Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Gadis itu mengenakan kacamata bulat besar dan sweter tebal yang terlihat kebesaran di tubuh mungilnya.

Ia sedang duduk memeluk lutut di sudut ruangan sambil memejamkan mata dan terus bersenandung.

Nadanya mengalun begitu indah, menyayat hati, dan murni tanpa ada sedikit pun fals.

Stevan benar-benar terpukau hingga tanpa sadar tangannya menyentuh daun pintu kayu tersebut.

Krieeet...

Suara decitan engsel pintu yang berkarat itu langsung memecah keheningan ruangan.

Nyanyian indah itu terhenti seketika secara mendadak.

Gadis bersweter kebesaran itu tersentak kaget dan membuka matanya lebar-lebar.

"Siapa di sana?!" teriak gadis itu dengan suara bergetar ketakutan.

Ia mundur hingga punggungnya menempel rapat pada dinding bata yang dingin.

Stevan tahu ia tidak bisa bersembunyi lagi, jadi ia mendorong pintu itu hingga terbuka penuh dan melangkah masuk.

Ia mengangkat kedua tangannya sebatas dada untuk menunjukkan bahwa ia tidak memiliki niat buruk.

Mata gadis itu menyipit di balik kacamata bulatnya, mencoba mengenali sosok pria bertopi dan bermasker di depannya.

"K-kau... Kak Stevan Alvaro?" tanya gadis itu dengan nada ragu dan terkejut.

Stevan sedikit terkejut karena gadis yang terlihat kuper ini ternyata mengenali dirinya.

Ia menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban pembenaran.

Gadis itu buru-buru berdiri dari lantai dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"M-maafkan aku, Kak! Aku tidak bermaksud memakai ruang latihan ini tanpa izin!" ucapnya dengan sangat panik.

"Aku akan segera pergi dari sini sekarang juga!"

Ia meraih tas kanvas kusamnya dari lantai dan bersiap untuk berlari keluar dari ruangan.

Dengan cepat, Stevan merentangkan sebelah tangannya untuk menghalangi jalan keluar gadis itu.

Gadis itu mundur selangkah karena ketakutan setengah mati melihat gerakan tiba-tiba dari Stevan.

Stevan buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintar miliknya.

Ia mengetik beberapa kalimat dengan sangat cepat di layar ponselnya lalu menyodorkannya ke hadapan gadis itu.

Gadis itu ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya membaca tulisan di layar ponsel Stevan.

"Suaramu sangat luar biasa indah, siapa namamu?" batin gadis itu membaca tulisan di layar dengan suara pelan.

Pipi gadis itu seketika merona merah mendengar pujian langsung dari mantan penyanyi top kampus.

"N-namaku Clara, Kak," jawabnya dengan suara yang hampir menyerupai cicitan tikus.

"Aku mahasiswi tingkat dua dari jurusan vokal."

Stevan kembali menarik ponselnya dan mengetik kalimat balasan dengan cepat.

"Dengan suara S-Rank seperti itu, kenapa kau bersembunyi di ruangan berdebu ini?" tanya Stevan melalui layar ponselnya.

"Kenapa kau tidak berlatih di studio utama bersama mahasiswa berbakat lainnya?"

Clara membaca tulisan itu dan tiba-tiba menundukkan kepalanya semakin dalam hingga dagunya menyentuh dada.

Raut wajahnya berubah menjadi sangat sedih dan dipenuhi oleh rasa rendah diri yang kuat.

"Aku... aku tidak bisa bernyanyi di depan orang lain, Kak," jawab Clara dengan suara parau yang bergetar.

"Setiap kali ada lebih dari dua pasang mata menatapku, tubuhku akan membeku seketika."

"Jantungku berdebar sangat kencang, nafasku sesak, dan aku bahkan pernah pingsan di atas panggung saat ujian semester lalu."

Clara meremas ujung sweter tebalnya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar.

"Dosen bilang aku menderita demam panggung kronis dan menyuruhku pindah jurusan saja."

"Karena penyanyi yang takut pada penonton sama sekali tidak berguna di industri ini."

Mendengar pengakuan jujur itu, mata Stevan menyipit di balik maskernya.

Industri hiburan memang sangat kejam, mereka selalu membuang orang-orang yang dianggap cacat tanpa belas kasihan.

Stevan sangat mengerti perasaan dibuang dan diremehkan karena ia baru saja mengalaminya sendiri.

Gadis di depannya ini adalah bongkahan berlian mentah yang dibuang ke tempat sampah hanya karena belum diasah dengan benar.

[TING!]

[Misi baru terdeteksi: Poles permata yang tersembunyi.]

[Deskripsi: Jadikan Clara sebagai penyanyi proksi pertama tuan rumah dan rekam satu lagu orisinal bersamanya.]

[Hadiah Misi: Keterampilan Produksi dan Mixing Audio Tingkat Ahli.]

Sudut bibir Stevan melengkung membentuk senyuman misterius di balik masker hitamnya.

Sistem Pintar ini benar-benar tahu apa yang sedang ia butuhkan saat ini.

Ia tidak bisa menyanyi, dan Clara tidak bisa tampil di depan umum.

Mereka berdua adalah pasangan yang sangat sempurna untuk menghancurkan industri musik dari tempat yang tidak terlihat.

Stevan kembali mengetik sesuatu di ponselnya dan menunjukkannya kepada Clara dengan tatapan mata yang tajam dan serius.

"Kau tidak perlu melihat siapa pun, dan kau tidak perlu tampil di depan siapa pun," ucap tulisan di layar ponsel Stevan.

Clara membaca kalimat itu dengan kening berkerut tidak mengerti.

"A-apa maksudnya, Kak?" tanya Clara dengan polosnya.

Stevan mengetik lagi dengan gerakan jari yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.

"Aku akan menuliskan lagu yang paling indah untukmu, dan aku akan memproduksinya."

"Kau hanya perlu bernyanyi di dalam studio tertutup dengan mata terpejam dan hanya ada aku di sana."

"Kita akan merilis lagunya secara anonim di internet."

Mata Clara terbelalak membaca rentetan rencana gila yang ditawarkan oleh senior bisunya ini.

"T-tapi... Kak Stevan..." Clara mencoba memprotes karena merasa sangat tidak percaya diri.

Stevan tidak membiarkannya selesai bicara, ia langsung menyodorkan kalimat terakhir di layar ponselnya tepat di depan wajah Clara.

"Mereka membuangku karena aku kehilangan suaraku, dan mereka membuangmu karena kau takut ditatap."

"Mari kita buat dunia musik bertekuk lutut pada dua orang cacat yang mereka buang ini, bagaimana menurutmu?"

Clara tertegun membaca kalimat provokatif yang dipenuhi ambisi membara itu.

Ia menatap mata Stevan dalam-dalam dan melihat sebuah tekad yang belum pernah ia lihat pada siapa pun seumur hidupnya.

Api semangat di mata pria bisu itu secara perlahan mulai menghangatkan hatinya yang dingin dan penakut.

Jantung Clara berdebar kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena sebuah perasaan baru yang bernama harapan.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!