Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
"Gak lucu sama sekali ya, Dit! Gue ini adalah seorang pria tampan yang punya tingkat harga diri sangat tinggi!" gumam Reno sambil memajukan bibirnya cemberut kesal.
"Sst, udah deh jangan banyak protes. Sekarang gue lagi super sibuk, lo sebenarnya mau ngapain lagi diam di sini?" tanya Adit yang kini mulai kembali fokus menatap tumpukan berkas-berkas penting di atas meja kerjanya.
Reno perlahan bangkit berdiri dari sofa, lalu menatap kondisi pakaian jasnya yang tampak sangat menyedihkan dan penuh debu.
"Gue mau pinjam baju ganti milik lo dong, Dit. Gue nggak mungkin nekat pulang ke rumah pake setelan kostum ala manusia tarzan modern begini di jalan raya."
"Gue nggak ada stok baju ganti cadangan di dalam kantor ini, Ren. Kalau lo emang mau mengganti pakaian, lo harus pergi ke apartemen pribadi gue. Lokasinya deket kok, cuma lima menit dari gedung ini."
Adit merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan seutas kunci mobil mewah bersimbol kuda jingkrak beserta sebuah kartu akses apartemen, lalu meletakkannya di atas meja kerja.
"Bawa aja mobil mewah gue itu di parkiran basement. Biar nanti sore gue yang gantian bawa pulang motor sport merah lo yang suara knalpotnya berisik itu."
Reno dengan kecepatan kilat langsung menyambar kunci mobil mewah tersebut dengan semangat membara. "Siap dilaksanakan, Bos Radit!"
Namun, baru saja kakinya melangkah satu langkah mau keluar melewati pintu ruangan, Reno mendadak balik badan lagi. Ia membuka kembali celah pintu dengan ekspresi wajah yang sengaja dibuat semelas mungkin—bahkan hidungnya sengaja dikembang-kempiskan biar dramatis.
"Mau minta apa lagi kamu, hah?" tanya Adit tanpa menolehkan pandangannya dari berkas kertas.
"Dit... gue boleh sekalian pinjam kain jas hitam yang lagi lo pakai itu juga nggak?" Reno merengek memelas.
"Gue beneran malu banget kalau harus jalan lewat lobi lantai bawah. Nanti para staf karyawan lo yang cantik-cantik bisa mengira kalau gue ini adalah sesosok gelandangan komplek yang baru aja beruntung dapet hadiah giveaway mobil mewah. Gue juga takutnya bakal langsung dicegat sama komandan satpam di pintu parkiran basement."
Adit menghela napas panjang yang terdengar sangat frustrasi, lalu memutar kedua bola matanya sampai ke langit-langit plafon.
"Kebiasaan buruk lo dari zaman sekolah nggak pernah berubah ya! Dari dulu hobi banget bikin dompet gue rugi bandar!"
"Hehe, namanya juga ini kondisi darurat tingkat nasional, Dit! Sumpah demi apa pun, besok-besok gue bakal balik lagi ke kantor lo sebagai seorang pria mapan mandiri!"
Adit akhirnya menyerah kalah melawan keras kepala sahabatnya. Dengan sebuah gerakan tangan yang kasar, ia melepas jas hitam premium miliknya yang aroma parfum mahalnya sangat harum menawan, lalu melemparkannya begitu saja ke arah posisi Reno.
"Nih, tangkap! Awas ya lo kalau sampai kain jas mahal gue ini berubah wangi jadi bau tanah, lo bakal gue suruh ganti rugi sebesar sepuluh kali lipat dari harga aslinya!"
Hap!
Reno berhasil menangkap kain jas bermerek itu dengan sangat sigap. Meskipun kalau dilihat-lihat secara saksama, penampilannya saat ini sudah lebih mirip dengan sesosok gembel eksklusif interlokal.
Bagaimana tidak? Pakaian jas lamanya sudah robek compang-camping di sana-sini akibat terkena sabetan duri tanaman akasia di padang savana Afrika tadi.
"Siapa takut! Siap dilaksanakan, Bosku! Mark NCT mah emang terbukti paling baik sedunia!"
Tanpa berniat melepas kain jas lamanya yang sudah rusak, Reno secara ajaib langsung merangkap jas baru milik Radit begitu saja di luar baju lamanya. Alhasil, tumpukan dua jas tebal itu membuat postur bagian bahunya terlihat dua kali lebih lebar, tebal, dan luar biasa aneh. Wujudnya sudah persis mirip tokoh kartun yang pundaknya bengkak.
"Oke, gue pamit cabut dulu ya, Bro! Sekali lagi thank you berat bantuan logistiknya!" seru Reno sembari mengambil langkah seribu berlari keluar dari dalam ruangan kerja.
Radit sendiri hanya tampak menganggukkan kepalanya pelan tanpa menoleh. Sepasang matanya tetap fokus menatap tajam ke arah layar laptop, seolah-olah keberadaan Reno barusan hanyalah sesosok serangga pengganggu berwajah tampan yang kebetulan baru saja numpang lewat.
****
Sepuluh menit kemudian, suara deru decit ban mobil mewah terdengar nyaring mengerem di depan area lobi apartemen mewah milik Radit.
Berkat jarak antara kantor Abraham Company dan hunian apartemen yang sangat dekat, Reno sukses sampai di tujuan dengan kecepatan kilat. Ia mulai melangkah masuk melewati pintu depan dengan gaya jalan angkuh yang sengaja dibuat-buat.
Setelah menempelkan kartu akses pada mesin pemindai pintu lift besi, ia akhirnya sampai dengan sentosa di depan pintu unit apartemen pribadi milik sahabatnya yang mengusung konsep nuansa minimalis modern tersebut.
Reno langsung melangkah lebar menuju ke arah area kamar tidur utama. Rasa lengket di kulit akibat lumuran debu tanah Afrika, ditambah bonus bau keringat yang menyengat, membuatnya ingin segera mencium aroma sabun mandi.
"Mandi besar dulu lah ya gue. Masa pria dengan aset wajah seganteng ini baunya malah apek kayak asep knalpot motor," gumamnya sendirian.
Dua puluh menit kemudian...
Cklek!
Reno akhirnya melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan kepulan uap air hangat yang dramatis mengalir di belakang tubuhnya. Saat itu, ia hanya mengenakan selembar jubah mandi kain (bathrobe) berwarna putih bersih.
Ia melangkah santai menuju ke arah walk-in closet—sebuah ruangan khusus tempat penyimpanan pakaian yang ukuran luasnya sudah menyerupai butik baju elite di dalam mall.
Sepasang mata Reno seketika langsung berbinar-binar cerah melihat deretan koleksi pakaian mewah milik Radit. Jemari tangannya dengan sangat lincah langsung menyambar selembar kaos oblong, sebuah jaket model varsity, celana jeans robek, dan sepasang sepatu kets putih.
Ia kemudian mematut diri berdiri tegak di depan sebuah cermin kaca berukuran besar. Gaya penampilan street style yang diusungnya sore itu sudah tampak sangat maksimal, beneran menyerupai tren gaya airport fashion milik para idol K-pop papan atas.
"Beuh... cakep bener dah ah muka gue. Udah sah beneran mirip member TXT aja kalau dandanannya begini,"
Reno menyisir poni rambut hitamnya ke arah belakang menggunakan sela-sela jemari tangannya, lalu ia sempat-sempatnya mengedipkan sebelah mata genit pada bayangannya sendiri di cermin kaca.
Namun nahas, tepat pada detik itu juga, dunia di sekeliling Reno mendadak terasa berputar-putar ekstrem secara sepihak.
"Duh, kepala gue... kenapa dunianya jadi goyang dombret begini sih?"
Reno terpaksa mencengkeram kuat-kuat bagian pinggiran lemari pakaian agar tubuhnya tidak jatuh. Pandangan matanya mendadak buram bergoyang, seolah-olah ada selembar filter kabur tebal yang sengaja ditempelkan di kedua biji matanya.
Ia menepuk-nepuk kasar kedua pipinya berkali-kali—plak, plak, plak!—berharap penuh agar sisa kesadarannya bisa kembali terkumpul. Rasa ketakutan akan siklus teror mimpi buruk yang biasa menghantuinya mulai merayap naik memenuhi dada.
"Gue... gak boleh... pingsan di sini! Pokoknya gue gak bo—"
Brukk!!
Kalimat ucapan Reno seketika terputus bersamaan dengan ambruknya tubuh jangkung pemuda itu dalam posisi tengkurap pasrah di atas lantai kayu, layaknya wujud seekor cicak pohon yang jatuh bebas dari atas plafon rumah.
Ctak!!
Sebuah bunyi jentikan jari tangan yang terdengar sangat nyaring mendadak membuat tubuh Reno tersentak bangun dari tidurnya. Begitu ia membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar, ia tidak lagi melihat hamparan lantai kayu walk-in closet milik apartemen Radit.
Kini, ia mendadak sedang berada di dalam sebuah ruangan tertutup yang dipenuhi oleh pancaran lampu neon putih yang sangat menyilaukan pandangan mata.
Di sekeliling posisi duduknya saat ini, terdapat deretan meja rias besar yang penuh dengan taburan bedak, gantungan kostum-kostum panggung yang dipenuhi payet berkilau, dan aroma semerbak wewangian parfum mewah yang sangat menyengat indra penciuman.
"Gue sekarang lagi terdampar di dimensi mana lagi ini? Kok suasananya mirip banget kayak ruang ganti baju artis-artis TV?"
Reno menolehkan kepalanya ke arah kiri dan kanan dengan kondisi leher yang terasa kaku akibat kebingungan skala besar.
"Wahai anak muda yang gemar berdandan, kamu diwajibkan untuk segera menyelesaikan satu tugas darurat dariku! Segera!"