Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan dengan kiba hotori

Rin kembali masuk ke rumah setelah memastikan ayahnya benar-benar pergi. Ia berjalan menuju ruang makan dan mengambil map yang tadi dibawa ayahnya. Setelah itu, ia membawa kedua amplop tersebut ke sofa dan duduk dengan malas.

Rin membuka amplop pertama. Beberapa brosur kampus langsung memenuhi pandangannya. Ia membukanya satu per satu, menatap deretan jurusan seperti bisnis, sastra, desain, hingga teknik yang namanya saja sudah membuat Rin menguap.

“Tidak ada fakultas main game, ya...” Rin membolak-balik brosur itu dengan wajah kecewa. “Padahal harusnya ada.”

Ia akhirnya menyerah dan meletakkan brosur-brosur tersebut di sampingnya, lalu beralih pada amplop kedua.

Begitu dibuka, tiga lembar kertas tercetak keluar, berisi foto profil, data diri, pekerjaan, serta usia pria-pria pilihan ayahnya. Saat itu juga, ponselnya menerima tiga surel verifikasi dari layanan perjodohan. Rin hanya perlu menekan tombol konfirmasi jika ingin melanjutkan pertemuan.

Rin melirik jam. Sudah waktunya makan siang. Daripada terus memandangi berkas itu, Rin membuka aplikasi tersebut dan memeriksa kembali profil yang tersedia. Setelah memasukkan waktu dan lokasi terdekat, hanya ada satu pria yang cocok dengan jadwalnya: Kiba Hotori, 32 tahun, zodiak Aquarius, seorang insinyur bangunan.

Rin membaca alamat pertemuannya dan matanya seketika membesar. “Eh... ini kan tempat aku makan siang kemarin.”

Karena lokasinya dekat dari rumah, Rin akhirnya menekan tombol "Ya". Tak sampai semenit, notifikasi baru muncul: Klien menerima konfirmasi pertemuan.

“Baiklah, masih punya waktu tiga puluh menit. Harus cepat,” gumam Rin bangkit berdiri dan menuju kamar mandi untuk bersiap.

***

Beberapa menit kemudian, Rin sudah selesai berdandan tipis. Rambut panjangnya ia ikat ke atas dengan gaya messy bun, membiarkan beberapa helai rambut menjuntai manis di sekitar wajah. Ia mengenakan celana jeans wide leg, dipadukan dengan kemeja merah muda muda tanpa dikancing dan tank top di bagian dalam. Kacamata bulat bertengger manis di wajahnya untuk menyamarkan kantung mata.

Rin memandang dirinya di depan cermin. “Lumayan.”

Grrr... Perutnya mendadak berbunyi nyaring. Rin memegang perutnya. “Baiklah, aku sudah lapar.”

Ia segera menyambar tas dan melangkah keluar rumah menuju restoran langganannya. Sesampainya di sana, Rin melihat foto profil Kiba di ponsel sekali lagi agar tidak salah orang, lalu melangkah masuk.

Restoran itu cukup ramai. Saat Rin menyapu pandangan, seorang pria berdiri dari kejauhan sambil melambaikan tangan. “Hai, nona!”

Rin mengenali wajahnya. “Oh, itu dia.”

Ia berjalan mendekat. Pria itu menyambutnya ramah. “Halo. Kamu Kiba Hotori?”

“Iya, aku Kiba Hotori,” jawabnya mengulurkan tangan.

Rin menyambut uluran tangan tersebut. “Rin Tachibana.”

Dari dekat, Kiba terlihat cukup tinggi dengan perawakan yang bersahabat. Rambutnya sedikit panjang dan diikat ke belakang bergaya samurai modern, lengkap dengan senyum ramah di wajahnya.

“Senang bertemu denganmu,” ujar Kiba hangat. “Tidak apa-apa kalau kita bertemu di sini? Sekalian makan siang.”

“Tidak apa-apa, aku juga belum makan.”

“Bagus kalau begitu. Sekalian aku kenalkan dengan teman-temanku,” ucap Kiba menunjuk meja besarnya. Ia memperkenalkan orang-orang yang duduk di meja tersebut satu per satu.

“Ini Tsubaki Ozora.” Seorang pria mengangkat tangan kecil.

“Genji Ono.” Pria berikutnya mengangguk.

“Dan ini yang paling cantik di antara kami, Makoto Hinami.”

Seorang wanita tersenyum ramah.

Rin sempat terdiam. Makoto...?

Nama itu terasa tak asing. Rin melirik wanita cantik di hadapannya selama beberapa detik, teringat pada sosok yang ia lihat berpelukan dan berciuman di depan rumah semalam. Namun sebelum sempat mencerna segalanya, Kiba melanjutkan.

“Dan ini teman dekatku, Takumi Kurosawa.”

Mata Rin sedikit membesar, namun ia buru-buru menahan ekspresinya. kurosawa-san?!

Takumi yang duduk tepat di samping Makoto hanya melirik sekilas ke arah Rin tanpa senyum, lalu kembali menikmati minumannya seolah tak kenal.

Rin membungkukkan kepala kaku. “Senang bertemu dengan kalian.”

Kiba lalu mengajak Rin berpindah. “Tachibana-san, bagaimana kalau kita duduk di meja sebelah saja?”

“Ah, baiklah.”

Mereka berpindah ke meja di sebelah. Setelah memesan makanan, Rin dan Kiba duduk berhadapan. Tanpa sadar, Rin sesekali melirik ke meja sebelah tempat Takumi sedang berbincang santai dengan teman-temannya. Jadi dia memang teman Kiba-san...

Kiba mulai membuka percakapan, dan obrolan mereka mengalir dengan sangat mudah. Beberapa kali Rin tertawa mendengar cerita lucu Kiba. Dari meja sebelah, Takumi sempat menoleh setiap kali mendengar gelak tawa Rin, meski pria itu tidak mengatakan apa pun.

Tak lama kemudian, Kiba membuka pembicaraan yang lebih serius. “Oh iya, Tachibana-san, kamu yakin sedang mencari pasangan untuk menikah?”

Rin langsung mengibaskan kedua tangannya cepat. “Tidak, tidak! Ini ulah ayahku. Aku terpaksa ikut karena kalau tidak, uang sakuku akan diputus!”

Kiba tertawa lepas. “Wah... kalau ayahmu dengar itu, mungkin namamu langsung dicoret dari kartu keluarga.”

“Bisa jadi,” kekeh Rin. “Kalau Kiba-san sendiri bagaimana?”

Kiba menyandarkan tubuhnya. “Aku memang sedang mencari pendamping yang cocok. Umurku sudah 32 tahun, sudah bukan waktunya main-main lagi. Pekerjaan mapan, tinggal susah menemukan wanita yang cocok saja.”

“Kalau begitu semoga cepat ketemu,” doa Rin tulus.

Kiba tersenyum, lalu kembali bertanya, “Lalu, kegiatanmu sehari-hari apa?”

“Aku joki game. Kadang juga RMT.”

Mata Kiba membulat kaget, tubuhnya bahkan maju mendekat. “Bentar... aku tidak salah dengar, kan? Serius?”

“Serius” desah Rin

“Memangnya game apa yang kamu mainkan?”

Rin menyebutkan beberapa judul. “Legacy of Heroes, Arena of Dawn, Nexus Conflict... terakhir Infinite Clash.”

“APA?!” jerit Kiba cukup keras hingga membuat orang-orang di meja sebelah—termasuk Takumi—menoleh.

Kiba buru-buru menurunkan suaranya panik. “Maaf, maaf! Kamu serius memainkan semua itu? Sudah sampai level berapa?”

Rin tersenyum misterius. “Ah, tidak. Rahasia.”

Kiba terkekeh antusias. “Kalau jawab begitu, biasanya sudah level tinggi! Bagaimana kalau kita *battle* sekarang?”

Tepat saat itu, pelayan datang membawa hidangan pesan mereka. Rin tersenyum manis menunjuk piring-piring yang mengepul. “Bagaimana kalau kita makan dulu?”

Kiba langsung tertawa lebar. “Setuju, aku juga sudah lapar!”

Saat makanan mereka tiba, Kiba dan Rin akhirnya mulai makan. Beberapa suapan pertama berlangsung dalam suasana tenang—Rin yang memang sudah kelaparan tidak terlalu memedulikan sekitarnya. Namun di tengah makan, sebuah pertanyaan tebersit di kepalanya.

“Oh iya, Kiba-san. Kamu asli tinggal di sekitar sini?”

Kiba menggeleng. “Tidak. Aku dan teman-temanku berasal dari Nagano. Kami sedang ditugaskan untuk proyek yang cukup panjang di Ishikawa.”

“Oh...” Rin mengangguk-angguk pelan.

“Kalau Tachibana-san sendiri?”

“Aku sedang berlibur di rumah nenekku. Asalku dari Toyama.”

“Oh, tidak terlalu jauh dari Nagano,” sahut Kiba ramah.

Percakapan mereka kembali mengalir hangat. Di sela-sela obrolan, Rin teringat satu hal penting. “Kiba-san, boleh aku minta foto bersama? Untuk bukti ke Ayah kalau aku benar-benar datang.”

Kiba terkekeh. “Tentu saja! Kita buat foto yang bagus sekalian.”

Ia menggeser kursinya hingga berdampingan dengan Rin. Karena jarak yang rapat, bahu mereka hampir bersentuhan. Dari meja sebelah, Takumi sempat melirik sekilas ke arah mereka, namun pria itu memilih diam dan menuntaskan makannya.

Klik. Satu foto bersama berhasil diambil.

“Bagus hasilnya,” puji Kiba puas. “Oh iya, sekalian boleh minta nomor ponselmu?”

Rin terkekeh kecil, lalu menyerahkan nomornya yang segera disimpan oleh Kiba.

Setelah makanan mereka kandas, keduanya beralih pada agenda utama: battle game. Kiba membuka Legacy of Heroes dan pertandingan pertama pun dimulai. Rin terlihat sangat santai, jemarinya menari lincah di layar ponsel sementara Kiba beberapa kali kewalahan.

“Ah, tunggu! Tunggu!” seru Kiba panik.

Rin tertawa geli. “Kamu lambat kiba-san!”

“Bukan lambat, aku sedang menyusun strategi nona joki!” kilah Kiba tak mau kalah saat poinnya terkuras habis.

Di sela-sela permainan, Rin melontarkan pertanyaan, “Selain kamu, apa ada teman-temanmu yang suka main game?”

“Tidak, cuma aku,” jawab Kiba menggeleng. “Kadang kalau sedang berkumpul seperti kemarin di rumah Takumi, aku lebih suka main sendiri. Makanya aku susah dapat pacar.”

Rin tertegun sejenak. Rumah Takumi...?

Ingatan Rin melayang pada kejadian semalam. Teman Takumi yang begitu bersemangat menceritakan pemain hebat yang tak sengaja masuk ke timnya... Jadi lawan mainku tadi malam itu Kiba-san?! Rin mengangguk-angguk paham dalam hati.

Belum sempat mereka melanjutkan ke babak berikutnya, suara Genji terdengar dari meja sebelah. “Hei, Kiba. Sudah waktunya balik.”

Kiba melihat jam tangannya dan menatap layar ponsel dengan lemas. “Wah... sayang sekali. Battle kita harus berakhir di sini.”

Ia memasukkan ponsel ke saku, “Kau ada rencana ke mana setelah ini?”

Rin terdiam sebentar, mengingat jadwal di aplikasi perjodohan yang sudah ia susun. “Hmm... aku akan pergi ke pertemuan kedua.”

Kiba langsung memasang wajah terkejut yang dramatis. “Apa?”

Rin ikut bingung melihat reaksi berlebihan itu. “Kenapa?”

“Kamu akan bertemu pria lain selain aku?” tanya Kiba dengan nada berpura-pura terluka “Aku kecewa,” potong Kiba cepat, menatap Rin tajam.

Rin membelalakkan mata kaget. “Hah?!”

Melihat reaksi polos dan panik dari Rin, Kiba langsung tertawa lepas. “Hahaha! Bercanda, bercanda!”

Rin menghela napas panjang—campuran antara lega dan kesal—sambil mengibaskan tangannya. “Jangan bercanda begitu! Bikin kaget saja.”

Kiba masih tersenyum lebar, terhibur dengan ekspresi Rin. “Jadi target berikutnya pilihan ayahmu juga?”

“Iya. Mau bagaimana lagi?,” sahut Rin pasrah sambil menggidikkan bahu.

Kiba terkekeh pelan. “Baiklah. Semoga tidak cocok.”

Rin mendongak cepat. “Apa?”

“Ah, tidak. Kamu salah dengar,” elak Kiba dengan senyum jahil.

Rin menyipitkan mata curiga, tetapi Kiba sudah keburu berdiri dan merapikan pakaiannya. “Nanti aku hubungi kamu lagi, Tachibana-san.”

Rin ikut berdiri dari kursinya. “Baik. Senang bertemu dengan kalian semua.”

Satu per satu rombongan itu mulai keluar. Tsubaki dan Genji berjalan lebih dulu, disusul Makoto di belakang mereka. Terakhir, Takumi berdiri.

Sebelum melangkah pergi, Takumi melirik Rin sebentar. Tatapan mereka beradu dalam keheningan tanpa senyum sedikit pun, hingga Rin hanya membungkukkan kepala canggung sebagai salam. Takumi mengalihkan pandangan lalu berjalan keluar.

Rin kembali terduduk di kursinya, mengembuskan napas panjang.

“Bagaimana bisa aku bertemu dengan Kurosawa-san di sini...” gumamnya frustrasi sambil meremas dan mengusap-usap poninya berkali-kali.

Beberapa pengunjung restoran mulai memperhatikan tingkah anehnya. Rin yang baru sadar langsung menghentikan tangannya dan merapikan rambutnya cepat-cepat.

“Eh? Ya ampun...” bisiknya menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang mendadak merah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!