Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Sinar matahari pagi yang menembus tirai tipis kamar VIP rumah sakit swasta itu tidak mampu menghangatkan ruangan yang dingin dan beraroma antiseptik menyengat. Di atas ranjang perawatan, Alana masih terbaring kaku. Wajahnya yang biasa dipenuhi keanggunan kini tampak begitu pucat pasi, bagaikan kain mori tanpa rona kehidupan. Jarum infus masih tertancap erat di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan nutrisi dan obat lambung dosis tinggi untuk meredakan iritasi hebat yang sempat mengoyak organ pencernaannya semalam.
Suara kenop pintu yang diputar pelan memecah keheningan sunyi ruangan tersebut.
Seorang wanita paruh baya berbusana sederhana melangkah masuk dengan napas tertahan. Bi Sastro, yang baru saja selesai memastikan Tania masuk ke dalam gerbang sekolah kelas satu SD-nya dengan selamat, langsung bergegas naik taksi menuju rumah sakit. Namun, begitu matanya menangkap sosok majikannya yang terbaring lemah sendirian di atas ranjang luas itu, pertahanan wanita tua itu runtuh seketika.
"Bu Alana..." bisik Bi Sastro dengan suara gemetar hebat.
Langkah kaki Bi Sastro melembut saat mendekati ranjang. Tangannya yang keriput tertutup di depan mulut, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Air mata membasahi pipinya yang berkerut tanpa bisa ditahan lagi.
Mendengar bisikan familiar itu, Alana perlahan membuka matanya. Kelopak matanya terasa amat berat, dan pandangannya sempat kabur selama beberapa detik sebelum akhirnya mengenali sosok pengasuh yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri.
Alana memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya yang kering dan pecah-pecah. "Bi Sastro... kok ke sini? Tania bagaimana, Bi?" suara Alana meluncur sangat parau, hampir tenggelam oleh dengung halus mesin pendingin udara.
Mendengar pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Alana justru tentang kondisi orang lain, tangis Bi Sastro kian pecah. Wanita tua itu berlutut di samping ranjang, menggenggam jemari kanan Alana yang bebas dari jarum infus, lalu menciumnya dengan penuh rasa iba dan duka yang mendalam.
"Non Tania sudah masuk kelas dengan selamat, Bu Alana... Bibi sudah pastikan Non Tania masuk ke sekolah," jawab Bi Sastro di sela-sela tangisnya. "Tapi Bu Alana... kenapa Ibu tega menyembunyikan sakit parah begini sendirian? Kenapa semalam Ibu minta Mbak Maya pulang dan memilih melewati malam sepi di rumah sakit ini sendirian? Bibi ndak tega melihat Bu Alana seperti ini..."
Alana mengelus pelan punggung tangan Bi Sastro yang bergetar menggunakan jemarinya yang dingin. Senyum di bibir Alana memancarkan ketabahan yang justru terasa sangat menyiksa bagi siapa saja yang melihatnya.
"Saya tidak apa-apa, Bi," bisik Alana lembut, mencoba menenangkan. "Obat dari dokter sudah bekerja. Perut saya sudah jauh lebih mendingan dibanding kemarin. Bibi jangan menangis lagi, nanti kalau ada suster yang masuk, dikira Bi Sastro sedang dimarahi."
"Bagaimana Bibi ndak menangis, Bu Alana?" pangkas Bi Sastro seraya menyapu air matanya dengan ujung selendangnya. "Ibu itu sudah seperti anak Bibi sendiri. Bibi tahu betul bagaimana penderitaan Bu Alana selama enam tahun di rumah itu. Bu Alana selalu menelan semuanya sendirian, tidak pernah mengeluh, tidak pernah minta dimanja. Bahkan saat tubuh Ibu tumbang seperti ini, Ibu masih mikirkan ndak mau merepotkan orang lain..."
Alana memindahkan pandangannya menatap ke arah jendela kamar yang menampilkan langit pagi kota yang cerah. Kata-kata Bi Sastro menghantam bagian terdalam di hatinya yang paling sunyi.
Bukan karena Alana tidak ingin bermanja-manja atau membagi beban penderitaannya pada orang lain. Namun, garis hidupnya telah menempa Alana untuk menjadi sosok yang seperti ini sejak dia masih kecil.
Sebagai anak kedua di keluarganya, Alana tumbuh di antara himpitan ekspektasi dan posisi yang menuntutnya untuk selalu tahu diri. Dalam keluarganya, anak pertama selalu menjadi kebanggaan yang dielu-elukan, sementara anak bungsu menjadi sosok yang selalu dilindungi dan dimanja. Alana? Dia berada di persimpangan tengah posisi anak nomor dua yang seolah tak terlihat, sosok yang dituntut untuk selalu mandiri, tegar, tidak boleh merengek, dan tidak boleh menjadi beban bagi orang tua maupun saudaranya.
Sejak kecil, setiap kali Alana jatuh sakit atau memiliki masalah di sekolah, reaksi pertama dari orang tuanya bukanlah dekapan hangat, melainkan pertanyaan,
"Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?" atau "Kamu kan sudah besar, masa hal begitu saja harus mengadu?"
Pola pengasuhan itu membentuk Alana menjadi wanita yang tertutup rapat. Dia terbiasa mengubur rapat-rapat rasa sakit, kekecewaan, dan penderitaannya di dalam dada. Baginya, menangis di hadapan orang tua atau keluarga hanyalah tanda kelemahan yang tidak akan pernah mendapatkan simpati, melainkan justru penghakiman.
Bahkan ketika kakak perempuannya mengembuskan napas terakhir enam tahun lalu dan meninggalkan wasiat agar Alana menikahi Gema demi merawat Tania yang masih bayi, Alana menerima takdir itu tanpa sepatah kata protes pun.
Keluarganya menganggap keputusan itu sebagai pengorbanan mulia yang memang sudah seharusnya Alana lakukan sebagai anak kedua yang berbakti.
Tidak ada satu pun dari anggota keluarganya yang pernah bertanya. "Alana, bagaimana dengan perasaanmu? Bagaimana dengan impian dan masa depanmu?"
"Bu Alana..." panggil Bi Sastro pelan, membuyarkan lamunan panjang Alana.
"Apa Bibi tidak boleh memberi tahu Ibu atau keluarga Bu Alana di kampung? Setidaknya agar ada keluarga yang mendampingi Bu Alana di sini saat Pak Gema sedang dinas ke luar kota."
Alana menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tatapan matanya menunjukkan keteguhan yang tak goyah, meski tubuhnya begitu ringkih.
"Jangan, Bi. Saya mohon... jangan pernah beri tahu Ibu atau keluarga yang lain," pinta Alana tegas namun lembut. "Kalau Ibu tahu, Ibu hanya akan menyalahkan saya karena dianggap tidak bisa menjaga kesehatan dan tidak bisa melayani Mas Gema dengan baik. Bagi Ibu, tugas utama wanita itu menahan diri. Saya tidak mau membuat suasana tambah keruh."
Bi Sastro menggigit bibir bawahnya, dadanya semakin sesak menahan keharuan. Betapa tragisnya jalan hidup majikannya ini. Di saat wanita lain bisa lari ke pelukan orang tua atau suaminya saat diterpa sakit dan ujian hidup, Alana justru harus menutup rapat seluruh pintunya dari dunia luar.
Rahasia penderitaan Alana hari ini hanya diketahui oleh lingkar kecil orang-orang yang bekerja dengannya: Bi Sastro yang mengurus rumah, Pak Mamat yang mengemudikan mobil, Maya kepala kokinya yang membawa Alana ke rumah sakit, serta beberapa karyawan setia di toko kue Lumina Bakehouse.
Orang-orang asing yang tidak memiliki ikatan darah ini justru menjadi satu-satunya benteng perlindungan yang menyaksikan betapa hancurnya Alana di balik topeng kesempurnaannya.
"Lalu... bagaimana dengan Pak Gema, Bu Alana?" tanya Bi Sastro ragu-ragu, menurunkan suaranya. "Pak Gema itu suami Bu Alana. Kalau Pak Gema tahu Ibu dirawat inap karena asam lambung kronis akibat stres, masa Pak Gema tega mengabaikan?"
Alana mengulas senyum paling pahit yang pernah tercetak di wajahnya. Ada tawa kecil yang lolos dari tenggorokannya sebuah tawa yang penuh dengan ironi dan keputusasaan.
"Mas Gema?" bisik Alana pelan. "Bi Sastro tahu betul bagaimana pandangan Mas Gema pada saya, kan?"
Bi Sastro terdiam, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Bagi Mas Gema, saya ini hanyalah pengganti yang tak pernah diharapkan," lanjut Alana, matanya kembali berkaca-kaca menahan luapan emosi yang tertahan selama enam tahun. "Jika Mas Gema tahu saya sakit dan dirawat di sini, dia tidak akan datang dengan rasa khawatir, Bi. Dia hanya akan menganggap saya sedang membuat drama untuk mencari perhatiannya. Dia akan menganggap saya mengganggu fokus pekerjaan dinasnya di Surabaya."
Alana menarik napas pendek yang terasa berat di dadanya.
"Saya lebih baik menanggung rasa sakit fisik ini sendirian di kamar ini, daripada harus melihat tatapan dingin dan mendengar kata-kata tajam Mas Gema yang akan makin meremukkan hati saya. Biarkan Mas Gema berpikir saya sedang sibuk di toko kue. Itu jauh lebih aman untuk kita semua."
Bi Sastro tak mampu membalas kalimat itu. Wanita tua itu tahu betul bahwa apa yang dikatakan Alana adalah kebenaran yang teramat memilukan. Gema adalah pria yang hatinya sudah membeku dan mengeras bagaikan karang sejak kematian istrinya. Selama enam tahun, Bi Sastro menyaksikan sendiri bagaimana Gema memperlakukan Alana seperti orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.
"Bu Alana..." Bi Sastro mengusap lembut jemari Alana. "Kalau begitu, biar Bibi yang menjaga Bu Alana di sini hari ini. Bibi bisa minta tolong Pak Mamat untuk urusan rumah dan antar jemput Non Tania."
"Tidak perlu, Bi," potong Alana lembut namun menolak. "Bibi harus tetap di rumah. Tania butuh Bibi. Tania itu anak yang sangat peka, Bi. Kalau Bibi tidak ada di rumah saat dia pulang sekolah nanti, Tania pasti akan curiga dan makin rewel mencari keberadaan saya."
"Tapi Bu Alana sendirian di sini..."
"Saya tidak sendiri, Bi. Ada dokter dan suster yang selalu mengecek ke sini," ujar Alana mencoba membesarkan hati pengasuhnya. "Nanti sore setelah toko kue tutup, Maya juga janji akan mampir ke sini sebentar. Bibi fokus saja menjaga dan menemani Tania di rumah. Buatkan makanan kesukaannya, pastikan dia belajar dengan baik. Jangan sampai Tania merasa kehilangan sosok ibu di rumah itu."
Bi Sastro menatap Alana lama. Rasa hormat dan iba bercampur aduk di dalam dadanya. Di tengah kondisinya yang begitu memprihatinkan, Alana masih menempatkan kenyamanan dan kebahagiaan Tania di atas keselamatan dirinya sendiri.
"Bu Alana itu sungguh wanita berhati malaikat," tangis Bi Sastro kembali membasahi pipinya. "Tuhan pasti melihat semua kesabaran Bu Alana selama ini. Bibi berdoa setiap malam, semoga suatu hari nanti pintu hati Pak Gema dibukakan, agar Pak Gema tahu betapa berharganya wanita yang selama ini disiakannya..."
Alana hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi doa tersebut. Dalam hatinya, harapan untuk mendapatkan cinta Gema sudah lama mati dan terkubur bersama puing-puing mimpinya sebagai seorang wanita. Baginya saat ini, bisa bertahan hidup dan melihat Tania tumbuh dewasa dengan bahagia sudah lebih dari cukup.
"Terima kasih ya, Bi Sastro," bisik Alana tulus. "Terima kasih karena selalu ada dan mengerti keadaan saya."
"Sama-sama, Bu Alana... Bibi akan selalu mendoakan Ibu," balas Bi Sastro penuh kehangatan.
Setelah meminumkan beberapa teguk air hangat untuk Alana dan memastikan kenyamanan posisi tidur majikannya, Bi Sastro akhirnya pamit untuk kembali ke rumah megah milik Gema. Sebelum melangkah keluar pintu, Bi Sastro sekali lagi menoleh, menatap sosok Alana yang tampak begitu mungil dan ringkih di atas ranjang VIP yang luas itu.
Pintu kamar terkatup rapat kembali. Keheningan yang dingin seketika merayap masuk, mengurung Alana dalam kesendirian yang familiar.
Alana memejamkan matanya, membiarkan efek cairan infus dan obat penawar nyeri perlahan-lahan menenangkan saraf-saraf tubuhnya yang tegang. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, Alana membayangkan wajah ceria Tania saat mengenakan seragam kelas satu SD-nya. Bayangan senyum putri kecilnya itulah yang menjadi satu-satunya kekuatan bagi Alana untuk terus bernapas, menahan gempuran rasa sakit yang menghantam tubuh dan jiwanya tanpa henti.
kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.
sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅