Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Romantis yang Tertunda dan Janji Abadi
Pintu utama penthouse baru saja tertutup rapat, mengunci sisa-sisa ketegangan dan drama kolot yang dibawa oleh Madame Victoria serta Aurelia Vanya. Suasana di dalam ruangan mendadak kembali tenang, menyisakan keheningan malam yang hangat dan penuh kemenangan.
Jino West masih berdiri di tempatnya, menatap sang istri dengan sorot mata yang dipenuhi oleh campuran antara rasa kagum, gemas, dan rasa cinta yang teramat dalam. Tangannya yang kokoh masih melingkar pas di pinggang ramping Reina, seolah pria itu enggan melepaskan jarak meski hanya sepersesekian detik.
"Kau benar-benar luar biasa, gadis desa," puji Jino dengan suara baritonnya yang serak dan lembut. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup singkat pucuk hidung Reina. "Aku rasa, kalau kau tidak jadi penulis web novel, kau bisa alih profesi jadi jaksa penuntut umum atau pengacara paling ditakuti di dunia korporat."
Reina mendengus pelan, mendongakkan dagunya dengan ekspresi bangga yang dibuat-buat. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Jino, memainkan kerah kemeja suaminya dengan santai. "Hei, jangan meremehkan imajinasi seorang penulis, Tuan Muda West. Menghadapi nenekmu yang kolot itu rasanya mirip seperti menulis karakter penjahat antagonis egois di bab-bab awal cerita. Cukup beri sedikit fakta telak dan plot twist dokumen keuangan, tamatlah riwayat mereka."
Tawa renyah yang tulus lolos dari bibir Jino. Pria angkuh yang biasanya ditakuti oleh seluruh direktur di lantai bursa itu kini tampak begitu tak berdaya dan luluh di hadapan wanita pilihannya. Jino menundukkan wajahnya, membenamkan kepalanya sejenak di ceruk leher Reina, menghirup aroma vanila khas istrinya untuk menenangkan debaran dadanya sendiri.
"Aku serius, Reina," bisik Jino pelan, suaranya berubah jauh lebih intim dan bersungguh-sungguh. "Terima kasih... karena sudah berdiri di sisiku, tidak gentar menghadapi mereka, dan menunjukkan pada dunia bahwa kau adalah satu-satunya ratu yang layak memimpin hidupku."
Mendengar kalimat jujur dan tanpa filter dari pria yang dikenal paling irit bicara itu, hati Reina berdesir hebat. Sisa-sisa candaan di wajahnya memudar, digantikan oleh kehangatan yang merambat hingga ke seluruh sudut relung hatinya. Reina balas mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya nyaman di dada bidang Jino, mendengarkan detak jantung pria itu yang bergemuruh teratur.
"Aku kan istrimu, Jino," jawab Reina lembut, ibu jarinya mengusap pelan rahang tegas suaminya. "Mana mungkin aku membiarkan ada orang lain meremehkan suamiku sendiri, apalagi kalau orang itu datang bawa-bawa 'celengan hidup' nggak jelas pagi-pagi buta."
Jino terkekeh pelan mendengar sebutan konyol yang disematkan istrinya kepada Aurelia Vanya. Ia mengangkat tubuh Reina dengan mudah, membuat kaki jenjang gadis itu melingkar pas di pinggangnya. Reina terkesiap kecil, reflek mengalungkan tangannya semakin erat di leher Jino agar tidak jatuh.
"Hei! Mau dibawa ke mana aku?!" protes Reina protes bercampur salah tingkah.
"Mengingat malam pertama kita kemarin sempat diganggu oleh insiden server kantor yang sialan itu..." bisik Jino tepat di depan bibir Reina, manik mata kelamnya memancarkan kilat gairah dan rasa lapar yang tertahan. "...maka sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk melunasi utang malam pengantin kita yang tertunda, Nyonya West."
Tanpa menunggu persetujuan atau balasan dari Reina, Jino melangkah jenjang membawa istrinya menuju kamar tidur utama.
Suasana di dalam kamar tidur utama terasa jauh berbeda dibandingkan malam-malam sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi ancaman dari musuh bisnis, dan tidak ada lagi tamu tak diundang yang berani mengetuk pintu.
Jino membaringkan tubuh Reina secara perlahan di atas ranjang king-size yang ditaburi kelopak mawar putih. Pria itu menyusul naik, menempatkan kedua tangannya di sisi tubuh Reina, mengurung gadis itu dalam dekapannya yang hangat dan penuh dominasi penuh cinta.
Cahaya lampu tidur yang temaram memantulkan bayangan siluet tubuh mereka di dinding kamar. Jino menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, menuntut, namun sarat akan kelembutan dan pemujaan. Ciuman itu membakar segala keraguan, menghanyutkan keduanya ke dalam arus asmara yang telah lama mereka pendam di balik dinding-dinding pertengkaran dan gengsi masa lalu.
Reina membalas ciuman itu dengan sepenuh jiwa. Tangannya menelusup ke dalam helai rambut hitam Jino, meremasnya lembut sementara napas mereka mulai memburu di udara malam. Setiap sentuhan tangan kokoh suaminya di kulitnya mendesak getaran asmara yang luar biasa, membuat Reina merasa bahwa dunia di luar sana benar-benar berhenti berputar.
"Aku mencintaimu, Reina," bisik Jino di sela-sela ciuman mereka, suaranya terdengar begitu parau dan rapuh—hanya milik Reina seorang.
"Aku juga mencintaimu, Tuan Muda angkuh," balas Reina tersenyum di bibir suaminya, sebelum kembali hanyut dalam dekap kehangatan malam yang menyatukan jiwa dan raga mereka sepenuhnya.
Keesokan paginya, matahari bersinar lebih cerah dari biasanya. Di atas ranjang yang sama, Reina membuka matanya perlahan, mendapati dirinya berada di dalam deputan lengan kokoh Jino yang masih terlelap tenang. Wajah suaminya tampak begitu damai, tanpa garis ketegangan yang biasa menghiasi hari-hari sibuknya sebagai CEO.
Reina tersenyum manis, mengulurkan jarinya untuk merapikan sehelai rambut hitam yang jatuh di dahi Jino.
Tiba-tiba, mata kelam Jino terbuka perlahan. Pria itu menatap Reina dengan senyuman miring khasnya, lalu mengeratkan pelukannya hingga Reina kembali jatuh menempel di dadanya.
"Selamat pagi, istriku tersayang," sapa Jino dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar sangat seksi. "Tidur nyenyak?"
"Sangat nyenyak," jawab Reina manja, mencium sekilas dagu suaminya. "Dan tidak ada telepon darurat dari kantor, kan?"
Jino tertawa renyah, menggelengkan kepalanya mantap. "Tidak ada. Hari ini, ponselku sudah ku-off-kan khusus untukmu."
Reina mendesah lega, menyamankan posisinya di dalam pelukan hangat pria itu. Badai terbesar dalam hidup mereka telah berlalu, dan lembaran kisah cinta nyata yang jauh lebih indah daripada novel wuxia mana pun kini resmi dimulai—abadi, tanpa akhir, dan sepenuhnya milik mereka berdua.