Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDANGAN YANG TERLAMBAT
Cahaya matahari pagi menyelinap perlahan menembus sela-sela gorden kamar, membiaskan garis-garis lembut di atas seprai. Aku terbangun dengan perasaan yang tidak biasa. Ada debaran aneh yang bersarang di dadaku sebuah pengingat bahwa duniaku telah bergeser beberapa derajat sejak semalam.
Di atas meja samping tempat tidur, layar ponselku berkedip pelan. Aku meraihnya dan menemukan sebuah pesan singkat yang masuk beberapa menit lalu dari Haruto:
"Selamat pagi, Pacarku! Jangan lupa sarapan ya. Sampai ketemu sore nanti di gerbang kampus. Aku sudah mempersiapkan tempat kencan pertama kita!"
Kata 'Pacarku' yang tertulis di sana membuat jariku terpaku sejenak. Ada rasa manis yang meletup-letup di dalam dada, sebuah sensasi mendebarkan yang diimpikan oleh setiap remaja. Aku tersenyum tipis, mengetikkan balasan singkat, lalu mendekap ponsel itu di dada. Aku dan Haruto kini resmi berpacaran.
Namun, tepat saat aku hendak bangkit dari tempat tidur, sebuah notifikasi pesan lain masuk. Dari nama yang sudah sangat langka membasahi layar ponselku beberapa minggu terakhir.
Kaito.
"Hana, hari ini kamu ada waktu kosong setelah kuliah? Aku ingin mengajakmu makan kedai ramen langganan kita sewaktu SMP. Ada yang ingin kubicarakan."
Jantungku serasa merosot ke dasar perut.
Kedai ramen tua di pinggir gang itu adalah tempat perlindungan kami sewaktu kecil. Tempat Kaito selalu memesankan porsi ekstra piring gyoza untukku setiap kali aku mendapat nilai buruk, tempat kami menghabiskan waktu berjam-jam tanpa perlu peduli pada riuk bising dunia luar.
Sudah lama sekali Kaito tidak pernah mengajakku ke sana. Rasanya seperti sebuah undangan nostalgia yang begitu berharga.
Namun, rasa bersalah mendadak menikam dadaku dengan tajam. Aku sudah berjanji pada Haruto untuk pergi kencan sore ini.
Sore harinya, usai jam kuliah terakhir usai, aku berdiri ragu di lorong penyeberangan antar gedung fakultas. Angin gugur bertiup agak kencang, memutar-mutar daun-daun kering di atas lantai beton.
Dari kejauhan, aku melihat Kaito berjalan mendekat. Ia mengenakan sweater rajut berwarna abu-abu dengan tas ransel hitam tersampir di bahunya penampilan yang sangat sederhana, persis seperti Kaito yang kukenal sejak kami masih memakai seragam sekolah dasar.
Kaito menghentikan langkahnya beberapa tapak di depanku. Ia menatapku dari balik lensa kacamatanya, menyunggingkan senyuman tipis yang hangat.
Ia mengangkat tangannya, membentuk gerakan bahasa isyarat yang rapi dan perlahan: [Kamu sudah selesai kelas? Ayo berangkat sekarang, sebelum kedainya ramai.]
Melihat binar harapan yang begitu tulus di matanya, tenggorokanku mendadak terasa tersekat. Jemariku yang memegang tali tas terasa tremor.
Aku merogoh ponsel dari saku mantelku, namun membatalkannya. Aku ingin menyampaikan hal ini secara langsung dengannya dengan bahasa yang telah menyatukan duniaku dan dunianya selama belasan tahun.
Aku mengangkat kedua tanganku ke udara. Gerakanku agak terputus-putus, dipenuhi rasa bersalah yang menggebu.
[Kaito... maafkan aku,] jemariku menari canggung di udara. [Hari ini aku tidak bisa pergi ke kedai ramen.]
Kaito tertegun sejenak. Gerakan tangannya yang tadinya hendak merapikan posisi ransel berhenti di udara. Matanya menatap jari-jemariku dengan cermat, menunggu kelanjutan dari kalimatku.
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadaku.
[Aku... aku sudah ada janji sore ini,] lanjutku dengan gerakan yang makin bergetar. [Aku dan Haruto... kami sudah resmi berpacaran sejak semalam. Hari ini kami mau pergi kencan.]
Hening.
Dunia di sekitar kami seolah kehilangan seluruh suaranya. Hanya ada gesekan angin gugur yang menyapu lorong kampus yang sepi.
Aku menundukkan kepala, tidak sanggup melihat reaksi di wajah Kaito. Aku bersiap menerima tatapan kecewa, amarah yang tersimpan, atau setidaknya kebingungan dari sahabat kecilku itu.
Namun, yang terjadi berikutnya justru mematahkan hatiku jauh lebih hancur daripada sebuah amarah.
Sebuah tangan yang sangat hangat dan familiar terulur, menepuk puncak kepalaku dengan sangat lembut—sentuhan khas yang selalu Kaito lakukan setiap kali ia ingin menenangkan ku sejak kami masih bocah.
Aku mendongak pelan, dan menemukan Kaito sedang menatapku.
Tidak ada kekecewaan di sana. Tidak ada cemburu, amarah, atau kilat keputusasaan. Wajah Kaito begitu tenang. Bibirnya melengkung membentuk senyuman paling tulus, paling lembut, dan paling pasrah yang pernah kulihat sepanjang hidupku.
Jemari Kaito terangkat kembali ke udara, menari dengan gerakan yang sangat halus dan indah.
[Begitu ya... Selamat ya, Hana,] isyarat Kaito bergerak lambat, seolah mengeja setiap kata dengan penuh rasa sayang yang mendalam. [Aku senang mendengarnya. Haruto pria yang baik dan sangat berusaha untukmu.]
[Tapi... kedai ramen...] jemariku bergerak memprotes dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kaito menggelengkan kepalanya pelan, menyela gerakan tanganku.
[Tidak apa-apa, Hana. Sungguh, aku sangat memaklumi,] lanjut Kaito lewat kodenya yang tenang. [Janji dengan pacarmu jauh lebih penting. Kita bisa pergi ke kedai ramen itu kapan-kapan kalau kamu ada waktu luang.]
Kaito merapikan tali ransel di bahunya, lalu melangkah mundur satu tapak. Ia memberikan jarak yang teramat jelas di antara posisi berdiriku dan berdirinya.
[Sana pergilah, Haruto pasti sudah menunggumu di gerbang,] jemari Kaito bergerak untuk terakhir kalinya sore itu. [Jangan membuat pacar barumu menunggu terlalu lama. Bersenang-senanglah, Hana.]
Kaito menganggukkan kepalanya pelan, memberikan gestur pamit yang sangat sopan. Ia lalu berbalik dan berjalan menelusuri lorong kampus yang panjang, membelakangiku yang berdiri mematung.
Aku menatap punggungnya yang tegap berjalan makin jauh. Tidak ada langkah yang terburu-buru, tidak ada gestur tubuh yang terluka. Kaito berjalan dengan sangat lapang dada, menerima kenyataan bahwa posisinya di dalam duniaku kini telah resmi digantikan secara penuh oleh orang lain.
Sikap Kaito yang terlalu memaklumi, terlalu dewasa, dan terlalu cepat merelakan justru membuat dadaku terasa ditindih beban yang sangat berat. Aku ingin berlari mengejarnya, ingin menarik lengannya dan bilang bahwa aku ingin makan ramen bersamanya saja—namun ponsel di genggamanku bergetar nyaring.
Panggilan telepon dari Haruto.
Aku mengusap sudut mataku yang basah, mengangkat panggilan itu, lalu melangkah menuju gerbang kampus tempat Haruto sudah menungguku dengan mobil dan buket bunga manis di tangannya.
Sore itu, aku pergi berkencan dengan Haruto. Kami tertawa, menikmati makanan lezat di restoran mewah, dan berjalan bergandengan tangan di bawah pendar lampu kota. Haruto bersikap sangat manis dan memperlakukanku seperti seorang putri.
Namun, di sepanjang perjalanan dan di tengah gemerlap tawa yang membuai, mataku terus terbayang pada senyuman tipis Kaito di lorong kampus tadi sebuah senyuman hangat dari seseorang yang baru saja melipat kenangan masa kecil kami rapat-rapat, lalu menyimpannya di tempat yang tak lagi bisa kujangkau.