Indonesia
NovelToon NovelToon
Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya

Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinyo widi Official

Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MESIN PESAWAT ITU MATI SENDIRI

Mesin pesawat yang tadinya meraung kencang tiba-tiba tersendat, suaranya melemah drastis, sebelum akhirnya mati total di tengah landasan pacu. Pesawat itu berhenti bergerak, terdiam kaku seperti burung besi yang kehilangan napasnya sendiri.

"Apa yang terjadi?" Wisnu berbisik, matanya tidak lepas dari badan pesawat yang kini diam membisu.

Rangga memberi isyarat pada timnya untuk mendekat perlahan, senjata tetap siaga meski tidak lagi terarah langsung. "Kerusakan mesin mendadak, mungkin. Atau—"

"Atau ada yang sengaja matiin," Adrian menyelesaikan kalimat itu, matanya masih menatap layar ponsel yang menampilkan pesan misterius barusan.

Pintu kabin pesawat terbuka perlahan, menampilkan sosok Ratna yang berjalan turun dengan langkah tergesa, wajahnya pucat tapi tegak, tidak menunjukkan tanda-tanda cedera berarti. Di belakangnya, dua petugas keamanan bandara yang ternyata sudah bersiaga di dalam sejak beberapa menit lalu, mengawal Wirawan yang berjalan dengan kepala tertunduk, tangan sudah diborgol.

"Bu!" Adrian berteriak, mendorong kursi rodanya secepat mungkin menuju arah ibunya.

Ratna berlari kecil menyongsong anaknya, memeluknya erat begitu jarak mereka cukup dekat, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya pecah tanpa bisa ia kendalikan lagi.

"Ibu baik-baik aja," ucapnya berulang kali, seolah meyakinkan dirinya sendiri sama seperti meyakinkan Adrian. "Ibu baik-baik aja, Nak."

Wisnu mendekat, memeluk istrinya dari sisi lain, ketiganya berpelukan erat di tengah landasan pacu yang masih dipenuhi kendaraan patroli dan lampu sirine yang berkedip.

"Aku kira aku bakal kehilangan kamu," Wisnu berbisik, suaranya bergetar hebat, "aku kira aku beneran bakal jadi suami yang gagal jaga istrinya sendiri."

"Kamu nggak gagal, Wisnu," Ratna menjawab, menggenggam tangan suaminya erat. "Kamu cuma terlalu percaya sama orang yang seharusnya nggak pernah dipercaya sejauh itu. Itu bukan salahmu."

"Kenapa Ibu nekat ikut dia?" tanya Adrian, suaranya masih bergetar antara lega dan marah.

"Karena Ibu nggak bisa biarin dia kabur bawa semua kebenaran yang seharusnya keluarga ini tau," Ratna menjawab, suaranya masih terisak. "Ibu tau ini bodoh, Nak. Tapi Ibu udah cukup lama diem, cuma jaga image keluarga ini di depan publik, sementara kebenaran busuk terus disembunyiin di dalam. Ibu capek jadi orang yang cuma pandai senyum di depan kamera."

Kalimat itu membuat Alena yang berdiri tidak jauh dari mereka merasakan dadanya menghangat, menyaksikan wanita yang dulu memperingatkannya soal "cuma kontrak", ternyata menyimpan keberanian dan kejujuran yang begitu dalam di balik semua formalitas yang selama ini ia jaga.

Wirawan digiring menuju mobil tahanan, langkahnya gontai, wajahnya sudah kehilangan semua kepercayaan diri yang biasa ia tunjukkan. Sebelum benar-benar dimasukkan ke dalam mobil, ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Adrian yang masih berada di kejauhan.

"Adrian," suaranya lirih, nyaris tak terdengar di tengah keributan sekitar, "aku nggak nyesel coba rebut yang seharusnya jadi milikku. Aku cuma nyesel, caranya jadi sejauh ini."

Adrian menatap pamannya lama, campuran antara amarah yang masih membara dan sesuatu yang lebih rumit—rasa iba yang tidak seharusnya ia rasakan, tapi tetap muncul begitu saja.

"Om nggak pernah kalah karena aku lebih kuat," Adrian akhirnya berkata, suaranya tenang meski dalam. "Om kalah karena Om lupa, kekuasaan yang dibangun di atas pengkhianatan, cepat atau lambat, bakal runtuh sendiri."

Wirawan tidak menjawab, hanya menunduk sebelum akhirnya dibawa masuk ke dalam mobil tahanan, meninggalkan landasan pacu yang perlahan mulai tenang dari kekacauan yang baru saja terjadi.

Alena mendekati Adrian, menggenggam bahunya pelan. "Kamu oke?"

"Aku nggak tau harus ngerasa apa," Adrian mengaku jujur, matanya masih menatap mobil tahanan yang perlahan menjauh. "Lega, karena akhirnya semua ini kelihatan ujungnya. Tapi juga... sedih, entah kenapa. Dia tetep pamanku, meskipun udah lakuin semua itu."

"Itu wajar, Adrian. Nggak apa-apa ngerasa dua hal sekaligus."

Adrian mengangguk pelan, menggenggam tangan Alena erat sebagai bentuk terima kasih yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Di tengah kesibukan petugas mengamankan lokasi, Rangga mendekati Adrian dengan wajah serius, membawa laporan awal dari tim teknisnya.

"Soal mesin pesawat yang mati mendadak," Rangga memulai, "tim kami cek, ada yang sengaja rusak sistem bahan bakarnya semalam. Kerjanya rapi banget, kayak orang yang beneran ngerti mesin pesawat."

"Siapa yang bisa lakuin itu?" tanya Alena, penasaran.

"Itu yang masih kami selidiki. Tapi kru darat di hanggar ini bilang, semalam ada teknisi yang katanya dikirim buat pengecekan rutin, padahal nggak ada jadwal pengecekan sama sekali malam itu."

Adrian mengeluarkan ponselnya, menunjukkan pesan misterius yang ia terima beberapa menit sebelumnya. "Kayaknya, orang yang kirim pesan ini yang ngelakuin itu. Tapi aku nggak tau siapa dia."

Rangga membaca pesan itu, alisnya berkerut dalam. "Ini bukan Ines, kan? Nomornya beda."

"Bukan. Ines udah cerita semua yang dia tau langsung ke kita. Orang ini... entah siapa, tapi dia jelas punya akses yang jauh lebih dalam dari yang kita kira."

"Mungkin orang dalam di tim teknisi bandara sini," Rangga berpikir keras, "atau seseorang yang punya kepentingan sendiri buat pastiin Wirawan nggak lolos, tapi nggak mau namanya kecatat di mana pun."

"Kenapa dia nggak langsung tunjukin diri kalau emang niatnya bantu?" tanya Alena.

"Mungkin," Adrian menjawab pelan, matanya menerawang, "dia punya alasan sendiri buat tetep sembunyi. Sama kayak Ines dulu, sebelum akhirnya berani muncul."

Percakapan itu terhenti oleh dering ponsel Alena. Nomor rumah sakit tempat Ines dirawat.

"Halo? Ada apa?"

Suara di seberang terdengar terburu-buru. "Ibu Alena, ini dari RS. Nona Ines minta bicara langsung sama Anda, katanya penting banget, soal sesuatu yang baru dia inget."

Alena meletakkan telepon di pengeras suara, memberi isyarat pada Adrian untuk mendekat.

"Alena," suara Ines terdengar lemah tapi jelas penuh urgensi, "aku baru inget sesuatu. Waktu aku diculik, aku sempat denger salah satu penculik nyebut nama, waktu mereka pikir aku udah pingsan."

"Nama siapa?"

"Bukan nama orang," Ines melanjutkan, "tapi kode. Mereka nyebut 'Proyek Elang'. Katanya, itu rencana cadangan kalau Wirawan gagal, dan katanya, itu udah jalan dari kemarin, terlepas dari apa pun yang terjadi ke Wirawan hari ini."

Dada Adrian mencelos mendengar itu. "Proyek Elang? Kamu tau maksudnya apa?"

"Enggak," Ines mengaku, suaranya bergetar, "tapi mereka bilang, itu bakal 'selesai sebelum matahari terbenam'. Aku takut, Adrian. Ini kedengarannya bukan cuma soal kekuasaan perusahaan lagi."

Perjalanan pulang menuju rumah sakit untuk menjenguk Ines terasa berat, kelegaan atas tertangkapnya Wirawan tercampur kecemasan baru yang muncul begitu tiba-tiba. Alena duduk di samping Adrian, menggenggam tangannya erat, mencoba mencerna semua informasi yang datang bertubi-tubi dalam waktu singkat.

"Kamu pikir 'Proyek Elang' ini ada hubungannya sama orang yang kirim pesan misterius tadi?" tanya Alena.

"Aku nggak tau," Adrian menjawab, wajahnya lelah tapi matanya tetap waspada. "Tapi kalau benar ada rencana cadangan yang jalan terlepas dari nasib Wirawan, berarti kita belum benar-benar menang hari ini."

"Kita berhasil selamatin Ibu, nangkep Wirawan," Alena mencoba mencari sisi positif, meski suaranya sendiri terdengar ragu. "Itu bukan kemenangan kecil, Adrian."

"Aku tau," Adrian menggenggam tangannya lebih erat, "tapi rasanya kayak kita baru menang satu babak, bukan menang keseluruhan pertarungan."

"Kamu inget nggak," Alena melanjutkan, mencoba mengalihkan sedikit dari kecemasan yang menggantung, "waktu pertama kali kita ketemu, kamu bilang aku cuma solusi cepat masalah keuanganmu. Sekarang malah aku yang nyetir kamu ngejar pesawat kabur tengah pagi buta."

Adrian tertawa kecil, lelah tapi tulus. "Hidup emang suka nggak masuk akal kayak gitu. Tapi aku bersyukur banget, solusi cepat itu ternyata jadi orang yang paling aku andalkan."

"Ngomong-ngomong soal menang," Alena mencoba menyelipkan sedikit kelegaan di tengah semua ketegangan, "kamu inget nggak, janji kamu soal lamaran ulang di taman belakang?"

Adrian menoleh, tersenyum lelah meski matanya masih menyimpan kekhawatiran. "Aku inget. Tapi kayaknya kita harus beresin 'Proyek Elang' dulu, baru aku bisa mikirin cincin dengan tenang."

"Prioritas yang bener, Adrian," Alena tertawa kecil, meski suaranya masih terdengar lelah. "Nyelametin dunia dulu, baru romantis-romantisan."

Adrian ikut tertawa pelan, kelegaan sesaat itu terasa berharga di tengah semua kekacauan yang belum juga usai. Namun ketenangan itu kembali terusik oleh notifikasi baru di ponselnya—bukan dari nomor misterius, melainkan dari sistem keamanan rumah Mahardika, mengirim peringatan otomatis yang jarang sekali aktif.

"Peringatan: Terdeteksi akses tidak sah ke ruang server utama, pukul 06.47 pagi ini."

Adrian menatap layar itu dengan jantung berdebar kencang. Waktu yang tertera sama persis dengan saat mereka semua sibuk mengejar Wirawan ke bandara—waktu ketika rumah besar itu ditinggalkan tanpa pengawasan penuh, dan seseorang, entah siapa, telah memanfaatkan celah itu untuk masuk tanpa diketahui siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!