Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Suara langkah puluhan sepatu lars bergema keras di lorong bawah tanah Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.

Reyhan berjalan di tengah kepungan enam anggota pasukan khusus bersenjata lengkap.

Tangan dan kakinya dirantai dengan borgol besi yang saling terhubung.

Pagi ini adalah hari penentuan nasibnya, sidang internal tertutup yang akan menjatuhkan vonis mati kilat.

Di ujung lorong, Reyhan melihat sebuah pintu kayu jati ganda yang dijaga ketat oleh petugas Propam.

Tepat di sebelah pintu itu, Alena sedang duduk di kursi kayu panjang dengan tangan terborgol ke depan.

Wajah detektif wanita itu terlihat pucat dan ada sedikit memar kebiruan di sudut bibirnya.

"Alena," panggil Reyhan pelan saat ia digiring melewati kursi tersebut.

Alena mendongak dan menatap Reyhan dengan pandangan penuh rasa bersalah.

"Maafkan aku, Reyhan."

"Mereka memaksaku hadir sebagai saksi ahli yang akan memberatkanmu di dalam sana."

Reyhan menghentikan langkahnya sejenak mengabaikan dorongan kasar dari laras senjata penjaganya.

"Tidak apa-apa, katakan saja semua yang ingin mereka dengar."

"Biarkan aku yang mengurus para jenderal tua di dalam sana," ucap Reyhan dengan senyuman tenang yang menyejukkan.

Pintu kayu jati ganda itu kemudian dibuka lebar dari dalam.

Reyhan didorong masuk ke dalam sebuah ruangan yang didesain menyerupai ruang pengadilan kecil.

Ruangan itu sangat kedap suara dan tidak memiliki satu pun jendela yang mengarah ke luar.

Di depan sana, terdapat meja panjang berbentuk setengah lingkaran yang posisinya lebih tinggi dari lantai.

Tiga orang perwira tinggi berpangkat jenderal duduk berjejer di balik meja tersebut.

Brigjen Surya duduk tepat di tengah dengan wajah yang sangat angkuh dan puas.

Di sebelah kanan Surya duduk seorang jenderal berwajah keriput, dan di sebelah kirinya duduk seorang jenderal bertubuh gemuk.

Reyhan dipaksa duduk di kursi terdakwa yang berada tepat di tengah ruangan.

"Buka sidangnya sekarang," perintah Brigjen Surya sambil mengetuk palu kayu ke atas meja.

"Sidang internal khusus kasus terorisme dan pembunuhan berantai Teater Harapan resmi dimulai."

Surya langsung membacakan lembar dakwaan dengan suara yang sangat lantang dan menggema.

"Terdakwa Reyhan Mahardika didakwa atas pembunuhan berencana terhadap empat orang warga negara."

"Terdakwa juga didakwa atas tindakan terorisme peledakan fasilitas publik."

Surya melemparkan sebuah map berisi lembaran foto ke atas meja di hadapan Reyhan.

"Kami memiliki bukti rekaman CCTV yang menunjukkan Anda membawa tas berisi peledak C4 ke dalam teater."

"Kami juga mencocokkan DNA pada sisa detonator, dan hasilnya identik dengan DNA Anda seratus persen."

"Dan yang paling penting, kami menemukan mutasi rekening sebesar lima puluh miliar rupiah dari sindikat kartel internasional ke rekening Anda."

Surya tersenyum penuh kemenangan menatap wajah Reyhan yang masih terdiam kaku.

"Bukti-bukti fisik ini tidak bisa dibantah oleh argumen karangan apa pun."

"Apakah terdakwa memiliki kata-kata terakhir sebelum majelis hakim menjatuhkan vonis eksekusi mati malam ini juga?"

Reyhan menghela napas panjang dan perlahan mengangkat kepalanya.

Ia menatap ketiga jenderal itu secara bergantian dengan tatapan mata yang sangat kosong.

Wenggg.

Reyhan langsung mengaktifkan Skill Karisma tingkat menengah dan Skill Manipulasi Pikiran tingkat dasar secara bersamaan.

Kepalanya langsung terasa berdenyut nyeri karena memaksakan skill ini pada tiga orang bermental baja sekaligus.

"Bukti-bukti itu sangat sempurna, Jenderal," ucap Reyhan dengan nada suara bariton yang menghipnotis.

"Terlalu sempurna hingga terlihat seperti sebuah naskah drama murahan."

Surya mengerutkan keningnya tidak suka mendengar jawaban itu.

"Tutup mulutmu kalau kau hanya ingin mengulangi bualan tentang konspirasi yayasan itu."

"Saya tidak membual, Jenderal Surya."

Reyhan mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap lurus ke mata jenderal bertubuh gemuk di sebelah kiri Surya.

"Bapak Jenderal di sebelah kiri."

"Apakah Anda benar-benar percaya uang lima puluh miliar itu berasal dari kartel internasional?"

Jenderal gemuk itu sedikit terkejut karena ditatap dengan aura intimidasi yang sangat pekat.

"Tentu saja, laporan mutasi banknya sudah diverifikasi oleh tim cyber kami," jawab jenderal gemuk itu sedikit ragu.

Reyhan tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Uang itu bukan dari kartel."

"Uang itu adalah dana darurat milik Yayasan Pelita Hati yang baru saja ditarik tadi malam."

Gelombang sugesti manipulasi pikiran mulai merayap masuk melalui pendengaran para jenderal tersebut.

Reyhan tidak menanamkan rasa takut, melainkan menanamkan rasa curiga dan paranoia yang sangat dalam.

"Seseorang di ruangan ini telah mentransfer uang yayasan itu ke rekening saya yang sudah mati."

"Tujuannya bukan untuk menjebak saya."

"Tujuannya adalah untuk mencuci uang itu agar tidak bisa dilacak oleh KPK, dan ia bisa mengambilnya kembali setelah saya dieksekusi mati malam ini."

Ketiga jenderal itu seketika terdiam kaku mendengar teori gila yang dilontarkan Reyhan.

Jenderal berwajah keriput di sebelah kanan Surya mulai menatap ke arah Surya dengan ekor matanya.

"Apa maksudmu, Reyhan?" tanya jenderal keriput itu dengan suara serak.

"Maksud saya sangat sederhana, Bapak Jenderal."

"Yayasan Pelita Hati sedang hancur lebur di luar sana karena artikel jurnalis semalam."

"Para penyokong dana pasti sedang berebut untuk menyelamatkan aset triliunan rupiah milik yayasan."

Reyhan menatap tajam ke arah Brigjen Surya yang wajahnya mulai memerah menahan marah.

"Brigjen Surya adalah Kepala Divisi Propam."

"Beliau memiliki akses penuh untuk meretas database forensik dan membuat bukti DNA palsu dalam semalam."

"Beliau juga punya wewenang untuk memerintahkan tim cyber memalsukan riwayat transfer bank saya."

"Jangan dengarkan omong kosong buronan ini!" bentak Surya sambil memukul meja dengan keras.

"Dia mencoba mengadu domba kita!"

Namun efek dari Manipulasi Pikiran Reyhan sudah bekerja terlalu dalam di otak kedua jenderal lainnya.

Mereka berdua adalah koruptor yang tamak, dan orang tamak selalu memiliki rasa saling curiga yang sangat tinggi terhadap rekan sesama koruptor.

"Tunggu dulu, Surya," sela jenderal gemuk itu dengan nada dingin.

"Tim forensik yang memeriksa TKP semalam adalah tim langsung di bawah komandomu, kan?"

"Bahkan salinan bukti aslinya tidak pernah sampai ke mejaku pagi ini."

Surya membelalakkan matanya tidak percaya melihat rekan sejawatnya mulai termakan omongan Reyhan.

"Kau gila?!"

"Aku melakukan semua penyitaan itu untuk mempercepat proses sidang ini!"

"Kalau kita menunda, publik di luar sana akan semakin rusuh!"

Reyhan tertawa pelan, tawanya terdengar sangat menggema dan merindingkan bulu kuduk di ruangan kedap suara tersebut.

"Mempercepat sidang, atau mempercepat pencairan dana lima puluh miliar itu ke luar negeri, Brigjen Surya?"

"Kalau saya mati malam ini, kasusnya ditutup selamanya."

"Dan Anda menjadi satu-satunya orang yang tahu kata sandi dari rekening gelap yayasan tersebut."

Darah segar tiba-tiba menetes dari lubang hidung sebelah kiri Reyhan.

Menghipnotis tiga orang jenderal polisi secara bersamaan ternyata membebankan tekanan fisik yang luar biasa pada otak Reyhan.

Namun Reyhan tidak menghapus darah itu, ia justru membiarkannya menetes ke atas seragam tahanannya.

Penampilan Reyhan yang berdarah itu justru membuat aura psikopatnya semakin terlihat mengerikan dan meyakinkan.

Jenderal berwajah keriput itu menyandarkan punggungnya dan menatap Surya dengan pandangan mengancam.

"Surya, serahkan akses master file bukti CCTV dan DNA itu padaku sekarang juga."

"Aku ingin tim independen dari divisiku yang memeriksanya ulang sebelum vonis ini dijatuhkan."

Wajah Surya berubah menjadi pucat pasi bercampur murka yang tak tertahankan.

"Aku tidak bisa menyerahkannya padamu!"

"Ini adalah yurisdiksi Propam!"

"Kalau begitu kau memang sedang merencanakan sesuatu di belakang kami berdua," desis jenderal gemuk itu sambil berdiri dari kursinya.

"Kau ingin mengambil seluruh sisa dana Yayasan Pelita Hati untuk dirimu sendiri dan mengorbankan kami jika KPK turun tangan."

Sidang tertutup yang seharusnya menjadi ajang eksekusi mati bagi Reyhan kini berubah menjadi arena pertengkaran sengit antar jenderal.

Paranoia dan ketamakan telah membutakan logika mereka berkat sugesti kuat dari sistem Reyhan.

Alena yang baru saja dibawa masuk ke dalam ruangan oleh penjaga hanya bisa berdiri mematung di dekat pintu.

Ia tidak percaya melihat ketiga petinggi Polri itu saling berteriak dan menuduh satu sama lain di depan seorang tahanan.

"Apa yang kau lakukan pada mereka, Reyhan?" bisik Alena sangat pelan nyaris pada dirinya sendiri.

Reyhan menoleh ke arah Alena dan memberikan kedipan sebelah mata yang sangat cepat.

"Jenderal, kalian kehabisan waktu," ucap Reyhan dengan suara berat menyela pertengkaran mereka.

Ketiga jenderal itu menoleh ke arah Reyhan dengan napas memburu.

"Di luar sana, jurnalis bernama Kania itu tidak bekerja sendirian."

"Dia sudah mengirimkan bukti rekayasa dari sistem... maksud saya, dari jaringan forensik kalian kepada publik."

"Masyarakat sedang bergerak menuju gedung ini."

"Dan jika kalian tidak menemukan siapa dalang sebenarnya dari pencurian uang yayasan itu, kalian bertiga yang akan digantung di Monas oleh rakyat."

Tepat saat Reyhan menyelesaikan kalimatnya, suara gemuruh sayup-sayup terdengar menembus dinding kedap suara ruangan tersebut.

Suara itu terdengar seperti ribuan orang yang sedang berteriak serempak.

Brak!

Pintu ruang sidang didobrak dengan sangat kasar dari luar oleh seorang perwira menengah yang terlihat sangat panik.

"Izin melapor, Jenderal!"

"Ada apa ini?! Kau tidak lihat kami sedang sidang tertutup?!" bentak Surya melampiaskan amarahnya.

Perwira menengah itu memberikan hormat dengan tangan gemetar hebat.

"Massa di luar sudah tidak terkendali, Jenderal!"

"Ribuan warga dan mahasiswa dari Sektor Utara baru saja menjebol gerbang utama Mabes Polri!"

"Mereka menuntut pembebasan Reyhan Mahardika dan menuntut penangkapan seluruh petinggi yang terafiliasi dengan Yayasan Pelita Hati!"

Ketiga jenderal itu langsung jatuh terduduk di kursi mereka dengan wajah pias tak berdarah.

Reyhan mengusap darah di bawah hidungnya menggunakan punggung tangannya yang terborgol.

Senyum kemenangan akhirnya terukir jelas di wajah pemuda itu.

"Pertunjukannya sudah berpindah panggung, Jenderal."

"Dan sepertinya, kalian bukan lagi sutradara dari nasib saya hari ini."

Gilang mungkin berhasil memanipulasi bukti tertulis menggunakan poin sistemnya.

Namun Gilang lupa bahwa Reyhan memiliki kemampuan untuk memanipulasi pikiran manusia yang membaca bukti tersebut.

Hukum bisa dibengkokkan oleh kertas, namun kertas akan hangus oleh amarah manusia yang dibakar paranoia.

Reyhan perlahan berdiri dari kursinya, menatap ketiga jenderal yang kini terlihat sangat menyedihkan dan ketakutan.

"Lepaskan borgol saya sekarang."

"Atau saya akan membiarkan massa di luar sana masuk ke ruangan ini dan merobek seragam dinas kalian satu per satu."

Suara Reyhan terdengar bagaikan titah dari seorang raja kegelapan.

Tidak ada satu pun penjaga bersenjata di ruangan itu yang berani membantah atau mengangkat senjata mereka ke arah Reyhan.

Mereka semua telah tunduk pada aura dominasi yang dipancarkan oleh Sang Penerus Keadilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!