Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Rencana Baru
Alena mengepalkan tangan. “Aku harus keluar dari sini, Kael. Sebelum mereka berhasil mengubah pikiran Raka.”
“Saya akan usahakan,” janji Kael. “Tapi Yang Mulia harus bertahan sedikit lagi. Jangan nekat keluar sendiri. Mereka sedang menunggu Anda melakukan kesalahan berikutnya.”
Setelah Kael pergi, Alena berdiri di depan jendela, menatap kabut yang semakin tebal. Cincin di jarinya berdenyut pelan, seolah memberi semangat. Di sisi lain istana, Raka yang sudah bisa duduk bersandar di bantal menatap kosong ke pintu kamarnya. Setiap kali Lilina atau Seana masuk, dia hanya memberi jawaban singkat. Di dalam hatinya, hanya satu nama yang terus berputar, Alena.
Dia tidak tahu apa yang sudah dilakukan ibunya dan adiknya. Tapi firasatnya bilang, Alena sedang menderita karena dia. Dan itu membuat amarah di dalam dirinya yang masih lemah… perlahan membara.
Sementara itu, di Paviliun Utara, Ibu Suri, Seana, dan Lilina kembali duduk bersama. “Hukuman rumah tidak cukup,” kata Seana geram. “Dia masih punya pengaruh lewat Kael. Kita harus memutus rantai itu.”
Lilina tersenyum lembut, menyesap teh. “Mungkin… kita bisa memakai aku lebih jauh. Jika Yang Mulia Raja semakin terbiasa dengan kehadiranku, lama-lama dia akan menerima bahwa Alena memang tidak pantas berada di sisinya. Apalagi jika kita mulai membuka sedikit demi sedikit kesalahan masa lalu Ratu.”
Ibu Suri mengangguk. “Lakukan. Tapi hati-hati. Putraku mulai sadar. Jika terlalu cepat, dia akan memberontak.”
Seana menatap keluar jendela, mata penuh dendam. “Biar saja dia memberontak. Kali ini, kita yang memegang kendali istana. Alena… hanya soal waktu sebelum dia hancur total.”
Di Paviliun Tamu, Alena menatap cincin di jarinya. Denyutannya semakin kuat, seolah memberi peringatan. Sejak pertemuan di tempat Ibu Suri, Lilina semakin sering mendekati Raka. Tapi sayang apapun usahanya selalu gagal. Dia gadis yang lembut, tapi bagi Raka gadis itu hanya racun yang membuatnya muak setiap kali melihatnya.
Beberapa hari kemudian, di tengah usaha Kael membebaskan Alena dari penjara rumah, tiga wanita di Paviliun Utara menemukan senjata yang selama ini mereka cari. Malam itu, Ibu Suri memanggil Peramal Kerajaan—seorang wanita tua buta yang sudah melayani istana selama puluhan tahun. Ruangan dipenuhi asap dupa ungu. Lilina dan Seana duduk di belakang, menunggu.
Peramal itu duduk bersila di depan mangkuk air hitam. Tangannya yang keripil menyentuh permukaan air, lalu tubuhnya bergetar. “Ada jalan…” suaranya parau, bergema. “Jembatan pembatas waktu bisa ditutup selamanya. Retakan bisa dihentikan. Tapi harganya… darah suci dari yang terpilih.”
Ibu Suri menajamkan pandangan. “Siapa yang terpilih?”
Peramal itu membuka mata putihnya. “Darah yang sama dengan yang membuka jalan. Darah yang pernah menolak istana, lalu kembali. Darah Ratu yang melarikan diri… Alena.”
Hening sejenak lalu Seana langsung tersenyum lebar, hampir tertawa. “Sempurna. Jadi untuk menutup jembatan dan menyelamatkan istana… kita hanya perlu mengorbankan dia?”
Peramal mengangguk pelan. “Darahnya harus ditumpahkan di atas batu segel di ruang bawah tanah istana, saat bulan mencapai puncaknya. Setelah itu, jembatan akan tertutup abadi. Tidak ada yang bisa menyeberang lagi… baik dari sini maupun dari dunia manusia.”
Lilina yang selama ini diam, kali ini berbicara dengan suara lembut. “Jika jembatan tertutup selamanya, berarti Alena tidak bisa kembali ke dunia manusia. Dan jika darahnya dikorbankan… dia tidak akan bisa mengganggu Yang Mulia Raja lagi.”
Ibu Suri mengetuk jari di sandaran kursi. “Ini lebih dari sekadar mengusir. Ini menghapus keberadaannya dari kedua dunia. Putraku akan sedih untuk sementara… tapi lama-lama dia akan menerima. Apalagi jika kita bilang Alena sendiri yang memilih berkorban demi istana.”
Seana berdiri, tidak sabar. “Kapan ritual bisa dilakukan?”
“Tiga malam lagi,” jawab peramal. “Bulan akan mencapai puncak. Saat itu segel paling lemah… dan paling mudah ditutup dengan darah suci.”
Ibu Suri mengangguk. “Persiapkan semuanya. Seana, kau yang awasi Alena agar tidak melakukan gerakan bodoh. Lilina, terus di sisi putraku. Buat dia semakin bergantung padamu. Jika Raka sudah cukup stabil… kita bilang pada dewan bahwa Ratu Alena akan melakukan pengorbanan sukarela demi menutup jembatan dan melindungi kerajaan.”
Lilina menunduk hormat. “Saya mengerti.”
Seana menatap ke arah kabut di luar jendela, mata berbinar penuh dendam. “Akhirnya. Kau tidak akan bisa lari lagi, Alena. Kali ini, istana akan menelanmu sepenuhnya.”
Sementara itu, di Paviliun Tamu, Alena sedang berlutut di depan jendela, mencoba merasakan denyut cincin di jarinya. Tiba-tiba cincin itu berdenyut kencang dan panas, seolah memberi peringatan bahaya besar. Alena memegang dadanya. Firasat buruk yang sangat kuat menyelimuti. “Apa yang sedang mereka rencanakan…” gumamnya.
Di malam yang sama, Kael datang lewat jalur rahasia dengan wajah lebih gelap dari biasanya.
“Yang Mulia,” bisiknya cepat, “saya baru saja mendengar kabar dari salah satu mata-mata di Paviliun Utara. Mereka memanggil peramal kerajaan. Ada pembicaraan soal menutup jembatan selamanya… dengan pengorbanan darah.”
Alena membeku. “Darah siapa?”
Kael menatapnya berat. “Darah Anda, Yang Mulia. Mereka bilang Anda adalah yang terpilih. Tiga malam lagi, saat bulan puncak, mereka akan melakukan ritual di ruang segel bawah tanah. Jika berhasil… jembatan tertutup abadi, dan Anda…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Alena berdiri, tangan gemetar. “Mereka ingin membunuhku… dengan alasan menyelamatkan istana.”
Kael mengangguk. “Dan mereka akan membingkainya sebagai pengorbanan sukarela. Jika Raja mendengar versi itu setelah sembuh, dia mungkin… akan percaya bahwa Anda memilih mati demi dia dan kerajaan.”
Alena terdiam lama. Rasa takut, marah, dan putus asa bercampur jadi satu. Tapi di balik itu semua, tekadnya justru mengeras. “Tiga malam…” bisiknya. “Berarti aku masih punya waktu.”
Kael menatapnya khawatir. “Yang Mulia, ini terlalu berbahaya. Jika mereka berhasil menangkap Anda untuk ritual itu—”
“Lebih berbahaya jika aku diam saja,” potong Alena. “Aku harus menemui Raka sebelum tiga malam itu tiba. Dia harus tahu kebenaran. Jika dia sudah cukup sadar… dia satu-satunya yang bisa menghentikan Ibu Suri dan Seana.”
Kael menghela napas panjang. “Saya akan bantu. Tapi kali ini, risikonya nyawa. Bukan hanya hukuman.”
Alena menatap cincin di jarinya yang masih berdenyut gelisah. “Aku sudah mempertaruhkan segalanya sejak memutuskan kembali ke istana. Nyawa… tidak ada bedanya.”
Di luar, kabut abadi bergolak lebih hitam dari sebelumnya. Bulan di balik kabut mulai naik perlahan, menghitung mundur menuju puncaknya. Tiga malam sebelum darah suci Alena akan ditumpahkan untuk menutup jembatan selamanya. Dan di Paviliun Utara, Ibu Suri, Seana, serta Lilina sudah mulai menyiapkan altar.
Malam pertama dari tiga malam hitungan mundur. Alena tidak tidur. Dia duduk di pojok Paviliun Tamu, memegang cincin yang terus berdenyut tidak beraturan. Semakin dekat bulan ke puncaknya, semakin panas cincin itu di jarinya—seolah memperingatkan bahwa waktu semakin tipis.
Kael datang lagi lewat jalur rahasia, kali ini dengan wajah lebih tegang. “Mereka sudah mulai bergerak, Yang Mulia. Ruang segel di bawah tanah sedang dibersihkan. Altar batu sudah disiapkan. Ibu Suri memerintahkan agar Anda dipindahkan ke menara pengawas besok malam… untuk keamanan katanya. Padahal itu hanya langkah awal sebelum ritual.”
Alena mengepalkan tangan. “Berarti aku harus keluar malam ini juga.”