"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
obrolan santai
Jono menatap garis kapur putih di sasis truk, lalu beralih menatap mesin las inverter di dekatnya. Ia menggaruk tengkuknya yang mulai berkeringat, menatap Salman dengan raut wajah agak segan.
"Man... maaf nih. Spek kualifikasiku cuma sampai posisi F (fillet/sudut) aja, belum sampai posisi G (groove)," aku Jono jujur, merasa agak minder dengan standar tinggi yang dipatok rekan barunya.
Salman tidak terlihat kecewa atau menggurui. Ia justru tersenyum maklum. "Ya sudah, gak apa-apa, Jon," kata Salman tenang.
Salman meraih sebuah kedok las (welding mask) cadangan dari rak perkakas lalu menyodorkannya ke tangan Jono. "Kamu perhatikan aja dari dekat."
Salman mengambil kedok lasnya sendiri dan memasangnya ke kepala. Ia meraih stang las (electrode holder), lalu mulai memasang posisi kuda-kuda kaki yang kokoh di depan sasis Hino yang patah. Sebelum memulai, Salman menarik kabel las tebal itu, lalu melilitkannya satu kali di pergelangan tangan kanannya. Trik sederhana namun krusial bagi seorang welder profesional agar beban berat kabel tidak melelahkan tangan saat menjaga kestabilan ayunan api las.
Ia menjepit sebatang elektroda pada stang las dengan sudut yang presisi.
"Nih, lihat, Jon," ujar Salman dari balik topengnya.
Setelah memastikan setelan arus amper pada mesin sudah pas dan sesuai dengan ketebalan material sasis, Salman mulai beraksi. Ujung elektroda disentuhkan ke permukaan besi, memicu percikan cahaya biru keputihan yang benderang.
Dengan napas yang diatur teratur dan ritme yang konstan, tangan Salman bergerak sangat stabil. Ia mulai menggoyang-goyang stang las ke kiri dan ke kanan, membentuk pola anyaman yang rapi, memastikan cairan logam panas menembus hingga ke akar retakan sasis (root penetration).
Asap putih mengepul, aroma khas pembakaran fluks memenuhi udara sekitar kolong truk. Tepat setelah menghabiskan tiga batang elektroda berturut-turut untuk jalur dasar, Salman menurunkan stang lasnya. Cahaya silau itu padam.
Salman mengambil palu ketok (chipping hammer) dan mulai mengetuk kerak las (slag) dengan ketukan-ketukan taktis yang terukur. Kerak kaca berwarna gelap itu terkelupas dengan mudah, menampilkan jalur las bawah yang matang dan bebas dari cacat porosity. Setelah itu, ia mengambil sikat kawat, menggosoknya dengan kuat untuk membersihkan sisa-sisa kerak yang masih menempel.
Tanpa membuang waktu, Salman langsung bersiap lagi. "Kali ini kita langsung capping (jalur penutup). Karena untuk plat sasis truk kelas ini gak terlalu tebal, makanya cukup dua kali jalan aja udah matang," kata Salman memberikan edukasi singkat.
Jono hanya mengangguk-angguk takzim di balik kedok lasnya, merekam setiap detail gerakan tangan Salman ke dalam ingatannya. Salman kembali menyalakan busur las, menuntaskan jalur atas dengan kebersihan dan kerapian yang konsisten."Nah, selesai," kata Salman sambil mengangkat kedok lasnya ke atas dahi begitu pekerjaan rampung.
Jono langsung mendekat, memeriksa hasil pengelasan Salman yang tampak bergelombang rapi menyerupai sisik ikan yang sempurna. "Widihhh... mantap kamu, Man! Rapi banget jalurnya.
"Salman terkekeh pelan sambil menyeka peluh di dahinya. "Ah... biasa aja, Jon. Lagian aku cuma pemula.
"Jono langsung melotot tak percaya.
"Kalo kamu menganggap diri pemula, lalu kami ini apa, Man?
helper las?"
Agus yang baru saja lewat setelah menyelesaikan urusan di unit sebelah spontan tertawa terbahak-bahak mendengar gerutuan Jono.Jono mengabaikan tawa Agus, ia menepuk bahu Salman dengan tulus. "Tapi makasih banyak ya, Man. Kalau gak ada kamu hari ini, pasti kami berdua bakal repot banget ngurusin unit yang segede ini."
Salman melepas lilitan kabel di tangannya dan meletakkan stang las ke tempat yang aman. "Lalu, sebelum aku masuk ke sini, biasanya gimana kalau ada unit trouble besar begini?" tanya Salman penasaran dengan alur kerja bengkel Anita sebelumnya.
"Yah, sebelum kamu masuk, sebenarnya ada sih satu mekanik senior di sini," jawab Jono sambil bersandar di sasis truk yang sudah tersambung kokoh kembali. "Tapi beliau mendadak mundur beberapa minggu lalu karena ada urusan keluarga yang gak bisa ditinggal di kampungnya. Makanya bengkel ini sempat kelabakan waktu dapet borongan unit besar."
Bunyi sirine atau lonceng tanda jam istirahat siang akhirnya bergema di seantero workshop. Salman menurunkan kedok lasnya, lalu meletakkan stang las di atas meja kerja dengan rapi. Jono dan Agus langsung mengembuskan napas lega, menyeka keringat yang bercucuran di wajah mereka setelah setengah hari bertempur dengan sasis Hino 500.
Mereka bertiga berjalan menuju sudut bengkel, lalu kembali duduk bersantai di atas deretan ban-ban bekas yang ditumpuk. Belum sempat Jono menyalakan pemantik rokoknya, langkah kaki yang ritmis terdengar mendekat dari arah koridor kantor.
Anita berjalan keluar. Kali ini, ia tidak lagi melipat tangan dengan tatapan dingin seperti tadi pagi. Pemilik bengkel wanita itu datang membawa nampan berisi beberapa bungkus makanan siang dan teko plastik penuh es teh manis.
"Man," panggil Anita sambil meletakkan nampan itu di atas meja kayu dekat tempat mereka berkumpul. Matanya melirik sekilas ke arah sasis truk yang jalur lasnya terlihat sangat rapi dan lurus presisi. "Skill kamu lumayan juga.
"Salman mendongak, lalu menerima segelas es teh manis yang disodorkan Jono. Ia tersenyum tipis, sangat tenang tanpa ada kesan ingin pamer.
"Ya, syukurlah kalau memang terpakai di sini, Mbak," sahut Salman seadanya.
Anita bersandar di tiang baja workshop, menatap Salman dengan dahi sedikit berkerut, penasaran dengan latar belakang pemuda di depannya. Dengan kemampuan sekelas itu, Salman jelas bukan montir amatiran jalanan.
"Dengan kemampuan pengelasan struktural dan pemahaman safety sebagus itu... kenapa kamu gak coba masuk ke perusahaan pertambangan aja?
Di sana gajinya jauh lebih besar," tanya Anita menyelidik, menyuarakan rasa penasarannya yang sejak tadi dipendam saat melihat aksi Salman lewat CCTV.
Jono dan Agus langsung terdiam, ikut menunggu jawaban dari Salman. Memang benar, di dunia mekanik, orang dengan kualifikasi seperti Salman biasanya langsung diserap oleh kontraktor-kontraktor alat berat di site tambang besar.
Salman terkekeh pelan, mengisap rokoknya dalam-dalam sebelum menjawab dengan nada santai. "Kalau saya kerjanya di tambang...
belum tentu sekarang saya bisa kenal sama kalian semua di sini."
Sontak saja, Agus dan Jono yang tadinya tegang langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban tak terduga itu. Suasana canggung di antara mereka seketika luntur. Anita sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan senyum gembira di sudut bibirnya.Di balik tawa itu, Jono dan Agus diam-diam merasa sangat bersyukur di dalam hati. Kehadiran Salman di bengkel ini bukan menjadi ancaman bagi posisi mereka, melainkan menjadi berkah.
Hanya dalam waktu dua hari saja, mereka berdua sudah bisa menyerap banyak ilmu teknik pengelasan tingkat lanjut, beveling, hingga manajemen risiko yang sebelumnya tidak pernah diajarkan oleh senior lama mereka.
"Ya sudah, dihabiskan makanannya. Habis ini lanjut kerja lagi," kata Anita ketat seperti biasa, meski nadanya kini jauh lebih ramah.
Anita pun membalikkan badan dan kembali berjalan menuju ruangannya yang ber-AC, meninggalkan ketiga montirnya yang mulai lahap menyantap makan siang di tengah aroma oli dan besi hangat.