Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Evakuasi
"Demi keselamatan tamu, manajemen hotel memutuskan menunda sesi penandatanganan resmi hingga kondisi terkendali sepenuhnya," pengumuman itu bergema lewat sistem suara ballroom, disambut gumaman kecewa dari sebagian tamu, dan kelegaan tersembunyi dari segelintir orang yang tahu apa yang sebenarnya baru saja terjadi.
Raka bergerak cepat ke meja utama, mengambil alih peran petugas keamanan yang mengawal keluarga penting keluar lebih dulu — alasan protokol standar yang tak perlu dipertanyakan siapa pun.
"Bapak dan keluarga sebaiknya keluar lewat pintu samping," katanya kepada Handoko, suaranya tetap dalam nada profesional seorang petugas keamanan asing. "Menghindari kerumunan wartawan di pintu utama."
Handoko mengangguk, masih sedikit terguncang oleh insiden yang ia kira sekadar kecelakaan medis biasa. "Terima kasih atas kesigapannya."
Di belakang rombongan keluarga, Reza berjalan dengan wajah pucat, matanya sesekali melirik gugup ke arah ponselnya yang bergetar tanpa henti — pesan-pesan yang tak berani ia buka di depan keluarganya sendiri.
Raka memperhatikan itu sekilas, menyimpan detail itu untuk dipikirkan nanti, prioritasnya sekarang adalah memastikan seluruh keluarga keluar dari gedung tanpa insiden lebih jauh.
Cinta berjalan di samping ayahnya, sesekali melirik ke arah Raka dengan tatapan yang menyimpan seribu pertanyaan yang harus ditahan sampai mereka benar-benar aman.
"Zona pintu samping bersih," lapor Bara lewat earpiece, sudah bergerak lebih dulu untuk memeriksa jalur evakuasi. "Dua orang Andratama terlihat mengawasi dari kejauhan, tapi tidak bergerak mendekat."
"Mereka hanya ingin melihat, bukan menghalangi," gumam Raka, mengerti taktik itu sepenuhnya — Setiawan sudah mengirim pesannya malam ini, tidak perlu tindakan lebih jauh yang bisa mengekspos dirinya sendiri di depan publik.
Mobil keluarga Wijayakusuma sudah menunggu di pintu samping, sopir cadangan — bukan Raka kali ini, karena perannya malam ini sebagai petugas keamanan — membuka pintu untuk Handoko dan Reza, sementara Cinta sengaja tertinggal sejenak, berpura-pura merapikan tali sepatunya.
"Kau baik-baik saja?" bisiknya cepat, saat Raka membantunya "berdiri" kembali, dekat cukup untuk berbicara tanpa didengar orang lain.
"Aku baik," jawab Raka pelan. "Tapi ini belum selesai. Naik ke mobil, aku akan menyusul lewat jalur sendiri begitu tugasku di sini selesai."
Cinta mengangguk sekali, menyembunyikan kekhawatirannya di balik senyum tipis sebelum masuk ke mobil yang segera melaju menjauh dari hotel, membawa keluarganya kembali ke keamanan sementara yang jauh lebih rapuh dari yang mereka sadari.
Satu jam kemudian, di bengkel tua yang kini terasa seperti satu-satunya tempat aman di dunia yang tiba-tiba terasa jauh lebih berbahaya, Raka, Bara, dan Wulan duduk mengelilingi meja, gelas berisi bukti racun tergeletak di tengah mereka seperti saksi bisu dari malam yang nyaris berubah jadi tragedi.
"Jadwal penandatanganan baru sudah keluar," kata Wulan, membaca dari layar laptopnya. "Tujuh hari dari sekarang, di lokasi yang sama, dengan pengamanan yang pasti akan diperketat dua kali lipat setelah insiden malam ini."
"Tujuh hari," ulang Bara, menghela napas panjang. "Bukan waktu yang banyak untuk membongkar jaringan yang sudah dibangun diam-diam selama lima tahun."
Raka menatap gelas berisi racun itu lama, pikirannya berputar menyusun semua kepingan yang sudah mereka kumpulkan — Setiawan, Jenderal Wirawan Kusnandar, Cendana Data Nusantara, dan ancaman nyata terhadap nyawa Handoko yang nyaris terjadi malam ini.
"Tujuh hari cukup," katanya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh tekad yang sudah lama tak ia rasakan sejak hari timnya hancur. "Karena kali ini, kita tidak akan menunggu mereka bergerak lebih dulu."
Ia menatap Bara dan Wulan bergantian — dua orang terakhir dari unit yang pernah ia pimpin, kini duduk bersamanya lagi, bukan sebagai bayangan yang bersembunyi, tapi sebagai tim yang siap bergerak.
"Kita akan mencari cara membawa bukti ini, dan semua yang kita tahu soal Jenderal Wirawan, ke tangan yang tepat — seseorang yang cukup berkuasa untuk menghentikan merger ini secara sah, sebelum penandatanganan itu membuka akses mereka ke data keamanan negara selamanya."
"Dan kalau tidak ada 'tangan yang tepat' itu?" tanya Wulan pelan, menyuarakan ketakutan yang mereka bertiga sama-sama simpan.
Raka menatap ke luar jendela kecil bengkel, ke arah langit malam kota yang tak pernah benar-benar gelap sepenuhnya, dipenuhi cahaya gedung-gedung yang menyembunyikan lebih banyak rahasia daripada yang pernah dibayangkan warganya.
"Maka kita akan menjadi tangan itu sendiri," jawabnya, dingin dan pasti. "Seperti yang seharusnya kita lakukan sejak awal, sebelum Setiawan mengkhianati kita semua."