Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 #Topeng yang terkuak

​Pagi yang cerah menyambut Kediaman Sewa Bening. Di dalam kamar, Bening sedang mematut dirinya di depan cermin, merapikan kemeja kasual yang sengaja dibeli khusus untuk acara field trip sekolah Kaivandra hari ini. Kemeja berwarna cream itu memiliki gambar cetak singa yang menggemaskan di bagian punggung, lengkap dengan tulisan 'Mom' dibawahnya. Sementara itu, Kaivandra sudah melompat-lompat kecil di atas karpet dengan kemeja persis sama bertuliskan 'Son'.

​Bip! Bip!

​Suara klakson mobil yang sangat dihafal Kai terdengar dari luar halaman.

​"Papa datang!" seru Kai riang. Bocah kecil itu langsung berlari cepat menuju pintu depan, membukanya lebar-lebar.

​Di ambang pintu, Gibran berdiri tegap. Pria itu tampak jauh lebih santai dan segar dari biasanya, mengenakan kemeja warna yang sama bertuliskan 'Dad', tampilannya kasual namun tetap berkelas. Begitu melihat sosok sang ayah, Kaivandra langsung meluncur menubruk kaki Gibran, memeluk lutut papanya dengan erat.

​"Papa!" pekik Kai gembira.

​Gibran berjongkok anggun, merengkuh tubuh kecil putranya dan mengangkatnya ke dalam dekapan. Pria itu terkekeh pelan, mencium pipi Kai yang harum bedak bayi. "Pagi, Jagoan Papa... Sudah siap berangkat?"

​Bening melangkah keluar dari dalam lorong kamar, menyapu pandangannya pada kehangatan antara ayah dan anak itu. Sebuah senyuman tipis tanpa sadar terbit di bibirnya, melihat betapa murni dan bahagianya pancaran mata Kaivandra setiap kali berada di dekat Gibran.

​Kai yang menyadari kehadiran sang ibu langsung menunjuk-nunjuk Bening di dalam dekapan papanya. "Papa, lihat deh! Kai sama Mama sudah siap! Mama cantik sekali kan hari ini, Pa?"

​Gibran mengalihkan pandangan matanya dari Kai, mengunci tatapannya tepat pada Bening. Tatapannya menelusuri wajah Bening yang dipoles riasan tipis alami serta kemeja kembaran yang membalut tubuhnya dengan pas.

​"Iya..." bisik Gibran dengan suara bariton yang dalam dan hangat. "...Mama memang selalu cantik."

​Deg.

​Pipi Bening seketika merona merah. Tersipu malu atas pujian terang-terangan itu, Bening buru-buru memalingkan wajahnya dan berlagak sangat sibuk merapikan tas ransel kecil berisi perbekalan air minum serta camilan untuk Kai.

​"Ehem... Kai, masuk ke mobil dulu ya, mama mau mengecek tas bekal milikmu," cicit Bening canggung.

​"Oke, Mama!" Kai meluncur lepas dari dekapan Gibran, lalu berlari kecil menuju mobil sedan mewah yang terparkir di halaman, di mana Toni sudah bersiaga penuh membukakan pintu dengan senyuman hangat.

​Kini, tersisa Gibran dan Bening di ruang tamu sederhana itu. Gibran melangkah mendekat, menyerahkan sebuah paper bag berlogo brand ternama yang sejak tadi dipegangnya.

​"Ini untukmu, Bening," ujar Gibran menyodorkan tas kertas itu.

​Bening menghentikan jemarinya dari tali tas ransel, menatap tas kertas itu dengan alis berkerut bingung. "Ini apa, Mas?"

​"Sepatu," jawab Gibran singkat. "Kita akan jalan-jalan dan mengelilingi area kebun binatang seharian ini. Jadi... aku membelikan sepatu yang paling nyaman untuk kakimu."

​Bening menggeleng pelan, berniat menolak. "Tidak perlu repot-repot, Mas. Sepatu milikku yang ini juga masih sangat nyaman dipakai."

​"Coba dulu, Bening," potong Gibran tegas namun lembut.

​Bening mengembuskan napas pendek. Ia akhirnya menerima tas kertas tersebut dan membuka kotak di dalamnya. Di dalam kotak dilapisi kain sutra itu, terbaring sepasang flat shoes berwarna krem yang sangat elegan. Bahannya tampak terbuat dari kulit paling empuk, dan sejujurnya... Bening langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat desainnya yang simpel namun amat cantik.

​Sebelum Bening sempat meraih sepatu itu, Gibran secara natural langsung berjongkok di atas lantai di depan Bening. Jemari panjangnya yang berkelas meraih pergelangan kaki Bening, melepas sepatu lama wanita itu tanpa ragu.

​"Mas! Aku bisa sendiri!" seru Bening panik, mencoba menarik kakinya karena merasa canggung dan tak enak hati melihat seorang CEO berkuasa berlutut di kakinya.

​"Iya, aku tahu kamu bisa sendiri," sahut Gibran tenang, tetap memegang pergelangan kaki Bening dengan lembut. "Tapi aku ingin membantumu."

​Dengan gerakan cekatan dan penuh kehati-hatian, Gibran memasangkan flat shoes baru itu ke kedua kaki Bening. Ukurannya terbukti sangat pas, seolah-olah Gibran memang sudah menghafal luar kepala berapa ukuran kaki mantan istrinya. Begitu Bening menapakkan kakinya di atas lantai, sensasi empuk dan pijatan lembut langsung menyangga telapak kakinya. Gibran benar, sepatu ini teramat nyaman dan dipastikan tidak akan membuat kakinya lecet meski berjalan seharian.

​Gibran mendongak, menatap Bening dari posisinya yang masih berjongkok. "Bagaimana? Nyaman, kan?"

​Bening menelan ludah, berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tetap datar meski hatinya sudah bergemuruh hebat. "Iya... nyaman. Terima kasih, Mas. Ayo berangkat, Kai sudah menunggu terlalu lama."

​Gibran berdiri tegak. Tanpa meminta persetujuan lebih dulu, jemari besarnya langsung menyusup ke sela-sela jemari Bening, menggenggam tangan wanita itu dengan sangat erat dan hangat. Bening sempat tersentak dan hendak memprotes, namun ia langsung teringat akan kesepakatan mereka kemarin, mereka harus menampilkan citra keluarga yang harmonis di depan Kaivandra. Bening pun akhirnya memasrahkan tangannya berada dalam genggaman posesif Gibran.

​dua puluh menit kemudian, mobil mereka tiba di area parkir TK Merpati, sekolah Kaivandra. Di sana, dua bus pariwisata berukuran besar sudah terparkir rapi menantikan rombongan murid dan orang tua.

​Bening turun dari mobil, menggenggam tangan kanan Kai, sementara di sisi lain Gibran menggenggam erat tangan kiri bocah kecil itu. Mereka bertiga melangkah bersama, menyajikan pemandangan keluarga sempurna yang sangat menawan.

​"Selamat pagi, Bu Bening, Pak Gibran, Kai..." sapa Bu Anisa, wali kelas Kai yang berdiri menyambut di dekat pintu bus dengan senyuman ramah.

​"Selamat pagi, Bu Anisa," balas Bening penuh kehangatan.

​Gibran menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk sopan, sementara Kaivandra dengan sopan melepaskan genggaman orang tuanya sebentar untuk mencium tangan sang guru.

​Gibran yang menyapu pandangan ke arah bus pariwisata berukuran sedang itu memiringkan kepalanya, berbisik pada Bening di sebelahnya. "Jadi... kita ke kebun binatang naik bus ini?"

​"Iya, Mas," jawab Bening polos.

​Gibran menyatukan alisnya, sedikit ragu dengan kenyamanan bus umum untuk anak dan mantan istrinya. "Tidak bisakah kita naik mobil milikku saja? Biar Toni yang menyetir di belakang bus ini."

​Bu Anisa yang mendengar percakapan itu terkekeh pelan. "Jika Pak Gibran dan Bu Bening ingin naik mobil pribadi tidak apa-apa, Pak. Nanti tinggal konvoi mengikuti rombongan bus dari belakang."

​Namun, Kaivandra langsung menarik-narik kemeja papanya dengan raut wajah memohon. "Papa... Kai mau naik bus sama teman-teman! Kai mau duduk dekat jendela sama Papa dan Mama!"

​Bening menatap Gibran dari samping. Ia sangat tahu bahwa pria kaya raya seperti Gibran tidak pernah menginjakkan kaki di dalam bus umum rombongan sekolah seperti ini. Bening mengira Gibran akan menolak atau membujuk Kai.

​Namun, di luar dugaan Bening, Gibran justru mengelus kepala Kai dan tersenyum lembut. "Baiklah, Jagoan. Kalau Kai mau naik bus, Papa akan ikut naik bus bersama Kai dan Mama."

​Keputusan Gibran itu seketika memicu gelombang desas-desus di antara wali murid lainnya. Ibu-ibu muda yang berkumpul di sekitar bus, yang dulu sering kepo dan bergosip miring tentang status Bening sebagai ibu tunggal, kini saling berbisik heboh. Mereka memang sudah sering melihat mobil mewah Gibran lalu lalang menjemput Kai belakangan ini, tapi baru kali ini mereka bisa melihat sosok pria berwibawa itu dari jarak teramat dekat.

​"Duh, itu suaminya Bening ya? Ganteng banget, gagah pula..." bisik salah satu wali murid.

"Iya, katanya CEO kaya raya! Beruntung banget Bening, pantesan anaknya ganteng begitu!" timpal yang lain.

​Mendengar kasak-kusuk di sekitarnya, Gibran bukannya risih, ia justru sengaja makin memamerkan perhatiannya pada Bening. Saat mereka bertiga sudah duduk di kursi bus, dengan Kai duduk di dekat jendela, Gibran tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Bening sama sekali. Pria itu menyandarkan punggungnya santai, sesekali merapikan helai rambut Bening yang berantakan terkena hembusan angin AC.

​Kaivandra yang duduk di samping mereka tampak tersenyum sangat bangga. Dadanya membusung riang, memamerkan pada teman di seberang kursinya bahwa kini ia memiliki keluarga yang utuh dan sangat menyayanginya.

.....

Sembilan puluh menit kemudian, ​rombongan akhirnya tiba di area Kebun Binatang yang luas.

​Udara segar dan pepohonan rimbun menyambut mereka. Kaivandra yang terlalu bersemangat berlari-lari kecil beberapa meter di depan, menunjuk-nunjuk kandang jerapah dan gajah dengan riang.

​Melihat Kai yang keasyikan berjalan sendiri di depan, Gibran memanfaatkan kesempatan itu untuk terus mengekang jemari Bening.

​Bening mencoba menarik tangannya secara perlahan. "Mas... lepaskan. Kai sudah berjalan di depan, dia tidak sedang melihat kita."

​Bening mencoba mengambil jarak, namun bukannya melepaskan, Gibran justru mengulurkan lengan panjangnya dan melingkarkannya secara posesif tepat di pinggang ramping Bening, menarik tubuh wanita itu makin merapat ke sisinya.

​"Jangan terlalu kaku, Bening..." bisik Gibran santai tepat di samping telinga Bening, membuat napas hangatnya menerpa kulit leher sang mantan istri. "Lihat deh... bukan cuma Kai yang memperhatikan kita, tapi ibu-ibu wali murid di belakang itu masih terus membicarakan kita. Aku tidak mau mereka punya celah untuk menjelekkan namamu lagi."

​Bening menelan ludah, dadanya berdebar gila-gilaan. "Tapi Mas..."

​"Lagipula..." potong Gibran dengan sunggingan senyum menggoda yang teramat tampan, "...kemarin waktu di meja makan, kamu bahkan sampai memejamkan mata dan tidak menghindar saat aku mau menciummu. Sekarang... aku kan cuma menggandeng pinggangmu, tidak lebih."

​Blush!

​Wajah Bening seketika terbakar hebat hingga ke ujung telinga. Kalimat telak itu sukses membuat Bening salah tingkah setengah mati. Kenangan momen hampir berciuman di meja makan kemarin kembali berputar liar di kepalanya.

​"Mas Gibran! Bicara apa sih!" pekik Bening tertahan. Dengan wajah memerah padam, Bening berlagak setengah berlari menghampiri Kai di depan. "Kai! Ayo minum air dulu, Sayang!"

​Gibran yang ditinggalkan hanya terkekeh puas di tempatnya, menatap punggung Bening dengan pandangan penuh kemenangan.

​Namun, keceriaan itu tidak bertahan lama.

​Bzzzt... Bzzzt...

​Ponsel di dalam saku kemeja Gibran bergetar hebat. Gibran merogohnya, melihat nama Toni tertera di layar. Pria itu menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinga. Gibran masih terlihat santai, dia berpikir mungkin ada masalah kantor, karena tadi dia menyuruh Toni kembali ke kantor saat dia memutuskan naik bus.

​"Halo, Toni. Ada apa? Apa ada masalah di kantor?" tanya Gibran santai.

​"Pak Gibran... Maaf mengganggu waktu Anda..." suara Toni di ujung telepon terdengar teramat serius, kaku, dan sarat akan kecemasan yang mendalam. "Proses hukum atas kasus Heru sudah berjalan di kepolisian, Pak."

​Gibran menghentikan langkah kakinya. "Lalu?"

​"Pihak penyidik kepolisian baru saja menyerahkan sebuah ponsel cadangan milik Heru yang disita saat penangkapan. Setelah saya periksa seluruh isi pesan dan log panggilannya... di sana tertera sebuah nomor yang diyakini sebagai bos utama yang menyewa Heru tujuh tahun lalu."

​Gibran menyipitkan matanya, rahangnya mendadak mengeras. "Siapa pemilik nomor itu, Toni?"

​Toni menahan napasnya sejenak di ujung telepon, suaranya bergetar hebat. "Saya sudah mencocokkan nomor itu dengan basis data pribadi Anda, Pak... Dan nomor itu... adalah milik Tuan Wira Aditama."

​DEG!

​Dunia Gibran serasa berhenti berputar saat itu juga. Udara di sekitarnya mendadak hilang membeku.

​"Apa?!" desis Gibran, suaranya berubah menjadi sangat rendah, bergetar oleh syok yang menghantam dadanya. "Kamu serius, Toni?!"

​"Saya sangat serius, Pak Gibran," sahut Toni penuh penyesalan. "Saya sudah memverifikasi nomor itu tiga kali ke operator. Maafkan saya, Pak... kemungkinan besar... Tuan Besar Wira Aditama adalah otak utama di balik seluruh skenario perselingkuhan keji yang memisahkan Anda dengan Nyonya Bening tujuh tahun lalu."

​Seketika itu juga, seluruh tubuh Gibran menegang kaku. Sorot matanya yang semula teduh dan penuh kehangatan saat menatap Bening, kini berubah total menjadi petir amarah yang amat mengerikan. Urat-urat di leher dan lengannya menegang keras, jemarinya mencengkeram ponsel pintar itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, hampir meremukkan benda berlayar kaca tersebut.

​Segala teka-teki, kecurigaan, ketidaklogisan sikap ayahnya selama tujuh tahun ini, hingga jawaban ambigu Bening di rumah sakit... semuanya mendadak terhubung menjadi satu garis lurus yang teramat benderang.

​Ayahnya sendiri... Wira Aditama... adalah iblis yang merusak rumah tangganya dan membuang cucu kandungnya sendiri ke dalam penderitaan!

​Bening yang tadinya berjalan cepat menghampiri Kai, merasa ada yang aneh karena suara langkah kaki Gibran di belakangnya mendadak terhenti total. Bening memutar tubuhnya, menatap ke arah mantan suaminya.

​Jantung Bening seketika mencelos saat melihat perubahan drastis pada raut wajah Gibran. Pria itu berdiri mematung di tengah jalan setapak kebun binatang, matanya memerah padam dipenuhi kobaran amarah yang amat mematikan, dengan tangan mencengkeram ponsel begitu erat.

​Bening melangkah mundur mendekati Gibran dengan cemas.

​"Mas Gibran..." bisik Bening penuh kekhawatiran. "...ada apa? Apa terjadi masalah?"

1
sunaryati jarum
Sudah ada jagoan tidak perlu malam pertama,masih banyak malam/Drool//Drool//Drool/
sunaryati jarum
Selamat sudah sah
sunaryati jarum
Kalian bakal terseret Rama dan Astari
Lisa
Happy wedding Gibran & Bening..bahagia selalu ya..
Ariany Sudjana
congrats yah Gibran dan bening, tetap waspada yah
sunaryati jarum
Emak kira Kai dan ibunya diberi pengawalan yang ketat, ternyata tidak.untung Kai cerdas dan pemberani,serta ingat nasehat ibunya
sunaryati jarum
Astaga kirain ulah Astari, ternyata ulah dokter.Dokter Arfan seharusnya kamu senang Bening bahagia dan Kai memiliki orang tua utuh yang saling mencintai
sunaryati jarum
Semoga segera Kai segera diketemukan
sunaryati jarum
Memangnya berhasil, Gibran tidak bodoh dia memiliki pengawal berlapis untuk istri dan putranya.Jika kau lakukan rencana busukmu bukan Gibran yang hancur tapi kalian sendiri
Ariany Sudjana
skak mat, kamu keceplosan ngomong rencana jahat kamu sendiri Arfan? Gibran masih ada yang harus ditangkap tuh, Astari dan suaminya, suruh Toni bertindak, supaya Astari dan Rama masuk penjara sekalian
Ariany Sudjana
katanya Gibran CEO, punya anak buah, masa ga bisa menemukan keberadaan pelaku penculikan kaivandra?
bening juga bodoh, percaya sekali sama Arfan, padahal hatinya iri dan dengki
Lisa
Ternyata dokter Arfan ini jahat juga mau merebut Bening..Gibran kamu harus selidiki siapa dalang di balik kasus itu.
Lisa
Cpt Gibran tolong Kai..bisa kambuh tuh alerginya..
Ariany Sudjana
Gibran ini bodoh, sudah tahu situasi belum aman,kok percaya sekali sama orang lain, katanya punya anak buah yang bisa di andalkan, kok kecolongan sih
sunaryati jarum
Apa bukan orang tua kandungnya Gibran? Atau dulu ada trauma dengan orang tidak punya?
Ariany Sudjana
dasar Rama bodoh, percaya sekali dengan omongan pelacur murahan yang ga tahu diri dan serakah .... semoga rencana jahat mereka bisa dipatahkan Gibran
Lisa
Moga aj Gibran mengetahui rencana jahatnya Rama..
Ariany Sudjana
betul sekali, kamu harus tegas bening, menurut kamu berteman, tapi beda dengan Arfan, ybs berharap jadi suami kamu
Ariany Sudjana
harusnya bening tegas, bicara sama Gibran, posisi Arfan itu teman atau apa, supaya Gibran tidak salah paham
Anto D Cotto
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!