Indonesia
NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Surat Gugatan

Seminggu setelah malam di hotel, Sekar berdiri di depan Pengadilan Agama Jakarta dengan map biru di tangan.

Pagi itu tidak memiliki musik, sorot lampu, atau kamera yang sengaja diundang. Hanya ada suara kendaraan dari jalan, langkah orang-orang di koridor, dan ketukan jari Ningsih pada tasnya sendiri.

"Masih ada waktu kalau Ibu ingin memeriksa sekali lagi," kata pengacara Sekar.

"Kita sudah memeriksanya tiga kali."

"Saya wajib memastikan keputusan ini dibuat tanpa paksaan. Setelah perkara didaftarkan, prosesnya akan bergerak. Pengadilan juga akan menjadwalkan mediasi."

Sekar memandang namanya pada halaman pertama.

Penggugat: Sekar Reksonegoro.

Tergugat: Rendra Danuwijaya.

Selama bertahun-tahun, nama mereka selalu dicetak berdampingan pada undangan, rekening, surat keluarga, dan berita sosial. Hari ini dua nama itu dipisahkan oleh kedudukan hukum yang berlawanan.

"Daftarkan," katanya.

Mereka masuk bersama. Bening berjalan beberapa langkah di belakang, sementara Ningsih membawa berkas pendukung yang sudah dipilah menurut asal serta cara perolehannya.

Gugatan itu tidak ditulis sebagai ledakan amarah.

Di dalamnya ada pelanggaran komitmen perkawinan, hubungan Rendra dengan Kirana, tekanan keluarga agar Sekar menerima poligami, paksaan menandatangani dokumen, penghinaan, serta kerusakan batin yang membuat rumah tangga tidak mungkin dipertahankan.

Tidak ada satu kalimat pun mengenai kesuburan.

Sekar tidak akan membiarkan tubuhnya kembali dijadikan alasan untuk mengukur pantas atau tidaknya ia menjadi istri.

Pengacaranya menunjuk bagian tuntutan harta. "Kita minta pembagian harta gono-gini yang memang diperoleh selama perkawinan. Untuk seserahan, mahar, perhiasan pribadi, dan barang bawaan milik Ibu yang masih dikuasai keluarga Danuwijaya, kita minta dikembalikan sesuai bukti kepemilikan."

"Warisan ibu saya?"

"Ditegaskan sebagai harta pribadi, bukan harta bersama. Saham warisan, hak keluarga Reksonegoro, dan Vila tidak masuk objek pembagian hanya karena nilainya berubah selama perkawinan. Mereka boleh membantah, tetapi harus menunjukkan dasar kepemilikan."

Sekar membubuhkan tanda tangan.

Tinta hitam mengering cepat.

Ketika petugas menerima berkas dan memberikan tanda pendaftaran, Sekar tidak merasa gembira. Yang dirasakannya lebih sederhana: ruang di dalam dada yang selama ini sempit akhirnya terbuka.

Ningsih menyerahkan kotak berkas berikutnya kepada pengacara. Di dalamnya ada buku nikah, salinan persetujuan poligami yang lahir dari tekanan keluarga, daftar barang pribadi, bukti pembelian, serta rekaman komunikasi yang cara perolehannya telah diperiksa satu per satu.

Materi yang masih dapat diperdebatkan dipisahkan. Pengacara tidak ingin kemenangan di media membuat mereka ceroboh di ruang sidang.

"Kita juga perlu menyiapkan jawaban bila pihak Rendra menyatakan rumah tangga masih bisa dipertahankan," kata pengacara.

Sekar mengangguk. "Gunakan catatan konseling dan pesan-pesan ketika saya meminta perlindungan. Jangan gunakan cerita yang tidak bisa dibuktikan."

"Baik."

Di koridor, Sekar berpapasan dengan seorang perempuan yang menggenggam tangan ibunya sambil menangis. Tidak ada perkara yang benar-benar sederhana di tempat itu. Setiap map menyimpan rumah yang pernah dibangun dengan harapan, lalu dibawa ke hadapan orang asing karena penghuninya tidak lagi dapat saling menyelamatkan.

Sekar menghormati kesedihan itu dengan tidak menyebut hari ini sebagai kemenangan.

Di halaman pengadilan, beberapa wartawan sudah menunggu. Mereka mengetahui jadwalnya, entah dari daftar perkara atau orang yang sengaja membocorkan.

"Mbak Sekar, apakah gugatan sudah resmi?"

"Berapa besar harta yang Mbak tuntut?"

"Apakah ada peluang rujuk dengan Mas Rendra?"

Sekar berhenti hanya untuk satu jawaban.

"Gugatan telah didaftarkan. Saya menghormati proses pengadilan dan akan mengikuti mediasi sebagaimana diwajibkan. Soal harta, saya hanya meminta milik masing-masing ditempatkan pada pemiliknya."

"Apakah Mbak ingin menghancurkan Danuwijaya?"

"Saya ingin mengakhiri perkawinan. Itu bukan hal yang sama."

Bening membuka jalan ke mobil.

Di dalam, ponsel Sekar menampilkan pesan dari Arka.

`Sudah selesai?`

`Sudah didaftarkan.`

Jawaban Arka datang tanpa kalimat panjang.

`Pulang dengan aman.`

Sekar menatap layar sesaat sebelum menyimpannya. Arka tidak berkata bahwa ia bangga. Tidak pula bertanya berapa bagian harta yang akan Sekar dapatkan. Ia hanya memastikan Sekar pulang.

Menjelang siang, nomor perkara masuk ke sistem. Pengadilan memulai proses pemanggilan para pihak dan menyiapkan tahapan berikutnya.

Pada sore hari, petugas membawa surat panggilan ke kediaman Danuwijaya.

Rendra sedang berada di ruang kerja saat seorang staf menyerahkan amplop resmi. Ia membuka segelnya dengan tergesa, membaca halaman pertama, lalu berhenti bernapas selama beberapa detik.

Cerai gugat.

Kata-kata itu tidak lagi berupa ancaman yang ia yakini dapat reda apabila Sekar diberi waktu. Ada nomor perkara. Ada jadwal. Ada nama pengadilan.

"Tidak," gumamnya.

Tangannya mulai gemetar. Kertas panggilan berkerut di antara jarinya.

Wida masuk tanpa mengetuk. Hartono dan pengacara keluarga menyusul di belakangnya.

"Jangan rusak suratnya," tegur Wida. "Kita perlu salinan."

Rendra mengangkat kepala. "Ibu tahu dia akan mendaftarkan hari ini?"

"Kami sudah memperkirakan."

"Lalu kenapa tidak menghentikannya?"

Hartono menutup pintu. "Berhenti bertingkah seolah hanya kamu yang rugi. Gugatan harta dapat membuka catatan perusahaan dan transaksi keluarga. Kita harus mengendalikan proses ini."

Pengacara meletakkan sebuah catatan strategi di meja. "Ada tiga jalur. Pertama, kita pastikan seluruh pemanggilan dan pemeriksaan dipatuhi, tetapi gunakan setiap hak jawab agar proses tidak bergerak sepihak. Kedua, mediasi dipakai untuk menekan perdamaian yang melindungi kepentingan keluarga. Ketiga, kita siapkan laporan pencemaran nama baik jika materi yang dia sebarkan tidak dapat dibuktikan asalnya."

"Dengan kata lain, tunda," kata Wida. "Buat dia lelah."

"Dan Bambang?" tanya Hartono.

"Sudah saya hubungi. Dia tidak ingin nama Reksonegoro terseret. Dia akan bicara kepada putrinya."

Rendra menatap mereka satu per satu. "Kalian masih membicarakan saham setelah dia meminta cerai."

Wida memandangnya seolah menghadapi anak kecil. "Kalau kamu sejak awal mampu mengurus istrimu, kita tidak akan duduk di sini."

"Ibu yang membawa Kirana masuk ke rumah."

"Karena kamu butuh keturunan."

"Cukup," bentak Hartono. "Kalian akan menghancurkan yang tersisa dengan bertengkar."

Rendra berdiri terlalu cepat hingga kursinya jatuh.

"Saya akan bicara kepada Sekar."

Pengacara mengangkat tangan. "Jangan menghubungi penggugat dalam keadaan emosional. Semua komunikasi sebaiknya melalui kuasa hukum."

"Dia istri saya."

"Dia penggugat dalam perkara yang sedang berjalan," jawab pengacara itu hati-hati.

Kalimat tersebut justru membuat wajah Rendra berubah.

Ia mengambil kunci mobil dan surat panggilan. Wida mencoba menahan lengannya.

"Mau ke mana? Di luar hujan. Wartawan masih mengikuti rumah ini."

Rendra melepaskan tangan ibunya.

"Ke Vila. Saya akan menjelaskan semuanya."

"Menjelaskan apa?"

Rendra tidak menjawab.

Ia berlari menembus hujan menuju garasi. Beberapa menit kemudian mobilnya keluar dari gerbang, berbelok ke jalan utama, lalu melaju ke arah Puncak.

Di kursi sebelahnya, surat panggilan pengadilan terlipat di bawah telapak tangan.

Sepanjang jalan, ia mengulang kalimat yang sama seperti doa yang datang terlambat.

"Aku akan menjelaskan. Aku akan membuatnya mengerti."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!