menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabinet Baru
Langkah Silva dan Kenya terhenti di ambang pintu kelas 12-A. Ruangan itu sudah cukup ramai, namun mendadak senyap begitu siluet tinggi Baffin dan rombongannya muncul di belakang mereka.
Sebelum Kenya sempat memilih bangku, sebuah lambaian tangan dari barisan tengah memecah kecanggungan.
"Silva! Kenya!"
Silva dan Kenya menoleh serentak. Mata kedua gadis itu membelalak sempurna saat mengenali cowok yang melambaikan tangannya pada mereka.
"Lo...?" cicit Kenya hampir tidak percaya.
Gavi tersenyum hangat, mengode dengan anggukan kepala agar mereka mendekat. "Duduk di sini aja, masih kosong."
Tanpa pikir panjang, Kenya langsung menarik lengan Silva untuk duduk di barisan dekat Gavi. Silva memilih bangku di sebelah Kenya, tepat di depan meja Gavi.
Saat Silva duduk, ia bisa merasakan tatapan tajam Baffin menghujam punggungnya. Baffin sendiri akhirnya memilih bangku di barisan belakang yang agak serong, tetap dalam jarak pandang untuk mengawasi Silva.
"Lo sekolah di sini ternyata, Gav?" bisik Kenya antusias.
"Kalian berdua pindah kesini?" Gavi balik bertanya dengan binar senang. Namun, belum sempat mereka bernostalgia tentang masa SMP, pintu kelas terbuka.
Seorang guru wanita paruh baya berwibawa masuk—Bu Ambar, wali kelas baru mereka. Tatapannya langsung tertuju pada Silva dan Kenya yang duduk sebelahan. "Anak baru?" Tanyanya.
Silva dan Kenya mengangguk kompak.
"Kalo gitu, boleh maju dulu untuk perkenalan." Pinta I Ambar.
Silva dan Kenya segera maju ke depan. "Lo dulu" celetuk Kenya setengah berbisik.
"Hai semuanya.. namaku Silvanna Razfiy Brazaska. Biasa dipanggil Silva." Ujar Silva pelan.
Kenya menyenggol lengan sahabatnya itu. "Lo pindahan dari sekolah mana?" Bisik Kenya lagi mengingatkan bagian yang tertinggal.
"Oh iya, aku pindahan dari starlight high school."
"Baik, temannya?" Sahut Bu Ambar.
"Nama gue Kenya Affana Zaire. Biasa dipanggil Kenya. Pindahan dari starlight high school juga." Imbuh Kenya cepat seperti biasa.
Setelah Silva dan Kenya balik ke tempat duduk masing-masing, Bu Ambar langsung mengetuk meja dengan pulpen.
"Baik, agenda pertama kita hari ini adalah pembentukan pengurus kelas. Ibu tidak mau tahu, hari ini struktur harus sudah lengkap. Siapa yang mau jadi ketua kelas?"
Hening.
Tidak ada satu pun murid yang mengangkat tangan. Menjadi ketua kelas 12 adalah hal terakhir yang diinginkan makhluk-makhluk pemburu SNMPTN di ruangan ini.
"Enggak ada?" Bu Ambar menghela napas.
"Kalau begitu, Ibu tunjuk. Baffin, kamu jadi ketua kelas."
"Jangan saya, Bu. Archard aja. Lebih cocok" tolak Baffin cepat, suaranya datar tanpa beban sambil menoleh sedikit, menatap cowok di sebelahnya.
"Setuju, Bu! Archard aja!" seru Novel memprovokasi, disusul sorakan kompak dari seisi kelas yang memanfaatkan momen untuk menyelamatkan diri masing-masing.
"Iya! Archard.. Archard ganteng." tambah Cyriel gak jelas.
Kaisan ikut-ikutan "bener Bu.. pasti tenang kalo Archard ketua kelasnya!"
Archard yang merasa ditumbalkan hanya mampu menghela napas berat. Wajahnya sekaku papan gilas, namun ia tidak membantah.
"Baik, Archard resmi jadi ketua kelas ya," sahut Bu Ambar puas, langsung menuliskan nama Archard di papan tulis. "Sekarang untuk posisi wakil. Ibu mau salah satu dari anak baru yang maju, supaya kalian cepat bergaul dengan lingkungan sini. Silva atau Kenya?"
Silva langsung terlonjak kaget dan refleks menunjuk Kenya.
"Kamu aja Kenya.." bisik Silva.
Melihat sahabatnya yang mendadak ciut, jiwa protektif Kenya langsung meronta. Ia menegakkan bahu dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Saya aja, Bu! Kenya!" seru Kenya tegas.
"Bagus. Kenya jadi Wakil Ketua Kelas," puji Bu Ambar.
Di barisan belakang, Kaisan terkekeh pelan. "Mampus lo, Ar. Wakil lo macan betina," bisiknya pada Archard yang dibalas dengan tatapan mematikan.
"Untuk sekretaris, Ibu tunjuk lola. Dan untuk bendahara..." Bu Ambar mengetuk-ngetuk dagunya, mencari korban berikutnya.
"Kaisan, Bu!" celetuk Novel lagi, tidak bisa menyia-nyiakan bakat jahilnya. "Kaisan kan anak sultan, Bu. Kalau uang kas kelas kita kurang, dia bisa langsung talangin pakai duit jajannya!"
Kelas kembali ramai dengan sahutan-sahutan ana kelas dua belas yang asal setuju. Kaisan langsung mengacungkan tinjunya ke arah Novel yang dibalas Novel dengan cengiran tanpa dosa.
"Ya sudah, Kaisan yang jadi bendahara kelas," putus Bu Ambar mengetuk meja dua kali, meresmikan susunan kabinet kelas 12-A yang baru.
Di depan papan tulis, nama Archard dan Kenya kini bersanding rapi sebagai pemimpin tertinggi kelas.
Kenya melirik ke belakang, menatap Archard dengan tatapan menantang, sementara Archard hanya membalasnya dengan tatapan super dingin sekaku es kutub. Hari pertama sekolah ini baru saja dimulai, namun aroma perang dingin sudah tercium sangat pekat.
Setelah Bu Ambar keluar dari ruang kelas untuk membiarkan anak-anak mulai bergotong-royong, suasana kelas langsung berubah riuh. Bunyi decitan meja yang digeser dan kibasan kemoceng mulai memenuhi ruangan.
Melihat situasi yang mulai chaos, Baffin bergerak cepat. Tanpa aba-aba, tangan kekarnya langsung meraih pergelangan tangan Silva, menarik gadis itu dengan lembut namun tegas menuju barisan bangku paling belakang.
"Kamu diam aja di sini," perintah Baffin begitu mendudukkan Silva di kursinya.
Silva mengerjap, menatap Baffin dengan bingung. "Lah, aku gak ikut bersih-bersih?"
Baffin bersedekap, menatap Silva datar dari ketinggian tubuhnya. "Emang kamu bisa bersih-bersih? Yang ada kamu malah ngancurin kaca lagi."
Mendengar sindiran itu, Silva langsung mengerucutkan bibirnya kesal. "Nanti kalau aku diomongin murid lain gimana?"
"Kamu emang udah diomongin dari tadi kali," sahut Baffin kejam namun jujur. Ia kemudian berbalik, mengambil sapu dan mulai membersihkan area sekitar bangku mereka, memosisikan tubuh tingginya sebagai tameng agar Silva tidak tersentuh oleh murid lain.
Silva hanya bisa pasrah. Gadis itu merapatkan tubuhnya ke arah meja Baffin, berusaha bersembunyi di balik punggung lebar tunangannya itu untuk mencari perlindungan.
Namun, ketakutan Silva benar-benar terjadi. Di sudut kelas dekat lemari, tiga orang siswi yang sedang memegang kemoceng dan sapu sejak tadi terus-terusan melirik ke arah Silva dengan tatapan sinis. Mereka adalah Lola dan teman-temannya.
"Gila ya, hari pertama sekolah udah caper banget. Belaga sok lemah lagi di depan Baffin," bisik Lola sambil mengibaskan kemocengnya dengan kasar.
"Iya, tadi pagi aja belaga sok jagoan mecahin kaca koridor. Sekarang malah ngumpet di ketiak cowok orang. Gak tahu malu banget," sahut temannya memandangi kuku-kukunya yang dicat bening.
Temannya yang lain ikut menimpali dengan dengusan sinis, "gak cuman caper dan belaga sok lemah. Liat aja satu kelas beres-beres dia malah jdi batu penonton."
"Gimana kalo Lo minta dia ambil pel-pelan apa ngapain gitu. Kesel gue liatnya diem aja. Padahal banyak yang bisa dikerjain." Sambung Lola.
Temannya mengangguk setuju. "Heh, anak baru!"
Silva dan Baffin menoleh. Tidak hanya dua orang itu. Melainkan satu kelas.
"Siapa yang lo panggil anak baru?" Kenya tiba-tiba menyahut dengan lantang. Gadis itu baru saja memeras kain lap basah di tangannya, gerakannya begitu bertenaga seolah ia sedang meremas jantung lawan bicaranya saat ini.
Wajah Kenya benar-benar killer, matanya menatap Gadis yang baru memanggil Silva tadi tanpa berkedip.
Gadis itu sempat tersentak namun langsung memasang wajah angkuh kembali. "Gue gak ngomong sama lo!"
"Tahu! Lo ngomong sama Silva, kan?" potong Kenya cepat dengan nada suara yang naik satu oktav, membuat beberapa murid di sekitar mereka langsung menghentikan aktivitas bersih-bersih. "Kenapa lo panggil dia anak baru? Dia punya nama. Lo gak denger tadi dia nyebut nama lengkapnya di depan?"
"Gue gak ngomong sama lo! Inget itu ya," desis lawan bicaranya yang mulai tersulut emosi.
Kenya maju satu langkah, "Silva urusan gue. Kalau lo mau ngapa-ngapain Silva, gue yang bakal lebih dulu ngapa-ngapain lo!" Ujar Kenya dengan nada rendah yang mengintimidasi.
Lola yang ada di belakang temannya langsung menyahut. "Lo nyari gara-gara sama gue? Lo gak tahu ya gue siapa di sekolah ini?"
Kenya menyunggingkan senyum seringai yang sangat meremehkan. "Emang Lo tahu gue siapa?" balik Kenya dengan nada dingin yang teramat santai namun penuh intimidasi.
Atmosfer kelas seketika mendingin. Di barisan belakang, Novel yang sedang menaiki meja untuk membersihkan kipas angin langsung melorot turun dengan mata berbinar-binar.
"Wah, seru nih. Ada acara duel macan betina," bisik Novel heboh,
"Lo pada manggil Silva mau ngapain?" Celetuk Baffin dingin.