Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencuri Dengar
Di pertengahan pesta, Victor mengangkat gelas di tangannya. "Terima kasih atas kehadiran kalian semua."
Percakapan di ruangan itu perlahan berhenti. Semua mata langsung mengarah padanya.
"Malam ini, ada kabar baik yang tentu saja sebagian besar dari kalian sudah mendengarnya." Victor berhenti sejenak. Pandangannya berkeliling, memastikan seluruh tamu memperhatikannya.
"Ya, kita berhasil. The Raven berhasil memenangkan pertarungan dalam memperebutkan lahan strategis yang selama ini menjadi target banyak organisasi dunia bawah."
Sorak sorai terdengar di susul tepuk tangan yang menggema di seluruh ruangan.
Victor kembali mengangkat gelasnya.
"Mulai malam ini, posisi The Raven semakin kuat. Tidak ada organisasi yang bisa dengan mudah menggoyahkan kita. Dan tentu saja, semua ini tidak akan terjadi tanpa orang-orang yang setia berdiri di belakang organisasi."
Sorakan kembali memenuhi ruangan. Tapi, tatapan Elena justru mengarah pada Leon yang hanya berdiri diam.
Tidak ada satu pun ucapan yang secara khusus ditujukan pada pria itu.
Padahal, semua orang di ruangan itu tahu siapa yang memimpin operasi perebutan lahan tersebut.
Dan, orang itu adalah Leon.
Tapi, malam ini, namanya seolah sengaja dikesampingkan.
"Untuk itu, aku bersulang demi kemenangan kita," seru Victor.
"DEMI KEMENANGAN KITA."
"DEMI KEMENANGAN THE RAVEN."
Semua tamu mengangkat gelas, kemudian menenggak minuman masing-masing. Setelah itu, suasana pesta kembali dipenuhi percakapan dan tawa.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama saat tiba-tiba sebuah pekikan nyaring terdengar dari salah satu sudut ruangan.
"APA YANG KAMU LAKUKAN?!"
Semua kepala langsung menoleh.
Seorang wanita berdiri dengan wajah merah padam, saat melihat bagian depan gaunnya terkena noda minuman yang baru saja tumpah. Sementara di depannya, seorang pelayan berlutut dengan tubuh gemetar.
"Ma-maaf, Nona. Saya tidak sengaja," ucap pelayan itu terbata-bata.
"Tidak sengaja?" Wanita itu mendengus. Dia menunjuk noda pada gaunnya dengan wajah penuh amarah. "Apa kamu tahu berapa harga gaun ini, hah? Bahkan seumur hidup pun, kamu tidak akan mampu mengganti gaun ini!"
Pelayan itu semakin menundukkan kepala. "Sa-saya benar-benar minta maaf, Nona."
Keributan itu menarik perhatian seluruh ruangan.
Beberapa pelayan yang sebelumnya masih sibuk melayani tamu mulai menghentikan pekerjaan mereka dan, buru-buru berlutut di tempat, termasuk Elena.
Victor yang mendengar keributan tersebut akhirnya berjalan mendekat, membuat suasana berubah tegang.
Ia berhenti tepat di depan pelayan yang sejak tadi meminta maaf.
"Siapa namamu?" tanyanya datar.
Pelayan itu mengangkat wajahnya sedikit. "Na-nama saya Angela, Tuan."
"Angela." Victor mengulang nama itu dengan suara tenang. Namun, hal itu justru terasa jauh lebih mengerikan daripada sebuah bentakan. "Kamu tahu peraturan di rumah ini?"
Wajah Angela seketika memucat. Tubuhnya semakin gemetar. Dia langsung bersujud.
"A-ampuni saya, Tuan. Saya bersalah. Saya benar-benar minta maaf."
Elena melirik pelayan lain yang menundukkan kepala lebih dalam. Tidak ada yang berani bersuara karena mereka tahu seperti apa Victor Bianchi.
Dia bukan pria yang mudah memaafkan.
Bagi Victor, kesalahan kecil sekalipun bisa berujung fatal apabila dilakukan di tempat dan waktu yang salah.
Elena lalu mengangkat sedikit kepalanya, menatap Leon yang hanya berdiri diam dari kejauhan, seolah sudah biasa menyaksikan sisi lain Victor yang kejam dan dingin.
"Aku paling tidak suka ada orang yang merusak pestaku," ucap Victor tenang.
Angela mengangkat wajahnya dengan mata penuh ketakutan.
"Tuan, saya mohon—"
DOR!
Suara letusan pistol menggema di seluruh ruangan.
Tubuh Angela terjatuh seketika. Darah mengalir deras dari kepalanya.
Semua orang membeku. Tidak ada satu pun tamu yang berani bersuara.
Beberapa pelayan menutup mulut mereka untuk menahan jeritan. Yang lain menundukkan kepala dengan tubuh gemetar hebat. Bahkan, ada yang mulai menangis dalam diam.
Sementara Elena hanya diam dengan tangan mengepal erat dan rahang mengeras. Pandangannya kembali terangkat dan kali ini bertemu langsung dengan tatapan Leon.
Hal itu tentu menarik perhatian Leon karena, Elena tidak menunjukkan ekspresi ketakutan yang seharusnya muncul setelah seseorang ditembak mati tepat di depan matanya.
Wanita itu hanya diam dengan tatapan yang tajam.
Leon menyipitkan matanya. Tatapannya tidak beralih sedikitpun. Ia melihat sepasang mata yang tampak tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang membuat instingnya sebagai seorang anggota The Raven langsung terusik.
Tapi, sebelum Leon sempat memastikan apa yang ia lihat, Elena kembali menundukkan kepala, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Leon mulai merasakan firasat aneh yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya.
"Siapa wanita itu?" batinnya.
***
Siang itu, terjadi sedikit keributan di dapur. Elena yang sedang menyusun peralatan makan segera menoleh.
"Cepat! Antar minuman dan camilan ini ke ruang kerja Tuan Victor, sekarang!" perintah kepala pelayan.
Namun, tidak ada satu pun pelayan yang bergerak. Mereka hanya saling berpandangan dengan wajah pucat.
"Ada apa, hah?" Kepala pelayan mengerutkan kening.
"Sa-saya tidak berani, tuan," jawab salah seorang pelayan dengan suara bergetar.
"Saya juga."
Elena diam memperhatikan. Dia tahu kenapa mereka menolak. Karena, mereka masih trauma melihat kematian Angela di depan mata mereka saat pesta semalam.
"Tapi, kalian adalah pelayan di rumah ini! Kalian digaji untuk menjalankan perintah, bukan berdiri gemetar seperti orang bodoh!”
Bentakan kepala pelayan menggema di dapur, membuat para pelayan semakin menundukkan kepala.
Elena yang sejak tadi memperhatikan akhirnya melangkah maju.
Ini kesempatan baginya. Jika ia mengantarkan minuman itu sendiri, setidaknya ia bisa mendekati ruang kerja Victor. Mungkin ia dapat mendengar sesuatu yang penting.
"Kepala Pelayan."
Semua kepala menoleh kepadanya.
"Biar saya saja yang mengantarkan minuman itu," ucap Elena.
Beberapa pelayan langsung menatap Elena dengan wajah terkejut. Mereka jelas tidak menyangka ada orang yang bersedia mengambil risiko tersebut.
Kepala pelayan terdiam sejenak, kemudian mengangguk.
"Baik. Cepat antar minuman dan camilan ini kepada Tuan Victor," ucapnya sambil menunjuk nampan di atas meja. "Jangan membuat kesalahan."
"Baik."
Elena membungkuk sopan. Ia mengambil nampan tersebut, lalu berjalan menuju ruang kerja Victor.
Setibanya di depan pintu ruang kerja, Elena berhenti sejenak. Ia menarik napas perlahan sebelum mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Suara berat dari dalam membuat Elena segera membuka pintu.
Ia melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk. Tapi, baru beberapa langkah, ia terhenti sejenak.
Ada tiga orang di dalam ruangan.
Victor dan Daniel duduk di sofa. Sementara Leon berdiri layaknya bawahan yang menunggu perintah atasannya.
Tatapan Elena sempat tertuju pada Leon. Pria itu terlihat tenang, tetapi aura yang terpancar berbeda dari anggota keluarga Bianchi lainnya.
Elena segera mengalihkan pandangan. Tangannya mencengkeram nampan sedikit lebih erat lalu, kembali berjalan menuju meja.
Dua gelas minuman ia letakkan dengan hati-hati, diikuti beberapa camilan. Dan, pada saat itulah ia mendengar percakapan mereka.
"Apa hubungannya pernikahan dengan posisi pemimpin organisasi?"
Suara Leon terdengar tenang, tetapi jelas menyimpan rasa tidak puas.
Victor tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil sebatang rokok dari atas meja, menyalakannya, lalu mengisapnya dalam-dalam sebelum menghembuskan asap perlahan.
"Kamu terlalu menonjol, Leon. Semakin banyak orang yang mengakui kemampuanmu, semakin banyak pula orang yang melihatmu sebagai calon pemimpin," ucap Victor.
"Bukan hanya anggota The Raven, keluarga berpengaruh di dunia bawah juga mulai memperhatikanmu," lanjut Victor.
Elena memasang telinga. Informasi itu jauh lebih menarik daripada yang ia bayangkan.
"Jadi, dia akan menikah," batin Elena. "Tapi, kenapa Victor seolah-olah tidak ingin Leon menjadi pemimpin organisasi?"
Victor melanjutkan, "Kamu juga tahu, banyak wanita dari keluarga berpengaruh yang tertarik kepadamu. Tentu saja, aku akan sangat senang jika kamu menikah dengan salah satu dari mereka. Tapi, aku tidak ingin itu terjadi."
Kening Leon berkerut. "Apa maksudmu, Dad?"
"Kamu sangat tahu apa maksudku, Leon."
Suasana di dalam ruangan mendadak berubah hening. Udara terasa lebih berat..
Elena masih ingin mencuri dengar, tapi ia sadar, terlalu lama berada di sana bisa memancing kecurigaan.
Jadi, ia segera mengambil nampan kosong, lalu membungkuk sopan.
"Kalau begitu, saya permisi." Ia berbalik. Tapi, sebelum benar-benar melangkah, ia terhenti sesaat. Lirikannya tanpa sengaja bertemu dengan mata Leon yang begitu tajam, seolah-olah sedang membaca sampai ke dasar pikirannya.
Elena tersenyum tipis, lalu kembali melangkah dan keluar dari ruangan.
Tapi, yang Elena tidak tahu, Leon mulai mencurigainya. Sementara, Daniel tersenyum miring melihat keduanya.
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊