Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13.ABIYASA DINAS

Pagi hari di penthouse dibuka dengan kesibukan yang tak biasa. Sejak pukul enam pagi, suasana kamar utama sudah diwarnai oleh dentang koper dan suara risleting yang ditarik.

​Abiyasa berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah kemeja putihnya dan mengenakan jas formal berwarna abu-abu gelap. Di samping tempat tidur, sebuah koper kabinet hitam dari kulit kualitas tinggi sudah berdiri rapi.

​"Mas Abi beneran harus berangkat pagi ini juga?"

​Nadira berdiri di dekat pintu kamar mandi, masih mengenakan piyama kaos kuning cerahnya. Wajahnya tampak sedikit lesu, matanya yang biasa berbinar ceria kini ditudungi rasa berat yang tak mampu ia sembunyikan.

​Abiyasa menghentikan gerakannya yang sedang membetulkan posisi jam tangan mewahnya. Ia menoleh, menatap istri kecilnya dengan tatapan lembut. Pria itu melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka.

​"Pembangunan pabrik baru di Singapura mengalami kendala teknis dengan pemerintah setempat, Nadira," jelas Abiyasa dengan suara baritonnya yang tenang. Tangannya terangkat, mengusap pipi mulus Nadira dengan ibu jarinya.

"Sebagai CEO, saya harus turun tangan langsung untuk menyelesaikannya. Hanya empat hari."

​"Empat hari itu lama, Mas..." cicit Nadira, menundukkan kepalanya seraya meremas kain kemeja Abiyasa di bagian dada.

​Sejak malam pertama mereka tidur dalam satu kamar dan saling membagi kehangatan dekapan, Nadira sudah terbiasa dengan kehadiran Abiyasa. Ia terbiasa terbangun oleh aroma sandalwood yang menenangkan, terbiasa disuapi sarapan, dan terbiasa mendengarkan bisikan lembut suaminya sebelum tidur. Memayangkan penthouse seluas ini akan sepi tanpa sosok Abiyasa selama empat hari membuat dadanya mendadak terasa hampa.

​Abiyasa menatap kelelahan emosional di wajah Nadira. Sungguh, jika bukan karena investasi triliunan rupiah yang dipertaruhkan di Singapura, pria itu lebih memilih untuk tetap berada di rumah menjaga istrinya.

​Abiyasa meraih dagu Nadira, mengangkatnya perlahan agar mata mereka saling bertatapan, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di dahi gadis itu.

​"Pak Maman akan siap dua puluh empat jam mengantarmu sekolah dan jalan-jalan. Mama Rahmi juga sudah saya minta untuk sesekali berkunjung," tutur Abiyasa pelan di depan wajah Nadira. "Dan yang paling penting... saya akan meneleponmu setiap malam setelah rapat selesai."

​"Beneran ya? Awas kalau Mas Abi sok sibuk terus lupa telepon!" ancam Nadira dengan mata berkaca-kaca.

​Abiyasa menyunggingkan senyum tipis—senyuman hangat yang kini hanya diperuntukkan bagi Nadira. "Saya tidak pernah lupa pada hal yang paling penting dalam hidup saya, Nyonya Mahendra."

​Setelah mengecup singkat bibir lembut Nadira sebagai salam perpisahan, Abiyasa menarik kopernya dan melangkah pergi bersama Hendra yang sudah menunggu di basemen, meninggalkan Nadira yang berdiri sendirian menatap pintu utama yang tertutup rapat.

•••

​Rasa rindu adalah hal asing yang belum pernah dipelajari Nadira dalam pelajaran sekolah mana pun. Namun kini, perasaan itu menjelma menjadi benjolan sesak di dadanya.

​Penthouse lantai empat puluh dua yang biasanya terasa megah kini mendadak berubah menjadi sangat sepi dan dingin. Suara detak jam dinding terdengar begitu nyaring. Setiap kali Nadira melewati meja makan, ia teringat momen saat Abiyasa menyesap kopi hitamnya. Saat ia masuk ke kamar mandi, aroma wewangian maskulin Abiyasa masih tertinggal samar di udara, membuat dadanya kian bergetar.

​Di sekolah, Sheila sampai heran melihat perubahan sikap sahabatnya.

​"Nad, kamu kenapa sih? Dari kemarin melamun terus," tegur Sheila di kantin saat melihat Nadira hanya memutar-mutar sedotan di dalam gelas es tehnya. "Ujian Nasional masih dua bulan lagi, muka kamu udah kayak mau bangkrut."

​"Aku... aku cuma kangen rumah, Sheil," kilih Nadira pelan. Lebih tepatnya, kangen pada pemilik rumah tersebut.

​"Halah, kangen Ibu kali! Kan weekend ini bisa pulang ke rumah Ibu kamu," sahut Sheila tanpa curiga.

​Nadira hanya mampu mengulas senyum tipis. Sheila tidak tahu bahwa 'rumah' yang dimaksud Nadira saat ini bukanlah rumah masa kecilnya, melainkan seorang pria berusia dua puluh delapan tahun yang sedang berada di ribuan kilometer di seberang lautan.

​Setiap malam, satu-satunya penawar dahaga rindunya adalah panggilan video singkat pukul sepuluh malam. Biarpun wajah Abiyasa di layar ponsel tampak sangat lelah dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya akibat maraton rapat, pria itu selalu menyempatkan diri mendengarkan ocehan Nadira tentang tugas sekolah dan kelakuan Sheila sebelum tidur.

​"Tidur yang nyenyak, Nadira. Jangan lupa mengunci pintu," bisik Abiyasa di layar ponsel pada malam kedua.

​"Mas Abi juga cepat tidur! Jangan kerja terus!" balas Nadira manja sebelum panggilan terputus.

​Namun, menutup ponsel justru membuat rasa rindu itu makin tak tertahankan. Nadira memeluk bantal guling milik Abiyasa erat-erat, menghirup aroma suaminya yang tertinggal di kain piyama abu-abu Abiyasa yang sengaja ia peluk sampai tertidur.

​Malam ketiga terasa paling menyiksa. Hujan gerimis tipis kembali mengguyur Jakarta, menambah hawa dingin di dalam penthouse.

​Pukul sepuluh malam lewat lima belas menit, ponsel Nadira masih hening. Tidak ada panggilan video masuk. Nadira yang sedang berbaring di tempat tidur utama seraya memangku buku pelajaran kalkulus terus melirik layar ponselnya dengan cemas.

​[Nadira]: Mas Abi udah selesai rapatnya? Kok belum telepon?

​Satu jam berlalu. Pesan itu hanya menunjukkan tanda centang dua abu-abu—belum dibaca.

​Nadira menghela napas panjang, kekecewaan merayapi dadanya. Pasti Mas Abi sibuk banget atau udah ketiduran gara-gara capek, batin Nadira sedih. Ia mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur temaram, lalu merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang terasa terlalu luas untuk dirinya sendiri. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, mencoba memejamkan mata walau hatinya diliputi rasa hampa.

​Sekitar pukul dua belas malam lewat sepuluh menit, suara halus kunci pintu utama penthouse yang berputar memecah keheningan rumah.

​Derap langkah kaki yang tegap namun tergesa-gesa melangkah menyusuri koridor. Pintu kamar utama terdorong terbuka perlahan tanpa suara.

​Sesosok pria tinggi dengan jas yang tersangkut di lipatan lengannya melangkah masuk. Wajahnya tampak sangat letih setelah penerbangan malam darurat dan maraton negoisasi bisnis yang melelahkan. Namun, saat mata cokelat gelapnya menangkap figur kecil yang terlelap di tengah kasur besar, seluruh rasa lelah di wajah Abiyasa menguap seketika.

​Abiyasa meletakkan jas dan tas kerjanya di kursi, lalu melangkah pelan mendekati tempat tidur.

​Ia berlutut di samping ranjang. Di bawah remang cahaya lampu tidur, Abiyasa memperhatikan wajah istrinya yang terlelap. Pria itu menyadari bahwa Nadira tidur seraya memeluk erat-erat baju piyama milik Abiyasa di dadanya. Sebuah kenyataan manis yang membuat dada sang CEO berdesir oleh rasa hangat yang meluap-luap.

​Abiyasa mengulurkan tangannya, dengan sangat lembut mengusap pipi mulus Nadira yang halus.

​Sentuhan hangat itu membuat Nadira terusik dari tidurnya. Kelopak matanya bergerak pelan, lalu terbuka perlahan. Penglihatannya yang masih kabur berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang.

​"M-Mas... Abi?" gumam Nadira dengan suara parau khas orang bangun tidur, mengira dirinya sedang bermimpi.

​"Ini saya, Nadira," bisik Abiyasa dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan lembut.

​Seketika, kesadaran Nadira pulih sepenuhnya. Matanya membelalak lebar. Sosok tegas yang sangat ia rindukan selama tiga hari tiga malam kini benar-benar berlutut di samping tempat tidurnya, menatapnya dengan pendar cinta yang tak terkira.

​"Mas Abi?!" jerit Nadira pelan, langsung duduk tegak di atas kasur. "Bukannya janjinya baru pulang besok sore?!"

​"Saya memajukan semua jadwal rapat dan menyewa penerbangan privat malam ini," jawab Abiyasa jujur, matanya tak lepas dari wajah istrinya. "Saya tidak bisa tidur di Singapura karena merindukan istri saya."

​Pengakuan jujur yang begitu manis itu menghantam dada Nadira. Seluruh rasa gengsi, rasa hampa, dan kerinduan yang membuncah selama tiga hari terakhir meledak seketika.

​Tanpa berpikir panjang, Nadira langsung menghambur maju, melempar tubuhnya ke dalam pelukan Abiyasa. Kedua lengan kecilnya melingkar erat di leher tegap suaminya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Abiyasa seraya menghirup dalam-dalam aroma sandalwood yang sangat ia rindukan.

​Abiyasa tertegun sejenak oleh serangan pelukan yang begitu mendadak itu, sebelum akhirnya lengan kekarnya melingkar protektif di pinggang mungil Nadira, merengkuh tubuh gadis itu erat-erat ke dalam dekapannya.

​"Aku kangen banget sama Mas Abi..." bisik Nadira dengan suara bergetar, menangis sesenggukan di leher Abiyasa. "Rumah ini sepi banget... aku nggak bisa tidur kalau nggak ada Mas Abi..."

​Abiyasa memejamkan matanya, mengencangkan pelukannya seraya mengecupi rambut dan pelipis Nadira dengan kasih sayang yang mendalam. Rasa bersalah karena telah meninggalkan gadis ini menguap digantikan oleh kebahagiaan tiada tara.

​"Maafkan saya membuatmu menunggu, Nadira," bisik Abiyasa hangat di telinga istrinya. "Saya di sini sekarang. Saya sudah pulang."

​Abiyasa merubah posisinya, memindahkan Nadira kembali ke dalam dekapannya di atas kasur, lalu ikut berbaring di sampingnya tanpa melepaskan pelukan mereka. Pria itu menangkup wajah Nadira yang basah oleh air mata kerinduan, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Nadira.

​Kecupan kali ini tidak lagi sekadar sentuhan lembut, melainkan sebuah penyatuan rasa rindu yang membakar dada mereka berdua selama tiga hari terpisah. Abiyasa menyesap bibir manis istrinya dengan dalam, hangat, dan penuh kepemilikan. Nadira membalas kecupan itu dengan kepolosan dan ketulusan cintanya, meremas kemeja Abiyasa erat-erat.

​Ketika pautan bibir mereka terpisah perlahan, napas mereka berdua memburu pelan dalam jarak yang sangat dekat. Abiyasa mengusap air mata di pipi Nadira menggunakan ibu jarinya, lalu menyandarkan dahinya di dahi Nadira.

​"Jangan menangis lagi," bisik Abiyasa dengan senyuman paling menawan yang pernah ia miliki. "Mulai malam ini dan seterusnya, saya tidak akan pergi ke mana pun tanpa membawa hatimu bersama saya."

​Nadira tersenyum sangat lebar di dalam dekapan hangat suaminya. Ia menyembunyikan wajah mewahnya yang merona di dada tegap Abiyasa, mendengarkan detak jantung pria itu yang berirama konstan—sebuah simfoni terindah yang akhirnya membawanya kembali pada kedamaian sebuah 'rumah' yang sejati.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!