Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ketenangan hari-hari Zuraida sangat terusik dengan anak-anak tirinya. Zuraida tak bisa diam lagi atas apa yang ditemukannya. Sean ditanya tak pernah menjawab jujur. Dipaksa tetap tak mau bicara jujur. Sena apalagi, anak itu semakin menjauh. Sangat asyik dengan teman-temannya.
Di suatu siang, Zuraida sudah berada di sekolah. Tapi bukan untuk menjemput Sena. Sebab suaminya menugasi supir untuk menjemput supaya Zuraida punya waktu lebih banyak belajar bersama Sean.
Rencananya, Zuraida akan membuntuti Sena. Pasalnya akhir-akhir ini pulang sekolah tak langsung pulang ke rumah karena alasan main.
Dengan tak sabarannya Zuraida duduk di kursi mobil yang disewanya. Menunggu Sean keluar gerbang namun ternyata tak keluar-keluar.
Beberapa jam berlalu.
Ternyata Sena keluar bersama anak kelas enam. Jantung Zuraida semakin tak karuan. Sangat takut jika Sena salah dalam pertemanan. Mengingat botol minuman yang ditemukannya. Kening Zuraida mengernyit. Sena tak pulang bersama supir, Sena ikut dengan seorang temannya.
Dengan hati-hati Zuraida mulai mengikuti. Mobil melaju dengan pelan, menjaga jarak dari mobil yang dinaiki Sena. Tentu saja hatinya campur aduk. Berharap Sena tak seperti yang ada di isi kepalanya.
Mobil Zuraida berhenti cukup jauh dari lokasi rumah di mana Sena dan temannya itu berada. Zuraida masih menunggu. Apa Sena akan pergi lagi setelah ini atau tetap berada di rumah temannya itu seperti yang selalu dikatakan Sean?.
Apa mungkin Sean melindungi Sena?.
Tiga jam lamanya Zuraida menunggu. Tak tahu apa yang dilakukan Sena di dalam rumah temannya. Sekarang Zuraida sudah bersiap lagi mengikuti Sena yang keluar dari rumah temannya sudah berganti pakaian. Tetap menjaga jarak dari mobil yang di depannya supaya tak dicurigai.
Sepanjang perjalanan Zuraida dibuat takut serta khawatir. Ke mana lagi tujuan Sean, padahal sudah pukul delapan. Kenapa tidak pulang?.
Zuraida hampir terkelabui, ia pun melihat yang dimasuki Sena dan temannya seperti rumah huni. Sampai ia memasukinya. Namun seorang pria bertubuh tegak menghadang langkahnya yang hendak mencari Sena.
"Maaf, Anda tidak boleh masuk tempat ini." Tegasnya dengan wajah garang.
"Kenapa bapak larang saya? Karena pakaian saya?." Zuraida menatap berani pria itu.
"Iya, tempat Anda bukan di sini."
"Apa bapak tahu? Ada anak kelas satu dan kelas enam SD masuk ke tempat ini dan bapak biarkan masuk. Itu jelas-jelasin sangat dilarang. Saya bisa menuntut tempat ini."
"Mereka bisa masuk karena prioritas dan pengecualian."
"Apa bapak bilang?," marah Zuraida.
"Mana ada prioritas untuk anak kecil masuk ke tempat ini. Dan bapak tahu? Saya orang tua dari anak kecil itu. Saya mau membawanya pulang, tempat ini bukan tempatnya. Bawa anak itu ke saya kalau bapak nggak mengizinkan saya mencarinya di sini."
"Baik, Anda tetap di sini. Saya akan membawanya untuk Anda."
Tak berselang lama petugas itu datang membawa Sena.
"Zuraida?," Sena terlonjak kaget.
"Pulang!," ajak Zuraida tegas.
"Nggak!."
"Saya telepon daddy kamu sekarang?," langsung mengeluarkan handphone dari saku gamis.
"Jangan, Zuraida!." Sena berusaha merampas handphone dari tangan Zuraida.
"Makanya pulang!," ajak Zuraida lagi semakin tegas.
"Nggak!," Sena masih menolak.
Tak mau keributan itu mengganggu pengunjung yang lain. Akhirnya penjaga membantu Zuraida membawa Sena keluar bahkan sudah duduk di mobil.
Mereka sama-sama diam. Sesekali saja Zuraida melirik Sena.
"Kamu mengikutiku?," tanya Sena memecah keheningan.
"Iya, saya lakukan itu karena saya khawatir sama kamu." Mengarahkan pandangannya pada Sena.
"Salah yang kamu lakukan itu, Sen. Tak ada alasan yang bisa digunakan untuk membenarkannya."
"Terus kamu mau lapor ke daddy?." Menatap balik Zuraida.
"Daddy orang tuamu. Dan sudah seharusnya daddy tahu."
"Kalau aku bilang mau berhenti, bisa nggak kamu nggak lapor daddy?."
Sejenak Zuraida terdiam, menatap intens mata sayu itu.
"Sudah berapa botol yang kamu habiskan?. Apa kamu tahu dampaknya apa bagi tubuhmu?." Tanya Zuraida lembut.
"Banyak, Zuraida. Tapi itu air minum biasa, Zuraida. Teman-temanku banyak yang meminumnya. Tubuh aku juga baik-baik aja. Aku nggak sakit. Masih bisa bangun pagi, sekolah." Sena membela diri.
Zuraida menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak kecil tak tahu apa-apa ini sangat polos dan gampang dimanipulasi.
Kring Kring
Zuraida hanya memandangi nama suaminya yang tertera pada layar handphone. Zuraida tak berniat menjawab panggilan itu sekarang.
Mobil yang dikemudikan Zuraida meninggalkan tempat itu. Beberapa kali Sena melirik Zuraida.
"Daddy yang meneleponmu?."
"Iya."
"Kamu akan bilang padanya, Zuraida?."
"Terpaksa, Sen."
"Aku mohon jangan, Zuraida." Tangan Sena memegang tangan Zuraida yang menyetir namun Zuraida tak merespon. Zuraida mempertimbangkan banyak hal.
Mobil melambat saat sudah mau di tempat tujuan. Dari sana mereka naik taksi.
"Kali ini saja jangan adukan aku sama daddy."
"Uang yang kamu habiskan untuk beli mainan apa aku gunakan untuk beli minuman itu?."
"Iya," Sena langsung mengaku.
"Astagfirullah..." sambil mengelus dada.
"Terus kalau daddy tanya mainannya bagaimana?."
"Nggak, daddy nggak bakal tanya, Zuraida."
"Kalau tanya bagaimana, Sen?."
"Tinggal bilang aja lagi dipinjem teman."
Kemudian Zuraida tersenyum samar.
"Jadi kamu udah siap bohong, ya?."
Sena terdiam.
"Sejak kapan kamu suka bohong?."
Sena kembali diam.
Taksi yang mereka naikin sudah berhenti di depan rumah. Keduanya turun dari taksi, Zuraida yang hendak memasuki rumah rumah duluan gamisnya ditarik Sena. Langkahnya terhenti, menoleh Sena.
"Aku mohon, Zuraida," Sena sangat memelas.
"Aku janji nggak akan minum lagi. Nggak akan ke club lagi. Nggak akan main sama mereka lagi."
"Kalian dari mana?," Pertanyaan Arfan menyambut keduanya dari dalam.
Wajah Sena seketika pucat. Sena sangat takut Zuraida mengadukannya. Sena takut dimarahi daddynya.
"Saya ajak Sena keliling, maaf jadi malam pulangnya."
Seketika wajah pucat itu memerah. Sena menatap Zuraida. Zuraida tak jadi mengadukannya.
"Oh, gitu, besok aku yang ajak kamu keliling. Mau?." Sambil merangkul Zuraida.
"Tentu saja saya mau." Zuraida membalas rangkulan suaminya.
"Terima kasih, Sen, sudah menemani saya. Sekarang kamu istirahat."
"Iya, Zuraida." Suara itu sangat pelan namun penuh kelegaan.
"Good night, Dad."
"Good night, Son."
Sena berlalu dari hadapan mereka. Ada rasa lega yang tak bisa dijelaskannya. Senyum pun terukir sama pada wajahnya. Ia memasuki kamar lalu menutupnya.
"Kamu dari club lagi?," tanya Sean dari tempat tidurnya.
"Iya, sayangnya cuma sebentar."
"Kenapa?." Tanya Sean penasaran.
"Zuraida mengikutiku."
"Apa?." Sean langsung turun dari tempat tidur. Beralih duduk di tempat tidur Sena.
"Terus apa yang terjadi?."
"Nggak ada." Sena menjatuhkan tubuhnya di tempat tidurnya setelah mengganti pakaiannya.
"Zuraida marah sama kamu?.
Sena menggeleng.
"Zuraida ngadu ke daddy?."
Sena juga menggeleng.
"Terus apa dong?."
"Iya nggak ada. Tadi aja Zuraida nggak ada bilang apa-apa sama daddy. Aku aman, Se."
"Serius?." Sean masih tak percaya.
"Tapi aku bilang pada Zuraida, aku nggak minum lagi. Nggak ke club lagi. Nggak main lagi sama mereka."
"Kamu mau tepati janjimu pada Zuraida?."
Sena terdiam.
Bersambung