SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: HUJAN, RAHASIA, DAN HANGAT DI BALIK SELIMUT
Langit malam menyelimuti ibu kota tanpa ampun. Hujan deras yang mengguyur sejak selepas magrib membuat suhu udara di luar apartemen berlantai dua itu merosot tajam. Gemuruh petir sesekali bersahut-sahutan di kejauhan, menyiramkan garis cahaya singkat di balik kaca jendela kamar Devan yang tertutup rapat.
Di dalam ruangan beraroma kayu cendana dan kertas buku baru itu, keheningan terasa tebal. Hanya ada suara gesekan ujung pulpen di atas kertas, ketukan teratur jarum jam dinding, dan embusan angin dingin yang tertahan di balik kaca.
Aluna duduk melantai di atas karpet bulu tebal berwarna cokelat tua. Di hadapannya, meja kayu berkaki rendah penuh dengan buku-buku latihan ujian nasional, lembar kalkulasi Ekonomi, dan dua cangkir teh manis yang uap hangatnya sudah lama hilang. Ia mengenakan kaus rajut longgar berwarna krem dan celana kain panjang—pakaian santai rumah yang justru membuat sosoknya terlihat makin kecil dan mungil di mata siapa pun yang melihatnya.
Di sebelahnya, Devan duduk bersandar pada tepi tempat tidur. Kemeja putih sekolahnya sudah berganti dengan kaus polos berwarna hitam yang membingkai bahunya yang tegap. Kacamata berbingkai tipis menengger di pangkal hidungnya, memantulkan pendar kuning dari lampu meja belajar yang menjadi satu-satunya sumber penerangan utama di ruangan itu.
"Ini salah lagi, Na," suara Devan pecah, rendah dan serak, memutus irama hujan di luar.
Tangannya terulur dari belakang tubuh Aluna, mengambil pulpen yang dipegang gadis itu. Gerakan Devan membuat lengannya yang kokoh secara tak sengaja mengurung bahu Aluna dari samping. Kehangatan tubuh Devan yang menguar seketika mengikis hawa dingin ruangan, membuat fokus Aluna yang sejak tadi sudah rapuh kini buyar sepenuhnya.
"Aku udah bilang tadi," lanjut Devan tenang, mengarahkan ujung pulpen ke baris rumus di atas kertas Aluna. "Kalau menghitung biaya peluang, kamu harus ambil nilai tertinggi dari kesempatan yang dibuang, bukan dijumlahkan semuanya. Kenapa kamu malah menjumlahkannya?"
Aluna menelan ludahnya canggung. Ia menyembunyikan jemarinya di balik lengan kaus rajutnya yang terlalu panjang. "Aku... aku lupa, Kak. Tadi fokusku agak pecah."
Devan menghentikan gerakan pulpennya. Pria itu memiringkan kepala, menatap Aluna dari balik lensa kacamatanya dari jarak yang amat dekat. Garis rahang Devan yang tegas terlihat begitu tajam di bawah pencahayaan temaram.
"Fokus kamu pecah karena rumus Ekonomi ini, atau karena pikiranmu masih tertinggal di gerbang sekolah sore tadi?" tanya Devan tanpa basa-basi.
Aluna tertunduk. Ia tidak berani menatap iris mata cokelat gelap Devan yang selalu sanggup membaca seluruh rahasia di dadanya.
"Aku cuma mikirin apa yang bakal terjadi kalau Ayah dan Ibu pulang lusa, Kak," aku Aluna pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan di luar jendela. "Setiap kali melihat rumah ini sepi, aku merasa tenang karena kita bisa jadi diri kita sendiri. Tapi tiap kali ingat orang tua kita bakal kembali... aku merasa seperti penjahat yang lagi bersembunyi di balik dinding rumah mereka sendiri."
Devan melepas kacamatanya, meletakkannya begitu saja di atas meja. Pria itu memutar posisi duduknya, kini berhadapan fully dengan Aluna di atas karpet bulu yang sama.
"Aluna," panggil Devan. Tangannya terulur menangkup sebelah pipi Aluna. Ibu jarinya yang hangat mengusap perlahan kulit halus gadis itu, menyiramkan sensasi mendesir yang menjalar hingga ke ujung kaki Aluna. "Tatap aku."
Aluna mendongak perlahan, menatap Devan dengan mata yang mulai berkaca-kaca oleh beban emosional yang tertahan.
"Siapa yang bilang kita penjahat?" bisik Devan tegas, matanya mengunci pandangan Aluna tanpa memberi ruang sedikit pun untuk ragu. "Kita nggak pernah minta keadaan ini terjadi. Kita nggak pernah merencanakan Ayah dan Ibu ketemu, saling suka, lalu nikah. Kita berdua udah punya perasaan ini jauh sebelum mereka memutuskan menyatukan keluarga ini."
"Tapi status kita sekarang saudara tiri, Kak Devan!" potong Aluna, setetes air mata bening akhirnya lolos membasahi pipinya. "Di mata hukum, di mata agama, di mata teman-teman sekolah... kita saudara! Kalau ada yang tahu kalau Kakak meluk aku, kalau Kakak cium aku... mereka nggak akan peduli siapa yang lebih dulu jatuh cinta. Mereka cuma bakal bilang kita menjijikkan!"
Kata-kata Aluna yang jujur dan telanjang itu menggantung di udara.
Devan tidak marah. Tidak ada riak amarah di wajahnya yang tampan. Yang ada hanyalah sebuah kesedihan mendalam dan ketetapan hati yang tak tergoyahkan. Devan maju menapis sisa jarak di antara mereka. Ia membawa tubuh Aluna ke dalam dekapannya, merengkuh punggung mungil itu rapat-rapat ke dadanya.
Aluna menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Devan. Aroma sabun mandi, kayu cendana, dan kehangatan alami Devan langsung membungkus seluruh inderanya. Tangannya meremas kuat bagian belakang kaus hitam Devan, menumpahkan seluruh kepanikan dan rasa takutnya di sana.
"Biarin mereka bilang apa aja," bisik Devan serak di samping telinga Aluna. Jemari tangannya yang panjang menyusup ke sela-sela rambut hitam Aluna, mengusapnya dengan kelembutan yang teramat sangat. "Dunia bisa menyalahkan kita sesuka mereka, Na. Tapi aku nggak akan pernah menyesal karena mencintai kamu. Kalau seluruh dunia menganggap ini dosa, biar aku yang menanggung hukumannya. Kamu cuma perlu tetap memegang tanganku."
"Kak Devan..." desah Aluna pasrah, merasa seluruh pertahanan dan logikanya runtuh total di dalam pelukan pria ini.
Devan merenggangkan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap wajah Aluna yang memerah basah oleh air mata. Jemari Devan bergerak perlahan menyapu sisa-sisa air mata di pipi dan sudut mata Aluna. Tatapannya turun ke bibir Aluna yang bergetar pelan.
Keheningan di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi intens dan pekat. Suara hujan di luar seolah memudar, menyisakan gesekan napas mereka yang makin memburu dan rapat.
Devan mendekatkan wajahnya. Bibirnya mendarat lembut di dahi Aluna—sebuah kecupan yang lama, hangat, dan sarat akan perlindungan. Kemudian kecupan itu berpindah ke kedua mata Aluna yang terpejam, ke pipinya, hingga akhirnya berhenti tepat di depan bibir Aluna.
"Boleh?" bisik Devan rendah, memberikan ruang penghormatan terakhir bagi Aluna untuk memilih.
Aluna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengepalkan tangannya di bahu Devan, lalu perlahan memajukan wajahnya sendiri—menghapus sisa jarak terakhir di antara meeka.
Bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman yang lembut namun emosional. Tidak ada ketergesaan di sana; yang ada hanyalah penumpahan rasa rindu, rasa takut, dan cinta terlarang yang selama ini terkurung rapat di dalam dada masing-masing. Devan melingkarkan lengannya di pinggang Aluna, menarik tubuh gadis itu makin rapat dalam kungkungannya, sementara Aluna mengalungkan kedua tangannya di leher Devan, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan manis yang membakar sisa ragunya.
Ciuman itu berlangsung lama, lambat, dan sarat akan kepasrahan. Ketika Devan menyudahi sentuhan bibir mereka, dahi mereka tetap menempel. Deru napas Devan yang hangat menyapu wajah Aluna yang kini bersemu merah padam.
"Sudah malam," bisik Devan pelan, suaranya terdengar begitu serak dan lembut. "Tutup bukumu. Malam ini kamu tidur di sini."
Aluna mendongak pelan, matanya berkedip canggung. "Di... kamar Kak Devan?"
"Iya," Devan tersenyum tipis, mengusap pipi Aluna dengan ibu jarinya. "Selagi Ayah dan Ibu belum pulang dari luar kota, ini rumah milik kita. Kamu nggak perlu tidur sendirian di kamar sebelah sambil ketakutan dengar suara hujan."
Devan berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Aluna bangkit dari karpet. Ia mematikan lampu meja belajar, membiarkan kamar itu hanya diterangi oleh pendar redup lampu tidur berbentuk kubus di sudut ruangan.
Devan menarik selimut tebal berwarna abu-abu gelap, lalu mengajak Aluna naik ke atas tempat tidur king-size miliknya. Tempat tidur itu sangat empuk dan harum, menyebarkan aroma khas Devan yang selalu berhasil membuat Aluna merasa aman.
Aluna berbaring miring menghadap Devan. Devan menyusulkan tubuh tegapnya di samping Aluna, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi bahu mereka berdua. Lengan kokoh Devan terulur, menarik tubuh mungil Aluna ke dalam dekapannya tanpa menyisakan celah.
Aluna menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdetak konstan dan menenangkan. Tangan mungil Aluna melingkar di pinggang Devan, meremas pelan kaus hitam yang dikenakan kakak tirinya.
"Kak Devan..." bisik Aluna pelan di dalam keremangan.
"Ya, Na?" Devan mengecup puncak kepala Aluna, membiarkan dagunya bertumpu di atas rambut gadis itu. Tangannya yang sebelah lagi mengusap-usap punggung Aluna dengan gerakan teratur.
"Kalau Ayah dan Ibu ada di rumah... kita nggak bisa gini, ya?"
Devan menghentikan usapan tangannya sejenak, lalu mendekap Aluna sedikit lebih erat. "Kalau mereka di rumah, kita harus jadi kakak adik yang baik di depan mereka. Tapi tiap kali mereka dinas luar kota... tempat kamu di sini, di dalam pelukanku. Ini rahasia kita berdua."
Janji rahasia itu diucapkan dengan begitu tulus dan hangat. Aluna mengangguk pelan di dada Devan, merasakan kedamaian luar biasa yang menyapu bersih rasa takutnya.
Suara deru hujan di luar jendela yang bertiup kencang tak lagi terasa menakutkan. Di balik selimut tebal dan dalam pelukan hangat Devan, Aluna perlahan memejamkan matanya yang berat. Devan terus mengusap rambut dan punggung adiknya, menjaga tidur nyenyak Aluna sepanjang malam hingga fajar menyingsing di balik jendela.