Indonesia
NovelToon NovelToon
Tahta Kaisar Iblis

Tahta Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.

​Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.

​Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.

​"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: TAHANAN SENJA DI WILAYAH BARAT

​Embusan angin dingin menyapu puncak tebing. Warna langit di atas Benua Merah kian memerah pekat, menandakan matahari telah bergeser makin rendah di ufuk barat. Di dalam Hutan Bayangan, waktu dari fajar hingga senja berjalan sangat cepat bagi para kultivator yang bertaruh nyawa.

​Di dalam ceruk batu tempat Ular Batu Jiwa sebelumnya tumbang, Xuan Chen berdiri mengamati pergerakan kabut di luar.

​Wajahnya masih agak pucat akibat efek sisa racun belati Yan Ge, namun napas dan ritme jantungnya telah kembali stabil. Pemulihan fisik fana di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Tiga milik Xuan Chen terbukti lebih cepat berkat tempaan latihan ekstrem yang pernah ia jalani di hutan perbatasan Kota Hanyou.

​Lu Feng yang sedang memeriksa ketajaman jemarinya melirik ke arah Xuan Chen. Matanya menatap lipatan jubah hitam Xuan Chen, tempat Token Darah tersembunyi.

​"Junior Xuan," panggil Lu Feng, memecah keheningan dengan suara rendah. "Matahari sudah mulai tenggelam. Batas waktu yang ditetapkan oleh Utusan Sekte berzirah hitam makin dekat."

​Xuan Chen tidak menoleh. Matanya yang tajam tetap menatap ke arah vegetasi rimba di bawah tebing.

​"Aku tahu," jawab Xuan Chen pendek.

​Lu Feng melangkah mendekat dua tapak, raut wajahnya berubah sangat serius.

​"Ada satu masalah besar dalam aliansi kita," lanjut Lu Feng dengan nada menekankan. "Retakan Alam Rahasia hanya menyediakan dua puluh lima kuota. Itu berarti hanya ada dua puluh lima Token Darah yang disebar di seluruh Hutan Bayangan. Saat ini... di tangan kita baru ada satu token."

​Lu Feng menyilangkan kedua tangannya di dada, tatapannya berkilat tegas.

​"Satu token tidak bisa dibagi dua untuk membawa kita berdua menghadap Utusan Sekte di gerbang batu raksasa nanti. Jika kita dipaksa melangkah ke garis akhir hanya dengan benda ini, aliansi kita secara otomatis gugur di detik terakhir."

​Xuan Chen memutar tubuhnya perlahan. Sepasang matanya yang sedingin telaga es mengunci pandangan Lu Feng tanpa ada sedikit pun raut panik atau gentar.

​"Kau berpikir aku akan memotong lehermu di saat-saat terakhir untuk merebut token ini sendirian?" tanya Xuan Chen datar, suaranya tenang namun sarat akan ancaman tak kasatmata.

​Lu Feng terkekeh kecil, walau ada sedikit kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan di sudut matanya.

​"Di sekte kita, hal seperti itu adalah makanan sehari-hari, Junior. Tapi aku tahu kau orang yang pragmatis. Membunuh kawan aliansi yang masih berguna sebelum keluar dari hutan adalah tindakan yang boros stamina."

​Xuan Chen menyunggingkan senyum tipis yang dingin di sudut bibirnya.

​"Keputusan yang bijak," sahut Xuan Chen. "Maka dari itu, jawaban atas masalah kita sangat sederhana: Kita harus merebut satu token lagi sebelum matahari benar-benar tenggelam di balik awan."

​Mendengar hal itu, mata Lu Feng berkilat oleh binar ketertarikan. "Merebut token kedua? Kau punya target?"

​Xuan Chen melangkah keluar dari ceruk batu, berdiri di tepi tebing yang menghadap ke arah zona barat Hutan Bayangan. Di bawah sana, di balik rimbunnya pohon-pohon purba berdaun hitam, suara benturan fisik dan jeritan pembantaian masih terdengar samar dari beberapa titik.

​"Murid-murid yang berhasil merebut token sejak pagi pasti sedang bergerak menuju jalur utama," analisis Xuan Chen dengan cermat.

​"Namun, mereka yang berada di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima Puncak atau kelompok-kelompok besar pasti mengalami kelelahan ekstrem seperti halnya Xiong Wei dan Yan Ge. Mereka adalah mangsa yang paling rapuh di penghujung senja ini."

​Lu Feng menyeringai picik, merenggangkan jemarinya hingga sendi-sendinya berderik nyaring.

​"Menyergap sang pemenang di saat mereka merasa paling aman dekat garis akhir... Taktik yang sangat berdarah dingin. Aku suka caramu berpikir, Junior Xuan."

​Xuan Chen merapikan lipatan jubah hitam polosnya, memastikan Token Darah pertama tersimpan sangat aman di balik pakaiannya. Ia tidak mengaktifkan Mata Misteriusnya sekarang—ia sengaja menyimpannya sebagai kartu truf pamungkas saat menghadapi bahaya tak terduga di perburuan token kedua nanti.

​"Istirahat kita selesai," ucap Xuan Chen seraya memasang kuda-kuda rendah.

​"Pergerakan kita harus cepat dan presisi. Kita akan menyisir perbatasan zona barat, mencari target yang membawa token kedua sebelum melangkah lebih jauh menuju arah gerbang luar."

​Lu Feng mengangguk cepat, menyelaraskan posisinya di samping Xuan Chen dengan tingkat kewaspadaan maksimal.

​Brak!

​Dua bayangan hitam melompat turun dari puncak tebing secara bersamaan, mendarat lincah di atas dahan-dahan pohon raksasa. Xuan Chen dan Lu Feng melaju menembus remang-remang senja Hutan Bayangan, menyongsong perburuan token terakhir di bawah naungan langit Benua Merah yang kian menggelap.

​Angin sore mulai berembus makin kencang membawa aroma amis darah yang pekat. Xuan Chen dan Lu Feng meluncur lincah dari dahan ke dahan, pergerakan mereka bagaikan dua bayangan hantu yang tak bersuara. Setiap tumpuan kaki dipilih dengan sangat hati-hati untuk meminimalkan getaran angin di udara rimba.

​Sementara itu, di berbagai sudut Hutan Bayangan, perebutan kuota perwakilan Alam Rahasia telah mencapai titik terdarahnya. Sinar matahari kemerahan di ufuk barat kian meredup dan makin rendah, menyisakan waktu yang makin kritis sebelum senja benar-benar berakhir.

​Di area rawa-rawa bagian selatan, tiga murid Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Empat saling bunuh demi memperebutkan satu-satunya Token Darah yang mengapung di atas genangan air bercampur racun. Di sisi timur, seorang kultivator wanita yang bertindak kejam baru saja menancapkan jarinya ke mata rekannya sendiri demi mengamankan token kedua yang berhasil ia rampas.

​Bagi para murid luar Sekte Jurang Jiwa, Ujian Token Darah ini bukan lagi sekadar kompetisi seleksi, melainkan pembantaian massal di mana batas antara pemangsa dan mangsa kabur dalam sekejap mata.

​Xuan Chen menghentikan langkahnya di atas dahan pohon beringin purba raksasa. Sepasang matanya yang sedingin es menyapu wilayah lembah di bawah mereka.

​"Hawa membunuh di area tengah makin pekat," bisik Lu Feng seraya mendarat halus di samping Xuan Chen. "Banyak kelompok yang hancur berkeping-keping karena saling curiga."

​"Bagus untuk kita," sahut Xuan Chen datar. "Makin banyak dari mereka yang saling menghancurkan stamina, makin mudah bagi kita untuk mengeksekusi target yang membawa token kedua."

​Namun, baik Xuan Chen maupun Lu Feng sama sekali tidak menyadari satu kenyataan mengerikan yang sedang menanti di ujung perjalanan mereka.

​Jauh di zona perbatasan—hanya berjarak seratus tapak dari garis akhir gerbang batu raksasa tempat Utusan Sekte berzirah hitam bertengger—suasana justru terasa sangat hening dan lengang di bawah naungan langit sore yang kian jingga. Tidak ada benturan fisik yang memekakkan telinga atau jeritan minta ampun di tempat itu.

​Di balik kegelapan semak berduri dan celah-celah pilar batu utama yang membatasi gerbang luar, beberapa figur berselimut jubah hitam bertudung berdiri diam dalam keheningan yang mencekik.

​Mereka adalah para murid senior berpengalaman yang berada di puncak Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima. Sejak fajar menyingsing dan pintu Hutan Bayangan dibuka, para senior ini sama sekali tidak membuang stamina untuk merambah kedalaman rimba atau bertarung berdarah-darah mencari keberadaan Token Darah.

​Bagi mereka yang telah mendekam bertahun-tahun di zona luar sekte, bertualang di dalam hutan adalah tindakan konyol yang membuang tenaga.

​"Tikus-tikus kecil di dalam sana pasti sedang saling bunuh," desis salah satu senior bertudung dengan suara serak yang memuakkan. Di tangannya.

​"Biarkan mereka bekerja keras," timpal senior lain di sebelahnya yang memiliki tato kelabang di pelipisnya. "Begitu mereka keluar dari hutan di penghujung senja ini dengan tubuh terluka dan stamina terkuras habis sambil membawa token... kita hanya perlu mematahkan leher mereka di garis akhir ini."

​Seringai kejam mekar di balik tudung hitam para senior tersebut. Taktik menyergap di pintu keluar—merebut hasil kerja keras murid lain di detik terakhir—adalah strategi paling pragmatis dan berdarah dingin yang paling disukai penganut jalan demonic.

​Di kedalaman hutan, Xuan Chen mendadak menghentikan langkah kakinya. Langkahnya yang tertahan membuat Lu Feng ikut membeku seketika.

​"Ada apa, Junior Xuan?" bisik Lu Feng terkejut.

1
Day Chuk
Xuan Chen punya Cheat di mata 🤣
Kausafiksi: Hehehe benar
total 1 replies
Septiana Athorid
makin seru
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Day Chuk
lanjut 🙏
Kausafiksi: 👍 siap
total 1 replies
Day Chuk
aku pikir su ling yang akan jafi rekan nya thour
Day Chuk: Hahahha sibuk ngapain thor
total 2 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
mampir ya bro ke buku novel gua (。・ω・。) btw novel mu enak juga ya ceritanya tapi sayangnya fotonya hanya ia mau aku bantu kasih karakter laki laki untuk mu gratis
Kausafiksi: terimakasih sudah mampir 🙏😁

novel mu juga bagus,

semangat😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kamar 405 harus nya pakai nama sajah, kesan fantasi timur nya kurang

tapi so cerita nya menarik.
Kausafiksi: terimakasih saran nya, akan aku pertimbangkan 🙏
total 1 replies
Septiana Athorid
naggung thor, 10 bab langsung biar puas 😁
Septiana Athorid: sehari 2 kali thor
total 2 replies
Day Chuk
lanjut thor di tunggu🙏
Kausafiksi: update satu hari sekali ya jam 19:00 di tunggu sajah 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
bagus cerita nya, anti hero, gue suka yang langsung yanpa bertele tele thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!