Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Suhu di dalam ruangan kecil itu meningkat dengan drastis dalam hitungan detik.

Wajah Kania langsung pucat pasi mendengarkan ancaman dari pengeras suara tersebut.

"Ini gila! Kita akan mati terpanggang di sini!" teriak Kania dengan panik.

Ia berlari menuju pintu besi dan menggedornya dengan sekuat tenaga, tapi pintu itu bahkan tidak bergeser sedikit pun.

"Minggir!" perintah Alena tegas.

Alena mundur dua langkah, mengarahkan moncong pistolnya tepat ke engsel pintu besi tebal itu.

Dor! Dor! Dor!

Tiga peluru melesat tajam, menghantam engsel pintu hingga memercikkan bunga api.

Namun, peluru kaliber 9mm dari pistol Alena hanya meninggalkan penyok kecil di permukaan baja tebal tersebut.

"Sial, ini baja padat khusus brankas," umpat Alena sambil menurunkan senjatanya.

"Pria gila itu benar-benar menyiapkan ruangan ini untuk mengubur kita."

Reyhan tidak ikut panik.

Ia berdiri diam di tengah ruangan, membiarkan keringat mulai membasahi dahinya.

[Ding! Misi Bertahan Hidup terpicu.]

[Misi: Keluar dari Ruang Peleburan.]

[Batas waktu: 30 Menit.]

[Hadiah: Peningkatan Ketahanan Fisik (Tingkat Menengah).]

[Kegagalan: Anda dan rekan Anda akan hangus menjadi abu.]

"Observasi tingkat menengah, aktif," batin Reyhan.

Matanya langsung menyapu seluruh inci ruangan yang berukuran empat kali empat meter itu.

Ia melihat dinding beton tebal, pintu baja, satu ventilasi kecil yang tertutup jeruji besi, dan mesin pelebur logam di tengah ruangan.

"Pembunuh ini suka bermain teka-teki dan pertunjukan," analisis Reyhan dalam hati.

"Sebuah pertunjukan sulap tidak akan pernah menggunakan sihir sungguhan, selalu ada trik yang disembunyikan di depan mata."

Reyhan melangkah mendekati mesin pelebur logam yang mulai memancarkan cahaya merah menyilaukan.

Suhunya sangat panas hingga jarak satu meter saja membuat kulit Reyhan terasa perih.

"Reyhan! Jangan dekat-dekat ke mesin itu!" peringat Alena.

"Kau mau melakukan apa? Menumbalkan dirimu seperti kata si pembunuh?!" seru Kania histeris.

"Tenanglah kalian berdua," jawab Reyhan dengan suara berat yang menenangkan berkat skill Karismanya.

"Pembunuh ini perfeksionis."

"Dia tidak akan membiarkan kita mati semudah ini, dia ingin kita merasa putus asa dulu."

"Pasti ada jalan keluar rahasia yang terhubung langsung dengan sistem mesin ini."

Reyhan mengamati panel kontrol di samping mesin pelebur tersebut.

Panel itu terlihat sangat tua dan karatan, namun ada satu lampu indikator kecil berwarna hijau yang menyala berkedip.

"Alena, perhatikan kabel daya ini," tunjuk Reyhan ke arah kabel tebal yang menjalar dari mesin menuju dinding.

"Kabel ini sangat baru, tidak berdebu seperti barang lain di ruangan ini."

Alena mendekat sambil menyeka keringatnya yang mulai bercucuran deras.

"Artinya mesin ini sengaja dipasang ulang baru-baru ini."

"Tepat," angguk Reyhan.

"Dan mesin pelebur logam dengan kapasitas sebesar ini butuh daya listrik ribuan watt."

"Kalau kita bisa mematikan saklar utamanya, suhu ruangan akan berhenti naik."

"Tapi saklarnya pasti ada di luar ruangan, kita tidak bisa menjangkaunya," sahut Kania yang mulai putus asa.

Reyhan tersenyum tipis.

"Itu kalau kita mencari saklar biasa."

"Tapi coba lihat mesin pelebur ini dengan saksama."

Reyhan mengambil sebuah batang besi panjang dari meja kerja di dekatnya.

Ia menggunakan batang besi itu untuk menyentuh bagian belakang mesin pelebur.

"Di pabrik peleburan tua, mesin sebesar ini selalu memiliki tuas pendingin darurat di bagian bawah untuk mencegah ledakan kalau suhunya terlalu ekstrem," jelas Reyhan.

"Tapi tuas itu pasti sudah dikunci oleh si pembunuh," sanggah Alena.

"Mungkin," jawab Reyhan.

"Atau mungkin..."

Reyhan tiba-tiba memukulkan batang besi itu dengan sangat keras ke arah panel kontrol mesin.

Prang!

Kaca panel itu pecah berantakan.

Dari balik pecahan kaca itu, terlihat susunan kabel warna-warni yang rumit.

"Kania, kau bawa gunting kecil atau sesuatu yang tajam?" pinta Reyhan.

Kania dengan tangan gemetar merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah gunting kuku kecil.

"Cuma ini yang aku punya."

"Bagus, ini cukup."

Reyhan mengambil gunting kuku itu dan mulai mengamati kabel-kabel di dalam panel.

Waktu tersisa di timer sistem: 15 Menit.

Suhu ruangan kini sudah mencapai 50 derajat celcius, membuat napas mereka bertiga terasa sangat berat.

"Kabel merah biasanya arus utama," gumam Reyhan sambil mengingat-ingat sedikit ilmu yang ia tahu.

"Tapi pembunuh ini licik, dia mungkin sengaja membalik warnanya."

Reyhan mengaktifkan kembali Skill Observasinya untuk mencari petunjuk terkecil sekalipun.

Tatapannya terhenti pada ujung salah satu kabel berwarna biru pudar.

Di ujung kabel itu, ada sisa-sisa lem isolasi hitam yang menempel.

"Kabel biru ini baru saja disambung ulang," ucap Reyhan yakin.

"Ini kabel pemicu utamanya."

Tanpa ragu sedikit pun, Reyhan menggunakan gunting kuku Kania untuk menjepit dan memotong kabel biru tersebut.

Klak!

Seketika, suara desingan mesin pelebur logam itu berhenti.

Cahaya merah yang menyilaukan dari dalam tungku perlahan meredup.

"Berhasil?" tanya Kania dengan suara parau.

"Mesinnya mati, tapi suhu ruangan ini tidak akan turun dengan cepat," jawab Reyhan sambil menyeka keringatnya.

"Kita masih butuh jalan keluar."

Tiba-tiba, suara mekanis dari pengeras suara kembali terdengar, namun kali ini terdengar sedikit terkejut.

"Bagus, Reyhan. Analisis yang tajam."

"Tapi mematikan mesin saja tidak cukup untuk membuka pintu."

Reyhan mendongak menatap kamera CCTV kecil yang ada di sudut plafon.

"Lalu apa trik selanjutnya, Tuan Sutradara?" tantang Reyhan.

"Perhatikan sisa serpihan logam di meja kerja itu."

"Ada kunci pintu kalian di sana."

Alena dan Kania langsung berlari menuju meja kerja yang dipenuhi serpihan logam tajam dan cetakan topeng.

"Tidak ada kunci di sini!" teriak Alena frustrasi setelah mengacak-acak tumpukan serpihan logam tersebut.

Reyhan berjalan mendekat dan mengamati meja kerja itu dengan tenang.

"Dia bilang 'ada kunci di sana', bukan 'ada sebuah kunci'."

Reyhan mengambil sebuah cetakan topeng logam yang masih setengah jadi.

"Kalian perhatikan bentuk cetakan ini."

"Cetakan ini berbentuk balok tebal dengan lekukan asimetris di bagian bawahnya."

Reyhan berjalan mendekati pintu baja tebal yang terkunci.

Ia menatap celah lubang kunci pintu yang berukuran sangat besar, tidak seperti lubang kunci pada umumnya.

"Kuncinya bukan kunci konvensional."

"Kuncinya adalah cetakan topeng logam ini."

Reyhan memasukkan cetakan topeng berbentuk balok itu ke dalam lubang kunci besar di pintu.

Ukurannya pas sekali.

Klek! Klak!

Suara mekanisme gerigi logam yang berat terdengar berputar dari dalam pintu baja.

Pintu itu perlahan terbuka sejengkal, membiarkan udara malam yang sejuk masuk ke dalam ruangan.

"Oh Tuhan, kita berhasil!" Kania langsung menangis histeris sambil mendorong pintu itu agar terbuka lebar.

Mereka bertiga segera berhamburan keluar dari ruangan neraka tersebut dan jatuh terduduk di lorong pabrik.

Hah... hah... hah...

Ketiganya menghirup udara segar dalam-dalam.

[Ding! Misi Bertahan Hidup Berhasil!]

[Evaluasi: Penyelamatan yang sangat cerdas dan tenang.]

[Hadiah didistribusikan: Skill Ketahanan Fisik ditingkatkan ke Tingkat Menengah.]

Reyhan merasakan tubuhnya yang tadi sangat lemas kini kembali pulih dengan cepat, otot-ototnya terasa lebih kuat dan pernapasannya stabil kembali.

"Kau benar-benar gila, Rey," ucap Alena sambil menatap pemuda itu dengan kekaguman yang tidak disembunyikan.

"Kalau kau tidak tenang tadi, kita semua sudah mati."

Kania yang duduk di samping Alena menatap Reyhan dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Rasa takut, kagum, dan rasa ingin tahu bercampur menjadi satu.

"Kau... kau menyelamatkan nyawaku, Reyhan."

"Terima kasih," ucap Kania tulus.

Reyhan tersenyum tipis dan berdiri dari lantai.

"Pertunjukan ini masih jauh dari kata selesai."

"Kalian istirahat sebentar, aku mau memeriksa sesuatu di meja kerja tadi."

Reyhan kembali masuk ke dalam ruangan yang suhunya mulai menurun itu.

Ia tidak mencari alat bukti pembunuhan, melainkan mencari petunjuk tentang identitas asli sang pembunuh bertopeng.

Reyhan mengamati dinding di belakang meja kerja.

Di sana tertempel puluhan potongan kliping koran dan foto-foto lama.

Reyhan memperhatikan kliping koran yang paling besar dan terlihat paling usang.

Judul koran itu tertulis: "TRAGEDI TEATER HARAPAN: KEBAKARAN MISTERIUS MENEWASKAN SEORANG AKTOR TEATER LOKAL."

Koran itu bertanggal sepuluh tahun yang lalu.

Di bawah judul tersebut, terdapat foto hitam putih sebuah gedung teater yang hangus terbakar.

"Teater Harapan..." gumam Reyhan pelan.

"Ini petunjuk barunya."

"Pembunuh ini punya hubungan dengan aktor teater yang tewas sepuluh tahun lalu."

Reyhan mencabut kliping koran itu dan melipatnya ke dalam saku.

Ia melangkah keluar dari ruangan dan menghampiri Alena dan Kania.

"Ayo kita pergi dari sini sebelum polisi setempat datang," ajak Reyhan.

Malam itu, di dalam mobil yang melaju menjauhi kawasan industri Pulogadung.

Kania masih terlihat syok, namun naluri jurnalistiknya mulai kembali.

"Reyhan," panggil Kania dari kursi belakang.

"Ya?"

"Aku punya tawaran yang lebih baik dari sekadar wawancara eksklusif."

"Aku akan membantumu mencari tahu identitas pembunuh itu lewat jaringan media independenku."

"Aku punya akses ke arsip berita lama yang tidak dimiliki polisi."

Alena menoleh ke arah Kania dengan curiga.

"Apa untungnya buatmu?"

Kania tersenyum tipis, sebuah senyuman ambisius yang terlihat sangat jelas.

"Karena ini akan menjadi karya jurnalistik terbesarku."

"Dan aku ingin berdiri di barisan pemenang saat semua ini berakhir."

Reyhan menatap Kania melalui kaca spion tengah.

Sekutu baru yang sangat ambisius dan cukup nekat.

Ini bisa menjadi keuntungan besar, atau justru bumerang yang mematikan.

"Baiklah, Kania," putus Reyhan.

"Mulai sekarang, kita bekerja sama."

"Tapi ingat kesepakatan kita, kalau kau macam-macam..."

"Aku tahu, aku tahu," potong Kania cepat sambil menelan ludah.

"Kau akan melakukan sesuatu yang buruk padaku."

Reyhan tersenyum puas.

Malam yang panjang ini telah memberinya banyak petunjuk berharga, dan juga seorang sekutu baru yang cukup merepotkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!