Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak bisa melanjutkan rencana
"Mari silahkan masuk, saya juga baru tahu tentang tempat ini empat hari yang lalu setelah saya ingin merenovasi rumah, ruang tersembunyi ini mungkin sengaja di tutup karena isinya adalah benda berharga milik pemilik kedua tempat ini" ucap Karta berbohong karena dia mengetahui tempat itu setelah perjalanannya ke masa lalu dan Karta jadi tahu rumah itu sedikit berbeda dengan rumah yang dia lihat di masa lalu.
"Ini... lukisan yang saya punya di rumah keluarga Varden di Belanda" ucap Jayden meskipun dalam lukisan itu ada yang berbeda, Patricia terlihat memegang sebuah payung hitam dan tangannya memegang pundak Vincent yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Lahan ini saya beli dari juragan Indra sekitar empat puluh tahun yang lalu, saat itu menurut juragan Indra lahan ini juga dia beli dari orang lain, sejarahnya begitu panjang sampai saya menemukan surat ini, surat ini menggunakan bahasa Belanda jadi saya bertanya pada Kharissa istrinya Dirga, dia bisa beberapa bahasa dan katanya ini adalah surat hibah" ucap Karta
Jayden mengambil surat yang sudah lusuh dan hampir rusak itu dengan hati hati, dia membaca dengan seksama dan rahangnya langsung mengeras karena di sana tertulis kalau Vincent menyerahkan perkebunan itu kepada mantan istrinya Patricia dan putra angkatnya yaitu anak Patricia dan Juned, bahkan di sana tertulis kalau Vincent memberikan itu sebagai bentuk tanggung jawabnya setelah memilih bercerai dan menikahi Ratri.
"Ya ini surat hibah bahkan cap keluarga Wihardja juga ada di sini, tapi bagaimana mungkin ini bisa ada pada anda sekarang?" tanya Jayden
"Saya sudah bilang tadi, pemilik lama tempat ini jauh sebelum saya, Indra dan beberapa juragan lain tidak membuang barang barang ini, mereka bilang barang ini berhantu makanya ruangan ini di kunci dan di tembok, baru kemarin selesai saya bongkar dan saya pasangi pintu" jawab Karta setenang mungkin.
Dia dan Bintang sudah membicarakan banyak hal setelah menemukan semua tempat rahasia di rumah itu, bahkan mereka juga sepakat untuk membuat Jayden sadar kalau selama ini yang sudah mengambil tanah itu dari pemilik aslinya adalah Patricia sendiri.
"Tanah ini di jual nenek moyang kamu pada keluarga Raharja awalnya, nama pemilik keduanya adalah Ghufran, lalu puluhan tahun kemudian di jual lagi ke keluarga Pranaya dan masih banyak keluarga lain hingga sekarang perkebunan dan rumah ini kembali pada kami, saya membelinya dengan harga yang sesuai pasaran jadi saya tidak mencuri dari siapapun" ungkap Karta
"Tuh dengar Jayden, aku mengenal Karta sejak lama, Karta ini ayahnya dulu tinggal di luar kampung, menikah dengan ibunya Karta yang seorang anak juragan perkebunan kelapa, saat itu ayah Karta punya banyak Perkebunan karet juga di kampung lain bahkan sampai sekarang masih di pegang Karta" ucap Tama
"Berarti para orang tua di keluarga saya berbohong? mereka bilang tanah ini di curi dari kami dan apa yang menimpa kami adalah karena guna guna dari masa lalu" ucap Jayden tanpa mengatakan kalau Erni menuduh guna guna itu dari keluarga Wihardja.
"Innalilahi, harusnya kamu tahu kalau mungkin saja itu fitnah iblis, kalau kamu penasaran dengan apa yang terjadi kamu bisa bertanya padaku" ucap Karta
"Jangan percaya mereka tuan, mereka ingin menyesatkan tujuan tuan, mereka itu licik" ucap sosok putih di telinga Jayden.
Dia memang tidak bisa masuk ke dalam rumah Karta tapi selendang yang selalu di bawa oleh Jayden membuat batin Jayden terhubung dengan sosok putih itu meskipun Jayden sudah kepanasan dari sejak dia masuk ke rumah Karta.
"Maaf, saya tidak akan gegabah lagi dan tidak akan mengincar perkebunan ini lagi, tapi apa boleh saya bekerja sama dengan perkebunan karet anda?" tanya Jayden
"Memangnya kamu punya perusahaan yang mengolah getah karet?" tanya Hatta
"Saya punya perusahaan yang bergerak di bidang otomotif di kota lain, pembuatan ban" jawab Jayden dan Hatta mengangguk.
"Itu bisa di atur" jawab Hatta
Jayden meminta beberapa benda peninggalan Patricia yang ada di tempat itu, Karta memberikan dengan senang hati karena itu memang benda benda milik Patricia dan pastinya Karta tidak akan menyimpan benda benda seperti beberapa perhiasan yang di tinggalkan Patricia begitu saja.
Tapi ketika Hatta melihat perhiasan perhiasan itu pertama kali, dia merasa curiga karena tidak mungkin Patricia meninggalkan perhiasan itu begitu saja, dia begitu kikir ketika hidup dan menurut Karta, Patricia itu paling tidak suka ada benda miliknya yang tertinggal.
"Aku sudah tidak bisa memiliki perkebunan ini tapi aku akan memastikan nenek bisa bebas, kata Erni dia bisa menyembuhkan mata Jessica" batin Jayden
Karta mengajak Jayden untuk makan malam, dia sudah mengundang Dimas yang akan memeriksa Jessica, Galuh dan Gading juga masih ada di sana karena dia penasaran dengan bagaimana Jessica belajar membaca dan menulis, bahkan Jessica juga bisa mengenali wajah orang hanya dengan memegang wajahnya.
"Itu keahlian yang bagus, kamu tinggal mengenali wajah Om nanti kalau kita bertemu di jalan" ucap Galuh
"Suara Om juga bisa Jessica kenali, kak Gading juga" jawab Jessica.
"Kenapa menggoda Jessica terus, ayo makan siang Dimas sudah ada di depan" ucap Karta
"Aku sedang berkenalan, nanti aku akan mengajak Jessica makan malam di rumah, cucuku pasti senang melihat boneka Barbie hidup" jawab Galuh membuat Gading terkekeh.
"Hanya Jessica?" tanya Tama
"Kakaknya tidak perlu, dia nanti di sangka meneer yang datang untuk menjajah rumah, Renita dan para menantuku tidak boleh melihatnya" jawab Galuh
"Tidak mau mengakui leluhurnya genit tapi dia sangat memperlihatkan sifat genitnya itu" cibir Karta pelan.
"Hiks... Hiks..."
Terdengar suara Sahara menangis dan Galuh langsung menoleh ke belakang, untungnya Tama, Jessica dan Tisya sudah pergi ke ruang makan jadi dia bisa bertanya apa yang terjadi sampai sampai Sahara menangis ketika dia masuk ke dalam rumah Karta.
"Kenapa?" tanya Galuh bahkan Jayden juga menatap Sahara dengan tatapan heran di dekat ruang makan rumah Karta.
"Hiks... Sahara pikir musuh Karta itu adalah seorang bule tinggi dengan badan yang atletis, tapi... tapi lihat dia! dia memang tinggi tapi perutnya buncit!" pekik Sahara sampai terduduk di lantai rumah Karta.
"Astagfirullahaladzim, hantu satu ini benar benar ajaib genitnya, kamu pasti membayangkan deretan roti sobek yang banyak kan di kepala mesum kamu itu?" tanya Dimas dan Sahara mengangguk.
"Gandra bahkan lebih tampan dan keren dari dia kenapa kamu melirik lelaki lain" cibir Dimas
"Kalau Sahara tidak lebay dan tidak jelalatan, itu bukan Sahara namanya, ayo masuk sebelum mereka curiga" ajak Gading
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭