Indonesia
NovelToon NovelToon
Kutukan Mbah Golok Sakti

Kutukan Mbah Golok Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.

Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.

Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!

Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?

Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Hanya Sebatas Remahan Kerupuk Rengginang

"Wah, lihat nih siapa yang dateng! Dua bos CEO muda kita auranya berkilau silau banget, man! Secerah pemandangan masa depan tanpa ada beban cicilan pinjol!" seru Aji riang sambil memberikan gaya salam ala pria (adu bahu dan tepuk punggung) kepada Adit dan Rakha.

Pandangan mata Aji kemudian beralih menatap ke arah Rahsya. "Nah, kalau yang ini dia adalah sesosok dokter tampan andalan kita. Tapi sayang seribu sayang... statusnya sampai detik ini masih single fighter alias jomblo karatan stadium akhir."

Rahsya langsung memutar kedua bola matanya dengan malas sampai hampir yang terlihat cuma bagian putih matanya saja.

"Ck. Gue beneran belum resmi dilantik jadi dokter ya, mungkin baru sebulan lagi. Dan lo nggak usah bawa-bawa masalah status jomblo gue ya, Ji. Kayak lo sendiri laku aja kalau dijual di pasar loak!" ketus Rahsya sambil menghempaskan pantatnya di atas kursi sofa empuk di samping teman-temannya.

Tak lama kemudian, sosok Reno akhirnya muncul menampakkan diri di puncak tangga. Langkah kakinya sengaja dibuat berjalan lambat, seolah-olah ada efek slow-motion imajiner dari kamera film yang sedang mengiringi langkahnya.

Semua pasang mata di meja bundar itu serentak langsung menoleh. Aji bahkan sampai harus menyipitkan kedua matanya berkali-kali, mencoba memproses pemandangan visual yang absurd dan membingungkan di hadapannya.

"Waduh... gue lihat-lihat penampilan baju lo malam ini emang udah memancarkan vibes seorang CEO kaya raya banget, Ren. Jas hitam mahal, tatanan rambut klimis berminyak..."

Aji menggantung kalimat ucapannya selama beberapa detik, lalu melanjutkannya dengan ekspresi wajah tanpa dosa, "Tapi kok gue ngerasa pancaran aura di tubuh lo itu... aur-auran banget ya? Sumpah, mirip banget kayak penampakan CEO perusahaan yang baru aja habis kena gusur proyek, tapi tetep maksa tampil gaya di depan umum."

Bibir Aji memang tipis dan gaya bicaranya selalu ceplas-ceplos mirip ember bocor di tengah musim hujan.

Reno sempat tertegun diam sesaat mendengar ejekan telak itu. Namun, ia memilih untuk tetap membalasnya dengan seulas senyuman lebar penuh rasa percaya diri yang tinggi.

Ia sebenarnya cukup sadar diri; di antara kumpulan anak-anak "sendok emas" korporat ini, wujud dirinya hanyalah sebatas remahan kerupuk rengginang yang jika dipandang dari puncak Monas menggunakan sedotan plastik pun, dijamin tetap tidak bakal terlihat.

‘Biar kata penampilan gue dituduh aur-auran begini, yang penting kain jas mahal yang lagi gue pakai sekarang ini harganya bisa buat beli motor sport second cash!’ balas Reno menenangkan hatinya sendiri sambil mengambil posisi duduk dengan gaya paling elegan yang ia bisa lakukan.

****

Di area lantai dua kafe milik Aji yang mengusung desain arsitektur industrial modern tersebut, kepulan asap kopi mahal dan topik obrolan seputar pergerakan nilai saham serta investasi aset properti tampak memenuhi udara.

Rakha dan Adit tampak sangat serius memandangi layar perangkat tablet mereka, sementara Rahsya sesekali terlihat sibuk mencatat beberapa poin penting di dalam buku agenda kedokterannya.

Namun, di sudut meja bundar itu, sosok Reno tampak berdiri seperti sebuah anomali sistem. Ia sama sekali tidak memegang gawai pintar apa pun, melainkan kedua tangannya tampak memegang gelas kopi keenamnya dengan kondisi jari yang sedikit gemetar.

Sepasang matanya yang tampak merah merona menatap nanar ke arah bentuk hiasan latte art di atas permukaan kopi yang sudah hancur berantakan.

Ia melakukan hal konyol itu bukan karena sedang menikmati fasilitas minuman kafein gratisan—meskipun itu adalah sebuah bonus yang menyenangkan bagi kantong penganggurannya.

Realitas tragisnya, Reno saat itu sedang bertaruh nyawa sekuat tenaga untuk melawan rasa kantuk yang luar biasa hebat.

Sebab baginya, terlelap tidur selama beberapa detik saja artinya adalah sebuah tiket gratis otomatis menuju ke dimensi antah-berantah yang mengerikan.

Bayangan ngeri dikejar-kejar puluhan zombie kelaparan di kota mati, hampir dikunyah sampai habis oleh sepasang singa betina yang raut wajahnya mirip mantan pacarnya, hingga dipaksa debut jadi idol K-pop dadakan yang diperas tenaganya buat melakukan gerakan dance lincah padahal kondisi pinggangnya sudah jompo, terus menerus menghantui setiap kedipan matanya.

‘Apa jangan-jangan... segala ucapan lawakan garing gue selama ini adalah sebuah doa tersembunyi yang langsung di-acc jalur langit lewat jalur kilat?’ batin Reno merana, mengingat kembali kalau semua rentetan kesialan dimensinya ini bermula dari mulut licinnya yang lebih licin dari belut sawah.

"Tebakanmu tepat sekali, Anak Muda yang gemar mengeluh. Mulutmu adalah harimaumu, tapi khusus dalam kasus supranaturalmu ini, mulut licinmu adalah perantara tiket bus antardimensi." sebuah suara berat nan sakral yang bergema tiba-tiba muncul memutus jalur pikiran Reno.

Reno seketika langsung tersedak cairan kopi hitamnya. Ia sudah sangat hafal di luar kepala dengan nada suara ghaib ini. Ini adalah suara kakek tua botak penunggu golok sakti penuh daki yang tempo hari sudah ia buang sekuat tenaga ke dalam tong sampah hijau karena dikira barang rongsokan tidak berguna.

‘Heh, si Golok Botak karatan! Cepat kasih tahu gue sekarang, gimana caranya biar jiwa gue nggak usah pindah-pindah alam dimensi lagi? Gue beneran udah capek lahir batin jadi musafir lintas dimensi!’ seru Reno protes dalam hati, urat-urat di lehernya tampak menegang menahan luapan emosi kesal.

"Berhenti memanggilku dengan sebutan si Botak! Kamu pikir kumis tebal dan janggut putih panjang selevel tali jemuran baju ini tidak butuh biaya perawatan mahal, hah? Aku bersumpah tidak akan sudi memberitahumu petunjuk cara tobatnya jika kamu tetap bersikap tidak sopan kepadaku!" balas suara gaib itu, terdengar sangat tersinggung.

Reno segera mengembuskan napas panjang, mencoba mematut ekspresi wajah semanis mungkin meskipun proses komunikasinya hanya terjadi di dalam dunia pikiran.

‘Oke, oke, maaf kakek... Wahai Penunggu Golok Sakti yang tingkat ketampanannya paling hakiki dan bersinar silau kepalanya.Tolong, beri tahu hamba yang nista penuh dosa ini bagaimana cara tobat yang benar?’

Hening tanpa jawaban. Si kakek botak legendaris tampaknya sedang melakukan aksi mogok bicara akibat telanjur sakit hati.

"Ren? Lo sebenarnya masih sehat, kan?"

Rahsya mendadak menyenggol pelan lengan Reno, membuyarkan seluruh perdebatan batin supranatural itu.

"Dari tadi gue perhatiin lo cuma diem mematung aja kayak manekin pajangan toko baju diskonan komplek. Biasanya kan lo orang yang paling berisik kayak suara toa masjid."

"Iya, bener banget tuh," Aji ikut menimpali sambil kedua tangannya meletakkan sebuah nampan berisi camilan gorengan.

Ia memperhatikan Reno dengan seberkas tatapan mata menyelidik tajam.

"Tumben banget kelakuan lo bisa jinak begini malam ini. Biasanya kan sifat lo selalu 'reog' nggak bisa diam. Ini termasuk momen langka sejarah nih, apa perlu gue panggilin kru wartawan televisi sekarang ke sini?"

Reno baru saja mau membuka lebar-lebar mulutnya, sudah bersiap penuh untuk curhat massal tentang betapa traumatisnya digigit zombie mimpi, namun Adit kebetulan langsung memotong jalur kalimat itu dengan tawa mengejek yang keras.

"Halah, nggak usah didengerin! Palingan juga isi kepalanya masih sibuk mikirin khayalan halusinasi gila yang tadi sore terjadi di apartemen gue. Masa dia tadi pas bangun tidur ngaku-ngaku habis konser megah jadi idol K-pop terkenal?"

1
Zyren Vale
mampir dong Thor 🗿
umar aryo
lanjut thor.... bagus cerita dan gaya bahasanya...
Ed Troivan
lanjut thor 💪
Ed Troivan
💪💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!