Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Adit duduk di tepi ranjang, diam dengan tatapannya yang tajam penuh curiga.
Saskia yang belum menyadari kemarahan suaminya tetap sibuk dengan riasannya di depan cermin.
"Mas, hari ini aku akan pulang telat karena ada rapat dengan para dekan" Ucapnya tanpa menoleh sambil memoles bibir tipisnya.
"Rapat? Setiap hari kamu rapat? Rapat apa lagi, aku bukan orang bodoh Sas yang dengan mudahnya kamu tipu dengan alasan rapat.Sekarang jujur padaku kamu mau rapat atau bertemu dengan pria lain".
Saskia meletakkan alat make upnya, menoleh ke arah Adit yang tampak murung penuh amarah.
"Mas, aku tuh benar benar ada rapat. Kamu curiga aku selingkuh? Gila kamu!".
Adit beranjak dan berjalan ke arah Saskia, mencengkram kesar satu lengan wanita itu.
"Kamu selingkuh atau enggak aku sudah mulai tidak mempercayaimu Sas. Tapi ingat saat kamu terbukti bermain di belakang ku, kamu akan mendapatkan balasan mengerikan dari ku, ingat itu!".
"Kamu mengancamku mas! Kamu tuh terlalu posesif...Cukup aku tidak ada waktu meladimu!" Ketusnya melepaskan paksa cengkraman tangan suaminya itu.
Saskia pun melangkah pergi meninggalkan Adit yang geram penuh amarah.
"Pa" Tiba tiba suara lembut menganggilnya.
Panggilan merdu sang putra membuatnya tersadar dan mengalihkan pandangan sambil mengusap wajahnya.
"Sayang, mau berangkat sekolah ya?" Ucap Adit pura pura tersenyum sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra.
"Iya pa, mama kenapa pa? Kalian bertengkar lagi?" Tanya Diego dengan polos.
Adit menarik nafas dalam dalam lalu mengusap lembut rambut kepala Diego sambil tersenyum tipis" Mama kalau bicara terkadang memang seperti itu sayang, apalagi kalau sedang lelah. Sudah sana berangkat sekolah, o iya suster Lena sudah bersiap tuh sana sana!" Perintahnya dengan suara lembut.
Suster Lena memang sudah siap di depan pintu dengan lembut dan senyum tipis yang senantiasa terukir di wajahnya yang semakin menambah aura kecantikannya keluar.
"Ayo tuan kecil kita berangkat sekolah " pintanya lembut tanpa memperdulikan Adit yang terus menatapnya.
"Ayo sus"
Mereka pun segera pergi meninggalkan Adit yang masih terdiam melihat punggung keduanya menghilang di depannya.
***
Satu minggu telah berlalu.
Adit dan Saskia serta dua anaknya kini tinggal bersama mamanya, begitu juga dengan Andriana dan Arnold yang juga tinggal di rumah yang sama sesuai keinginan mamanya.
Malam itu semua keluarga berkumpul untuk menikmati makan malam di rumah keluarga Wijaya.
Adit duduk berdampingan dengan Saskia, Andriana berdampingan dengan Arnold.
Mereka menikmati hidangan yang disajikan dengan nikmat.
Namun tiba tiba saja, sendok yang dipakai Andriana terjatuh, dan tidak ada yang menyadarinya karena sedang menikmati hidangan sambil bersendau gurau.
Andriana pun membungkuk untuk mengambil sendok.
Matanya membelalak sempurna ketika ia menyaksikan pemandangan yang begitu menjijikan ( Terlihat tangan Arnold sedang meraba dan meremas paha kakak iparnya bahkan semakin ke atas) Andriana mendecih penuh kekesalan tapi ia tidak memperlihatkan nya di depan keluarga.
Andriana kembali ke posisi duduknya dan bersikap biasa meskipun hatinya sangat kesal.
"Ma, mas Arnold aku ke dalam dulu ya" Andriana meletakkan alat makannya di atas piring yang masih penuh dengan makannya.
"Lo nak, kok gak dihabisin dulu makanannya?"Tanya mama mertua heran.
"Tiba tiba Andriana gak enak badan ma, ingin istirahat saja di kamar" Jawabnya datar tanpa menoleh hanya berhenti sejenak kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Mama menarik nafas panjang dan tidak mau lagi mempermasalahkannya, ia meminta yang lain untuk segera menyelesaikan makan malamnya terutama Diego yang sudah mulai mandiri.
"Diego sayang, nanti setelah makan main sama oma ya?"
" Siap oma"
"O iya sayang, nanti malam aku ada pertemuan dengan klien penting, kamu gak apa apa ya aku tinggal " Sahut Adit tiba tiba menatap istrinya.
Saskia terdiam sejenak, ia merasa suaminya sengaja memberikan ia kelonggaran agar bisa menangkap basah saat ia keluar nanti karena memang ia sudah mulai curiga kakak dirinya selingkuh.
"Sas" Panggil Adit yang membuat wanita itu tersentak.
" I-iya mas gak apa apa, lagi pula di rumah ada banyak orang, aku bisa main sama mereka".
Tak menunggu lama, Adit pun beranjak dari meja makan, mengambil tas kerjanya dan pergi mengendarai mobil sport mewah miliknya.
Diego, Daniar oma dan para suster serta asisten rumah tangga sedang berkumpul di ruang tengah menemani oma bermain dengan cucu cucunya.
Sementara itu Saskia yang sedang ditinggal suaminya pun memiliki kesempatan untuk bersama Arnold. Mereka berdua segera beradu mekanik di kamar, mencari celah dan kesempatan di antara keramaian.
Andriana hanya tersenyum tipis melihat keduanya masuk ke dalam kamar sedang berbagi peluh, ia menarik nafas panjang lalu meraih ponsel dan mulai menggeser layar untuk mencari nama seseorang.
"Van, aku mau kamu" Ucapnya tanpa basa basi lagi.
(Serius)
"Ihh beneran, kamu jangan jual mahal dong, ingat kan kesepakatan kita, kamu harus ada di saat aku butuh!"
(Baiklah )
"Ya udah kita ketemuan"
(Aduh aduh gak sabar banget sih)
"Devan!"
(Baik baik tapi kamu masuk dulu ke dalam kamarmu)
Dengan bingung Andriana mengikuti perintah Devan, masuk ke dalam kamarnya tanpa menutup sambungan telponnya.
Ceklek
Mata Andriana melotot seperti mau lompat dari tempatnya begitu melihat Devan sudah duduk di tepi ranjang dengan senyum tipis.
"Hahhh Devan! Ngapain kamu ke sini! Kalau ada yang tahu gimana?"
"Tidak ada yang bakal tahu sayang"
Andriana bergegas mengunci pintu kamarnya dan berjalan cepat ke arah Devan " Bagaimana kamu bisa ke sini Van?Gila kamu!"
Sret
Devan menarik tubuh Andriana, merebahkannya di atas ranjang, ia mengungkung Andriana di bawah tubuhnya.
"Aku memang sudah gila, aku benar benar gila karena kamu sayang".
Cup
Adegan selalu diawali dengan kecupan penuh gairah di bibirnya, sebelum akhirnya berlanjut ke adegan panas yang membuat nafas tersengal sengal dan keringat bercucuran meskipun berada di ruangan ber suhu rendah.
'Kau selingkuh,aku balas selingkuh mas, aku tidak bisa menahan diriku lagi. Kalau kamu gila, maka aku jauh lebih gila.Tapi di saat kamu hancur maka akan menjadi orang pertama yang akan bahagia melihat kehancuranmu ,atau kita akan sama sama hancur '.
"Hahhh, cukup Van, sudah cukup aku sudah tidak sanggup lagi,aku akui kamu sangat luar biasa" Ucap Andriana sambil mendorong tubuh Devan agar segera turun dari atas tubuhnya.
Devan yang juga sudah merasa cukup puas karena sudah berkali kali mencapai puncak pun segera turun dari tubuh wanitanya itu dan duduk bersandar sambil mengatur nafasnya.
Andriana beranjak dan bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi.
Devan yang masih berada di posisinya hanya terdiam melihat punggung Andriana hingga hilang di balik pintu kamar mandi.
'Setelah hari ini aku pastikan kamu akan sering mencariku sayang, tunggu saja hingga benihku tumbuh di dalam rahimmu'.