Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Percikan Emosi Pertama
Suasana hening di dalam kabin kendaraan membuat suara detak jantungku dan detak jantung Sakti terdengar begitu jelas.
Mobil sedan hitam ini berhenti total di bahu jalan raya yang lengang. Lampu jalan kota yang berwarna temaram menembus kaca jendela, mencetak siluet tajam dari rahang Sakti yang mengeras.
Napasku masih memburu. Dadaku naik turun dengan ritme yang tidak beraturan.
Aku baru saja meneriakkan seluruh rasa frustrasiku. Aku baru saja menantang pria paling berkuasa di Vanguard Corp tepat di depan wajahnya.
Tangan Sakti yang mencengkeram roda kemudi terlihat memutih di bagian buku-buku jarinya. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan sorot matanya dari pandanganku.
Sistem A.U.R.A di dalam kepalaku langsung membanjiri retinaku dengan rentetan teks hijau yang berkedip liar.
[Memindai Status Fisiologis Subjek Utama.]
[Detak Jantung Subjek: 135 BPM. Peningkatan Tekanan Darah Terdeteksi.]
[Analisis Emosi: Pertahanan Rasional Subjek Sedang Runtuh. Kemarahan Beralih Menjadi Keputusasaan.]
Aku mencengkeram sabuk pengamanku. Aku menunggu kemarahannya meledak. Aku menunggu pria arogan ini memecatku atau mengusirku dari mobilnya.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Terdengar bunyi klik yang cukup keras saat Sakti menekan tombol pelepas sabuk pengamannya sendiri.
Pria itu memutar seluruh tubuhnya ke arahku. Ia mengangkat tangan kanannya, meraih kacamata perak yang selalu menjadi tameng emosinya, lalu melempar benda mahal itu ke atas dasbor mobil tanpa mempedulikan goresan pada lensanya.
Kini, tidak ada lagi penghalang apa pun di antara kami.
Mata elang Sakti yang gelap menatap lurus ke kedalaman mataku. Sorot mata itu tidak lagi memancarkan kedinginan absolut atau kekejaman seorang CEO.
Sorot mata itu memancarkan rasa sakit yang sangat nyata.
"Kau pikir aku melihatmu sebagai barang milik perusahaan?" Suara bariton Sakti mengalun sangat serak, nyaris menyerupai sebuah bisikan yang terluka.
Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha mempertahankan posisi dudukku. "Tindakan Anda malam ini membuktikan hal itu, Pak Sakti."
"Tindakanku malam ini membuktikan bahwa aku bisa kehilangan akal sehatku hanya karena melihat pria lain menatapmu!" potong Sakti cepat, suaranya sedikit meninggi namun penuh dengan getaran emosi.
Sakti memajukan tubuhnya. Ia menumpukan satu tangannya di sandaran kursiku, mengurungku di sudut kabin mobil.
"Kau menuntut kepastian status?" cecar Sakti, menatap bibirku sekilas sebelum kembali mengunci mataku. "Kau menuntut alasan mengapa aku begitu marah melihat Hamdan menyodorkan kartu akses eksekutifnya ke hadapanmu?"
"Ya," balasku dengan suara bergetar. "Saya menuntut alasan logis."
Sakti tertawa sumbang. Sebuah tawa yang sama sekali tidak mengandung kegembiraan.
"Logika," gumam Sakti getir. "Kau dan otak cerdasmu itu selalu mencari logika dari segala hal, Tera. Kau mencari algoritma dari setiap tindakanku."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Pria itu mengikis jarak di antara kami. Hawa panas dari tubuhnya terasa membakar kulit lenganku meski kami belum bersentuhan.
"Tidak ada logika dalam hal ini," desis Sakti tepat di depan wajahku.
[Peringatan Inang: Jarak Subjek Terlalu Dekat.]
[Saran Sistem: Lakukan Manuver Mundur. Stabilkan Ritme Pernapasan.]
Aku mengabaikan teks peringatan yang mulai berkedip merah di sudut mataku. Tubuhku menolak untuk bergerak mundur. Sesuatu di dalam diriku justru ingin mendengar kelanjutan kalimat pria ini.
Sakti mengangkat tangannya yang gemetar. Jemarinya yang besar dan kokoh menyentuh sisi wajahku dengan kelembutan yang sangat kontradiktif dengan aura dominannya.
Ibu jarinya mengusap pelan tulang pipiku.
"Sejak hari pertama kau melangkah masuk ke ruanganku dan membongkar laporan palsu itu, kau sudah meruntuhkan seluruh kendaliku," pengakuan itu akhirnya meluncur dari bibir Sakti.
Napas pria itu menerpa wajahku, membawa serta ketulusan yang sangat pekat.
"Kau menantang dewan komisaris demi melindungiku. Kau menyeduhkan minuman saat kepalaku nyaris pecah. Kau membaca setiap kelemahanku tanpa pernah memanfaatkannya."
Mata Sakti memerah. Pertahanan psikologisnya sebagai seorang predator bisnis benar-benar hancur malam ini.
"Hamdan menawarkan posisi eksekutif. Dia menawarkan kebebasan dan kekuasaan," lanjut Sakti, suaranya semakin memelan. "Dan aku? Aku hanya bisa menempatkanmu di meja depan ruanganku. Aku mengurungmu karena aku takut."
Aku tertegun. Kalimat itu membuat jantungku berdetak sangat kencang.
"Anda... takut?" ulangku tak percaya.
Sakti mengangguk pelan. Ibu jarinya terus mengusap sudut rahangku.
"Aku takut jika aku melepaskanmu sedikit saja, dunia luar akan melihat betapa berharganya dirimu, lalu membawamu pergi dariku," bisik Sakti penuh keputusasaan.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Antarmuka hijau di mataku mendadak mengalami distorsi.
Baris-baris kode enkripsi yang biasanya tersusun rapi kini mulai bergerak acak. Kotak-kotak analisis emosi berkedip liar, gagal menemukan angka persentase yang pasti.
[Mengkalkulasi Variabel Kalimat Subjek.]
[Error: Logika Mesin Tidak Dapat Menerjemahkan Konteks 'Ketakutan Kehilangan' Secara Bisnis.]
[Peringatan Kritis Inang: Terdeteksi Lonjakan Dopamin Ekstrem pada Otak Inang.]
Aku memejamkan mataku sesaat, merasakan gelombang emosi hangat yang menghantam dadaku tanpa ampun. Kata-kata Sakti meruntuhkan seluruh dinding pertahananku.
Pria yang ditakuti oleh seluruh musuh bisnisnya ini, pria yang sanggup menghancurkan perusahaan lawan hanya dengan satu tanda tangan, kini mengakui kelemahannya di hadapanku.
Aku membuka mataku kembali. Kutatap wajahnya lekat-lekat.
"Saya tidak akan pergi ke mana pun, Pak Sakti," ucapku pelan, membiarkan suaraku melembut untuk pertama kalinya. "Vanguard Corp adalah tempat saya sekarang."
Sakti menggelengkan kepalanya tegas.
"Persetan dengan Vanguard Corp," desis Sakti mutlak.
Ia menurunkan tangannya dari pipiku, beralih meraih bagian belakang leherku. Genggamannya sangat protektif dan mendominasi.
"Aku tidak peduli pada perusahaan itu. Aku tidak peduli pada posisi asistenmu," ucapnya, menatap lurus menembus bola mataku.
"Aku membutuhkanmu jauh melebihi status seorang asisten, Tera. Aku membutuhkanmu untuk tetap waras."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Sistem di dalam kepalaku benar-benar kehilangan arah.
Hamparan teks hijau yang mengelilingi wajah Sakti mulai pecah menjadi piksel-piksel kecil. Suara peringatan mekanis berdengung keras di telingaku, namun tertutup sepenuhnya oleh gemuruh detak jantungku sendiri.
[Sistem Mengalami Overload Emosional.]
[Gagal Memproses Data Fisiologis. Kadar Oksitosin Inang Mencapai Titik Kritis.]
Sistem A.U.R.A dirancang untuk menganalisis data, membedah kebohongan, dan memprediksi pergerakan bisnis. Kecerdasan buatan ini tidak pernah diprogram untuk memproses lonjakan emosi asmara murni yang kini mendominasi seluruh kesadaranku.
Sakti tidak memberikan waktu bagi logikaku untuk kembali bekerja.
Ia memangkas habis sisa jarak di antara kami.
Napas hangatnya berhembus mengenai bibirku tepat sebelum ia menundukkan wajahnya.
Bibir Sakti mendarat di atas bibirku.
Sentuhan pertamanya terasa sangat lembut dan ragu, seolah ia sedang memastikan bahwa aku tidak akan menolaknya. Namun, saat aku tidak menjauh, kelembutan itu seketika berubah menjadi desakan yang sangat posesif dan mendalam.
Sakti menciumku dengan seluruh rasa takut, frustrasi, dan kerinduan yang selama ini ia pendam rapat-rapat di balik jas eksekutifnya.
Tangan kirinya menarik pinggangku agar tubuh kami merapat, sementara tangan kanannya masih menahan tengkukku, memastikan aku tidak memiliki ruang untuk melarikan diri dari gelora perasaannya.
Aku menutup mataku. Tanganku perlahan terangkat, mencengkeram kerah kemeja hitamnya dengan erat.
Aku membalas ciumannya. Aku menyerahkan seluruh kendali rasionalitasku pada pria ini.
Di dalam kepalaku, antarmuka hijau menyala terang benderang untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya hancur lebur ditelan gelombang emosi manusia yang tak terukur.
Layar visual di retinaku mengalami distorsi total. Garis-garis kode berkedip merah sebelum layar tersebut menjadi gelap gulita.
Pesan mekanis terakhir muncul perlahan di tengah kegelapan mataku, sebelum semuanya benar-benar mati.
[System Offline for 5 Seconds]
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?