"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat buruk
Di bawah teriknya sinar matahari yang terselip di sela dedaunan hutan kecil di pinggir desa, enam orang berkumpul membentuk lingkaran. Udara siang hari terasa semakin panas dipenuhi aroma tembakau dari lintingan rokok yang tak henti berpindah tangan.
Sosok perempuan dengan penampilan sederhana namun dengan sorot mata penuh ambisi berdiri tegak di tengah mereka. "Kalian ingat kan apa yang gue bilang?" tanyanya pelan namun penuh penekanan. Suaranya rendah hampir seperti bisikan, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang di lingkaran itu.
Satria, laki-laki bertubuh besar dengan rambut kusut dan wajah yang jarang mengenal sabun menyeringai lebar. "Lo tenang aja, kami pasti ingat," jawabnya sambil mengangguk. Nada suaranya mencerminkan kegembiraan yang gelap.
Perempuan itu melipat tangan di depan dadanya, menatap mereka satu per satu. "Bagus. Sekarang dengerin baik-baik. Rencana kita nggak boleh gagal. Gue nggak mau ada yang ceroboh atau bertindak di luar rencana."
Satria meniup asap rokoknya lalu bersandar ke batang pohon di belakangnya. "Ceritain lagi, gue mau pastiin semuanya jelas."
Perempuan itu menarik napas dalam lalu mendekat ke tengah lingkaran. Wajahnya tertutupi bayangan hanya sinar mata yang berkilat di bawah cahaya. "Malam puncak acara nanti, semua perhatian akan ada di masjid. Ada ulama yang akan jadi fokus utama. Itu waktu yang pas buat kita bergerak."
"Terus cewek itu?" tanya salah satu pria lain dengan suara rendah. Ia memelintir ujung rokoknya hingga mati matanya memandang perempuan itu dengan ragu.
"Azel," jawab perempuan itu dengan nada dingin, seolah nama itu adalah racun di bibirnya. "Dia ketua divisi humas. Pastinya dia bakal sibuk ngurusin tamu warga sama acara. Gue yakin dia bakal mondar-mandir di sekitar acara."
"Terus?" desak Satria, senyum lebar masih terpatri di wajahnya.
"Saat dia cukup jauh dari masjid, kalian tangkap dia. Pastiin dia nggak sempat teriak minta tolong. Bawa dia ke tempat yang udah kita siapin."
Salah satu pria di lingkaran itu tunduk dengan wajah yang tampak lebih gugup dibanding lainnya, angkat bicara. "Terus, kalau dia ngelawan?"
Perempuan itu memandang pria itu dengan tajam, membuatnya langsung terdiam. "Dia pasti ngelawan, apalagi dia bisa bela diri dasar tapi kalian kan ada enam orang dan dia cuma satu orang. Dan kalian juga laki-laki yang tenaganya lebih jauh kuatnya di banding dia. Kalian pikirin aja sendiri caranya. Yang jelas gue nggak mau ada kegaduhan. Kalian harus cepat dan rapi."
Satria tertawa pelan, suara beratnya bergema di antara pohon-pohon. "Ah, ini bakalan seru."
"Tapi," potong perempuan itu, suaranya tajam seperti belati. "Jangan sampai ada yang tau siapa dalang di balik ini. Gue nggak mau nama gue dikaitkan. Ini semua harus kelihatan kayak aksi iseng anak kampung."
Semua orang terdiam menyadari beratnya konsekuensi jika mereka gagal. Bahkan Satria meskipun terlihat menikmati rencana ini, menjadi sedikit lebih serius.
"Tempatnya udah siap?" tanya perempuan itu.
Satria mengangguk. "Siap, ada gubuk kosong di ujung desa dekat hutan di pinggir sungai. Nggak ada orang yang bakal ke sana malam-malam."
"Bagus." Perempuan itu melirik mereka satu per satu, lagi memastikan semua orang paham tugasnya. "Kalian tau apa yang harus dilakuin. Jangan bodoh dan jangan sampai ada yang tau sebelum waktunya."
Mereka semua mengangguk, meski sebagian terlihat masih diliputi kegelisahan. Perempuan itu tersenyum tipis, lalu menarik selendang tipis yang ia kenakan ke atas kepala, menyembunyikan wajahnya lebih dalam dibalik bayangan.
"Gue bakal pastiin semuanya berjalan sesuai rencana," ucapnya, suaranya berubah menjadi bisikan.
"Dan jangan lupa, ini bukan cuma buat gue, ini buat kita semua." Suara menyeringai lagi, kali ini dengan mata yang berbinar penuh antusiasme.
"Tenang aja, gue pastiin cewek itu nggak bakal tau apa yang lagi nunggu dia nanti malam."
Dengan itu, perempuan itu melangkah pergi meninggalkan mereka. Mereka berdiri di sana beberapa saat lagi sebelum satu per satu membubarkan diri membawa bayang-bayang rencana gelap yang akan segera mereka laksanakan.
Satria memperhatikannya hingga sosoknya menghilang di balik pepohonan. "Dia benar-benar membenci cewek itu."
Salah seorang temannya mengangguk. "Kelihatannya begitu."
Satria menyeringai. "Yang jelas..."
Ia membuang puntung rokok ke tanah lalu menginjaknya. "...malam nanti bakal jadi malam yang panjang."
Sementara itu, jauh dari tempat tersebut, Azel sama sekali tidak mengetahui bahwa seseorang tengah menyusun rencana terhadap dirinya.
Ia masih sibuk mempersiapkan rangkaian acara malam puncak bersama anggota BEM lainnya.
Tanpa mengetahui bahwa seseorang sedang menunggunya melakukan satu kesalahan kecil.
Satu langkah menjauh dari keramaian. Dan malam itu akan mengubah seluruh suasana pengabdian mereka.
***
Desa itu sedang sibuk. Suara air mengalir dari pipa-pipa yang baru dipasang terdengar bersahutan dengan suara para pemuda desa dan anggota BEM yang tengah memindahkan material untuk proyek irigasi sederhana.
Terik matahari menyengat kulit, tetapi tidak menyurutkan semangat mereka.
Di salah satu sisi area proyek, Fariz berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya menyapu setiap sudut pekerjaan, memastikan pemasangan pipa berjalan sesuai rencana.
Ihsan yang berdiri di sampingnya sambil membawa sekop mencoba membuka percakapan.
"Kayaknya proyek ini bakal selesai lebih cepat dari perkiraan."
"Semoga aja," jawab Fariz singkat tanpa mengalihkan pandangan.
Namun beberapa detik kemudian, tatapannya berhenti. Dari arah jalan setapak yang mengarah ke hutan kecil, terlihat dua sosok berjalan berdampingan.
Fariz mengernyit. Semakin dekat. Semakin jelas..Salah satunya adalah Azel..Dan laki-laki di sampingnya....Fariz membelalakkan mata.
"Pak Ibra?"
Ihsan ikut menoleh.."Oh iya..Ngapain Pak Ibra dari arah sana?"
Fariz tidak menjawab..Entah kenapa, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman ketika melihat keduanya berjalan bersama.
Tak lama kemudian, Azel dan Ibra tiba di area proyek.
Fariz langsung menghampiri. "Pak."
Ibra mengangguk. "Hm?'
Tatapan Fariz kemudian beralih kepada Azel. "Kenapa kalian bisa bareng?"
Azel mengangkat bahu. "Tadi nggak sengaja ketemu, Kak."
"Di sana?"
"Iya."
Fariz melirik jalan setapak di belakang mereka. "Terus Pak Ibra dari mana?"
"Saya memang ingin mengecek perkembangan proyek," jawab Ibra tenang.
Ihsan mengangguk. "Oh, kalau begitu pas banget, Pak. Kami juga baru selesai memasang sebagian pipa."
Ibra mengangguk lalu mengalihkan pandangan ke arah proyek. "Bagaimana perkembangan terakhir?"
Fariz langsung menjelaskan kondisi proyek. "Alhamdulillah, debit airnya mulai stabil. Tinggal beberapa sambungan lagi."
"Bagus."
Fariz kemudian menatap Azel yang berdiri sedikit di belakang Fariz. "Kamu sudah membersihkan pakaianmu?"
Azel menunduk melihat roknya yang masih menyisakan sedikit noda. "Belum, Kak."
"Jangan dibiarkan terlalu lama."
"Iya."
Ibra memperhatikan percakapan itu. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan dari kata-katanya. Melainkan dari cara Fariz memperhatikan Azel.
Ibra kemudian menatap Azel. "Kamu tadi jatuh di dekat sungai, kan?"
Azel mengangguk. "Iya."
"Makanya jangan terlalu dekat ke tepian."
"Saya tau, Pak."
Fariz tiba-tiba ikut menyela. "Saya juga sudah mengatakan hal yang sama."
Ibra menoleh. Tatapan keduanya bertemu. Untuk beberapa detik, suasana terasa sedikit kaku.
Ihsan yang menyadari perubahan suasana langsung berdeham.
"Uhuk..Kayaknya kita lebih baik fokus ke proyek dulu."
Azel menahan senyum. "Setuju."
Fariz kembali menghadap pekerja desa.
"Zel, kamu istirahat dulu kalau masih sakit atau pusing."
"Saya nggak apa-apa, Kak."
Ibra langsung menimpali, "Dia memang harus istirahat."
Azel menoleh cepat. "Pak, saya benar-benar nggak apa-apa."
Ibra menatapnya. "Saya tau kamu selalu bilang begitu. Tapi bukan berarti kamu selalu baik-baik saja."
Azel terdiam. Fariz pun ikut diam.
Ihsan menggaruk tengkuknya. Dalam hati ia hanya bisa berpikir satu hal. Wah... ini kayaknya bakal panjang.
Sementara Fariz kembali menatap Ibra. Kini ia mulai memahami sesuatu. Mungkin kedatangan Ibra ke desa bukan sekadar untuk mengawasi kegiatan BEM.
Dan mungkin perhatian dosennya kepada Azel bukan lagi sekadar perhatian seorang pembina kepada mahasiswa.
***
Malam ini angin sepoi-sepoi berhembus lembut di desa yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota. Di lapangan terbuka yang luas, para mahasiswa dan warga desa berkumpul setelah selesai menghadiri acara tabligh akbar yang dipandu oleh Ustadz Thoriq, seorang ustadz terkenal di desa itu. Cahaya dari lampu taman yang terbatas memberi kesan hangat di tengah kegelapan malam, menyinari wajah-wajah yang penuh harapan dan syukur.
Pak Ibra yang mengenakan pakaian sederhana namun elegan berdiri di samping Ustadz Thoriq. Meski pembawaannya tenang dan penuh wibawa, ada kelegaan di wajahnya. Keberhasilan acara dan kontribusi para mahasiswa dalam program pengabdian ini adalah sebuah prestasi yang membanggakan.
Tabligh akbar itu tidak hanya memberikan pencerahan spiritual bagi warga desa, tetapi juga menyatukan mereka dengan para mahasiswa yang datang dengan tulus ingin membantu.
"Alhamdulillah." Ucap Pak Ibra, suaranya mantap namun penuh rasa syukur. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga desa yang telah menerima kami dengan tangan terbuka. Kami sangat berterima kasih atas sambutan yang hangat ini," lanjut Pak Ibra yang tak lupa menerjemahkannya ke dalam bahasa Sunda yang halus agar para warga mengerti apa yang ia katakan.
Suasana di sekitar lapangan terasa penuh haru dengan sorotan mata warga desa yang begitu antusias dan menghargai setiap kata yang keluar dari mulut Pak Ibra. Wajah mereka penuh rasa terima kasih seperti sebuah beban yang terasa ringan setelah mendapat bantuan dari orang-orang yang peduli.
"Semoga apa yang telah kita lakukan di sini bisa memberikan manfaat yang besar untuk desa. Kami harap walaupun ini baru langkah pertama, hal ini bisa menjadi sebuah awal yang baik untuk kedepannya. Kami berharap program pengabdian ini dapat berlanjut dan memberikan solusi jangka panjang," Lanjut Pak Ibra dengan suara yang lebih dalam menggema di udara malam yang hening.
Di sisi lain, Ustadz Thoriq yang mengenakan sorban putih dan jubah hitam berdiri tegak dengan senyum penuh kebijaksanaan, mengangguk setuju mendengar kata-kata Pak Ibra. Ia merasa bangga bisa turut serta dalam momen penting ini. Para mahasiswa yang hadir di acara tersebut, beberapa diantaranya mengenakan jaket BEM, menyimak dengan penuh perhatian. Mereka merasakan kebanggaan tersendiri bisa menjadi bagian dari proyek pengabdian ini. Mereka telah bekerja keras membantu warga desa dalam membuat jaringan pipa dari sungai ke desa yang kini menjadi sumber air bersih pertama bagi desa ini.
Pak Ibra kemudian melanjutkan, "kami berharap desa ini akan terus berkembang dan kalau warga desa berkeinginan menambah fasilitas serupa, kami yakin dengan semangat gotong-royong, Anda semua bisa meniru apa yang telah kami lakukan. Tidak hanya itu, semoga persatuan kita dalam menjalankan program ini dapat membawa banyak kebaikan."
Warga desa yang hadir terlihat mengangguk, ada yang tersenyum lebar, sementara yang lain memandang dengan penuh rasa terima kasih.
Mereka merasa terberkahi karena kini mereka tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh ke sungai setiap hari untuk mendapatkan air. Sumber air yang dibuat oleh para mahasiswa telah memberi mereka kemudahan meskipun baru satu, namun bagi mereka itu adalah perubahan besar. Mereka merasakan bahwa perjuangan mereka untuk mendapatkan air bersih kini lebih ringan berkat bantuan yang datang dari para mahasiswa yang tak kenal lelah.
Pak Ismail, tokoh masyarakat desa yang sudah lanjut usia maju ke depan dengan langkah pasti. Wajahnya yang berkerut memperlihatkan kedalaman rasa syukur. Ia menyampaikan. "Terima kasih banyak Pak Ibra dan kepada semua mahasiswa yang telah bekerja keras. Kami merasa sangat tertolong sumber air baru ini meskipun baru satu sudah sangat membantu kami. Dan insya Allah kami akan belajar dari apa yang telah dilakukan oleh para mahasiswa untuk membuat sumber air lainnya. Ini adalah berkah bagi kami."
Pak Ibra tersenyum mendengar kata-kata Pak Ismail. "Kami hanya bisa memberikan sedikit, Pak Ismail. Tapi saya percaya dengan niat yang tulus dan usaha bersama, apa yang telah kami lakukan bisa menjadi contoh bagi Anda semua. Semoga ke depannya semakin banyak yang bisa menikmati manfaatnya."
Warga desa terlihat saling bertukar pandang. Beberapa di antaranya berbicara pelan dengan penuh keyakinan, berbagi rencana untuk memperbanyak sumber air. Seorang ibu yang mengenakan jilbab hitam berbicara kepada teman sebelahnya, "kalau sumber air pertama ini berhasil, kita harus bekerja sama agar kita bisa membuat lebih banyak lagi."
Anak-anak yang biasanya menghabiskan waktu dengan bermain di lapangan kini duduk diam dan menyimak obrolan orang dewasa. Mereka merasakan perasaan gembira karena mereka tahu hidup mereka akan lebih mudah dengan adanya air yang bersih dan dekat dengan rumah.
Pak Ibra menatap mereka dengan tatapan penuh harapan, merasa puas melihat hasil nyata dari kerja keras para mahasiswa. Suasana malam itu dipenuhi dengan kehangatan bukan hanya karena cahaya lampu, tetapi juga karena rasa kebersamaan yang terjalin erat antara mahasiswa dan warga desa, sebuah ikatan yang dibangun dengan hati yang tulus yang menyentuh banyak jiwa yang hadir malam itu.
"Semoga apa yang telah kita mulai ini dapat terus berlanjut. Dan semoga apa yang telah kita kerjakan bermanfaat untuk masa depan desa ini. Terima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi dalam program ini," Ucap Pak Ibra menutup pidatonya.
Warga desa pun bersorak memberikan tepuk tangan yang hangat. Suara tepuk tangan itu bergema di malam yang hening mengiringi berakhirnya acara tabligh akbar dan penutupan program pengabdian para mahasiswa. Mereka pulang dengan hati yang penuh harapan, sementara Pak Ibra dan para mahasiswa kembali ke tempat mereka menginap, merasa puas telah membuat perubahan yang nyata bagi desa ini.
Pak Ibra memandang ke arah Ustadz Thoriq yang masih berdiri di sampingnya lalu berucap, "semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita semua, Ustadz."
Ustadz Thoriq tersenyum dan mengangguk, "Insya Allah, Pak. Semoga Allah memberkahi usaha kita."
Pak Ibra mengangguk menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Malam itu dia merasa puas dan terharu seperti air yang mengalir dengan tenang. Perubahan kecil ini membawa harapan besar bagi masa depan yang lebih baik.
***
Malam semakin larut, suasana desa kembali tenang setelah acara tabligh akbar yang menyatukan hati para warga dan mahasiswa. Di antara riuhnya tepuk tangan dan salam perpisahan, di luar sana sebuah peristiwa mengerikan tengah berlangsung tanpa sepengetahuan siapapun.
Di ujung desa, tepatnya di jalur yang sepi dan terlindung dari pandangan, sekelompok pemuda tampak berkumpul. Mereka menyembunyikan diri di balik pohon-pohon besar, menunggu dengan sabar. Mereka adalah geng yang dikenal dengan nama Geng Satria, sebuah kelompok pemuda desa yang terkenal berandal dan tanpa ampun. Para pemuda ini meskipun terlihat biasa saja dengan pakaian kasual, memiliki mata yang penuh niat buruk. Di antara mereka, Satria adalah yang paling menonjol. Pria tinggi dengan tatapan tajam itu memimpin kelompok tersebut. Dan malam ini, dia memiliki niat yang jauh lebih gelap daripada sekadar terbiasa mereka mengganggu warga desa.
"Siap?" tanya Satria suaranya rendah namun penuh kepercayaan diri.
Temannya, Ucup, yang berdiri di sampingnya mengangguk. "Kita harus berhati-hati. Jangan sampai ketahuan sama warga, Sat."
Satria tersenyum miring. "Lo terlalu khawatir. Kan kita udah rencanain ini. Kita cuma harus pastiin kalau cewek itu nggak akan bisa kemana-mana."
Tak lama kemudian, sosok yang mereka tunggu akhirnya muncul.
Azel.
Gadis itu baru saja meninggalkan kerumunan mahasiswa setelah memastikan beberapa urusan kegiatan selesai. Ia berjalan seorang diri sambil menggenggam ponselnya.
Sebenarnya, ia hanya ingin mencari tempat yang sedikit lebih tenang untuk menghubungi Arjun. Siang tadi mereka hanya sempat berbicara sebentar, dan Azel berjanji akan meneleponnya lagi malam ini.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak beberapa meter sebelumnya, gerak-geriknya sudah diamati.
Azel terus berjalan. Sesekali ia menunduk melihat layar ponselnya.
Hingga— Satria mengangkat satu tangan.
Isyarat diberikan. Tiga orang pemuda langsung bergerak keluar dari persembunyian. Langkah mereka cepat.
Azel baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres ketika mendengar suara langkah dari belakang.
Ia spontan menoleh.
"Siapa—"
Belum sempat menyelesaikan kalimat, seseorang sudah berusaha menangkap lengannya.
Azel refleks melawan. "Lepasin!"
tor Ibra jangan manggil saya lagi sama Azel
yg sebelumnya lebih ke mes*m aja sih.