Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31. MALAM TERAKHIR

BAB 31. Malam Terakhir

Hari terakhir selalu terasa berbeda.

Seolah setiap langkah menjadi lebih pelan karena tak ingin waktu berlalu terlalu cepat. Begitu pula pagi itu. Udara pegunungan masih menyisakan embun, sementara matahari baru mulai menyibak kabut tipis yang menggantung di lereng-lereng bukit. Hamparan perkebunan membentang sejauh mata memandang, dihiasi para petani yang telah memulai aktivitas sejak fajar. Aroma tanah basah bercampur wangi dedaunan memenuhi udara, menghadirkan ketenangan yang sebentar lagi harus mereka tinggalkan.

Esok pagi mereka sudah kembali ke Jakarta. Kembali pada rutinitas Arshaka Group yang nyaris tidak pernah memberi jeda. Karena itu, tanpa banyak berdiskusi, Kalandra dan Hagia sepakat memanfaatkan sisa waktu dengan berjalan santai menyusuri perkebunan buah milik warga sebelum perjalanan singkat itu benar-benar berakhir.

"Kita ke sana?" tanya Hagia sambil menunjuk hamparan kebun stroberi di lereng sebelah.

Kalandra mengangguk singkat.

"Ayo."

Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang membelah kebun. Beberapa warga yang berpapasan menyapa ramah. Sesekali Hagia berhenti hanya untuk memperhatikan buah-buah yang menggantung di antara daun-daun hijau.

"Wah... lucu sekali."

Ia membungkuk mengambil sekeranjang kecil yang disediakan pengelola kebun.

"Boleh petik sendiri?"

"Tentu boleh, Bu," jawab seorang petani sambil tersenyum.

Hagia langsung berjongkok di antara rumpun stroberi. Dengan hati-hati ia memilih buah yang sudah benar-benar merah sebelum memetiknya perlahan.

"Yang ini manis."

"Kamu sudah coba?"

"Kelihatan kok, dari warnanya."

Kalandra hanya memperhatikan dari belakang dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Beberapa menit kemudian, tanpa disadari Hagia, ponselnya kembali terangkat, ketika wanita itu sedang serius memilih stroberi.

Setelah puas berkeliling, mereka melanjutkan perjalanan menuju kebun jeruk yang berada tidak jauh dari sana. Sesekali Hagia bertanya kepada pemilik kebun mengenai cara merawat tanaman, sementara Kalandra lebih banyak menjadi pendengar.

Menjelang siang, keranjang kecil di tangan Hagia telah terisi beberapa buah yang mereka petik sendiri.

"Cukup."

Senyum puas terlihat di wajah Hagia.

"Kalau dibawa pulang nanti jadi ingat tempat ini."

Kalandra menerima keranjang itu dari tangannya.

"Nanti kita beli sekalian buat oleh-oleh."

Hagia mengangguk.

"Iya juga, sampe lupa beli oleh-oleh."

"Sudah saya pesan. Nanti mereka yang kirim ke vila."

Menjelang magrib mereka kembali ke vila dengan langkah yang jauh lebih pelan dibanding saat berangkat pagi tadi. Kantong berisi buah-buahan hasil petikan sendiri diletakkan di atas meja kecil dekat pintu, sementara udara pegunungan mulai berubah semakin dingin.

Setelah membersihkan diri dan menunaikan salat, keduanya mulai merapikan barang bawaan. Besok pagi mereka harus kembali ke Jakarta. Hagia duduk di lantai sambil membuka koper. Satu per satu pakaian kotor dilipat, lalu dipisahkan dari pakaian yang belum sempat dipakai.

Sesekali ia mengernyit.

"Tuan."

Tidak ada jawaban.

Kalandra duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, sesekali sudut bibirnya terangkat tipis seolah membaca sesuatu yang menghibur.

"Tuan." Masih tidak ada respons. Hagia menoleh.

"Saya yang turun langsung ke kebun, tapi kenapa cucian Anda lebih banyak dari punya saya?"

Kalandra tetap tenggelam pada layar ponselnya. Hagia menghela napas pelan.

"Sudahlah."

Ia menutup koper, lalu berdiri.

"Anda bereskan sendiri nanti."

Tanpa menunggu jawaban, Hagia berjalan menuju pintu. Begitu daun pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Di tanah lapang yang berada tidak jauh dari vila, nyala api unggun telah menerangi malam. Beberapa anak kecil berlari mengelilinginya sambil tertawa riang. Seorang bocah yang mengenalnya sejak kemarin langsung melambaikan tangan.

"Kak! Ayo sini!"

Wajah Hagia seketika berubah cerah. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan menghampiri mereka. Tawa anak-anak memenuhi udara malam. Hagia ikut berlari kecil mengelilingi api unggun, sesekali bertepuk tangan mengikuti permainan mereka.

Di sisi lain, pemilik vila sedang sibuk memanggang jagung hasil panen siang tadi. Melihat Hagia datang, wanita paruh baya itu hanya tersenyum hangat.

"Main saja dulu, nanti jagungnya matang."

"Iya, Bu."

Beberapa saat kemudian Hagia mulai kelelahan. Napasnya sedikit memburu setelah terlalu lama mengikuti anak-anak berlarian.

Ia memilih duduk di salah satu batang kayu yang menghadap langsung ke api unggun. Hangatnya bara perlahan mengusir udara dingin yang mulai menusuk. Belum lama ia mengatur napas, seseorang datang dari belakang.

Tanpa banyak bicara, selimut tebal disampirkan pelan ke kedua bahunya.

"Kaya anak kecil."

Hagia mendongak. Kalandra sudah duduk di sampingnya.

"Anda tahu saya di sini?"

Kalandra hanya melirik sekilas sambil mengangkat sedikit sudut bibirnya. Di sekeliling mereka, satu per satu tamu mulai berpamitan kembali ke vila masing-masing. Anak-anak yang sejak tadi paling berisik pun akhirnya dipanggil orang tua mereka.

Perlahan suasana berubah jauh lebih tenang. Kini hanya tersisa suara kayu yang sesekali meletup di dalam api. Kalandra mengubah posisi duduknya. Satu lutut ditekuk, lalu rahangnya bertumpu ringan di atas lutut itu. Ia memiringkan wajah. Tatapannya lurus mengarah kepada Hagia yang sedang menikmati hangatnya api unggun.

"Kamu suka lihat pemandangan, 'kan?"

Hagia mengangguk. "Iya."

"Sama."

Hagia menoleh.

"Dulu, waktu kecil saya kira pemandangan paling indah cuma Aurora."

"Ternyata?"

"Yang di sini jauh lebih indah."

Hagia mengikuti arah pandang Kalandra. Yang dilihatnya hanyalah bara api, pepohonan pinus, dan langit malam yang bertabur bintang. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi, mata pria di sampingnya tidak pernah benar-benar meninggalkan wajahnya.

"Iya."

Ia tersenyum kecil.

"Menurut saya juga begitu."

Pandangannya kembali tertuju ke arah bara api.

"Di sini yang mahal bukan tempat nginapnya."

"Tapi?"

"View-nya."

Pantulan cahaya jingga membuat wajah Hagia terlihat semakin hangat. Sementara itu, Kalandra tidak pernah benar-benar melihat api unggun ataupun hutan pinus. Pemandangan terindah baginya malam itu adalah perempuan yang sedang duduk di sampingnya.

"Anda suka Aurora, Tuan?"

Kalandra mengangguk pelan.

"Waktu kecil." Tatapannya beralih ke nyala api. "Mama sering cerita tentang Aurora."

Hagia menunggu.

"Saya pernah tanya, kenapa nama Mama juga Aurora."

"Lalu?"

Kalandra tersenyum tipis.

"Katanya... supaya kalau suatu hari saya melihat Aurora, saya juga ingat sama Mama."

Hagia mengembuskan napas perlahan. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan memenuhi dadanya.

"Tuan."

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti Anda ingin berburu Aurora..."

Ia menoleh.

"saya temani."

Kalandra diam.

"Kita keliling dunia kalau perlu."

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain letupan kecil dari bara api.

"Terima kasih."

Pelan sekali. Lalu, tanpa meminta izin, Kalandra menyandarkan kepalanya di kepala Hagia. Hagia sempat membeku. Namun, sesaat kemudian ia ikut menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tangannya terangkat perlahan, lalu melingkar ringan di bahu pria itu sambil mengusapnya pelan. Tidak ada lagi yang perlu diucapkan. Mereka tetap duduk berdampingan, menikmati malam terakhir yang perlahan berganti semakin larut.

Di bawah langit yang bertabur bintang, mereka tetap duduk berdampingan hingga bara api perlahan padam. Tanpa mereka sadari, malam terakhir itu telah menjadi kenangan yang suatu hari nanti akan paling sering mereka rindukan.

Next--->

1
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
makhluk langka mungkin Hagia 🤭
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
Hagia jadi penasaran
Nety
bukan kah mereka berangkat bawa mobil kan kalandra sendiri yg nyetir,, knp skrng jadi nunggu jemputan ?? d gondol maling kah😅
Nety
seru,, meskipun pernikahan mereka di awali dgn transaksional tapi akhir nya cinta tumbuh seiring berjalanya waktu,, perlakuan kalandra terhadap hagia yg tidak menuntut
perhatian" kecil kapada pasangan dan saling pengertian dari kedua nya membuat mereka nyaman menjalani bahtera rumah tangga..

d tunggu bab selanjut nya mbu' na 🤩🤩
Nety
😂😂😂 kejengkelan hagia d balas ke tenangan se orang paksu 😅😅 yg sbr ya my istri 😅
Nety
benih benih cembokur mulai tumbuh 😅😂
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒: kamu mulai cemburu kalandra
total 1 replies
Nety
aku ikut tegang, berasa ada d dalam novel🤭
Nety
apakh ini jebakan danu??
Nety
ke nya CEO kita ini lagi pura pura tidak tau tentang identitas hagia 😄
🫩¹
jreng jreng jreng... next.. lnjut lagi 👉
🫩¹
Xavier itu apanya Hagia thor? Daddy nya kah?... ahhhh aku penasaran 🙈
🫩¹
emang nama Xavier itu siapa? penasaran 🙈
🫩¹
nah kan ada sangkut pautnya Danu dengan kejadian Hagia... next mbu' 👉
🫩¹
aku curiga sama Danu dan ibu sambungnya 🫣
🫩¹
mbuna suka ngegantung ya /Facepalm/
🫩¹
aku sudah terlanjur curiga sama Danu 😅
🫩¹
ada yg sengaja gak ya nguncinya🫢
🫩¹
tunjukkan pesonamu Hagia🤭😅
🫩¹
mulai curiga 🤭
🫩¹
benih2 sudah mulai tumbuh 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!