Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Tiga jam berlalu, keadaan sudah perlahan membaik. Oliver juga sudah tidak terlalu menangisi Rina, membuat Zafana bisa duduk dikursi dekat ranjang Rina.
"Sayang kamu pulang aja , besok ada kelas bukan?”ucap Oliver sambil mengusap puncak kepala Zafana lembut.
Zafana mendongak, “mas ikut pulang, kan?”
"Mas jagain mama dulu disini, besok baru pulang sekalian ambil baju ganti"jawab Oliver.
“Mendingan kamu aja yang pulang, biar aku disini dulu jagain mama kamu"ucap Zafana
"Nanti mama kamu khawatir, sayang”jawab Oliver sontak membuat Zafana kembali memunculkan semburat kemerahan di kedua pipinya.
"Mama udah aku kabarin tadi, dan dia juga bilang besok baru bisa jenguk"ucap Zafana
Oliver menghela lalu berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya disana. Zafana kembali natap Rina, orang yang sampai saat ini tidak setuju dengan hubungannya dengan Oliver.
"Tante mau minum?"tanya Zafana dan Rina kembali menggelengkan kepala seadanya
Zafana mengangguk sambil mengusap-usap punggung tangan Rina. Dalam hati Rina sangat menyesal sudah menentang hubungan mereka yang berujung seperti ini. Padahal jika dilihat lagi Zafana sungguh mempunyai sifat yang dimiliki oleh Casandra, mantan menantunya yaitu penyayang.
Kepala Zafana menoleh kearah Oliver yang sedang memejamkan matanya, Zafana pun bangkit menaruh tangan Rina perlahan dan jalan menuju Oliver. Zafana meraih kaki Oliver dan buka sepatu yang dipakai Oliver lalu beralih mengusap keningnya yang basah karena keringat.
"Istirahat yang cukup ya mas"bisik Zafana lalu mengecup singkat kening Oliver.
Malam itu, Zafana habiskan untuk menjaga Rina dan juga Oliver tanpa sekalipun memejamkan matanya untuk tertidur. Sampai akhirnya pagi pun tiba, Oliver bangun terbatuk membuat Zafana menoleh khawatir.
“Kenapa mas?”tanya Zafana.
“Keselek, sayang”jawab Oliver membuat Zafana sontak terkekeh.
Oliver berjalan menghampiri Zafana dan berdiri disampingnya, tangannya mengusap punggung tangan Rina yang masih tertidur. Oliver menunduk menatap kaki Zafana yang sudah tidak memakai high heels, kaki Zafana tampak terlihat merah dan sedikit lebam. Membuat Oliver segera berjongkok untuk mengecek luka tersebut.
"Sayang Kaki kamu lecet ?"tanya Oliver dengan tangan terulur meraih kaki Zafana yang dingin.
Zafana tersenyum, “sedikit kok"jawabnya sambil menyisiri rambut Oliver yang terlihat acak-acakan..
“Mas obatin kaki kamu ya”ucap Oliver.
“Gak usah mas, gak papa kok nanti juga sembuh”jawab Zafana.
“Tapi nanti infeksi, sayang”ucap Oliver.
Zafana tersenyum, “enggak, mas tenang aja”
Oliver menghela dan bangkit lalu mengusap pipi Zafana lembut. Tatapannya yang sayu membuat Zafana ikut merasakan beban dipundaknya.
“Dari semalam mas terus mikirin keadaan mama, belum lagi kabar Sintya yang melarikan diri, mas gak tau harus apa sekarang”ucap Oliver sendu.
Zafana ikut bangkit lalu menggenggam tangan Oliver,
“mas, gak usah terlalu dipikirin tentang Sintya, fokus kamu sekarang ke penyembuhan mama aja ya, biar urusan Sintya pihak polisi aja yang ngurus”
“Tapi Sintya udah keterlaluan, dia udah hampir membunuh kamu dan mama, mas gak bisa diem aja, Zafa..mas harus cari dia dan mas harus kasih hukuman yang setimpal buat dia”jawab Oliver.
“Mas, aku udah maafin Sintya kok...kamu gak usah terlalu dendam sama dia ya, urusan Sintya biar aku minta tolong sama Kak Alaska buat lapor ke pihak kepolisian, jadi sekarang aku mau kamu fokus ke pengobatan mama”ucap Zafana.
Rina yang mendengar itu sungguh merasa sangat tersentuh. Ia sangat ingat bagaimana ucapannya pada Zafana dulu yang menyebutnya seorang ‘pelacur’ tapi ternyata hati Zafana sangat lembut dan baik.
Oliver pun merasa bebannya sedikit berkurang setelah mendengar ucapan Zafana barusan lalu beringsut mencium kening Zafana lembut.
“Mas, aku siapin sarapan ya?”ucap Zafana yang langsung ditahan oleh Oliver.
“Kaki kamu lagi sakit, biar mas aja yang beli sarapan”ucap Oliver.
Oliver menuntun Zafana untuk kembali duduk lalu memakai sepatunya dan segera keluar untuk membeli sarapan. Zafana kembali menghadap kearah Rina lalu menggenggam tangan Rina.
“Tante...tante beruntung karena punya anak yang sayang banget sama tante, dan Zafa juga beruntung banget karena udah dicintai sama anak tante”ucap Zafana.
Drrrttt drrrrtt
Ponselnya yang ia letakan diatas nakas bergetar, memperlihatkan nama kontak Alaska disana. Dengan segera Zafana mengangkatnya.
‘Halo Ka, ada apa?’
‘Na, ini gue sama mama papa udah mau jalan kesana, lo ada yang mau dibawain gak?’
‘Apa ya, bawain gue sandal aja deh Ka, kaki gue lecet nih’
‘Yaudah, baju ganti gak mau?’
‘Gak usah gue pakai baju ini aja, nanti gue pulangnya bareng kalian’
‘Oh yaudah, gue tutup ya’
Zna hanya berdehem lalu panggilan itu pun berakhir dengan sendirinya. Setelah itu Zafana melihat notifikasi pesan dari Renzo.
Renzo
Lo dmn deh? Temu lah yuk
... Zafana...
^^^Gk bisa Renzo, gue lg di rs ^^^
Renzo
Lo knp?skt?
^^^Zafana^^^
^^^Gk kok, gue lg jenguk org skt ^^^
Renzo
Siapa?
^^^Zafana^^^
^^^Camer xixixixi^^^
read
Zafana terkekeh lalu kembali menyimpan ponselnya diatas nakas. Bersamaan dengan itu Oliver kembali dengan dua rice bowl yang ia beli di KFC depan rumah sakit lengkap dengan satu botol air mineral.
“Sayang, Ayok makan dulu”ajak Oliver..
Zafana bangkit lalu berjalan menuju sofa mengikuti Oliver dengan langkah yang sedikit tertatih. Keduanya duduk berdampingan, Oliver segera membuka dua rice bowl itu dan meletakan salah satunya dihadapan Zafana, Zafana tersenyum lalu menyantap makanan itu begitupun dengan Oliver, Keduanya tampak sangat menikmati makanan itu dalam diam.