Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Ayah

Waktu perlahan merambat naik. Jarum jam dinding di ruang tamu sudah menunjuk ke angka 8 malam. Kegelapan sore sepenuhnya telah digantikan oleh pekatnya malam.

Adrian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu tersenyum sopan ke arah Ayah yang baru saja menyandarkan punggungnya di sofa.

"Om, sepertinya sudah makin malam," pamit Adrian lembut seraya beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Saya izin pamit pulang dulu. Tidak enak juga mengganggu waktu istirahat Om yang baru saja sampai dari Bandung."

Ayah ikut berdiri, menepuk pelan bahu Adrian dengan hangat. "Ah, sama sekali tidak mengganggu, Adrian. Justru Om senang bisa mengobrol santai seperti ini. Terima kasih ya sudah mampir dan menemani Sera."

"Sama-sama, Om," sahut Adrian ramah seraya menjabat tangan Ayah penuh hormat. "Saya pamit dulu, Om."

"Hati-hati di jalan ya, Nak. Titip salam juga buat orang tua dan adikmu," tutur Ayah tersenyum.

Aku melangkah mendampingi Adrian menuju teras depan. Suasana malam terasa begitu sejuk saat kami melintasi ambang pintu. Adrian berjalan menghampiri motor besarnya yang terparkir di bawah naungan pohon mangga halaman rumah. Saat ia meraih helm dan mengenakannya, matanya kembali menatapku lurus di bawah remang lampu teras.

Ada jeda hening di antara kami. Tatapannya malam ini terasa berbeda, ada sorot kehangatan yang familiar, namun juga terselip bayang-bayang kegelisahan yang membisu sejak pembahasan tentang ITB dan Bandung tadi sore.

"Sera," panggilnya pelan, suaranya teredam tipis oleh helm yang sudah terpasang.

"Iya, Mas?"

"Gelangnya... dipake ya," bisiknya lembut. "Mas sungguh-sungguh bikin itu buat kamu."

Aku menunduk sejenak, membayangkan kotak hadiah berisikan gelang tali hitam dengan inisial SL yang masih tergeletak di meja ruang tamu. "Makasih ya, Mas. Mas hati-hati di jalan."

Adrian menyunggingkan senyum tipis yang terlihat dari binar matanya. Tangannya terulur mengusap pelan puncak kepalaku, usapan lembut yang selalu sanggup menggetarkan relung hatiku, meski kini ada serpihan ragu yang mengganjal.

"Mas pulang dulu ya. Selamat malam, Seraphine."

Mesin motor besarnya meraung pelan sebelum akhirnya melaju membelah kegelapan jalanan komplek. Aku berdiri memandangi lampu belakang motornya yang perlahan menghilang di belokan ujung gang, menyisakan deburan angin malam yang menyapu dingin di kulitku.

Setelah mengunci pagar depan dan menutup pintu rapat-rapat, aku melangkah kembali ke ruang tamu. Ayah tampak sedang memindahkan kotak gelang pemberian Adrian ke tepi meja agar tidak tersenggol, lalu menduduki kembali sofa empuknya seraya menghela napas lega.

Aku berjalan menuju dapur, menyeduh segelas teh hangat manis untuk diriku sendiri dan menambahkan sedikit air panas ke cangkir Ayah. Begitu kembali, kududukkan diriku di sofa tepat di samping Ayah, menyandarkan kepala pada bahunya yang kokoh, sebuah kebiasaan manja yang jarang bisa kulakukan karena Ayah lebih sering menghabiskan waktu bertugas di luar kota.

"Kangen Ayah..." gumamku pelan seraya melingkarkan lengan di pinggangnya.

Ayah terkekeh pelan, melingkarkan tangannya di bahuku dan mengusap rambutku dengan kasih sayang yang amat dalam. "Ayah juga kangen banget sama anak gadis Ayah ini. Maaf ya, Ayah cuma bisa pulang beberapa bulan sekali."

"Enggak apa-apa, Yah. Yang penting Ayah sehat-sehat di Bandung," sahutku tulus.

Suasana ruang tamu terasa teramat hangat dan menenangkan. Di bawah temaram cahaya lampu gantung, kami mulai mengobrolkan banyak hal. Ayah menceritakan dinamika pekerjaan proyek pembangunan gedung di Bandung yang sedang ditanganinya. Beliau bercerita tentang betapa dinamisnya kota itu, tentang hawa dingin daerah Dago di malam hari, hingga kebiasaan Ayah yang sering berburu kuliner malam sepulang dari tapak proyek.

Aku mendengarkan setiap tuturan kata Ayah dengan saksama. Setiap cerita tentang Bandung selalu berhasil memantik binar impian di dalam mataku.

"Terus... soal sekolah kamu gimana, Nak?" tanya Ayah mengalihkan pembicaraan, menatap wajahku lembut. "Kenaikan kelas kemarin lancar, kan? Teman-teman kamu gimana?"

Aku tersenyum mekar, menceritakan perkembangan sekolahku di kelas sepuluh lalu. Aku menceritakan tentang persahabatanku dengan Naura yang makin erat meski kami berbeda sekolah, tentang kelakuan lucu Dini dan Celine di kelas, hingga kemenangan kelompokku meraih nilai tertinggi di pelajaran Seni Budaya gara-gara musikalisasi puisi kemarin.

Ayah mendengarkan seraya sesekali tertawa renyah, manggut-manggut bangga atas pencapaianku. Namun di sela-sela cerita itu, mata bijak Ayah mendadak melirik ke arah kotak kado gelang berinisial SL di atas meja.

"Adrian itu..." Ayah membuka suara dengan nada tenang namun sarat makna. "Anaknya sopan ya. Pembawanya juga dewasa."

Jantungku sempat berdesir pelan mendengarnya. "Iya, Yah. Mas Adrian emang baik kok. Dia sering bantuin Sera kalau Sera kesulitan belajar gitar."

"Kalian sudah berapa lama dekat?" tanya Ayah santai, namun tatapannya menembus langsung ke dalam mataku.

"Hampir setahunan, Yah," jawabku jujur seraya menunduk memainkan jari-jemariku

Ayah diam sejenak, menyesap teh hangatnya perlahan sebelum kembali berucap.

"Sera... Ayah ini laki-laki. Ayah paham betul bagaimana cara laki-laki menatap wanita yang dia sayangi."

Ucapannya membuatku mendongak menatap Ayah dengan dada yang berdebar kencang.

"Tadi sore, waktu kita bahas soal impian kamu masuk ITB di Bandung," lanjut Ayah pelan, "Ayah memperhatikan raut wajah Adrian. Matanya bangga sama kamu, tapi di saat yang sama, ada ketakutan yang besar kalau kamu bakal pergi jauh."

Aku membisu, membiarkan kata-kata Ayah meresap ke dalam pikiran.

Ayah merangkul pundakku lebih erat, menyalurkan kehangatan seorang pelindung. "Sera anak Ayah yang pintar. Di usia kamu sekarang, wajar kalau kamu mulai mengenal rasa suka dan dekat sama seseorang. Tapi ingat pesan Ayah ya... fokus utama kamu di kelas sebelas ini adalah mengejar impian kamu sendiri. Jangan pernah mengorbankan masa depan atau cita-cita kamu hanya demi menjaga perasaan orang lain."

"Tapi Ibu maunya Sera masuk Kebidanan, Yah..." bisikku luntur.

Ayah tersenyum lebar, mengacak rambutku gemas. "Soal Ibu, biar Ayah yang urus. Ibu kamu itu cuma khawatir karena teknik itu identik dengan dunia laki-laki yang keras. Tapi kalau Sera memang sungguh-sungguh mau ke ITB, mau belajar teknik seperti Ayah dulu, Ayah bakal pasang badan untuk mendukung kamu sepenuhnya. Bandung itu kota yang indah, Nak. Ayah ingin kamu melebarkan sayap di sana."

Airmata haru menyelinap di sudut mataku. Dukungan tulus dari Ayah rasanya bagai bahan bakar baru yang menyiram kobaran semangatku yang sempat redup oleh urusan asmara yang tak berarah.

"Terima kasih ya, Yah..." bisikku seraya memeluk pinggang Ayah erat-erat. "Sera janji bakal belajar makin giat di kelas sebelas nanti."

"Itu baru anak Ayah," puji Ayah bangga seraya mencium dahiku.

Malam makin melarut ketika Ayah akhirnya pamit masuk ke kamar utama untuk beristirahat. Aku merapikan cangkir-cangkir bekas teh di dapur, mematikan lampu ruang tamu, lalu melangkah menuju kamarku sendiri seraya membawa kotak hadiah dari Adrian.

Di dalam kamar yang sunyi, aku mendudukkan diri di tepi tempat tidur. Kuambil gelang tali hitam berinisial SL itu dari dalam wadah beludrunya. Di bawah sinar lampu kamar yang kekuningan, ukiran perak huruf SL itu berkilau indah.

Seraphine Luna.

Aku memandangi gelang itu dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ada kehangatan dan rasa sayang pada Adrian yang telah mewarnai seluruh masa kelas sepuluhku. Namun di sisi lain, nasihat Ayah malam ini seolah membuka mataku lebar-lebar.

Aku melingkarkan gelang tali hitam itu di pergelangan tangan kiriku. Tali teranyamnya terasa pas dan dingin di kulit.

1
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!