Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Penguasa Baru Adhitama
Pagi hari di kawasan SCBD Jakarta, sinar matahari memantul dari kaca gedung pencakar langit tertinggi di area itu: Menara Adhitama. Di lobi utama yang mewah, para karyawan berjalan cepat dengan setelan kerja mahal, membicarakan rumor besar yang berhembus sejak subuh.
Kakek Adhitama telah resmi mundur, dan cucu pewaris tunggalnya yang selama ini dirahasiakan—Sang Tuan Muda—akan memimpin perusahaan mulai hari ini.
Di lantai 50, ruang rapat direksi berbentuk melingkar telah dipenuhi oleh para petinggi perusahaan. Suasana tegang dan cemas menyelimuti udara. Beberapa direktur senior saling berbisik, meragukan kemampuan pewaris muda yang kabarnya tidak pernah terjun ke dunia bisnis sebelumnya.
"Kudengar Tuan Muda ini bahkan tidak punya gelar sarjana ekonomi bergengsi. Dia hanya anak bau kencur yang diistimewakan," bisik Direktur Pemasaran, Pak Hendra (bukan manajer restoran), kepada rekannya.
"Benar. Kakek Adhitama terlalu gegabah. Kita lihat saja, dia tidak akan bertahan memimpin orang-orang secerdas kita lebih dari sebulan,"
sahut Direktur Keuangan.
Tepat saat jarum jam menunjuk pukul 09:00, pintu kayu ek tebal di ujung ruangan terbuka lebar. Suara percakapan seketika terhenti. Seluruh mata tertuju pada ambang pintu.
Pak Irwan masuk lebih dulu, berdiri di sisi pintu dengan sikap hormat sempurna. Di belakangnya, melangkah seorang pria muda dengan setelan jas hitam bespoke buatan Italia yang pas menempel di tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi, memancarkan aura wibawa yang membuat napas para direktur tertahan.
Pria itu adalah Rendy. Bukan lagi pelayan berompi basah di Le Grand, melainkan penguasa baru kerajaan bisnis Adhitama.
Rendy berjalan dengan langkah tegas namun tanpa suara menuju kursi pimpinan di ujung meja bundar. Ia menatap satu per satu wajah para direktur dengan tatapan tajam dan dingin. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, hanya dominasi murni yang menembus tulang.
"Selamat pagi," suara Rendy memecah keheningan yang mencekam.
"Saya Rendy Adhitama, CEO baru Anda."
Para direktur terdiam sejenak sebelum serempak berdiri dan membungkuk setengah badan.
"Selamat pagi, Tuan Muda!" seru mereka dengan nada patuh, meski masih ada secercah keraguan di mata beberapa direktur senior.
Rendy memberi isyarat agar mereka duduk. Ia melirik tumpukan map tebal di mejanya yang disiapkan Pak Irwan. Rendy tidak membuang waktu dengan basa-basi.
"Saya tahu beberapa dari Anda meragukan kemampuan saya memimpin perusahaan ini karena saya dianggap 'hilang' selama tiga tahun terakhir," ujar Rendy dengan nada tenang.
Ia meraih sebuah map merah, membukanya.
"Namun, saya lebih tahu apa yang Anda lakukan selama tiga tahun terakhir ini daripada Anda sendiri."
Rendy menatap tajam ke arah Direktur Keuangan yang tadi berbisik.
"Pak Hartawan. Bulan lalu, Anda mentransfer dana sebesar Rp 5 Miliar dari kas anak perusahaan kita ke rekening pribadi atas nama istri Anda dengan dalih 'biaya akuisisi aset fiktif', benar?"
Wajah Direktur Keuangan seketika pucat pasi.
"I-Itu tidak benar, Tuan Muda! Itu fitnah! Saya bisa jelaskan—"
"Pak Irwan," potong Rendy tanpa emosi.
"Serahkan bukti mutasi rekeningnya kepada kepolisian. Pak Hartawan, Anda dipecat detik ini juga dan diproses hukum."
Kepanikan menyergap seluruh ruang rapat. Rendy kemudian beralih menatap Direktur Pemasaran yang juga sempat meremehkannya.
"Pak Hendra. Kontrak pemasaran palsu dengan perusahaan event organizer milik keponakan Anda yang memakan anggaran Rp 3 Miliar. Buktinya sudah ada di tangan saya."
Kedua direktur senior itu langsung lemas dan diseret keluar oleh pengawal pribadi Rendy sebelum mereka sempat membela diri. Sisa direktur lainnya menunduk dalam-dalam, keringat dingin membasahi punggung mereka. Keraguan mereka pada Sang Tuan Muda sirna tak berbekas, berganti dengan rasa takut yang amat sangat.
"Mulai hari ini, tidak akan ada kompromi untuk korupsi dan ketidakjujuran,"
tegas Rendy, suaranya menggema di ruang rapat.
"Kita di sini berbisnis untuk kejayaan Adhitama, bukan untuk memperkaya kantong pribadi."
Rendy menutup map merah tersebut dan mengambil map biru.
"Sekarang, fokus pada agenda utama saya." Ia menatap para direktur yang tersisa.
"Tinjau kembali seluruh anak perusahaan dan mitra bisnis lokal yang saat ini sedang mengajukan proposal kerja sama, perpanjangan kontrak, atau investasi kepada Adhitama Group."
Rendy melonggarkan dasinya sedikit.
"Dua di antaranya adalah perusahaan keluarga Danang dan perusahaan tekstil milik ayah Siska. Saya ingin semua kerja sama, pinjaman, dan proyek dengan kedua perusahaan tersebut dievaluasi ulang."
Ia tersenyum sinis, sebuah senyuman yang sangat tidak ramah.
"Faktanya, bekukan semuanya. Pastikan bank-bank yang terafiliasi dengan kita membatalkan kredit mereka. Mulai hari ini, Adhitama akan memutus akses hidup mereka secara perlahan."
Pak Irwan mengangguk cepat.
"Baik, Tuan Muda. Perintah akan segera dilaksanakan."
Rendy menatap keluar jendela kaca yang luas, memandang hiruk pikuk kota Jakarta di bawahnya.
Bayangan Siska yang menyiramkan anggur merah dan tawa arogan Danang terlintas kembali di pikirannya.
Siska, Danang... permainan baru saja dimulai. Mari kita lihat seberapa lama kalian bisa tertawa kali ini.