Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Ungkapan Hati Azmira
Sore sudah tiba, Azmira baru saja menyelesaikan pemeriksaan pasien terakhir ketika ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.
Kak Shasa: "Sudah selesai?"
Azmira tersenyum kecil sebelum membalas.
Mira: "Sudah, Kak."
Belum sampai satu menit, sebuah pesan kembali masuk.
Kak Shasa: "Keluar sekarang."
Azmira mengernyit. Ia merapikan beberapa berkas di atas meja, kemudian berjalan keluar dari ruang pemeriksaan. Begitu sampai di lobi rumah sakit, pandangannya langsung menemukan sosok perempuan yang sedang berdiri sambil memainkan ponsel.
"Kak Shasa."
Perempuan itu menoleh. "Mira!"
Shasa langsung tersenyum lebar. "Kamu lama sekali."
Azmira melihat jam tangannya. "Baru lima menit, Kak."
"Lima menit itu lama."
Azmira tertawa kecil. "Kakak ngapain ke sini?"
"Aku mau ngajak kamu makan."
"Makan?"
Shasa mengangguk mantap. "Aku baru gajian."
Azmira menanggapi itu dengan mata berbinar, di hari yang melelahkan ini akhirnya bisa membuatnya napasnya sedikit lega.
"Wah yang baru gajian," ucap Mira.
"Iya dong? Jadi hari ini aku yang traktir."
Azmira menggeleng pelan. "Kakak nggak perlu."
"Harus."
"Tapi—"
"Jangan banyak protes. Ayo."
Shasa langsung menarik tangan Azmira, sementara gadis itu akhirnya manut saja, karena masa-masa sebelumnya ia sering melewati hari-hari seperti ini bersama sahabatnya itu.
Mereka berjalan menuju mobil milik Shasa.
Sepanjang perjalanan, keduanya bercanda mengenai berbagai hal. Tentang pekerjaan, tentang pelanggan di tempat kerja Shasa, sampai keluhan Azmira yang ternyata baru mengetahui bahwa menjadi dokter tidak membuat dirinya terbebas dari rasa lelah.
Hingga beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup ramai.
Tidak terlalu mewah, tetapi nyaman. Shasa memilih tempat di sudut ruangan yang cukup tenang.
Azmira duduk di hadapannya.
"Pesan apa saja."
Azmira membuka menu. "Yang murah saja."
Shasa langsung mendengus. "Jangan hitung harga Azmira Shafitri, kakakmu ini gak kismin-kismin amat kok," celetuknya.
"Iya deh... iya, aku doakan semoga Kak Shasa kaya raya dan tidak sombong.
"Aamiin," sahut Shasa sambil menengadah kedua tangannya.
Setelah memesan makanan, mereka kembali berbincang. Namun beberapa menit kemudian, Shasa memperhatikan sesuatu.
Senyum Azmira perlahan menghilang.
Tatapan perempuan itu kosong. Tangannya memainkan ujung tisu di atas meja. Shasa memperhatikannya beberapa saat.
"Mira."
Azmira mengangkat wajah. "Iya, Kak?"
"Kamu kenapa?"
Azmira tersenyum pahit. "Nggak kenapa-kenapa."
Shasa tidak langsung percaya begitu saja. "Yakin?"
"Iya."
Shasa terdiam. Kemudian ia menarik napas panjang.
"Mira..." Nada suaranya kali ini berbeda. "Kakak mau tanya sesuatu."
"Apa?"
Shasa menggenggam kedua tangannya di atas meja. "Tentang ayahmu."
Seketika senyum Azmira menghilang. Ia terdiam tatapannya turun ke meja. Mendengar kata itu rasanya seperti asing bahkan sudah 25 tahun ia tidak pernah bertemu dengan sosok itu.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Shasa tidak mendesak tapi ia menunggu.
"Mira..."
Azmira tetap diam, untuk kali ini ia masih belum bersuara.
"Aku sebenarnya sudah lama ingin bertanya.
"Kenapa?" tanya Azmira akhirnya.
Shasa menatap sahabatnya lekat-lekat. "Kamu pernah memikirkan ayahmu?"
Jari-jari Azmira yang sejak tadi menggenggam tisu perlahan mengerat.
Ia ingin menjawab. Tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar.
Shasa kembali teringat sesuatu. Malam sebelum pelantikan. Saat itu ia sempat masuk ke kamar Azmira untuk memberikan sesuatu. Pintu kamar sedikit terbuka. Dan tanpa sengaja, ia melihat Mira sedang duduk sendirian di depan meja. Perempuan itu berbicara pelan. Bukan kepada seseorang. Melainkan kepada dirinya sendiri.
Kenapa Ayah nggak pernah datang?
Saat itu Shasa memilih pergi dan tidak bertanya. Tetapi pertanyaan itu terus tertinggal di pikirannya. Kini, melihat wajah Mira yang berubah setelah pertanyaannya, Shasa akhirnya mengerti. Luka itu ternyata masih ada.
"Mira..." Suara Shasa terdengar lembut.
Azmira menundukkan kepala. "Aku nggak tahu harus jawab apa, Kak."
Itu saja. Hanya satu kalimat. Namun setelah mengucapkannya, mata Azmira langsung berkaca-kaca.
Shasa tidak mengatakan apa pun. Ia bangkit dari kursinya, kemudian berpindah ke sisi Azmira. Perempuan itu langsung memeluk sahabatnya.
Tanpa meminta izin ataupun bertanya lagi. Dan entah kenapa di pelukan sahabatnya itu
Azmira membiarkan dirinya menangis. Tangisnya pecah di pundak Shasa.
"Kak..."
"Iya."
"Kenapa dia nggak pernah datang?"
Shasa mengusap punggungnya dengan pelan tanpa ia sadari air matanya pun ikut keluar tanpa diminta.
Azmira menggigit bibir. "Dulu Ibu selalu bilang Ayah sedang bekerja."
Air matanya semakin deras. "Tapi setelah aku dewasa... Ibu akhirnya bilang semuanya."
Shasa diam, perempuan itu mencoba untuk menjadi tempat tanpa menghakimi.
"Ayah memang nggak akan pernah datang."
Suara Azmira bergetar. "Karena sejak awal... dia memang nggak menginginkan aku."
Shasa memejamkan mata. Ia tahu tidak ada kalimat yang mampu menghapus luka itu. Luka seorang anak yang memang tidak pernabdiinginkan.
Azmira menarik napas panjang. "Aku sudah berusaha menerima, Kak."
Ia mengusap air matanya. "Aku sudah punya Ibu. Aku punya Kakak. Aku punya orang-orang yang menyayangiku."
Shasa tersenyum meski matanya sendiri berkaca-kaca.
"Tapi..." Azmira terdiam "Aku tetap ingin tahu."
Shasa mengusap rambutnya. "Ingin tahu apa?"
"Siapa dia."
Azmira menatap kosong ke depan. "Aku ingin tahu seperti apa wajah orang yang tidak pernah menginginkan kehadiranku."
Dadanya kembali terasa sesak. "Bukan karena aku ingin meminta apa pun."
"Aku cuma..." Suaranya terputus. "...ingin tahu kenapa."
Shasa kembali memeluknya kali ini lebih erat, ia seolah menyesal sudah bertanya seperti tadi.
"Kalau suatu hari kamu ingin mencarinya, aku akan menemanimu."
Azmira terdiam dalam pelukan itu. Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan. Hanya suara pelan dari pengunjung restoran dan musik yang mengalun dari pengeras suara.
Kemudian seorang pelayan datang membawa makanan.
"Permisi, Kak. Pesanannya." Shasa segera melepaskan pelukannya.
Azmira buru-buru mengusap air matanya. "Terima kasih."
Pelayan itu meletakkan beberapa piring makanan di atas meja. Shasa kemudian mendorong satu piring ke hadapan Azmira.
"Nah."
Azmira menatap makanan itu. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Kak..."
Shasa tersenyum. "Makan."
"Kakak masih ingat?"
"Tentu."
Itu adalah makanan kesukaan Azmira.
Makanan sederhana yang sejak dulu selalu membuatnya berselera. Shasa bahkan masih mengingat minuman yang biasa dipesannya.
Azmira tersenyum di tengah air matanya.
"Makasih, Kak."
"Kenapa menangis lagi?"
"Enggak."
"Sudah, makan."
Azmira tertawa kecil. "Iya."
Ia mulai menyantap makanan itu. Dan untuk pertama kalinya sore itu, wajahnya kembali cerah. Mungkin Azmira tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Mungkin ada bagian dalam dirinya yang akan selalu bertanya-tanya mengapa dirinya tidak pernah diinginkan.
Namun Tuhan tidak benar-benar membiarkannya sendiri. Karena di sisinya ada seorang kakak yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Tetapi selalu ada. Selalu mendengarkan bahkan mengingat hal-hal kecil tentang dirinya. Dan selalu tahu kapan harus memeluk tanpa bertanya.
Matahari mulai tenggelam ketika mereka keluar dari restoran. Shasa berjalan lebih dulu menuju mobil. Azmira mengikuti dari belakang sambil membawa tasnya.
"Kak, tunggu."
Shasa berhenti. "Apa?"
"Dompetku."
Azmira baru hendak mengambil dompet dari dalam tas ketika seseorang berjalan dari arah berlawanan.
Bruk!
Tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Ponselnya hampir terjatuh.
"Astaga..."
Azmira segera mengangkat wajah seketika ekspresinya berubah. Pria itu. Ya pria yang tadi pagi hampir menabraknya di rumah sakit dan sekarang kejadian ini terulang lagi
Mereka saling menatap. Beberapa detik berlalu pria itu mengangkat alis.
"Kamu lagi?"
Azmira menghela napas. "Harusnya saya yang bertanya."
"Kenapa?"
"Kenapa setiap ketemu Anda selalu bikin saya hampir jatuh?"
Pria itu menatapnya. Kemudian sudut bibirnya terangkat sedikit. Saya rasa kamu yang terlalu sering muncul di depan saya."
Azmira membelalakkan mata. "Anda yang jalan nggak lihat depan!"
Shasa yang sudah berdiri di dekat mobil hanya menutup mulut, berusaha menahan tawa.
Pria itu menatap Azmira beberapa saat. Kemudian berkata santai, "besok jangan kaget kalau kita bertemu lagi."
Azmira mengerutkan kening. "Memangnya kenapa?"
Pria itu tersenyum tipis. "Karena saya bekerja di rumah sakit yang sama denganmu."
Azmira menghela napas panjang. "Ya Allah..."
Shasa akhirnya tidak mampu menahan tawanya.
Sementara pria itu berjalan pergi dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Azmira menatap punggungnya dengan kesal. "Kak."
Shasa masih tertawa. "Iya, Mira?"
"Dia memang menyebalkan."
Shasa mengangguk cepat. "Iya."
Kemudian ia kembali tertawa. "Tapi..."
"Apa?"
Shasa menatap wajah sahabatnya dengan senyum penuh arti. "Sepertinya dia mulai tertarik mengganggumu."
"Kak Shasa!"
Tawa mereka kembali memenuhi sore itu, namun tak ada yang tahu dibalik tawa mereka pria itu kembali melirik ke arah Azmira diam-diam.
Bersambung ....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡