Indonesia
NovelToon NovelToon
Hello Panda

Hello Panda

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Dena Tan

Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.


Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:


Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.


Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.


Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.


Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyuman Guru Baru dan Bunga Rose di Meja Makan

Sore hari di rumah nomor 12B, aroma harum masakan masakan sup ayam buatan Mila memenuhi seluruh ruangan. Di meja makan, Chiko sedang membantu Lala menyusun buku-buku pelajaran baru yang dibeli dari koperasi sekolah.

"Papa, tadi kata Ibu Guru Rina, besok ada guru melukis baru yang gantikkan kelas!" seru Lala riang sambil menempelkan stiker panda di sampul bukunya.

"O ya? Guru baru?" sahut Chiko ramah sambil merapikan tumpukan kertas.

"Iya! Namanya Bu Siska. Tadi Bu Siska datang sebentar ke kelas, terus Bu Siska senyum-senyum ke Papa pas Papa lagi nunggu di luar!" tambah Lala polos tanpa dosa. "Kata Bu Siska, Papa kelihatannya ramah dan baik banget!"

Clang!

Suara benturan sendok sayur berbahan besi dengan pinggiran panci mendadak terdengar sedikit lebih keras dari arah dapur.

Mila berdiri tegak di depan kompor. Tangannya masih memegang sendok sayur, namun matanya menyipit tipis. Aura Viper yang biasanya hanya muncul saat menghadapi musuh berbahaya, mendadak bergetar halus di dalam dadanya.

‘Senyum-senyum ke Chiko? Guru baru itu berani sekali...’ batin Mila dingin.

Sebentar, Mila langsung menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menetralkan pikirannya sendiri. ‘Tunggu, kenapa aku harus peduli? Ini kan cuma keluarga palsu. Aku berada di rumah ini cuma untuk menyamar dan menyelesaikan misi Black Crimson. Chiko mau disenyumi puluhan wanita pun bukan urusanku... kan?’

Tapi entah kenapa, dada Mila terasa sedikit panas dan tidak nyaman. Ada rasa sedikit kesal yang sangat aneh dan tidak rasional.

Mila melangkah ke meja makan sambil membawa mangkuk sup besar, memasang senyuman paling manis—namun agak kaku—di wajah cantiknya.

"Wah, Papa kelihatannya populer ya di sekolah Lala?" pancing Mila lembut, meletakkan mangkuk sup di meja dengan ketukan yang sedikit lebih tegas dari biasanya.

Chiko mendongak, langsung membetulkan posisi kacamata tebalnya yang sebenarnya tidak miring, mendadak merasa canggung. "E-eh... tidak kok, Bunda. Tadi Bu Siska cuma bertanya soal formulir ekstrakurikuler Lala saja. Cuma obrolan biasa."

"Ooh... cuma tanya formulir ya?" sahut Mila seraya duduk di samping Chiko. Matanya menatap Chiko lekat-lekat. "Soalnya tadi kata Lala, senyumnya manis sekali. Apa Papa juga balas tersenyum manis?"

Chiko hampir tersedak ludahnya sendiri. ‘A-ada apa ini? Kenapa tekanan udara di ruangan ini mendadak terasa seperti saat aku bernegosiasi dengan kartel saham internasional?’ batin Chiko panik di balik wajah polosnya.

"S-sama sekali tidak, Bunda! Papa cuma senyum biasa... senyum sopan karyawan biasa!" jawab Chiko cepat dengan nada sedikit panik yang sangat lucu.

Lala yang duduk di antara mereka berdua melirik Papa dan Bundanya bergantian. Otak ber-IQ 210 milik Lala langsung menganalisis situasi psikologis di meja makan dalam waktu 0,1 detik.

‘Bunda cemburu!’ batin Lala tertawa riang di dalam hati. ‘Bunda bilang ini keluarga pura-pura, tapi mukanya langsung ditekuk gara-gara Bu Siska! Asyik, Bunda makin sayang sama Papa!’

Lala memutuskan untuk menambah sedikit bumbu konyol agar suasana makin seru.

"Bunda! Tadi Bu Siska juga kasih Papa bunga kertas warna merah jambu!" panggil Lala polos sambil menunjuk ke arah tas kerja Chiko.

Mila seketika menoleh ke arah Chiko dengan tatapan mata yang mendadak sangat tajam. "Bunga kertas warna merah jambu, Papah?"

"Lala! Itu kan bunga kertas pembatas buku dari sekolah untuk semua wali murid!" seru Chiko heboh, memegang dadanya yang hampir copot gara-gara ucapan jujur dan ngawur putrinya. Chiko buru-buru merogoh tasnya dan memperlihatkan brosur sekolah berpembatas kertas pink tersebut. "Ini, Bunda! Lihat, ada tulisan 'St. Starling Academy'-nya!"

Mila memperhatikan kertas itu. Setelah memastikan itu memang cuma brosur pengumuman resmi dari sekolah, rasa tegang dan panas di dadanya mendadak menyusut, digantikan oleh rasa malu yang teramat sangat.

‘Astaga, Mila... apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu sampai bereaksi sejauh ini cuma gara-gara pembatas buku?!’ maki Mila pada dirinya sendiri di dalam hati, pipinya mendadak merona merah tipis.

Untuk menutupi rasa canggungnya, Mila buru-buru menyendokkan sup ke mangkuk Chiko.

"Ehem... M-maaf ya, Papa. Bunda cuma bercanda kok. Ayo dimakan supnya, nanti dingin," kata Mila pelan sambil mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap mata Chiko.

Chiko yang melihat rona merah di pipi Mila mendadak merasakan debaran aneh di jantungnya. ‘Bunda... tadi benar-benar cemburu? Masa sih?’ batin Chiko, menyunggingkan senyum tulus yang sangat hangat.

"Terima kasih, Bunda. Sup buatan Bunda memang yang paling enak di seluruh dunia," ucap Chiko tulus.

Lala tersenyum lebar melihat kedua orang tua angkatnya yang saling salah tingkah. Bocah mungil itu menyendok nasinya sendiri lalu bertepuk tangan pelan.

"Hore! Papa dan Bunda makan supnya romantis sekali!" seru Lala riang. "Nanti kalau Bu Siska tanya lagi, Lala mau bilang 'Papa sudah punya Bunda Mila yang paling cantik dan paling galak kalau cemburu!'"

"LALA!" seru Chiko dan Mila bersamaan dengan wajah merona merah padam, membuat ruang makan keluarga Leonhart malam itu kembali dipenuhi kehangatan dan gelak tawa yang tak terpisahkan.

--------

Suasana malam di perumahan Griya Indah Permai begitu hening. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Lala sudah tertidur lelap di kamarnya, memeluk erat boneka panda dan kotak pensil raksasanya.

Di ruang tengah, Chiko duduk di sofa sambil berpura-pura membaca majalah bisnis, sementara Mila berdiri di dekat jendela, merapikan gorden sambil sesekali melirik ke luar jalanan yang sepi.

Sisa-sisa rasa canggung akibat kejadian "cemburu sup ayam" tadi sore masih terasa tipis di udara. Setiap kali mata Chiko dan Mila tidak sengaja beradu, salah satu dari mereka pasti buru-buru mengalihkan pandangan dengan ehem kaku.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan di pintu depan mendadak memecah keheningan. Ketukannya sangat teratur: tiga kali ketukan lambat, diikuti dua ketukan cepat.

Seketika itu juga, atmosfer di dalam rumah berubah seratus delapan puluh derajat.

Chiko menegang. 'Kode ketukan faksi eksekutif Leonhart Enterprises... Siapa yang berani melacak keberadaanku sampai ke rumah ini?'

Di saat yang sama, mata Mila menyipit berbahaya. 'Kode panggilan darurat jaringan mata-mata Black Crimson... Apakah agen intelijenku membawa laporan tentang pergerakan musuh?'

Chiko dan Mila berdiri secara bersamaan dari tempat duduk masing-masing.

"Bunda, biar Papa saja yang buka pintunya. Sudah malam, tidak aman buat wanita," ucap Chiko lembut, memoles wajah suami penakutnya. Tangannya di balik saku celana sudah bersiap menekan pemicu alat peledak sinyal mikro.

"Tidak apa-apa, Papa. Bunda ikut saja dari belakang, takutnya cuma tetangga yang mau pinjam garam," balas Mila manis dengan suara tenang. Namun, di balik lipatan gaun malamnya, tiga pisau lempar berbahan titanium sudah berada di selipan jemari lentiknya.

Chiko memegang gagang pintu, lalu memutarnya pelan. KLIK.

Pintu terbuka. Di balik remang lampu teras, berdiri seorang pria tinggi bersetelan jas serba hitam, lengkap dengan kacamata hitam di tengah malam yang pekat. Pria itu berdiri kaku bagaikan patung besi.

Pria berjas itu mendongak, matanya menatap Chiko dan Mila bergantian.

"Selamat malam," sapa pria itu dengan suara berat dan datar. "Saya membawa pesan khusus untuk pemilik rumah ini."

Chiko menyipitkan mata di balik kacamata tebalnya. 'Orang ini bukan utusan Leonhart... Dia menggunakan emblem pin tengkorak bersilang di kerah dalam jasnya. Dia anggota faksi elit Black Crimson!'

Sementara itu, Mila yang mengenali pin tersebut langsung membatin kaget luar biasa. 'Bukan! Dia bukan anak buahku! Dia mengenakan bros manset bersimbol mahkota emas... Dia adalah salah satu pengawal pribadi kepercayaan Direksi Leonhart Enterprises!'

Kedua orang tua berdarah dingin itu mendadak tersentak hebat di dalam hati masing-masing!

'Tunggu... kalau dia anak buah Black Crimson, kenapa dia mengetuk pintu rumah Chiko?!' batin Chiko panik setengah mati.

'Kalau dia utusan elit Leonhart Enterprises, kenapa dia datang ke rumah karyawan biasa seperti Chiko?!' batin Mila bingung dan curiga.

Di tengah situasi tegang dan saling curiga yang hampir meledak itu, tiba-tiba pintu kamar belakang terbuka pelan.

Kreeek...

Lala melangkah keluar sambil mengucek matanya yang masih sembab akibat mengantuk. Bando telinga pandanya miring ke samping, dan satu tangannya memegang kotak pensil panda raksasa.

"Papa... Bunda... kenapa berisik sekali?" gumam Lala polos dengan suara serak khas bangun tidur. "Paman berjas hitam di depan pintu itu siapa? Mau bagi-bagi biskuit panda malam-malam ya?"

Pria berjas di depan pintu itu menunduk menatap Lala. Tanpa disadari oleh Chiko maupun Mila, jam tangan Hello Panda milik Lala memancarkan gelombang inframerah mikro yang langsung meretas perangkat earpiece milik pria berjas tersebut.

BZZZZT!

Suara dengungan tinggi yang menyakitkan mendadak menggema di dalam telinga pria berjas itu melalui earpiece-nya!

"Aaargh!" pria berjas itu mengerang kesakitan, refleks memegang telinganya dan melangkah mundur dua langkah hingga terpeleset di tangga teras.

Chiko dengan cepat memanfaatkan momen itu untuk mendorong pintu sampai tertutup. BAM! Ia langsung mengunci selot pintu dari dalam.

"Wah, paman itu sepertinya ketakutan melihat Lala," celetuk Chiko berpura-pura kaget dan panik, membetulkan kacamatanya yang miring. "Sudah malam begini ada-ada saja pualing salah alamat!"

Mila mengembuskan napas pelan, menyembunyikan kembali pisau-pisaunya. "Iya, aneh sekali. Merekrut sales zaman sekarang makin seram saja."

Mila lalu berlutut dan menggendong tubuh mungil Lala dengan penuh kasih sayang. "Ayo Lala tidur lagi ya, besok kan harus sekolah."

"Siap, Bunda..." sahut Lala sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mila, menyembunyikan cengiran cerdiknya.

‘Paman berjas itu punya dua identitas ganda... dia mata-mata rahasia yang dikirim untuk mengintai Papa sekaligus Bunda!’ batin Lala riang sambil mengelus kotak pensilnya.

‘Tapi tenang saja! Selama ada pahlawan panda Lala, tidak ada satu pun mata-mata yang boleh mengganggu kedamaian keluarga kita!’

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!