Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.persekutuan gelap
Kekalahan telak Wijaya Corporation di kementerian tidak membuat Dania patah arang. Sebaliknya, wanita itu makin kalap dan dirasuki dendam kesumat. Pencabutan seluruh akses finansial oleh Arka serta gugatan hukum yang dilayangkan Danuartha Group telah memojokkannya ke ujung tanduk.
Namun baginya, kehancuran karier dan reputasi tak ada artinya dibanding rasa sakit hati saat melihat Aira bersanding manis di samping Arka.
Di sebuah ruangan privat berlampu remang di kawasan Jakarta Pusat, Dania duduk berhadapan dengan Dion. Pemuda berusia 22 tahun itu tampak sangat berantakan; kemejanya kusut dan raut wajahnya dipenuhi rasa frustrasi serta patah hati yang mendalam setelah pertemuannya di kedai kopi kemarin siang.
"Sudah kubilang, kan? Kamu tidak akan bisa menembus Arka hanya dengan modal nekat dan nostalgia masa SMA," ujar Dania seraya menuangkan wiski ke dalam gelasnya. Suaranya terdengar dingin, penuh intrik yang beracun.
Dion mengepalkan tangannya di atas meja, menatap Dania dengan penuh keraguan. "Aira kelihatan sangat bahagia bersama pria itu, Dania. Dia bilang sendiri kalau dia mencintai Arka... Aku tidak punya celah lagi."
"Bahagia?" Dania tertawa sinis, suara tawanya bergema samar di ruangan itu.
"Kamu ini polos atau bodoh, Dion? Aira itu baru sembilan belas tahun! Dia gadis kampung yang tiba-tiba dilempar ke dalam kemewahan penthouse dan uang triliunan rupiah. Yang dia rasakan itu bukan cinta murni, tapi rasa terutang budi dan terpesona pada kekuasaan Arka!"
Dion terdiam. Kata-kata Dania mulai meracuni pikirannya yang sedang kalut.
Dania memajukan tubuhnya, menatap Dion lurus-lurus. "Arka itu pria dewasa berumur tiga puluh sembilan tahun. Dia manipulator ulung di dunia bisnis. Dia memanfaatkan kerapuhan Aira saat ibunya sakit untuk mengikat gadis itu. Apa kamu tega membiarkan gadis yang kamu cintai sejak SMA menjadi pajangan dan alat pemuas pria tua seperti Arka?"
"Tentu saja tidak!" potong Dion cepat, emosinya tersulut.
"Tapi aku bisa apa? Arka punya segalanya, bahkan dia membawa pengawal pribadi saat menemui aku!"
Dania menyunggingkan senyum iblis. "Kamu tidak perlu bertarung lewat harta atau kekuasaan melawan Arka. Kita gunakan titik lemah Arka sendiri: rasa cemburu dan posesifnya yang berlebihan."
Dania merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal lalu menyodorkannya ke arah Dion.
"Di dalam ini ada berkas pendaftaran beasiswa magang riset di Singapura yang diincar banyak mahasiswa. Aku bisa mengurus agar kamu dan Aira mendapatkan tempat di sana. Tugasmu sederhana: terus dekati Aira, buat Arka merasa terancam, dan buat seolah-olah Aira masih memendam rasa padamu di belakang Arka."
Dion menatap amplop itu dengan napas memburu. "Kalau Arka tahu, dia bisa menghancurkan hidupku..."
"Arka tidak akan sempat menghancurkanku atau kamu," bisik Dania beracun.
"Karena begitu Arka mulai meragukan kesetiaan Aira, Arka sendiri yang akan menghancurkan hubungan mereka dari dalam."
Sementara itu, suasana pagi di penthouse Arka terasa begitu tenang dan hangat.
Aira sedang berdiri di dekat jendela besar ruang tengah, melipat baju-baju mungil milik Elano yang baru selesai disetrika Bi Inah. Senyum tipis tak pernah lepas dari bibir cantiknya. Ingatan tentang bagaimana Arka begitu terang-terangan menunjukkan rasa cemburunya kemarin masih membuat dada Aira berdesir hangat.
Tiba-tiba dari arah belakang, sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya. Arka membenamkan wajah tegapnya di leher Aira, menghirup dalam-dalam aroma wangi melati yang khas dari tubuh istri mudanya.
"Mas... nanti Elano lihat," bisik Aira halus, walau ia sengaja menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka yang hangat.
"Elano masih tidur lelap di kamarnya," gumam Arka serak di dekat telinga Aira. Pria berusia 39 tahun itu mendaratkan kecupan-kecupan lembut di sepanjang garis leher Aira, membuat gadis itu meremang pelan.
"Biarkan Mas memelukmu sebentar sebelum berangkat ke kantor."
Aira membalikkan badannya di dalam dekapan Arka, menatap wajah tampan suaminya yang selalu memancarkan kewibawaan mutlak. Jemari ramping Aira terangkat, mengusap lembut rahang tegas Arka yang dihiasi bayangan jenggot tipis.
"Mas Arka masih kepikiran soal Dion ya?" tanya Aira lembut, menggoda suaminya dengan tatapan mata yang polos dan penuh kasih.
Arka menyipitkan mata hitamnya, menatap lurus ke dalam iris mata Aira. Pria dewasa itu menarik Aira makin rapat hingga tak ada celah di antara tubuh mereka.
"Mas tidak suka jika ada pria lain yang merasa mengenalmu lebih baik daripada Mas," aku Arka jujur, suara seraknya terdengar begitu posesif dan dalam.
"Kamu milik Mas, Aira. Seluruh pikiranmu, hatimu, dan hidupmu... hanya milik Arka Danuartha."
Aira menyunggingkan senyum manis, berjinjit sedikit untuk mengecup bibir tegas suaminya dengan penuh kelembutan.
"Aira tahu, Mas. Aira tidak akan pernah berpaling. Bagi Aira, Mas Arka adalah satu-satunya pria di hidup Aira."
Ciuman lembut itu seketika memantik gairah di dalam dada Arka. Pria itu membalas ciuman Aira dengan intensitas yang lebih mendalam, menuntut dan mengikat jiwa raga mereka dalam kehangatan cinta suami istri yang sah.
Namun di tengah keintiman manis itu, bel pintu penthouse berbunyi nyaring.
Aira melepaskan ciumannya dengan wajah merona merah padam, menepuk dada Arka pelan karena malu. "Tuh... ada tamu, Mas."
Arka mendesah pelan, menatap istrinya dengan pendar kebucinan yang meluap sebelum merapikan kemejanya. "Biar Mas yang buka."
Arka melangkah menuju pintu depan dan membukanya. Di luar pintu, berdiri Raymond bersama dua orang petugas kepolisian berterusan seragam resmi.
"Pak Arka," sapa Raymond dengan raut wajah yang sangat serius.
"Maaf mengganggu waktu Anda, tapi pihak kepolisian baru saja membawa perkembangan terbaru terkait penyidikan kasus penggelapan dan ancaman yang melibatkan Dania dan Pak Hendra."
Arka menyipitkan matanya, auranya seketika berubah menjadi sangat dingin dan intimidatif. "Ada apa?"
Salah satu petugas polisi membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Pak Danuartha. Kami menemukan bukti baru berupa transaksi mencurigakan dari rekening Saudara Hendra ke sebuah akun penampung di luar negeri dua hari sebelum konferensi pers lalu. Namun, saat tim kami mendatangi lokasi kediaman Hendra di kampung halamannya pagi tadi... Saudara Hendra dikabarkan menghilang dari pengawasan warga setempat."
Deg!
Aira yang mengekor di belakang Arka seketika menghentikan langkahnya. Wajah cantiknya memucat saat mendengar nama ayah kandungnya disebut.
Arka langsung membalikkan badan, merengkuh bahu Aira dengan protektif dan menariknya ke dalam dekapannya.
"Menghilang bagaimana?" desis Arka dingin pada petugas polisi.
"Tampaknya ada pihak tertentu yang sengaja membantu Saudara Hendra melarikan diri dari kota tersebut dan membawanya kembali ke Jakarta," jelas polisi tersebut. "Kami menduga ada konspirasi lain yang sedang direncanakan untuk menekan pihak Anda."
Rahang Arka mengetat keras hingga urat di pelipisnya menonjol. Kilatan amarah yang membunuh berkilat pekat di balik matanya. Arka tahu betul siapa yang berada di balik semua ini—Dania tidak bekerja sendirian; dia sedang mengumpulkan seluruh musuh dan masa lalu Aira untuk menciptakan kekacauan besar.
"Raymond," perintah Arka dengan suara rendah yang amat berbahaya.
"Siap, Pak Arka?"
"Perketat penjagaan di rumah sakit tempat Ibu Wahyuni dirawat. Tambahkan delapan pengawal bersenjata di lantai VIP. Jika Hendra atau siapa pun dari pihak Dania mencoba mendekati area rumah sakit atau penthouse ini... selesaikan di tempat."
"Baik, Pak Arka!" tegas Raymond tanpa ragu.
Aira menggenggam kemeja Arka erat-erat, dadanya bergemuruh oleh rasa cemas dan ketakutan akan keselamatan ibunya. Arka menunduk, mengusap lembut kepala Aira dan mengecup keningnya berulang kali untuk menenangkan.
"Jangan takut, Sayang," bisik Arka serak di rambut Aira dengan nada dominasi yang mutlak.
"Selama Mas masih bernapas, tidak ada satu pun bajingan yang bisa menyentuhmu atau Ibu Wahyuni."
Siang harinya di sebuah kafe kecil di dekat kampus tempat Dion berkuliah.
Dion baru saja selesai mencetak berkas-berkas yang diberikan Dania. Pikirannya masih berkecamuk antara rasa bersalah dan ambisi untuk merebut Aira kembali.
Saat Dion hendak melangkah keluar dari kafe, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya. Pintu mobil terbuka, dan dua pria bertubuh tegap bersetelan hitam melangkah keluar, menghalangi jalan Dion.
"Saudara Dion?" tanya salah satu pria itu dengan nada dingin.
Dion mundur satu langkah dengan panik. "S-siapa kalian? Mau apa?"
"Pak Arka Danuartha ingin bicara dengan Anda. Silakan ikut kami secara baik-baik," ujar pengawal tersebut tanpa memberi ruang untuk menolak.
Dion menelan ludah serak.
Wajahnya memucat pasrah saat menyadari bahwa permainan gelap yang baru saja ia setujui bersama Dania... kini sudah tercium oleh sang penguasa Danuartha Group.
_Bersambung