Indonesia
NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Senapan

Pada malam yang sama, lima pria bergerak menjauhi Haven melalui jalur timur laut. Cahaya dari gerbang perlahan mengecil di belakang mereka, lalu lenyap ketika tanah menurun dan deretan bangunan terbengkalai menutup pandangan.

Mereka hanyalah satu dari banyak kelompok yang dikirim Tetua Joseph untuk mengawasi wilayah di sekitar permukiman. Setiap kelompok mendapat jalur berbeda dan perintah yang sama, memeriksa tanda-tanda pergerakan, tidak mengejar apa pun seorang diri, lalu kembali sebelum matahari terbit.

Perintah itu terdengar mudah ketika disampaikan di bawah cahaya obor dan di antara puluhan senapan. Setelah dinding Haven tertinggal, bahkan suara sepatu yang menginjak kerikil terasa cukup keras untuk memancing sesuatu keluar dari kegelapan.

John berjalan paling depan dengan senapan terangkat di dada. Di belakangnya ada Bruce, kemudian Carlos dan Erick, sedangkan Owen menempati urutan terakhir sambil beberapa kali menoleh ke jalan yang telah mereka lewati.

Bruce menjadi pemimpin kelompok karena ia lebih sering mendapat giliran patroli malam daripada empat orang lainnya. Usianya tidak jauh berbeda dari mereka, tetapi tubuhnya lebih tebal pada bahu dan leher, dan sikapnya yang tidak pernah ragu biasanya cukup untuk membuat orang lain mengikuti.

Malam itu, langkah Bruce tidak sekeras biasanya. Tangannya terus berada dekat pelatuk, sementara matanya memeriksa jendela pecah, pintu yang terbuka, dan celah hitam di antara reruntuhan.

Sebuah lampu minyak kecil tergantung pada ikat pinggang Erick. Kaca lampunya ditutup tiga sisi menggunakan lembaran logam agar cahaya hanya jatuh ke tanah di depan kaki mereka.

Sinar redup itu memperlihatkan rumput yang tumbuh menembus aspal dan tulang-tulang kendaraan yang telah lama dilucuti. Besi pada rangkanya memerah oleh karat, sedangkan kaca yang masih tersisa memantulkan bulan seperti mata kecil di permukaan tanah.

Bau lembap keluar dari bangunan-bangunan kosong. Di bawahnya terdapat aroma jamur, kotoran hewan, air tergenang, dan debu semen yang masuk ke mulut setiap kali mereka menarik napas terlalu dalam.

Tidak seorang pun menyebut tiga tandu di depan pondok Joseph. Namun, Bruce dapat melihat ingatan tentang benda-benda itu pada cara Owen merapatkan rahang dan cara Erick menghindari genangan gelap yang sebenarnya hanya berisi air hujan.

Mereka baru memasuki jalur di antara dua bangunan ketika Owen akhirnya berbicara. Suaranya pelan dan datang dari belakang punggung Erick.

“Kau pikir Remnant itu masih berkeliaran di sekitar sini?”

Bruce tidak langsung menoleh. Ia melangkahi sepotong pipa, lalu memberi isyarat agar John terus bergerak.

“Biar mereka datang. Kita akan membuat mereka mati sekali lagi.”

Kalimat itu terdengar lebih meyakinkan di dalam kepalanya. Setelah keluar, suaranya memantul pada dinding kosong dan kembali sebagai bisikan yang terasa terlalu ringan.

Erick menggeser senapannya ke bahu lain. Lampu pada pinggangnya ikut bergoyang, membuat bayangan mereka memanjang dan memendek pada puing-puing.

“Kau tidak melihat apa yang mereka lakukan pada tim sebelumnya?”

Ia menelan ludah sebelum meneruskan. Gerakan pada tenggorokannya terlihat dalam cahaya lampu.

“Mereka meninggalkan bagian yang tidak mereka makan.”

Bruce meliriknya dari sudut mata. Ia ingin menyuruh Erick menutup mulut, tetapi empat orang itu sudah membawa bayangan yang sama sejak meninggalkan Haven dan diam tidak akan menghapusnya.

“Bukan mayat hidup yang paling perlu kautakuti, Nak. Manusia yang masih bernapas jauh lebih pandai menyakiti orang.”

Ia melewati sebuah pintu yang menggantung pada satu engsel. Bau kayu busuk mengembus dari dalam ketika angin menggerakkannya beberapa jari.

“Raider akan membelah kepalamu hanya untuk mengambil sepatu. Slaver akan membiarkanmu hidup cukup lama untuk berharap mereka membunuhmu. Belum lagi orang-orang gila yang menyebut diri mereka ilmuwan dan menganggap tubuh manusia sebagai bahan percobaan.”

Owen tidak menjawab. Dari depan, John menoleh sebentar tanpa menghentikan langkah, lalu kembali mengarahkan senapan ke jalan.

Carlos mendengus pelan. Ia berjalan dengan laras senapan menghadap tanah, tetapi jari telunjuknya telah masuk ke dalam pelindung pelatuk.

“Remnant bukan mayat yang hidup lagi. Mereka tidak pernah benar-benar mati.”

Bruce menoleh kepadanya. Kerikil bergeser di bawah tumitnya saat ia berjalan menyamping beberapa langkah.

“Oh, ya? Lalu apa mereka menurutmu, si sok pintar?”

Carlos mengangkat bahu. Wajahnya yang kurus tetap menghadap jalan di depan.

“Manusia. Hanya saja, tidak banyak yang tersisa di kepala mereka.”

Bruce tertawa pendek melalui hidung. Tidak ada kelucuan di dalam suara itu, dan John mengangkat satu tangan agar mereka mengecilkan suara.

Carlos tetap melanjutkan setelah jarak mereka rapat kembali. Ia melirik Bruce untuk memastikan lelaki itu masih mendengarkan, lalu merendahkan suaranya.

“Aku mendengarnya dari perempuan tua yang membantu klinik. Orang-orang yang terkena radiasi saat perang besar tidak semuanya mati. Pada sebagian dari mereka, radiasi merusak otak sedikit demi sedikit sampai yang tertinggal hanya rasa lapar, marah, dan naluri untuk mengejar apa pun yang bergerak.”

John memperlambat langkah tanpa menoleh. Suaranya datang dari depan, nyaris tertelan oleh gesekan sepatu mereka.

“Jadi mereka seperti binatang?”

“Kurang lebih. Binatang yang pernah menjadi manusia.”

Bruce mengusap hidung menggunakan punggung tangan. Bau busuk dari tiga tandu seakan kembali menempel pada kulitnya ketika ia mendengar kalimat itu.

“Omong kosong. Kalau tubuh mereka masih hidup, jelaskan bagaimana mereka bertahan selama lima puluh tahun dalam keadaan begitu.”

Ia menunjuk kegelapan menggunakan dagu. Bayangan atap runtuh memotong bulan di atas mereka.

“Beberapa bangkai itu kelihatan cukup tua untuk sudah mempunyai cucu sebelum Red Winter.”

Carlos merapatkan bibir. Untuk beberapa langkah, hanya bunyi napas mereka yang terdengar.

“Bagian itu aku tidak tahu. Mungkin radiasi mengubah tubuh mereka juga.”

“Mayat hidup lebih masuk akal.”

Carlos menoleh dan memberi Bruce senyum tipis yang segera hilang. Cahaya lampu menyentuh sebelah wajahnya, memperlihatkan keringat yang sudah muncul meskipun udara malam terasa dingin.

“Tentu saja. Jauh lebih masuk akal.”

Bruce membiarkan ejekan itu berlalu. Ia menunjuk John agar mengambil jalan di sebelah kanan, menuju sebuah bangunan panjang yang atapnya telah runtuh pada bagian tengah.

Mereka memasuki lorong yang dahulu mungkin memisahkan deretan toko. Tulisan pada papan-papan di atas pintu telah mengelupas, dan tanaman rambat menutup dinding sampai hanya beberapa huruf pudar yang masih terlihat.

Langkah mereka menjadi semakin pelan. Serpihan kaca menutupi lantai, memaksa John mencari tempat pijakan di antara tumpukan pecahan dan potongan logam.

Lampu Erick tidak mampu mencapai ujung lorong. Cahaya kuningnya berhenti beberapa langkah dari mereka, sedangkan bagian lain memanjang sebagai lubang hitam dengan pintu-pintu terbuka pada kedua sisi.

Bruce mulai menyesali keputusan memasuki tempat itu. Mereka tidak menemukan jejak kaki, darah, atau sisa makanan yang dapat dibawa sebagai laporan, hanya terlalu banyak ruang yang tidak dapat dilihat sekaligus.

“Cepat sedikit. Setelah keluar dari sini, kita mengitari jalan lama dan kembali ke Haven.”

Ia menekan suara sampai nyaris berbisik. Kata-katanya tetap memantul pada langit-langit yang tersisa dan berlari mendahului mereka menuju kegelapan.

John tidak menjawab. Ia berjalan beberapa langkah lagi, kemudian berhenti begitu mendadak hingga Bruce hampir menabrak punggungnya.

Tangan kiri John terangkat dengan kepalan tertutup. Kelima pria itu langsung membeku di tempat masing-masing.

“Ada apa?”

Owen mengucapkannya dari belakang. Suaranya begitu kecil hingga Bruce hampir tidak menangkapnya.

John memiringkan kepala. Laras senapannya mengikuti gerakan matanya menuju salah satu pintu di sisi kiri.

“Diam. Dengarkan.”

Mereka menahan napas. Lampu minyak mengeluarkan bunyi mendesis halus, dan suatu tempat di atas kepala meneteskan air dengan jarak yang teratur.

Selain kedua suara itu, tidak ada apa-apa. Tidak terdengar serangga, tikus, burung malam, ataupun angin menyusup melalui bangunan.

Bruce lebih menyukai suara langkah daripada kesunyian semacam itu. Jantungnya memukul tulang rusuk begitu keras hingga ia khawatir John akan mengiranya sebagai bunyi dari dalam ruangan.

“Aku tidak mendengar apa pun,” bisik Erick.

Geraman rendah menjawab dari kegelapan. Suara itu kasar dan basah, seperti udara yang dipaksa melewati tenggorokan berisi lendir.

Bunyi tersebut muncul dari depan mereka, berhenti, lalu terdengar lagi dari sebuah ruangan pada sisi kanan. Kelima senapan terangkat hampir bersamaan.

Kayu popor membentur bahu dan beberapa bagian logam berdenting karena tangan yang bergerak terlalu cepat. Bruce mengarahkan laras menuju pintu kiri.

Tidak ada tubuh muncul di sana, tetapi sesuatu menggores bagian dalam dinding dengan gerakan lambat. Suaranya terdengar cukup dekat untuk membuat kulit pada tengkuk Bruce menegang.

Kuku menyentuh semen. Krek, krek, krek, kemudian berhenti saat Bruce menggeser kakinya.

Suara lain datang dari belakang mereka. Kali ini terdengar seperti telapak kaki yang diseret melalui pecahan kaca tanpa memedulikan kulit yang terkoyak.

Erick berputar. Lampu di pinggangnya menyapu lorong, memperlihatkan lantai kosong dan bayangan kusen yang bergerak cepat pada dinding.

“Tetap rapat,” bisik Bruce. “Jalan lebih cepat.”

John kembali bergerak. Empat orang lain mengikutinya dengan punggung hampir saling menyentuh, masing-masing mencoba mengawasi pintu berbeda sambil menghindari serpihan di bawah kaki.

Geraman mengikuti mereka. Kadang muncul dekat sekali dari balik dinding, kemudian menjauh dan datang lagi dari arah yang mustahil dicapai tanpa berlari.

Ada suara napas lain di antara napas mereka. Tarikannya pendek, tersendat, lalu diikuti bunyi gigi yang beradu.

Bruce tidak lagi berusaha mencari sumbernya. Ia hanya memandangi bidang pucat di ujung lorong tempat cahaya bulan menandai jalan keluar.

Mereka bergerak semakin cepat. Serpihan kaca pecah di bawah sepatu dan lampu Erick menghantam pahanya berulang kali, tetapi tidak ada yang meminta mereka memperlambat langkah.

John mencapai jalan terbuka lebih dahulu. Ia keluar dari bangunan, berjalan beberapa langkah, kemudian berbalik untuk menghitung orang yang mengikutinya.

Bruce muncul setelahnya bersama Carlos dan Erick. Udara malam yang terbuka mengenai wajah mereka, tetapi tidak seorang pun menurunkan senapan.

John menggerakkan tatapan dari satu wajah ke wajah lain. Mulutnya terbuka ketika ia sampai pada ruang kosong di belakang Erick.

“Mana Owen?”

Erick langsung menoleh. Lampu pada pinggangnya menyinari lorong yang baru mereka tinggalkan, tetapi cahaya itu hanya mencapai pecahan kaca dan pintu pertama.

“Dia tadi ada di belakangku.”

Mereka mencari ke segala arah. Bruce mencoba mengingat kapan terakhir kali mendengar langkah Owen, tetapi tidak menemukan apa pun di antara bunyi kaca dan napas mereka sendiri.

Jeritan melengking pecah dari dalam bangunan. Suara Owen melonjak begitu tinggi hingga tidak lagi terdengar seperti suara seorang pria.

Ia meneriakkan nama John satu kali sebelum bunyi basah menutup suaranya. Terdengar daging ditarik dengan keras, lalu sesuatu yang berat membentur lantai.

Jeritan kedua berubah menjadi lenguhan panjang yang bergetar bersama suara kunyahan dan napas rakus. John merapatkan popor senapan ke bahunya.

“Owen!”

John melangkah menuju lorong. Carlos meraih bagian belakang kemejanya dan menariknya begitu keras hingga kerah mencekik leher John.

“Lepaskan aku. Kita harus menariknya keluar.”

Carlos tidak melepaskan genggamannya. Wajahnya pucat saat ia menggeleng, dan matanya tetap tertuju pada kegelapan di dalam bangunan.

Jeritan Owen terpotong. Sesudahnya, geraman yang semula menyebar dari berbagai arah menyatu menjadi banyak suara yang bergerak mendekati jalan keluar.

Sesuatu muncul pada pintu di sisi lain jalan. Bentuknya menyerupai pria kurus yang berjalan membungkuk, tetapi satu lengannya menggantung lebih panjang karena bahunya telah terlepas dari tempatnya.

Makhluk kedua merangkak keluar melalui jendela. Kulit kepalanya terbuka sampai tulang tengkorak terlihat, dan rahangnya bergerak mengunyah meskipun mulutnya kosong.

Erick mundur satu langkah. Tumitnya menginjak batu dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan sesaat.

Remnant ketiga keluar dari sudut gelap tepat di belakangnya. Tubuh itu menghantam punggung Erick sebelum siapa pun sempat memberi peringatan.

Kedua lengannya melingkari dada pemuda tersebut, sementara gigi-gigi cokelatnya menutup pada sisi wajah di bawah telinga. Erick menjerit dan menarik pelatuk.

Senapannya meletus ke udara, memuntahkan cahaya putih yang membuat setiap bayangan di jalan muncul sekaligus. Makhluk itu menggigit lebih dalam.

Ketika Erick membanting kepala ke belakang, sebagian pipi dan telinganya tertinggal di antara gigi Remnant. Darah menyembur dari sisi wajahnya dan membasahi kerah.

Erick meraba luka menggunakan satu tangan, sedangkan tangan lain masih berusaha mengarahkan senapan ke belakang tubuhnya. Bruce menembak Remnant tersebut pada dada.

Pelurunya merobek tulang rusuk dan membuat makhluk itu terhuyung, tetapi lengannya tidak terlepas dari Erick. Carlos mengangkat laras dan menembak kepala makhluk itu dari samping.

Bagian belakang tengkoraknya pecah, menyebarkan serpihan tulang, rambut, dan cairan hitam ke bahu Erick. Tubuh Remnant jatuh dengan tetap mencengkeram pakaian korbannya.

Erick baru sempat menarik satu lengan dari pelukan itu ketika bentuk-bentuk lain keluar dari setiap pintu dan celah di sekeliling jalan. Ada belasan pada pandangan pertama.

Sesaat kemudian jumlahnya berlipat karena lebih banyak tubuh turun dari jendela, merangkak dari bawah kendaraan, dan berlari terpincang-pincang dari lorong yang baru mereka lewati. Erick mengangkat senapan sambil tersedak darahnya sendiri.

Darah mengalir memasuki mulutnya saat ia berusaha berteriak kepada yang lain. Tiga Remnant mencapai dirinya bersamaan.

Satu menerkam pinggangnya, satu menggigit lengan yang memegang senapan, sedangkan yang terakhir menabrak kedua lututnya dari depan. Erick jatuh terlentang.

Kepalanya menghantam aspal dan lampu minyak pada ikat pinggangnya pecah, menumpahkan api kecil pada pakaian serta tubuh-tubuh yang menindihnya. Bruce, Carlos, dan John menembak ke arah kerumunan.

Setiap letusan menerangi wajah busuk, gigi terbuka, lubang hidung yang telah runtuh, serta tangan-tangan kurus yang saling mendahului untuk mencapai daging hidup. Peluru menjatuhkan beberapa di antaranya.

Tubuh yang terkena pada dada atau perut hanya tersentak sebelum kembali berdiri, sedangkan yang kehilangan bagian kepala tersungkur dan diinjak oleh makhluk lain dari belakang. Erick masih bergerak di bawah tumpukan.

Salah satu Remnant menarik lengannya sampai sendi bahunya terlepas dengan bunyi tumpul, lalu dua makhluk lain mencabik perutnya melalui kemeja. Kain robek dan kulit terbuka bersama-sama.

Isi perut yang licin terangkat di antara jari-jari hitam, mengepul dalam udara malam sebelum beberapa mulut menunduk ke luka tersebut. Api dari lampu yang pecah mulai menjalar pada kaki Erick.

“Lari!”

Bruce menarik lengan Carlos. Mereka bertiga berbalik tepat ketika jeritan Erick berubah menjadi suara serak yang terputus-putus.

Mereka berlari meninggalkan jalan. Senapan menghantam punggung, napas mengoyak tenggorokan, dan sepatu mereka menendang batu ke segala arah.

Di belakang, geraman berubah menjadi raungan puluhan mulut. Langkah Remnant menghantam aspal tanpa irama, sebagian cepat dan sebagian terseret, tetapi seluruhnya mengarah kepada tiga tubuh yang masih hidup.

John berada beberapa langkah di depan. Ia melompati rangka pagar yang roboh, mendarat dengan buruk, lalu terus berlari sambil terhuyung.

Bruce mendengar sesuatu bergerak dari sisi kanan. Ia menoleh dan melihat tubuh-tubuh lain keluar dari bangunan sejajar dengan mereka, memotong jarak melalui halaman yang dipenuhi semak.

Tidak ada waktu untuk menghitungnya. Jumlahnya bisa puluhan atau bahkan ratusan, sebab di bawah cahaya bulan kepala-kepala pucat terus bermunculan sampai jalan di belakang tampak bergerak seperti satu massa.

John menabrak potongan beton yang tersembunyi di balik rumput. Ujung sepatunya tersangkut pada besi tulangan dan tubuhnya terlempar ke depan.

Dagu John menghantam tanah lebih dahulu. Senapannya lepas dan meluncur beberapa langkah, sedangkan salah satu lututnya terpelintir dengan arah yang salah di bawah tubuh.

“Tolong aku!”

Tangannya terulur kepada Bruce. Darah memenuhi mulutnya dan mengalir melalui sela gigi ketika ia berusaha menyeret tubuh menggunakan siku.

Bruce memperlambat langkah selama satu tarikan napas. Remnant pertama mencapai kaki John dan menutup kedua tangan pada pergelangan kakinya.

John menjerit saat tubuhnya ditarik ke belakang. Kuku-kukunya mencakar tanah, meninggalkan empat garis pada debu sebelum makhluk kedua jatuh ke punggungnya.

Bruce kembali berlari. Suara tembakan Carlos meletus sekali di sampingnya, tetapi jeritan John tidak berhenti sampai beberapa suara lain menutupinya.

Mereka menyeberangi bekas lapangan parkir dan mencapai jalan yang bercabang. Jalur kiri bergerak memutar ke selatan, sedangkan jalan kanan membawa mereka kembali menuju dinding timur Haven.

Bruce langsung memilih kanan. Cahaya samar pada menara gerbang belum terlihat, tetapi ia mengenal setiap retakan jalan tersebut.

Carlos menangkap lengannya. Tarikan itu hampir membuat keduanya jatuh, dan mereka terpaksa mengurangi kecepatan selama beberapa langkah.

“Kita harus menjauh dari Haven.”

Carlos mengucapkannya di antara napas yang patah. Keringat mengalir dari rambut pendeknya menuju dagu, lalu terlempar ketika ia menoleh ke belakang.

“Apa kau gila? Di sana ada dinding dan puluhan senapan.”

“Kau akan membawa semuanya ke gerbang.”

Geraman terdengar semakin dekat. Carlos mendorong bahu Bruce ke arah jalan selatan, tetapi Bruce menepis tangannya.

“Haven bisa membunuh mereka.”

“Kalau penjaga sempat menutup gerbang.”

Carlos berlari beberapa langkah ke selatan. Setelah menyadari Bruce tidak mengikutinya, ia berhenti dan memandang ke arah jalan menuju Haven.

“Istriku dan anakku ada di sana.”

Suara Carlos tidak lagi terdengar seperti perdebatan. Ia mengangkat senapan, mengisi peluru baru dengan tangan gemetar, lalu melihat kumpulan Remnant yang mulai memasuki lapangan parkir.

“Aku akan membawa mereka memutar. Kalau itu memberi keluargaku waktu untuk bangun dan menutup pintu, biarlah.”

Bruce memandang jalan selatan, kemudian menoleh kepada cahaya gelap tempat Haven berada. Rahangnya mengeras ketika ia mengangkat senapan.

“Baiklah kalau begitu.”

Carlos sempat mengangguk. Ia baru berbalik ketika letusan senapan Bruce menghantam malam.

Peluru menembus belakang lutut Carlos. Tempurungnya pecah dari dalam, menyemburkan darah dan serpihan tulang melalui kain celana.

Kakinya langsung terlipat. Carlos jatuh pada sisi tubuh dengan senapan terlepas, lalu kedua tangannya mencengkeram paha sementara tumitnya bergerak tanpa mampu mengendalikan bagian bawah kaki.

Ia menatap Bruce dengan mulut terbuka. Selama sesaat, rasa sakit seakan membuatnya lupa cara mengeluarkan suara.

Bruce sudah berlari menuju Haven ketika teriakan Carlos akhirnya menyusulnya. Teriakan itu berisi namanya, kasar dan penuh ludah, sebelum berubah menjadi makian yang pecah oleh napas.

Remnant mencapai Carlos beberapa detik kemudian. Tembakannya terdengar dua kali dari belakang, disusul bunyi popor menghantam tulang dan jeritan ketika tangan pertama menutup kakinya yang hancur.

Bruce tidak menoleh. Ia terus berlari sementara suara Carlos berubah menjadi raungan panjang yang naik turun setiap kali gigi menembus bagian tubuh lain.

Satu jeritan terakhir terdengar lebih tinggi daripada yang lain. Setelah itu hanya tersisa geraman, bunyi daging direbutkan, dan letusan senapan yang tidak pernah datang lagi.

Napas Bruce membakar paru-parunya. Rasa logam memenuhi mulut, dan luka lama pada sisi kakinya mulai berdenyut setiap kali telapak sepatu menghantam tanah.

Namun, suara pengejar di belakangnya semakin jauh. Pengorbanan Carlos telah menahan mereka, sama seperti yang diharapkan Bruce ketika menarik pelatuk.

Jalan mulai menanjak. Setelah melewati kerangka sebuah bus, Bruce akhirnya melihat dua titik api pada menara gerbang Haven.

Cahaya itu kecil, tetapi cukup untuk membuat langkahnya bertambah cepat. Ia membayangkan penjaga di atas dinding melihatnya datang, membuka gerbang, lalu mengarahkan seluruh laras mereka pada makhluk-makhluk di belakang.

Tidak ada lagi geraman yang terdengar. Bruce menoleh sambil tetap bergerak dan hanya melihat jalan kosong di bawah cahaya bulan.

Ia memperlambat langkah. Dadanya naik turun begitu keras hingga tali senapan menggesek leher, sementara keringat dingin membuat kemejanya melekat pada punggung.

Bruce mendengarkan beberapa saat. Tidak ada langkah, tidak ada kuku yang menyentuh jalan, dan tidak ada suara Carlos.

Senyum kecil mulai menarik bibirnya. Ia baru saja mengangkat wajah ke arah gerbang ketika sesuatu keluar dari parit di sisi jalan.

Tubuh itu menghantam rusuknya dengan bahu. Bruce terangkat dari tanah, berputar, lalu jatuh pada punggung sampai udara terlempar keluar dari paru-parunya.

Senapannya terlepas dari tangan. Remnant di atasnya kurus dan hampir telanjang, dengan kulit perut terkelupas sampai otot berwarna hitam terlihat di antara tulang rusuk.

Mulutnya menutup menuju wajah Bruce. Bau bangkai memenuhi hidungnya, pekat dan hangat, sementara air liur kental jatuh dari gigi makhluk itu ke pipinya.

Bruce menahan leher Remnant menggunakan lengan kiri. Rahangnya tinggal sejengkal dari matanya, terus membuka dan menutup dengan bunyi gigi yang beradu.

Ia meraba tanah menggunakan tangan kanan. Ujung jarinya menemukan tali senapan, lalu menariknya sampai popor menghantam pinggul.

Remnant mencakar bahunya. Kuku hitam menembus kemeja dan membuka empat garis pada kulit, tetapi Bruce berhasil mendorong laras senapan ke bawah dagu makhluk itu.

Ia menarik pelatuk. Letusan membuat telinganya berdenging.

Kepala Remnant tersentak ke belakang dan bagian atas tengkoraknya terbuka, menumpahkan cairan hitam serta serpihan pucat ke wajah Bruce. Tubuh makhluk itu jatuh menindih dadanya.

Bruce mendorongnya ke samping, berguling, lalu bangkit menggunakan satu lutut sambil menyeka darah busuk dari mata. Ia terbatuk sebelum tawa keluar dari tenggorokannya.

Suaranya bergetar oleh napas yang belum pulih, tetapi senyum lebar telah muncul pada wajahnya. Bruce mengangkat senapan ke arah mayat di dekat kakinya.

“Tetaplah mati, bangsat.”

Sesuatu menangkap bagian belakang kemejanya. Bruce bahkan tidak sempat berdiri tegak.

Tarikan keras membawanya jatuh ke belakang, lalu puluhan tangan muncul dari kegelapan dan menutup lengan, bahu, serta kedua kakinya. Remnant yang tadi tidak terdengar telah memenuhi jalan.

Mereka datang tanpa geraman, berlari membungkuk di balik kerangka bus dan parit sampai jaraknya terlalu dekat untuk dihindari. Bruce mengangkat senapan dan menarik pelatuk.

Hanya bunyi kosong yang keluar karena kamar pelurunya belum terisi kembali. Gigi pertama menutup pada bahu kirinya.

Tekanannya meremukkan kulit sebelum gigi yang patah menembus otot, lalu kepala makhluk itu menyentak ke samping dan merobek segumpal daging dari tubuhnya. Bruce menjerit.

Ia menghantam wajah Remnant menggunakan popor, tetapi tiga tangan lain menahan lengannya dan menariknya sampai sendi siku berbunyi keras. Sesuatu menggigit betisnya.

Gigi menggesek tulang, dan kaki Bruce menendang tanpa arah ketika tubuh lain menjatuhkan diri pada perutnya. Kuku-kuku menembus kemeja.

Jari-jari yang kaku merobek kain, kulit, dan lapisan lemak di bawahnya sebelum sebuah tangan masuk ke luka dengan gerakan menggali. Panas menyebar ke seluruh perut Bruce.

Ia menunduk dan melihat ususnya ditarik keluar seperti gulungan tali basah, berkilat merah dalam cahaya bulan sebelum lenyap di antara kepala-kepala yang berebut. Jeritannya berubah menjadi bunyi yang tidak lagi mempunyai kata.

Darah memenuhi tenggorokan ketika satu Remnant menekan dada dan makhluk lain menggigit sisi lehernya. Bruce masih melihat cahaya gerbang Haven di kejauhan.

Dua titik jingga itu bergoyang mengikuti tubuhnya yang diseret, lalu tertutup ketika wajah tanpa hidung menunduk di atas matanya. Rahang makhluk itu membuka lebar.

Hal terakhir yang dirasakan Bruce adalah gigi menembus pipi dan pelipisnya. Tekanannya terus menguat sampai tulang wajahnya retak.

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!