Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 Pengakuan di Balik Pintu Tertutup

Ruang kerja CEO di Lantai empat puluh dua Evander Corp biasanya adalah tempat yang nyaris tak tersentuh kekacauan.

Di balik dinding kaca yang menjulang tinggi, hiruk-pikuk kota tampak begitu jauh. Hanya suara samar pendingin ruangan, denting jam di sudut ruangan, dan sesekali dering telepon yang mengisi keheningan. Segalanya selalu teratur, terkendali, dan dingin persis seperti pemilik ruangan itu.

Namun, sore ini semuanya terasa berbeda.

Ketenangan yang selama ini menjadi ciri khas ruangan tersebut hancur oleh isak tangis seorang gadis yang berdiri gemetar di tengah-tengahnya.

Liora menundukkan kepala dalam. Bahunya bergetar hebat, seolah seluruh kekuatan yang sejak tadi ia gunakan untuk bertahan akhirnya runtuh dalam satu waktu. Kedua tangannya meremas ujung blazer dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Kacamata barunya sudah buram oleh embun air mata. Ia bahkan tidak lagi peduli apakah penampilannya terlihat berantakan.

Yang ia tahu, dadanya terasa sesak.

Terlalu sesak.

Beberapa detik sebelumnya, Ravian baru saja mengakhiri panggilan konferensi internasional dengan jajaran direksi dari tiga negara. Tatapan pria itu masih tertuju pada layar laptop ketika suara isakan kecil dari tengah ruangan membuatnya mengangkat kepala.

Dan saat melihat Liora, ekspresinya seketika berubah.

Raut wajah yang biasanya kaku dan sulit ditebak itu mendadak dipenuhi kepanikan.

Ravian langsung bangkit dari kursinya.

Tanpa memedulikan jas mahal yang sedikit kusut atau formalitas yang selama ini selalu ia jaga ketika berada di hadapan mahasiswinya, pria itu mengitari meja mahoni besar dengan langkah lebar.

"Liora?" suara Ravian terdengar lebih lembut dari biasanya. "Ada apa?"

Begitu sampai di hadapan gadis itu, Ravian langsung memegang kedua bahunya yang gemetar. Ia menuntunnya dengan hati-hati menuju sofa kulit hitam di dekat jendela.

"Duduk dulu."

Liora menurut dengan tubuh lemas.

Ravian berjongkok di hadapannya, menyamakan tinggi mereka. Sorot matanya menyapu wajah Liora yang basah, mencoba mencari tahu luka apa yang membuat gadis itu datang kepadanya dalam keadaan seperti ini.

"Kenapa menangis seperti ini?" tanyanya lagi, lebih pelan. "Apa yang terjadi?"

"P-Pak..." suara Liora nyaris tak terdengar. Ia menarik napas panjang, tetapi napas itu justru berakhir sebagai isakan.

"Maafkan saya..."

Ravian mengernyit. "Maaf untuk apa?"

"Ini semua salah saya..."

Ravian tidak langsung menjawab.

Tangannya terangkat perlahan, kemudian jemarinya menyentuh pipi Liora dengan hati-hati, menghapus jejak air mata yang mengalir tanpa henti.

"Tatap saya, Liora."

Liora perlahan mengangkat wajah.

"Tidak perlu terburu-buru," tatapan Ravian melunak. "Katakan pelan-pelan. Apa yang membuatmu sampai setakut ini?"

Mendengar nada suara itu, pertahanan Liora kembali runtuh. Dengan jemari gemetar, ia akhirnya menceritakan semuanya.

Tentang kejadian di lorong perpustakaan kampus siang tadi. Tentang Kaivan yang tiba-tiba muncul dan mengikutinya dari belakang.

Tentang bagaimana pria itu menunjukkan beberapa foto yang diambil semalam, foto dirinya bersama Ravian di depan gedung kantor Evander Corp.

Tentang tatapan penuh kebencian Kaivan ketika mengatakan bahwa foto-foto tersebut akan menjadi bukti yang cukup untuk menghancurkan reputasinya.

Dan yang paling membuat Liora ketakutan adalah ancaman terakhirnya. Besok pagi, Kaivan berniat menyerahkan foto-foto itu kepada Dekan dan Tim Etik Universitas.

Jika laporan itu diproses, semuanya bisa berubah menjadi skandal besar.

"Dia bilang..." suara Liora bergetar. "Dia bilang saya menjual diri demi nilai dan jabatan magang, Pak."

Ravian diam.

Namun, diamnya bukan berarti tidak bereaksi.

Liora menundukkan wajahnya kembali. Air mata baru kembali mengalir semakin deras.

"Dia meminta saya menjauh dari Bapak," jemarinya mencengkeram blazer semakin kuat. "Kalau saya tidak mau..."

Liora berhenti sejenak. Tenggorokannya tercekat. "Foto itu akan disebar."

Sebuah isakan pecah. Liora menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Karier Bapak sebagai dosen bisa hancur. Reputasi Evander Corp juga bisa ikut terseret karena saya..." kalimat terakhirnya nyaris tidak terdengar. "Saya tidak mau itu terjadi, Pak."

Udara di ruangan itu mendadak terasa berubah.

Hening. Terlalu hening.

Tangan Ravian yang beberapa saat lalu masih mengusap pipi Liora berhenti bergerak.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Ekspresi lembut di wajahnya menghilang.

Garis rahangnya mengetat kaku. Otot di pelipisnya menegang. Sorot mata cokelat tua di balik lensa kacamatanya berubah gelap, dingin, dan tajam.

Amarah yang begitu pekat bersemayam di sana. Bukan amarah yang meledak.

Justru sebaliknya. Amarah yang terlalu tenang.

Amarah seseorang yang sudah mengambil keputusan.

Namun, ketika kembali menatap Liora, Ravian memaksa seluruh kekerasan itu menghilang dari suaranya. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu.

Hangat.

Mantap.

Seolah hendak meyakinkan Liora bahwa selama ia masih berada di sana, tidak ada sesuatu pun yang boleh menyentuhnya.

"Dengarkan saya baik-baik, Liora Valeska," panggil Ravian, suaranya mengalun rendah, dalam, dan dipenuhi kepastian tak tergoyahkan.

Liora mengangkat wajah.

"Kamu tidak salah apa-apa."

"Tapi, Pak..."

"Tidak."

Satu kata itu terdengar tegas, tetapi tidak keras.

Ravian menggeleng perlahan. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas kebusukan orang lain."

Liora terdiam.

"Tidak ada seorang pun yang berhak menghinamu seperti itu," tatapan Ravian semakin tajam. "Dan tidak ada seorang pun yang boleh mengancammu."

"Tapi foto itu..."

"Foto itu bukan apa-apa bagi saya." Ravian memotong kalimat Liora tanpa keraguan sedikit pun.

Ia kemudian menegakkan tubuhnya dan mengusap puncak kepala Liora dengan lembut. Gerakan sederhana itu justru membuat dada Liora terasa semakin sesak.

Bukan karena takut.

Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak ancaman Kaivan, ia merasa benar-benar memiliki tempat untuk berlindung.

"Biarkan saya yang membereskannya."

"Tapi kalau Bapak sampai kehilangan posisi sebagai dosen karena saya..."

"Saya bisa menghadapi itu."

"Reputasi perusahaan..."

"Saya juga bisa menghadapi itu."

Liora menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ravian menunduk sedikit agar tatapan mereka kembali sejajar. "Kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian," suaranya rendah, tetapi setiap kata terdengar begitu pasti.

"Dan kamu sama sekali tidak boleh menjauh dari saya hanya karena gertakan seorang pengecut."

Liora tercekat.

Untuk beberapa saat, ia hanya mampu menatap pria di hadapannya.

Kemudian Ravian berbalik.

Wajah lembut yang baru saja ia tunjukkan kepada Liora lenyap seketika.

Pria itu berjalan menuju meja kerjanya, mengambil ponsel pribadi yang tergeletak di samping laptop. Jarinya menekan satu nomor panggilan cepat.

Satu dering.

Dua dering.

Panggilan tersambung.

"Julian."

Suaranya berubah.

Dingin.

Datar.

Mematikan.

Di seberang telepon, Kepala Tim Hukum Evander Corp langsung menjawab dengan nada siaga.

"Kumpulkan seluruh tim legal dan tim keamanan siber malam ini."

Ravian berdiri di depan jendela besar, memandang gemerlap kota yang mulai dinyalakan oleh malam.

"Saya punya satu nama," ia berhenti sejenak. Sorot matanya mengeras. "Dan saya ingin seluruh bukti mengenai orang itu dikumpulkan sebelum matahari terbit."

Julian tampaknya mengatakan sesuatu dari seberang telepon.

Ravian menjawab singkat. "Jangan lakukan sesuatu yang melanggar hukum."

Ada jeda.

"Tapi pastikan besok pagi, dia tidak punya ruang lagi untuk memutarbalikkan keadaan."

Panggilan berakhir. Ravian menurunkan ponselnya. Beberapa detik ia hanya berdiri diam.

Di belakangnya, Liora masih duduk di sofa, memandang punggung tegap pria itu dengan mata yang perlahan kehilangan ketakutannya.

Ia baru menyadari sesuatu.

Selama ini, Ravian memang dikenal sebagai pria yang dingin. Seorang CEO yang mampu membuat satu ruangan penuh eksekutif terdiam hanya dengan satu tatapan.

Seorang dosen yang terkenal tegas dan sulit didekati. Seorang pria yang seolah tidak membutuhkan siapa pun dalam hidupnya.

Namun, sore ini Liora melihat sisi lain dari dirinya. Sisi yang selama ini tersembunyi begitu dalam.

Ravian tidak sedang marah karena reputasinya terancam. Ia marah karena seseorang telah membuat Liora ketakutan.

Dan entah mengapa, kesadaran itu membuat dada Liora terasa hangat.

"Pak..."

Ravian menoleh.

Liora menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya bertanya dengan suara lirih. "Kenapa Bapak... mau melakukan semua ini untuk saya?"

Pertanyaan itu membuat Ravian terdiam. Tatapannya bertemu dengan mata Liora.

Untuk sesaat, tidak ada CEO, tidak ada dosen, tidak ada mahasiswi.

Hanya dua orang yang berdiri di balik pintu tertutup, menyimpan terlalu banyak hal yang belum pernah berani mereka ucapkan.

Ravian berjalan kembali menghampiri Liora. Ia berhenti tepat di hadapannya.

"Karena kamu tidak sendirian."

Hanya itu.

Sederhana.

Namun, bagi Liora, empat kata itu terasa jauh lebih kuat daripada janji apa pun.

Air mata kembali mengalir dari sudut matanya. Kali ini bukan karena ketakutan.

Untuk pertama kalinya sejak siang tadi, ia merasa aman.

Sementara di luar dinding kaca Lantai empat puluh dua, malam perlahan menyelimuti kota, sebuah badai lain mulai bergerak, badai yang tidak akan berhenti sebelum nama Kaivan dan seluruh ancamannya dikuliti hingga tidak tersisa satu pun celah untuk menyakiti Liora lagi.

Dan tanpa mereka sadari, pengakuan yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah ancaman sedang menunggu untuk terungkap di balik pintu tertutup itu.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!