Indonesia
NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.

Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.

Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.

Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.

"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."

Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.

"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 30

Di dalam mobil SUV hitamnya yang melaju meninggalkan rumah sakit, ponsel Arga tiba-tiba berdering. Pesan masuk.

Mata Arga menyipit saat membaca nama pengirimnya. Rena.

"Temui aku di gudang lama terbengkalai di ujung kota sekarang juga. Sendirian. Bawa uang sepuluh miliar dalam bentuk tunai, atau semua bukti rekaman tentang pemalsuan dokumen dan pembunuhan Kacul akan aku serahkan ke kepolisian."

Arga mencengkeram setir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Jadi kamu berani menantangku secara terang-terangan sekarang, Rena? Baiklah. Kita selesaikan semuanya hari ini."

Arga membanting setir, memutar balik arah mobilnya menuju kawasan industri di ujung kota. Ia tidak membawa uang sepeser pun. Yang ia bawa di balik jasnya hanyalah sebuah pisau lipat berburu yang sangat tajam.

Setengah jam kemudian, Arga tiba di lokasi. Gudang itu sangat besar, berkarat, dan dipenuhi oleh debu tebal. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah atap seng yang bocor.

Di tengah ruangan kosong itu, Rena berdiri sendirian. Wanita itu mengenakan jaket kulit hitam, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Tubuhnya terlihat sedikit bergetar, namun ia berusaha memasang wajah yang sangat menantang.

Tak... Tak... Tak...

Langkah kaki Arga menggema di dalam gudang. Pria itu tersenyum menyeringai, menatap Rena dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Berani juga kamu datang menemuiku dan membuat tuntutan konyol seperti itu, Rena," sapa Arga, suaranya memantul di dinding besi gudang.

Rena menelan ludah. "Mana uangnya, Arga?! Aku minta sepuluh miliar, sekarang!"

"Uang? Untuk apa pengkhianat sepertimu mendapatkan uang dariku? Kamu yang meretas perusahaanku sendiri, kamu yang menguras dana cadanganku!"

"Sudah aku bilang, bukan aku yang meretasnya! Tapi aku nggak peduli lagi soal itu! Aku cuma mau uang tutup mulutku, dan setelah itu aku bakal pergi jauh dari kota ini! Aku nggak akan bongkar soal Kirana yang kamu bikin buta permanen, atau soal pemalsuan dokumen proyek itu!" teriak Rena, suaranya sedikit melengking karena gugup.

"Kamu pikir aku bodoh, Rena? Begitu aku kasih kamu uang, kamu pasti bakal terus memeras aku seumur hidupmu," Arga terus melangkah maju perlahan, memangkas jarak di antara mereka. "Lagipula, kamu nggak punya bukti apa-apa selain rekaman suara murahan itu."

"Aku punya cukup bukti untuk membuatmu dihukum mati, Arga! Kamu pikir aku nggak tahu?! Kamu membunuh Kacul dan Bi Titin di rumahmu sendiri kan?! Kamu menyuruh orang untuk menabrak Tasya sampai koma! Dan sekarang kamu mau bunuh aku juga?!"

Arga tertawa lepas. Tawanya terdengar sangat mengerikan di tengah keheningan gudang tersebut.

"Hahaha! Bukti apa yang kamu punya soal Kacul dan pelayan tua itu, hah? Mayat mereka sudah aku cor di dalam pondasi proyek apartemen di selatan kota! Nggak akan ada yang bisa nemuin mereka!" Arga merentangkan kedua tangannya dengan bangga. "Tasya? Si jalang itu pantas mati karena berani ikut campur urusan rumah tanggaku! Dan soal Dokter Alibie? Dia baru saja aku suntik mati setengah jam yang lalu di ruang praktiknya sendiri!"

Mata Rena membelalak lebar. Pengakuan itu keluar begitu saja dari mulut Arga. Tanpa sadar, Rena menyentuh kerah jaketnya sedikit. "K-kamu... kamu benar-benar iblis, Arga. Kamu bunuh Dokter Alibie juga?"

"Ya! Aku bunuh siapa pun yang berani mengkhianatiku! Sama seperti aku akan membunuhmu sekarang, Rena!"

Arga mengeluarkan pisau lipat dari balik jasnya. Bunyi 'klik' saat mata pisau itu terbuka membuat nyali Rena menciut seketika. Wanita itu melangkah mundur dengan panik.

"Jangan mendekat, Arga! Kalau kamu bunuh aku, polisi bakal langsung tahu! Pak Darmawan tahu aku ada di sini!" ancam Rena, suaranya kini bergetar penuh ketakutan.

Namun, langkah Arga tiba-tiba terhenti. Mata tajam pria itu menangkap sebuah pantulan cahaya kecil berwarna merah yang berkedip samar di balik kerah jaket kulit Rena.

Kecerdasan Arga sebagai seorang manipulator langsung bekerja. Pria itu menyipitkan matanya.

"Kamu... kamu bawa alat penyadap?" bisik Arga, wajahnya seketika berubah sepucat mayat. "Kamu merekam semua percakapan kita barusan?!"

"Mundur, Arga! Polisi sedang dalam perjalanan ke sini! Mereka mendengar semuanya! Pengakuanmu soal Kacul, Bi Titin, Tasya, dan Dokter Alibie! Semuanya sudah direkam oleh tim Pak Darmawan!" jerit Rena, mengeluarkan sebuah alat pemancar kecil dari balik jaketnya.

"Dasar perempuan jalang pengkhianat!!!"

Raungan Arga menggelegar. Pria itu kehilangan seluruh kewarasannya. Ia tidak lagi memedulikan polisi atau Pak Darmawan. Yang ada di kepalanya hanyalah hasrat untuk mencabik-cabik wanita yang telah menghancurkan seluruh rencana sempurnanya.

Arga menerjang maju seperti banteng yang terluka. Rena mencoba berlari, namun sepatu hak tingginya membuatnya tersandung puing-puing bangunan.

Bruk!

Rena terjatuh tengkurap. Sebelum ia sempat bangkit, tubuh berat Arga sudah menindihnya dari belakang. Arga menjambak rambut Rena dengan sangat kasar dan menarik kepalanya ke belakang.

"Tolong!!! Tolong aku!!!" jerit Rena ke arah alat penyadap yang tergeletak di depannya.

"Mati kamu, pengkhianat! Mati!!!"

Jleb! Jleb! Jleb!

Arga menghujamkan pisaunya bertubi-tubi ke punggung dan dada Rena tanpa ampun. Darah segar menyembur, membasahi jaket kulit wanita itu dan tangan Arga. Rena menggelepar hebat selama beberapa detik, sebelum akhirnya tubuhnya melemas dan matanya terbuka menatap kosong ke lantai gudang.

Napas Arga memburu dengan sangat kencang layaknya orang asma. Ia menatap mayat selingkuhannya yang bersimbah darah di bawahnya.

Ngiiing... Ngiiing... Ngiiing...

Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara sirine mobil polisi yang semakin lama semakin mendekat.

Arga terkesiap. Kepanikan yang luar biasa akhirnya menghantamnya. Ia berdiri dengan gemetar, menjatuhkan pisau berdarahnya ke lantai. Semuanya sudah hancur. Ia tidak punya waktu lagi untuk menutupi bukti ini. Polisi telah mendengar pengakuan langsung dari mulutnya sendiri.

"Nggak... Nggak mungkin... Aku nggak akan biarkan kalian menang," gumam Arga dengan mata yang liar.

Pria itu berlari keluar dari gudang melalui pintu belakang, melompati pagar besi berkarat, dan masuk ke dalam mobil SUV hitamnya tepat sebelum dua mobil patroli polisi mendobrak masuk ke halaman depan gudang.

Arga menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban mobilnya berdecit keras, melaju membelah jalanan dengan kecepatan penuh. Pikirannya benar-benar kacau. Ia tidak bisa lari ke bandara, rekeningnya pasti akan segera dibekukan.

Hanya ada satu tempat yang aman baginya sekarang. Hanya ada satu tameng yang bisa melindunginya dari sergapan polisi.

"Kirana... Istriku yang buta... Mereka nggak akan berani menembakku kalau aku menyandera pewaris Larasati Corp," desis Arga sambil tertawa gila di balik kemudi. "Kita akan mati bersama-sama hari ini, Sayang."Kirana melangkah cepat menuju meja rias. Ia membuka laci pertama dan meraba ke dalam. Dapat. Ponsel tipis berwarna perak.

Kirana menyalakan layarnya. Terkunci. Namun, ini adalah ponsel lama Arga. Kirana tahu persis kata sandinya. Ia menekan enam digit angka: tanggal pernikahan mereka.

Klik.

Layar terbuka.

Kirana segera membuka aplikasi pesan singkat, mengetik pesan darurat kepada Pak Darmawan dengan sangat cepat.

"Paman, ini Kirana. Arga baru saja mengeksekusi pembantu baru di rumah ini karena mengira pembantu itu adalah mata-mata Paman. Arga sudah mulai kehilangan akal sehatnya. Ini saatnya Paman bergerak. Hubungi Rena sekarang juga. Jadikan dia saksi mahkota. Tawarkan perlindungan dan kekebalan hukum jika dia mau bersaksi melawan Arga. Ini satu-satunya cara sebelum Arga membunuhnya juga."

Kirana mengirim pesan itu, lalu dengan cekatan menghapus riwayat pesannya. Ia meletakkan kembali ponsel itu tepat di posisi semula, lalu berlari kecil kembali ke atas ranjang dan menarik selimutnya sebelum suara air dari kamar mandi berhenti.

Di sebuah kafe tertutup yang sepi di pinggiran kota, Rena duduk dengan sangat gelisah. Ia terus menatap pintu masuk, sesekali melirik jam tangannya dengan keringat dingin yang mengucur. Pesan dari Arga yang menyuruhnya menunggu di kantor telah ia langgar. Ia melarikan diri diam-diam. Ia tahu, jika ia tetap berada di dekat Arga, ia tidak akan pernah kembali hidup-hidup.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan kacamata tebal berjalan menghampiri mejanya. Pria itu menarik kursi di seberang Rena dan duduk dengan tenang.

"Nona Rena Anggraeni," sapa pria itu dengan nada formal dan tenang.

Rena tersentak mundur. "Bapak siapa? Saya tidak pernah membuat janji bertemu dengan Bapak di sini."

"Perkenalkan, nama saya Darmawan. Saya adalah pengacara pribadi yang sah milik Nyonya Kirana Larasati," ucap Pak Darmawan sambil meletakkan sebuah kartu nama di atas meja.

Wajah Rena langsung memucat. Ia hendak berdiri dan melarikan diri, namun Pak Darmawan segera mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar Rena tetap tenang di kursinya.

"Duduklah, Nona Rena. Anda tidak perlu lari dari saya. Saya bukan musuh Anda saat ini. Justru, saya adalah satu-satunya orang yang memegang kunci untuk membebaskan Anda dari tiang gantungan, dan dari ancaman pembunuhan yang sedang direncanakan oleh Arga Dirgantara."

Rena perlahan duduk kembali, menatap Pak Darmawan dengan penuh kecurigaan yang mendalam. "Apa maksud Bapak? Bapak tahu dari mana soal ancaman itu?"

"Saya mengetahui segala hal yang terjadi di dalam Larasati Corp dan di dalam rumah tangga klien saya. Saya juga tahu bahwa Anda dijebak oleh Arga pagi ini dengan tuduhan penggelapan dana ke rekening offshore." Pak Darmawan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam mata Rena. "Arga sedang merencanakan kematian Anda, Nona. Skenarionya sangat klasik dan rapi: Sekretaris yang menggelapkan dana perusahaan ditemukan tewas bunuh diri karena dihantui rasa bersalah. Sangat sempurna, bukan?"

Air mata Rena menetes. Perkataan pengacara tua ini persis sama dengan pesan anonim yang ia terima semalam. "B-Bapak yang mengirim pesan pakai nomor pembantu itu, kan?!"

Pak Darmawan tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, ia hanya tersenyum tipis dan penuh teka-teki. "Nona Rena, Arga telah merampas seluruh harta Nyonya Kirana secara ilegal. Dia memalsukan dokumen proyek pembangunan mall itu menjadi surat kuasa mutlak. Dia menyuap notaris, dan bahkan membayar Dokter Alibie untuk memberikan kesaksian medis palsu bahwa Kirana gila dan buta permanen."

"Lalu apa hubungannya dengan saya, Pak? Saya tidak punya bukti apa-apa untuk melawan Arga! Rekaman suara yang saya miliki juga tidak akan cukup kuat jika dibandingkan dengan bukti penggelapan dana yang dia buat untuk menjebak saya!" isak Rena dengan nada putus asa.

"Anda memiliki kesaksian, Nona. Anda adalah orang dalam. Anda mengetahui secara detail semua alur pemalsuan dokumen tersebut. Mari bekerja sama dengan kami. Pihak kepolisian tidak akan bisa menyentuh Arga tanpa ada orang dalam yang memecah kebisuan ini."

"Kalau saya bersaksi, saya juga akan ikut masuk penjara karena membantu memalsukan dokumen itu!"

"Saya bisa menjamin Anda mendapatkan status Justice Collaborator. Saya akan mengerahkan seluruh tim hukum terbaik milik keluarga Larasati untuk memastikan Anda mendapatkan kekebalan hukum, atau setidaknya hukuman percobaan yang sangat ringan tanpa harus masuk sel penjara. Dan yang paling penting, kami akan memberikan perlindungan fisik selama 24 jam penuh untuk Anda dari para pembunuh bayaran Arga."

Rena menatap mata Pak Darmawan lekat-lekat, mencari kebohongan, namun hanya menemukan ketegasan. Wanita itu menggigit bibirnya hingga sedikit berdarah. Pilihan yang ia miliki hanyalah mati di tangan Arga, membusuk di penjara karena jebakan penggelapan dana, atau berkhianat dan menyelamatkan nyawanya sendiri.

"A-apa yang harus saya lakukan, Pak Darmawan?" tanya Rena akhirnya. Suaranya bergetar karena campuran rasa takut dan dendam yang mulai membara di dadanya.

"Kita akan memancing Arga untuk melakukan pengakuan secara langsung, Nona Rena. Sebuah pengakuan pembunuhan yang akan kita rekam secara diam-diam dan disiarkan langsung ke pihak berwajib."

Malam harinya, suasana di dalam kamar utama terasa sangat berat.

Arga berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kantung matanya terlihat menghitam pekat. Saraf-saraf di kepalanya terasa sangat tegang dan berdenyut nyeri. Sejak siang tadi, setelah ia mengeksekusi Marni, ia menyadari bahwa Rena telah menghilang dari kantor. Sekretarisnya itu tidak merespons panggilan teleponnya sama sekali. Arga mulai dilanda paranoia yang luar biasa. Jika Rena pergi ke kepolisian membawa rekaman itu, habislah semuanya.

Di sebelahnya, Kirana sedang duduk menyisir rambutnya. Ia menyadari kegelisahan luar biasa yang sedang melanda suaminya.

"Kamu kelihatan stres banget malam ini, Sayang. Pekerjaan di kantor lagi banyak masalah, ya?" tanya Kirana dengan suara yang sangat lembut dan penuh perhatian, memainkan peran istri yang setia tanpa cela. "Sini, aku pijat kepalamu. Dulu kamu paling suka kalau aku pijat waktu kamu lagi banyak pikiran."

Arga menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memutar posisi tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Kirana. "Iya, Sayang. Ada tikus-tikus kecil di kantor yang lagi coba-coba menggerogoti kabel. Benar-benar membuat kepalaku mau pecah."

Jari-jari lentik Kirana mulai memijat pelipis dan kulit kepala Arga dengan ritme yang sangat lambat dan menenangkan. Sentuhan lembut itu perlahan-lahan membuat otot-otot Arga yang tegang mulai mengendur. Pria itu memejamkan matanya, membiarkan dirinya terhanyut dalam pijatan istrinya yang terasa sangat nyaman.

"Tikus kecilnya berbahaya tidak, Sayang? Coba kamu cerita sama aku. Siapa tahu dengan bercerita, beban pikiranmu bisa agak berkurang," bujuk Kirana, suaranya mengalun seperti lagu pengantar tidur yang mengandung bisa ular yang mematikan.

"Cuma sekretarisku, Rena. Dia mulai berani macam-macam di belakangku. Sepertinya aku harus segera memberinya pelajaran yang sama seperti yang aku berikan ke Marni tadi siang," gumam Arga dengan mata tertutup, suaranya mulai terdengar berat karena kantuk yang menyerang.

Kirana menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya tepat ke depan telinga Arga. Ia menghentikan pijatannya sesaat, lalu berbisik dengan nada yang sangat pelan, dingin, namun menembus langsung ke alam bawah sadar pria itu.

"Bagaimana kalau ternyata dia duluan yang menggigitmu, Sayang? Bagaimana kalau Rena tiba-tiba datang ke kantor polisi membawa semua rahasiamu? Bagaimana kalau dia buka mulut soal Kacul dan Bi Titin yang kamu bunuh di gudang? Soal proyek pembangunan mall palsu itu... dan soal uang suap yang kamu berikan ke Dokter Alibie untuk membuatku buta?"

Arga tiba-tiba tersentak hebat dari pangkuan Kirana. Matanya membelalak lebar seakan mau keluar dari kelopaknya. Napasnya memburu kencang, keringat dingin seketika membanjiri dahinya. Pria itu menatap Kirana dengan pandangan ngeri dan penuh ketakutan.

"K-kamu ngomong apa barusan, Kirana?! Proyek mall?! Dokter Alibie?! Kacul?!" bentak Arga. Tangannya mencengkeram lengan Kirana dengan kekuatan penuh hingga kuku-kukunya menancap di kulit istrinya.

Kirana tidak berkedip. Ia memasang wajah polos dan kebingungan yang sangat meyakinkan. "Ngomong apa, Sayang? Kamu kenapa? Aku cuma bilang, semoga masalah di kantormu cepat selesai biar kamu bisa tidur nyenyak. Kenapa kamu tiba-tiba kaget dan marah-marah begitu? Kamu mimpi buruk barusan, Sayang?"

Arga menatap mata istrinya yang terlihat kosong dan bodoh. Telinganya masih berdengung. Pria itu melepaskan cengkeramannya dan mengusap wajahnya dengan gemetar, menyadari bahwa ia mungkin baru saja berhalusinasi. Tekanan mental, rasa bersalah yang ditekan, dan kurang tidur telah membuat otaknya memproyeksikan ketakutan terbesarnya melalui suara istrinya.

"N-nggak... Nggak apa-apa, Sayang. Aku... aku sepertinya memang cuma kecapekan," jawab Arga sambil kembali berbaring, namun kali ini ia memunggungi Kirana. Matanya terbuka lebar menatap dinding kamar yang gelap, jantungnya berdetak tidak beraturan, dipenuhi oleh teror yang ia ciptakan sendiri.

Di belakang punggung suaminya, Kirana tersenyum sangat lebar dan puas. Ia tidak membutuhkan sebilah pisau atau racun yang mematikan untuk membunuh pria ini. Ia hanya perlu menanamkan benih paranoia, dan membiarkan ketakutan Arga sendirilah yang menggerogoti akal sehatnya dari dalam, pelan-pelan, hingga pria itu hancur lebur tanpa sisa.

1
Ma Em
Masa orang banyak kalah hanya dgn Arga seorang seberapa pintarnya Arga masa tdk ada yg bisa melawan Arga .
Muft Smoker
skraaang si agar2 yg ketakutan sendriii
Muft Smoker
awas nnti malah jd km yg gilaaa arga
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah ternyata rencana kirana ,,
Muft Smoker
ayoo kirana gerak cepat sebelum semua aset mu berpindah tangan,, ni gx da bantuan buat kirana apa kak???
Muft Smoker
aaaaa deg2an ,, semoga bukan arga
Muft Smoker
aduuuh kirana jgn ceroboh doonk ,,
Ma Em
Kirana terlalu ceroboh hrs nya pelan2 saja jgn sampai menimbulkan kecurigaan Arga kalau Kirana sdh bisa melihat , semoga tdk terjadi hal yg tdk di inginkan pada Kirana .
Muft Smoker
aduuuuh semoga kirana gx knp2 ,,
Ma Em
Kirana kamu jgn ceroboh si Arga ini licik ada perubahan sedikit saja dari Kirana Arga langsung curiga , makanya jgn melakukan yg akan membahayakan , Kirana .
Muft Smoker
akhirny kirana pura2 pingsan ,,
🤭🤭
Ma Em
Kirana hati hati jgn ceroboh dan hrs pintar berpura pura msh buta jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat , Kirana hrs cari akal agar bisa bebas dari Arga mokondo .
Muft Smoker
duuh jgn sampai deeh si arga tau kalo kirana udh bisa lihat ,,
Muft Smoker
duuuh aq yg deg2an iikh ,,
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,
Ma Em
Kirana hrs hati2 jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat lagi , jgn gegabah dlm bertindak Kirana hrs cerdik balas semua perbuatan Arga dan gundiknya .
Muft Smoker
perlahan ,, perlahan ,, akhirny penglihatan kirana kembali ,,
Sishrye
astaga nggragas🤣
한스 |HANSEN| Is Back: 😭🔥wwk
total 1 replies
Ma Em
Si Arga karena ambisi ingin menguasai harta orang cara apapun akan harga lakukan , semoga ada keajaiban untuk Kirana secepat nya bisa melihat lagi .
Muft Smoker
waah siapa lgii itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!