Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eira

Langit di atas ibu kota Glacoria, kota megah yang menjadi jantung kekuasaan Klan Es, selalu diselimuti oleh kabut tipis berwarna perak.

Di bawah menara-menara kristal yang menjulang tinggi, jalanan berbatu yang padat dipenuhi oleh derap langkah ratusan orang yang berlalu-lalang dengan jubah bulu tebal mereka.

Di tengah kerumunan yang bising itu, seorang gadis melangkah dengan punggung tegak lurus, membelah keramaian dengan keanggunan yang tidak bisa disembunyikan.

Aurelia sengaja menutupi wajahnya dengan selembar cadar sutra hitam, mencoba membentengi diri dari hinaan yang selalu dilontarkan oleh kota ini.

Namun, kain tipis itu gagal menghentikan bisik-bisik sinis yang langsung menjalar setiap kali tumit sepatunya menyentuh tanah.

"Lihat anak haram yang cacat itu," bisik seorang wanita bangsawan di balik kipas bulunya, matanya menyipit penuh penghinaan. "Lahir di tanah es, tapi tidak punya setetes pun sihir es di darahnya."

Kebanyakan dari mereka yang melempar hinaan adalah para wanita yang hatinya terbakar oleh rasa iri.

Mereka membenci kenyataan bahwa meskipun Aurelia dicap sebagai anak haram tanpa sihir, ia dianugerahi kecantikan yang mampu meruntuhkan kewarasan para pria.

Di sudut-sudut kedai, para bangsawan pria kerap berbisik dengan napas memburu, memuja lekuk tubuh dan pesonanya yang legendaris, bahkan secara terang-terangan membayangkan bagaimana rasanya menaklukkan tubuh indah Aurelia di atas ranjang mereka.

Namun, Glacoria tidak tahu bahwa di balik paras bak dewi itu, hati Aurelia telah menempa diri menjadi sekeras berlian sejak ia bisa mengingat rasa sakit. Ia menolak untuk tunduk pada emosi lemah yang orang-orang sebut sebagai 'hati'.

Langkah kakinya akhirnya membawa Aurelia berhenti di depan sebuah bangunan batu tua yang cukup besar di pinggir jalan utama—sebuah toko perpustakaan kuno yang aroma kertas tuanya tercium hingga ke luar.

Krek!

Pintu kayu tebal itu berderit pelan saat Aurelia mendorongnya terbuka, melangkah masuk ke dalam keheningan yang menenangkan di mana hanya ada beberapa orang pengunjung yang sibuk membaca.

Di balik meja kayu panjang di sudut ruangan, seorang wanita dengan mata berbinar cerah langsung menegakkan tubuhnya. Begitu mengenali siluet itu, ia melambaikan tangannya dengan penuh semangat.

Dia adalah Eira, pemilik perpustakaan tersebut, sekaligus satu-satunya manusia di seluruh Glacoria yang Aurelia izinkan untuk menyentuh hidupnya.

Eira berlari kecil, mengabaikan tatapan heran beberapa pengunjung, lalu langsung menghambur memeluk tubuh Aurelia yang terasa dingin. "Aku sudah menunggumu sejak tadi... ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku berikan kepadamu," bisik Eira tepat di telinga sahabatnya, suaranya bergetar menahan kegembiraan yang meluap-luap.

Aurelia tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat bahwa ia mempercayai wanita itu.

Tanpa membuang waktu, mereka berdua berjalan beriringan menuju sebuah ruangan khusus yang tertutup rapat di bagian belakang perpustakaan.

Begitu pintu kayu di belakang mereka terkunci rapat, Aurelia langsung melepas cadar hitamnya, membiarkan kecantikannya yang memikat namun dingin terpapar di udara ruangan.

Ia berjalan dengan anggun, lalu menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi kosong yang ada di sana.

"Jadi," suara Aurelia memecah keheningan, terdengar begitu tenang, datar, namun sarat akan rasa ingin tahu yang terpendam. "Kali ini, apa yang kau punya hingga membuatmu seantusias ini, Eira?"

Eira tidak langsung menjawab. Ia justru menyunggingkan senyum misterius yang penuh arti, membuat suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa lebih intens.

"Tunggu di sini... aku yakin kau akan sangat menyukai apa yang berhasil aku temukan kali ini," kata Eira dengan nada penuh kemenangan.

Gadis berambut cokelat itu langsung berbalik dan berjalan dengan langkah lebar, setengah berlari menuju sebuah lemari kaca antik yang terkunci rapat di pojok ruangan.

Dengan jemarinya yang gemetar karena gembira, ia memutar kunci kuningan, membuka pintunya, dan perlahan mengeluarkan dua buah barang yang diselimuti kain beludru hitam dari dalam sana.

Klak!

Ia meletakkan kedua barang itu tepat di hadapan Aurelia, di atas meja kayu mahoni yang gelap.

Aurelia terdiam cukup lama, matanya terpaku pada salah satu objek. Tangannya yang ramping perlahan terangkat, ragu sejenak sebelum akhirnya meraih sebuah pedang yang permukaannya berkilau memantulkan cahaya magis. "Pedang ini---"

"Ini pedang dari Klan Petir," bisik Eira penuh antusias, tubuhnya condong ke depan. "Ada seorang misterius yang menjualnya karena terdesak hutang... dan kebetulan aku yang membelinya sebelum para kolektor mengendus keberadaan benda ini," katanya dengan nada bangga yang tertahan.

Eira menatap lekat-lekat wajah sahabatnya, lalu melunakkan suaranya. "Aku mengingat dirimu saat pertama kali melihat pedang ini. Sekarang kau bisa latihan menggunakan pedang sejati, Aurelia. Buang saja pedang berkarat tak berguna yang selalu kau sembunyikan itu."

Eira memang tahu seberapa keras perjuangan sahabatnya itu selama bertahun-tahun dalam kesunyian. Dan jauh di lubuk hatinya, dia juga merasa iba sekaligus kagum pada keteguhan hidup sahabatnya yang penuh tekanan.

Aurelia masih terdiam, jemarinya perlahan mengusap hulu pedang yang terasa dingin namun berdenyut halus.

Eira kembali melanjutkan penjelasannya, mencoba meyakinkan, "Mungkin jika kau memakai pedang ini, hasilnya akan jauh berbeda dari latihan-latihanmu yang gagal sebelumnya. Aku bisa merasakan aliran yang murni bergetar di bilah pedangnya. Logam ini merespons energi kehidupan. Mungkin jika kau melatih fokusmu menggunakan pedang ini, kau bisa memicu sesuatu di dalam dirimu dan membangkitkan kekuatanmu yang sebenarnya."

Aurelia mengangkat pandangannya, menatap sahabatnya dengan sepasang mata sedalam samudra es, dipenuhi keraguan yang nyata. "Apa itu masuk akal, Eira? Aku berasal dari Klan Es, bukan Petir. Darah yang mengalir di tubuhku adalah darah Frost. Bagaimana bisa aku yang bahkan tidak bisa membekukan setetes air pun, tiba-tiba memiliki dan mengendalikan kekuatan petir? Itu mustahil secara hukum alam sihir."

Namun Eira mengibaskan tangannya di udara, memotong keraguan itu dengan tidak sabar. "Apanya yang tidak mungkin di dunia yang penuh dengan rahasia kuno ini?" suara Eira bergetar penuh keyakinan yang menular.

Ia kemudian melangkah memutari meja, mendekat ke sisi kursi Aurelia, menurunkan intonasi suaranya menjadi bisikan yang intens. "Kau pernah mendengar kisah tentang Penyihir Agung Lucien?" tanya Eira.

Tanpa ragu, Aurelia mengangguk pelan. "Tentu saja... siapa di benua barat ini yang tidak mengenal dirinya? Semua kitab sejarah di perpustakaan mu ini menganggapnya sebagai pahlawan yang menyelamatkan dunia dari kegelapan," kata Aurelia.

"Itu dia!" Eira menepuk meja dengan pelan namun tegas. "Selama ini, semua Klan saling bermusuhan demi mempertahankan garis keturunan serta memperluas wilayah kekuasaan. Mereka yakin bahwa satu jiwa hanya bisa menampung satu elemen. Tapi... apa kau pernah berpikir lebih jauh, Aurelia? Pernahkah kau berpikir untuk mendobrak batasan itu dan memiliki kekuatan kelima Klan sekaligus? Bukan hanya es yang membekukan... tapi semuanya. Petir, api, badai dan bumi... dan yang paling utama... matahari."

Aurelia tertegun, napasnya tertahan mendengar spekulasi gila yang keluar dari mulut sahabatnya. "Kau... kau sudah kehilangan akal sehatmu, Eira. Memiliki semua kekuatan itu artinya mengundang kematian. Tubuh manusia akan hancur karena penolakan energi."

Eira menunjuk ke arah barang kedua yang tergeletak di atas meja—sebuah buku jurus kuno berwarna emas yang telah rusak. "Tapi Lucien tidak mati... dia bukti nyata dari ketidakmungkinan menjadi mungkin... aku yakin, kau bisa melakukannya."

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!