnya memerah.
“DARREN!”
Tangannya melayang dan mendarat di pundak pria itu.
“Dasar mesum!”
Darren tidak bergeming. Reana sendiri justru semakin malu setelah menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Ucapan cowok itu tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya yang kaku dan datar.
Reana segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu.
“Aku mau cari Alesya!”
“... Dan jangan ikuti aku!”
Tidak ada jawaban, Reana pun meninggalkan toilet dengan langkah tergesa-gesa.
Baru setelah sosok gadis itu benar-benar menghilang, Darren menundukkan kepala sedikit.
Sudut bibirnya terangkat.
Sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
Lalu sebuah tawa rendah keluar dari bibirnya.
Ia menggeleng pelan.
Reana memang mudah sekali dibuat panik.
Dan entah sejak kapan, melihat gadis itu kehilangan kata-kata justru menjadi salah satu hal yang diam-diam ia sukai.
***
Dante selesai dengan tugasnya. Setelah memastikan semuanya terpasang dengan baik, ia segera bergegas kembali menuju ruang bawah tanah.
Pintu besi terbuka dengan suara berat.
Sesampainya di dalam, Dante mendapati Kael sudah berada di sana.
Pria itu berdiri di sisi meja panjang dengan kedua tangan bertumpu pada permukaannya. Matanya tertuju penuh pada denah kompleks ADX yang terbentang di hadapannya. Garis-garis bangunan, jalur lorong, serta titik-titik yang telah mereka tandai tampak seperti potongan dari sebuah permainan yang hanya mereka bertiga yang tahu cara memainkannya.
Dante menghampiri meja.
“Semuanya sudah diurus.”
Kael hanya mengangguk.
Tidak lebih.
Dante kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, Ada sesuatu yang terasa kurang.
“Darren mana?”
“Lagi beresin mata-mata.”
Jawaban Kael terdengar datar. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari denah.
“Ohhh...”
Dante mengangguk kecil.
Kemudian ia menghela napas.
“Mampus kalau Darren yang turun.”
Kael tidak menanggapi.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara samar mesin ventilasi dan bunyi tetesan air dari salah satu sudut ruangan yang terdengar di antara mereka.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian—
KREEEKK.
Pintu besi kembali terbuka.
Dante dan Kael serentak menoleh.
Darren masuk.
Anehnya, wajah pria itu justru terlihat begitu segar. Tidak ada tanda-tanda baru saja menghadapi seseorang. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi ekspresinya tenang, bahkan nyaris seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang menyenangkan.
Dante menatapnya malas.
“Efek jatuh hati memang gini”
Darren tidak menghiraukannya. Ia berjalan mendekat dan berhenti di sebelah kanan Kael.
“Sudah saya bereskan.”
Kael kembali mengangguk.
Darren kemudian memasukkan tangannya ke saku celana dan mengeluarkan sebuah ponsel lipat berukuran kecil. Bentuknya sederhana, tanpa tanda pengenal apa pun.
Ia menyerahkannya kepada Kael.
“Ini ponsel yang dia pakai buat komunikasi sama pria tua itu.”
Kael mengambil ponsel tersebut.
Jarinya membuka perangkat itu perlahan.
Layar kecil menyala.
Hanya ada satu nomor di dalamnya.
Kael menatapnya beberapa saat.
“Mungkin sudah tidak bisa dipakai lagi,” lanjut Darren.
“Ponsel ini cuma sekali pakai.”
Kael menutup kembali ponsel itu. Tatapannya beralih pada denah di atas meja. Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Lalu Kael berkata,
“Kita harus bergegas.”
Seketika suasana berubah.
Kalimat sederhana itu terdengar seperti tanda dimulainya sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pelarian.
Dante menatap Kael.
“Malam ini, berarti?”
Kael tidak menjawab, Namun tatapan pria itu sudah cukup. Darren pun ikut memandang keduanya.
"Kabari Rachel untuk menyiapkan kapal , kita tidak bisa menggunakan jalur darat" Lanjut Kael.
Dan hanya di angguki oleh Keduanya.
Malam ini.
Selama berbulan-bulan, mereka telah menyusun semuanya dengan hati-hati. Setiap langkah telah dipikirkan. Setiap kemungkinan telah diperhitungkan. Bom telah dipasang. Mata-mata telah disingkirkan. Jalur telah dipersiapkan.
Tidak ada lagi yang perlu ditunggu. Malam yang selama ini hanya menjadi rencana di atas kertas akhirnya tiba.
Dante menarik napas panjang.
Sementara Kael kembali menatap denah ADX di hadapannya. Di bawah cahaya lampu yang redup, tiga sosok itu berdiri mengelilingi meja yang sama.
Tidak ada yang mengatakan bahwa mereka siap.
Tidak perlu.
Mereka semua tahu.
Malam ini, ADX akan berubah menjadi medan permainan mereka.
Dan begitu langkah pertama dimulai—
tidak akan ada jalan untuk kembali.
***