Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Setelah menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian menggunakan kaos santai serta celana kulot yang longgar, Raelyn akhirnya keluar. Luka di pergelangan tangan dan jarinya sudah dia ganti dengan hansaplas baru yang bersih.
Giliran Alvarez yang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara suaminya mandi, Raelyn mendudukkan diri di depan meja rias besar yang ada di sudut kamar utama.
Dia mengambil sebuah hairdryer milik Alvarez yang tersedia di sana, bersiap untuk mengeringkan rambut panjangnya yang masih basah kuyup setelah keramas.
Baru saja Raelyn menyalakan mesin pengering rambut itu, pintu kamar mandi mendadak terbuka.
Alvarez melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut hitamnya yang masih basah dan meneteskan sisa air di bahunya.
Yang membuat mata Raelyn langsung terbelalak sempurna adalah penampilan suaminya saat itu. Alvarez belum berganti pakaian kerja. Pria itu hanya mengenakan celana pendek santai berwarna abu-abu tanpa menggunakan kaos sama sekali.
Pemandangan itu langsung menyergap indera penglihatan Raelyn melalui pantulan cermin meja rias. Tubuh Alvarez yang atletis, dada bidangnya yang kokoh, serta perutnya yang membentuk lekukan enam kotak (sixpack) yang sempurna terpampang nyata di depan matanya. Urat-urat tangan di lengan kekarnya terlihat sangat maskulin di bawah pencahayaan kamar pagi itu.
Raelyn membeku di kursinya, tangan yang memegang pengering rambut mendadak lemas. Dia menelan ludah tanpa sadar, menatap pemandangan itu tanpa berkedip melalui cermin.
Alvarez yang menyadari pandangan lapar dari istrinya melalui pantulan cermin langsung menghentikan langkahnya. Pria itu menaruh handuk kecil yang dia gunakan untuk mengelap rambutnya ke atas bahu, lalu berjalan mendekati meja rias dengan langkah santai.
Jiwa jahilnya kembali meronta melihat ekspresi wajah Raelyn yang kembali linglung karena ketampanan fisiknya.
Alvarez berdiri tepat di belakang kursi Raelyn, menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajahnya sejajar dengan wajah Raelyn di cermin.
"Mau pegang? Atau... mau cobain?" ucap Alvarez dengan nada suara yang sangat rendah, berbisik tepat di dekat telinga Raelyn sembari melirik ke arah perut sixpack-nya sendiri.
Kalimat ambigu yang keluar dari mulut Alvarez langsung membuat sistem saraf Raelyn terkejut. Kesadarannya ditarik paksa kembali.
"Dih, enggak ya! Siapa juga yang mau pegang-pegang badan lo! Jangan kegeeran deh!" semprot Raelyn galak, meskipun suaranya terdengar sangat salah tingkah dan tidak meyakinkan.
Dia buru-buru mematikan mesin pengering rambutnya dan memalingkan muka ke arah lain, berusaha menyembunyikan rona merah yang kembali membakar kedua pipinya.
Alvarez tidak membalas ucapan ketus itu. Dia justru mengulurkan tangannya yang panjang, dengan santai mengambil alih mesin hairdryer dari genggaman tangan kiri Raelyn.
"Gue bisa sendiri," ucap Raelyn ketus, mencoba merebut kembali alat itu.
"Aku tahu kamu bisa sendiri. Aku cuma mau bantu," balas Alvarez tenang.
Pria itu menyalakan kembali pengering rambut dengan tingkat panas yang sedang, lalu mulai mengarahkan angin hangat itu ke rambut panjang Raelyn yang basah.
Kali ini, Raelyn tidak menolak lagi. Sifat ngeyelnya mendadak lumpuh total oleh perhatian manis yang diberikan oleh suaminya. Raelyn duduk diam di kursinya, menatap pantulan cermin dengan jantung yang berdegup tidak beraturan.
Sentuhan tangan Alvarez di kepalanya terasa sangat lembut dan penuh dengan perasaan hangat. Jari-jari panjang pria itu dengan telaten menyisir helai demi helai rambut Raelyn, memastikan angin dari pengering rambut merata ke seluruh bagian tanpa membuat kulit kepala Raelyn kepanasan.
Tidak ada sedikit pun kesan kaku atau kasar dari gerakan tangan sang monster bisnis yang biasanya ditakuti oleh seluruh pengusaha kota itu. Di depan meja rias ini, dia hanyalah seorang suami yang sedang memanjakan istrinya dengan penuh kasih sayang.
Keheningan di antara mereka berdua di depan meja rias terasa sangat intim dan manis, membuat Raelyn tanpa sadar mulai menikmati setiap detik sentuhan tangan lembut Alvarez di rambutnya.
Bersambung.....