Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan

Zevanna bangun pagi dengan mata panda karena ketiduran sambil mikirin catatan tentang kak Zoyya di HP-nya.

Zevanna merenggangkan kedua tangannya.

Ia mengucek mata, rambutnya sedikit berantakan, lalu menyibak selimut, dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah sekitar sepuluh menit, ia keluar dari kamar mandi. Dan berjalan menuju lemari.

"Aduh... Ngantuk banget!" Zevanna menguap lebar sambil menyisir rambutnya.

Saat ia berdandan, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Ting!

Zevanna menoleh dan meraih ponselnya.

Tisha: woi, lo di mana, Zev?

Zevanna mengernyitkan kening,lalu membalas pesan dari Tisha.

Zevanna: Di rumah.

Tisha: Di rumah? Lo masih di rumah?

Zevanna: Iya.

Tisha: kok lo masih dirumah sih? Ini udah jam setengah 8 ege.

Zevanna mendengus, mengetik dengan kesal.

Zevanna: bacot lo! Gue baru bangun dan mandi tadi. Sabar napa sih! Lo kira gue ini robot hah?

Tisha: ya biasa aja dong, gue cuma nanya aja tadi.

Zevanna: halah kambing lo.

Zevanna melempar ponselnya di atas kasur, lalu mendengus kesal.

"Pagi-pagi udah bikin gue nggak mood." Kata Zevanna.

Ia meraih jam tangannya lalu memakainya di tangan kiri.

Zevanna mengambil tasnya, lalu ia keluar dari kamar.

Di bawa, Liona dan Yovandra sedang sarapan pagi. Mereka melihat anak keduanya sedang terburu-buru.

"Eh, Zevanna. Sini makan dulu." Ucap Liona lembut.

Zevanna menoleh dan menggeleng. "Nggak, Ma. Aku buru-buru mau ke kantor dulu, byeee."

Zevanna melangkah cepat menuju garasi.

Liona menatap punggung Zevanna, lalu menghela napasnya. "Kebiasaan banget dia, nggak pasang alarm."

Yovandra melirik Liona. "Kamu juga dulu kayak gitu."

Liona menatap Yovandra. "Dih, apaan kamu? Udah makan, nanti keburu dingin."

Yovandra terkekeh kecil.

***

Di parkiran kantor, Zevanna mematikan mesin mobilnya, lalu keluar.

Ia berpapasan dengan Gista dan Vera yang sedang asyik gosip sambil jalan masuk gedung.

"Mbak, Vera. Mbak Gista!" Sapa Zevanna.

Vera dan Gista menoleh bersamaan.

"Eh, Zevanna. Baru sampai?" Tanya Vera.

Zevanna mengangguk. "Iya, nih. Buru-buru takut telat."

Gista terkekeh kecil. "Waktu itu kamu juga hampir telat dateng."

Zevanna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe, iya. Waktu itu aku telat bangun."

"Zev, kamu kemarin malam ngapain masih muter-muter di area belakang kantor?" Tanya Vera.

Zevanna terdiam sejenak, perasaan dia tidak merasa ke sana kemarin malam.

"Iya, tadi kemarin aku liat cewek yang mirip kamu di area VIP." Kata Gista menyela.

Zevanna terkejut mendengar ucapan dari Gista dan Vera.

"Hah? Maksudnya apa ya mbak? Aku nggak pernah ke area VIP kemarin." Jawab Zevanna.

Gista dan Vera saling lirik.

"Tapi aku liat kamu ada di sana, mirip banget sama kamu, Zevanna." Kata Gista.

"Ya mungkin itu cuma kebetulan mirip aja, Mbak. Bukan berarti aku yang di sana." Ujar Zevanna.

"Udah lah, Gis. Mungkin lo salah liat pas kemarin itu." Ucap Vera.

"Iya kali ya. Soalnya mirip banget kayak Zevanna. Di sini aja ada yang mirip sama lo, Ver." Kata Gista.

Vera mengangguk. "Nah, betul itu. Di sini kan banyak orang, jadi wajar ada yang mirip sama kita."

Zevanna masih memikirkan ucapan Gista dan Vera ketika mereka bertiga berjalan memasuki gedung kantor.

Sesekali Zevanna melirik ke belakang.

Entah kenapa, perkataan Gista tadi terus terngiang di kepalanya.

“Cewek yang mirip kamu di area VIP...”

Zevanna menghela napas pelan.

Paling cuma orang yang kebetulan mirip.

Ia mencoba mengabaikannya dan mempercepat langkah menuju ruang administrasi.

“aku duluan, ya, Mbak,” ujar Zevanna.

“Iya. Nanti ketemu lagi,” jawab Vera.

Gista hanya mengangkat tangannya.

Zevanna kemudian masuk ke ruang administrasi. Begitu pintu terbuka, ia langsung melihat Fika sudah berada di dalam ruangan.

Perempuan itu sedang berdiri di dekat meja, sibuk merapikan beberapa perlengkapan acara yang tersusun berantakan.

Zevanna mengernyitkan kening.

“Pagi, Mbak Fika.”

Fika menoleh sebentar. “Pagi.” Jawabannya singkat.

Zevanna berjalan menuju mejanya, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu di atas meja Fika.

Sebuah gantungan kunci berbentuk bintang berwarna emas.

Zevanna menatap benda itu beberapa detik.

Entah kenapa, benda tersebut terasa familiar.

Deg.

Gantungan kunci ini kan…batin Zevanna.

Zevanna mendadak ingat kalau gantungan kunci bentuk bintang emas itu mirip banget sama barang kesayangan Kak Zoyya yang pernah diperlihatkan dulu.

Saat Zevanna hendak meraih benda tersebut, Fika dengan cepat mengambilnya dan memasukkannya ke saku celana.

Zevanna menatap Fika, ia ingin bertanya soal gantungan kunci itu. Namun, Andrew berjalan masuk ke dalam ruangan sambil membawa dua gelas minuman di tangannya.

Ia meletakkan salah satunya di atas meja, kemudian menghela napas panjang. “Pagi, guys.”

Zevanna menoleh. “Pagi juga, Mas Andrew.”

Andrew melirik ke arah Fika yang masih berdiri di dekat meja. “Fik, lo dari tadi udah di sini?”

Fika mengangguk singkat. “Iya. Ada beberapa perlengkapan acara yang harus gue rapihin.”

Andrew mengangguk-angguk, kemudian menarik kursi dan duduk sebentar. “Rajin banget. Gue baru masuk aja udah capek ngeliat kerjaan numpuk.”

Zevanna terkekeh kecil. “Lah, Mas Andrew sendiri ngapain bawa minuman banyak begitu?”

Andrew mengangkat salah satu gelas yang masih berada di tangannya. “Ini punya aku. Yang satu lagi tadinya mau aku kasih Hesa, tapi orangnya malah nggak ada.”

Zevanna mengernyitkan kening. “Mbak Hesa?”

“Iya.” Andrew menyeruput minumannya. “Dia lagi di panggung utama.”

Zevanna mengangguk pelan. “Emang lagi ngapain?”

“Katanya ada masalah sama beberapa kabel dan lampu panggung. Dari tadi pagi udah mondar-mandir di sana.”

Andrew kemudian menatap Zevanna. “Oh iya, Zev. Sekalian aja kamu ke sana.”

Zevanna menunjuk dirinya sendiri. “Hah? saya?”

“Iya, kamu.” Andrew terkekeh. “Tadi Hesa sempet nyariin kamu.”

“Nyariin saya? Buat apa?”

Andrew mengangkat bahu. “Aku juga nggak tahu. Katanya ada urusan teknis buat acara minggu depan.”

Zevanna menghela napas. “Pagi-pagi udah disuruh kerja aja.”

Andrew tertawa kecil. “Namanya juga kerja, Zev. Bukan piknik.”

Zevanna mendengus. “Bacot, Mas.”

“Wah, baru pagi udah galak aja.”

Zevanna mengambil tasnya dari kursi. “Ya udah, saya ke panggung utama dulu.”

Andrew mengangguk. “Nah, gitu dong. Kalau ketemu Hesa, bilang minumannya nanti aku kasih.”

Zevanna mengacungkan jempol. “Siap.”

Ia kemudian berjalan keluar dari ruangan. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan pintu, Zevanna sempat melirik ke arah Fika.

Perempuan itu masih berdiri di dekat mejanya. Tangannya sesekali menyentuh saku celananya—tempat ia menyimpan gantungan kunci berbentuk bintang emas tadi.

Zevanna menyipitkan mata.

Kenapa dia buru-buru banget nyimpen benda itu?

Namun, ia segera menggelengkan kepala.

Udahlah. Nanti aja mikirin-nya.

Zevanna pun melangkah menuju panggung utama untuk menemui Hesa.

Di sana, Hesa lagi sibuk mengecek pencahayaan bareng tim teknis.

Hesa menoleh ke arah Zevanna. "Zevanna. Sini."

Zevanna menghampirinya. "Iya, Mbak?"

"Ini tolong kamu pegangin kotak peralatan audio ini sebentar ya!" Kata Hesa.

Zevanna mengangguk. "Terus, Mbak Hesa mau ngapain?”

"Aku mau benerin kabel ini." Jawab Hesa.

"Hah? Benerin kabel? Tapi kan, Mbak cewek."

Hesa tertawa kecil. "Aelah, aku udah biasa kayak ginian. Zev, udah kamu pegangin kotak itu. Aku mau naik tangga dulu."

Zevanna hanya mengangguk. "Iya, Mbak. Hati-hati."

Hesa naik tangga untuk membenarkan kabel yang sedikit rusak.

Pas Zevanna megang kotak itu, dia mencium aroma parfum floral lembut yang sangat khas—aroma parfum yang cuma dipakai sama Kak Zoyya.

Deg

Zevanna tersentak.

Bau Parfum ini kan...

Zevanna menatap Hesa dari bawa. "Mbak Hesa, kotak ini bekas siapa?”

Hesa mendadak kaku di atas tangga. "Hah? O-oh itu kotak lama tadi baru aku ambil dari ruang penyimpanan pribadi staf. Kenapa emangnya, Zev?"

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, Mbak."

Zevanna ingin bertanya lebih lanjut. Namun, seorang karyawan datang dengan muka cemberut.

"Woi, Hesa. Lo gimana sih? Kok jadwal gladi bersih acara jadi terancam molor gini?" Tanya Meisya.

Zevanna menatap Meisya sambil mengerutkan keningnya, ia melirik name tag di kartu yang menggantung di lehernya.

Zevanna tersentak kecil. Ia mengingat nama Meisya saat ia mengambil berkas di pusat arsip waktu itu.

Jadi dia Meisya?

Hesa mendengus dan menatap Meisya. "Ya kan kemarin udah gue benerin.”

"Benerin apanya? Orang jadwalnya acak-acakan gitu lo bikin." sungut Meisya.

"Ya mana gue tau, orang gue udah benerin kok. Mungkin lo yang salah kali," kata Hesa.

Meisya melotot lebar. "Kok lo nyalahin gue sih?"

"Ya lo yang salah juga."

Meisya menghela napasnya. "Pokoknya lo harus benerin itu.”

"Eh, gue lagi benerin kabel. Lo suruh yang lain aja sana." Ujar Hesa merasa kesal karena di atur-atur dari tadi.

Meisya menatap Zevanna. "Kamu, bisa benerin jadwal geladi bersih kan?"

Zevanna terdiam sejenak lalu mengangguk. "Bisa, Mbak."

"Bagus." Meisya mengeluarkan HP-nya.

Zevanna melihat ada notifikasi pop-up dari nomor tanpa nama yang isinya: "Jangan sampai dia ingat."

Meisya buru-buru membalikkan layar HP-nya dengan muka panik, sadar kalau Zevanna melihat ke arah HP-nya.

Lalu ia meliriknya. "Apa aku lihat-lihat hp saya?"

Zevanna tersentak lalu tersenyum. "Nggak sengaja liat, Mbak. Hehe!”

Meisya menghela napas lalu berjalan meninggalkan Zevanna.

***

Jam istirahat, Zevanna duduk sendirian di taman samping kantor sambil menghubungi titik-titik aneh hari ini.

Gantungan kunci Fika, Aroma parfum di kotak Hesa, dan Pesan aneh di HP Meisya.

"Kok gue ngerasa aneh ya sama mereka?" Gumamnya.

Andrew lewat dan melihat Zevanna melamun.

Andrew langsung duduk di sebelahnya. "Eh, kamu kenapa ngelamun di sini?"

Zevanna terkejut lalu menoleh ke arah Andrew. "Oh, Mas Andrew. Ini saya lagi duduk aja."

Andrew menatap Zevanna. "Kalau nyari sesuatu yang hilang, jangan nyari dari orang yang kelihatan paling jujur."

Kata-kata Andrew membuat Zevanna tersentak, apalagi pas Andrew senyum misterius sebelum pamit pergi begitu saja.

Zevanna mengerutkan keningnya. "Apa maksud mas Andrew tadi? Apa dia tau gue lagi selidiki soal kak Zoyya, ya?"

Zevanna masih mematung di bangku taman. Kalimat Andrew terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Kalau nyari sesuatu yang hilang, jangan nyari dari orang yang kelihatan paling jujur.

Ia menunduk, mengingat kembali semua kejadian yang dialaminya hari ini.

Gantungan kunci milik Fika.

Aroma parfum Kak Zoyya dari kotak peralatan Hesa.

Pesan misterius yang muncul di ponsel Meisya.

Dan sekarang, ucapan Andrew yang terasa seperti sebuah peringatan.

Zevanna menghela napas panjang. “Kenapa semuanya kayak saling berhubungan, sih?”

Ia terdiam sejenak. Namun, ada satu hal yang sejak awal masih mengganjal di pikirannya.

Kak Zoyya.

Semua orang di perusahaan mengatakan bahwa perempuan itu sudah resign. Tapi Zevanna tidak pernah benar-benar tahu...

siapa yang pertama kali mengatakan bahwa Kak Zoyya resign dari Verion Group.

Bahkan ketika ia mencoba mengingat kembali percakapan orang-orang di kantor, tidak ada satu pun nama yang muncul di kepalanya.

“Kalau memang Kak Zoyya resign...” gumam Zevanna pelan, “kenapa rasanya ada yang aneh banget?”

Zevanna mengepalkan tangannya di atas pangkuan.

Ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Zoyya. Ia juga belum tahu siapa yang bisa dipercaya.

Tapi satu hal yang ia tahu...

ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di Verion Group. Dan kali ini, Zevanna tidak berniat berhenti sebelum menemukan jawabannya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!