"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Betapa Sesaknya Hati ini
Selama di mobil, aku hanya terdiam. Sejak tadi aku berusaha menyembunyikan air mataku agar tidak keluar. Namun, ternyata sekarang aku sudah tidak kuat lagi menahannya.
Aku sengaja duduk di pojok paling belakang agar bisa menyembunyikan air mata yang terus saja menetes. Sudah tidak kuat kutahan. Semoga tidak ada yang memperhatikanku.
Aku masih sibuk dengan kecamuk di dalam hati.
Antara aku kecewa pada diriku sendiri karena telah berharap kepada manusia. Lagi-lagi, kata-kata itu terus-menerus menghujam hatiku. Yah, aku telah salah karena berharap pada manusia, sampai lupa bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku sudah berada dalam ketetapan Allah.
Atau haruskah aku menyalahkannya?
Menyalahkan Ustadz Alam karena telah memberiku harapan palsu.
Lagi-lagi air mataku menetes.
Jangan keluar sekarang. Aku tidak ingin ada yang melihatku.
Pandanganku terus kuarahkan ke jalanan. Malam terasa begitu gelap, seperti hatiku yang sedang kelam.
Kendaraan berlalu-lalang di jalanan yang begitu ramai, seperti hatiku yang sedang dipenuhi banyak hal. Ada penyesalan, kemarahan, dan harapan yang masih tersisa.
Aku masih merasa ada harapan.
Kenapa aku masih berharap kepada seseorang yang sudah menyakitiku?
Ya, aku masih mengharapkannya.
Andai keajaiban itu datang, aku berharap keajaiban itu benar-benar datang kepadaku.
Suara azan Isya bersahut-sahutan, diiringi suara kendaraan yang terus berlalu di jalanan. Mobil kami pun berhenti di sebuah masjid besar di pinggir jalan.
Aku pamit kepada Umi untuk menginap barang satu hari di pondokku dulu.
Alasannya sederhana. Aku bilang bahwa aku baru saja merasa rindu kepada mereka.
Untungnya, Umi mengizinkan.
Mumpung masjid ini masih dekat dengan pondok.
Padahal, alasan utamanya jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat untuk kuucapkan.
Aku ingin sekali menangis sepuasnya.
Aku segera menghubungi Nada untuk menjemputku di masjid.
Setelah selesai salat Isya, Nada datang dengan motor Vario-nya.
“Umi, izin bawa Aisyah sebentar, ya. Rasanya sudah lama banget kami nggak ketemu. Hitung-hitung bantu-bantu juga masalah pondok yang lama,” kata Nada berpamitan kepada Umi.
“Iya. Hati-hati di jalan, ya,” jawab Umi.
Aku menghela napas pelan.
Entah Umi memang mengizinkanku semudah itu, atau beliau sebenarnya memahami sesuatu dari wajahku yang sejak tadi berusaha kusembunyikan. Aku tidak tahu. Dan untuk saat ini, aku tidak ingin memikirkannya.
Yang penting, aku diizinkan pergi.
Aku hanya ingin sampai di pondok secepatnya.
Bukan karena aku benar-benar rindu pada tempat itu. Setidaknya, bukan hanya itu.
Ada sesuatu di dalam diriku yang terasa penuh dan sesak. Sesuatu yang sejak tadi berusaha kutahan agar tidak tumpah di depan Umi.
“Yuk, Aisy,” ajak Nada.
Aku mengangguk pelan, lalu berjalan mendekati motornya.
Nada memang tidak kuberi tahu alasan sebenarnya mengapa aku ingin menginap di pondok lama. Aku hanya mengatakan bahwa aku sedang rindu pada mereka. Alasan yang tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.
Aku tidak tahu harus mulai bercerita dari mana.
Tentang harapan yang diam-diam tumbuh di dalam hatiku.
Tentang kata-kata yang terus terngiang sejak tadi.
Tentang seseorang yang entah bagaimana bisa membuatku berharap, lalu membuat harapan itu terasa begitu menyakitkan.
Aku takut kalau mulai bicara, air mataku akan kembali jatuh.
Maka, lebih baik aku diam.
Sepanjang perjalanan, Nada pun tidak banyak bicara. Sesekali ia melontarkan candaan, mungkin sengaja untuk mencairkan suasana.
Aku tahu ia sedang berusaha membuatku nyaman.
Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakan bahwa saat ini aku bahkan tidak tahu apa yang bisa membuatku merasa baik-baik saja.
Beberapa kali aku ingin menjawab candanya, tetapi bibirku terasa berat.
“Hmm,” hanya itu yang keluar.
Kadang aku hanya berdehem, berpura-pura mendengar, lalu kembali menatap jalanan di depan.
Angin malam menerpa wajahku. Seharusnya terasa menenangkan, tetapi justru membuat mataku kembali terasa panas.
Aku menundukkan wajah sedikit.
Sebentar lagi.
Aku terus mengulang kalimat itu dalam hati.
Sebentar lagi sampai.
Sebentar lagi aku bisa menangis.
Sebentar lagi aku tidak perlu lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun, semakin dekat dengan pondok, entah kenapa dadaku justru terasa semakin sesak.
Mungkin karena aku tahu, begitu sampai di sana, aku tidak akan bisa lagi lari dari perasaan yang sejak tadi berusaha kuhindari.
Sesampainya di pondok, aku langsung menuju kamar. Aku sempat menyapa beberapa ustadzah yang kutemui, lalu pamit untuk beristirahat.
Alasanku sederhana, aku bilang bahwa aku lelah.
Padahal, yang sebenarnya lelah bukan tubuhku.
Hatiku.
Begitu masuk kamar, aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur. Bahkan aku tidak sempat melepas jilbab, apalagi mengganti pakaian.
Kutarik bantal dan kututup wajahku dengannya.
Sejenak aku hanya diam.
Lalu, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah juga.
Aku menangis tanpa suara.
Membiarkan semua yang sejak tadi kupendam keluar, meski hanya dalam isak yang tertahan di balik bantal.
Tidak ada yang perlu tahu.
Malam ini, biarlah hanya Allah yang tahu betapa sesaknya hati ini.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏